Kamis, 11 Agustus 2011

TIDAK ADA YANG MURAH DI PAPUA

Mungkin banyak yang menduga, apapun masih murah di Papua. Anggapan ini muncul karena merasa provinsi paling timur Indonesia ini masih lebih terbelakang daripada daerah lain. Sebaiknya Anda tidak lagi punya anggapan demikian. Faktanya, biaya hidup justru paling mahal dibandingkann daerah lain. Karena itu, ada tunjangan kemahalan bagi siapapun yang mendapatkan tugas ke bumi cendrawasih ini.

Anda tidak percaya? Lihatkan foto di bawah ini! Foto ini saya ambil di sebuah warung makan di Kota Mulia, Puncak Jaya.

harga makan papua
Bagaimana menurut Anda? Kalau untuk saya, harga yang tertera di foto ini sangat mahal dibandingkan Jakarta sekalipun. Seporsi nasi ayam saja, masih dapat Rp 10.000 di Jakarta. Tapi, di Puncak Jaya harganya lebih mahal empat kali lipat. Harga teh manis masih sekitar Rp 2.500 di Jakarta, namun di Puncak Jaya mencapai Rp 5.000 untuk satu gelas.

Saya mencatat sejumlah harga barang-barang lain di Puncak Jaya. Misalkan saja, sebotol air Aqua 600 ml yang di Jakarta hanya Rp 2.000, maka di sini mencapai Rp 20.000, atau lebih mahal 10 kali lipat. Wow!

Harga barang-barang lain umumnya berkali-kali lipat dibandingkan di Jakarta. Misalkan saja, sebungkus rokok dijual Rp 20.000, BBM Rp 35.000 perliter, minyak goreng Rp 25.000 per liter, semen Rp 850.000 persak, pasir Rp 4 juta pertruk, paku Rp 50.000 perkg.

Faktor utama mahalnya segala macam barang-barang di Puncak Jaya adalah akibat transportasi yang sulit dan mahal. Barang-barang umumnya dipasok lewat udara dan darat. Lewat udara, barang dipasok dari Jayapura atau Sorong. Nah, tarif pesawat ke Puncak Jaya saja sudah sangat mahal. Saya membeli tiket pesawat ke Kota Mulia dari Jayapura seharga Rp 2,45 juta untuk penerbangan selama satu jam 45 menit.



Begitu juga dengan transportasi darat. Umumnya, segala macam kebutuhan penduduk Puncak Jaya datang dari Wamena. Nah, untuk membawa barang dagangan dari Wamena, para pemilik toko di Mulia harus menyewa mobil angkutan seharga Rp 13 juta/ hari. Padahal, di Wamena sendiri, harga barang-barang juga sudah sangat mahal dibandingkan di luar Papua. Karena itu, tidak heran harga satu sak semen mencapai Rp 850 ribu di Puncak Jaya. Harga ini mencapai 17 kali lipat lebih mahal daripada di Jakarta.

Menurut pemantauan saya, mahalnya barang-barang di Papua dijumpai di hampir semua daerah, termasuk di Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Saya pernah makan nasi kuning di sebuah kios kecil, dan membayar sepiring nasi kuning plus telor Rp 20 ribu. Begitu juga dengan nasi soto yang mencapai Rp 15 ribu. Kalau saya menganalisa, untuk sekali makan di warung makan yang ada di Jayapura, bisa menghabiskan rata-rata Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

Demikian juga harga koran di Jayapura. Lihatlah harga yang tercantum di koran paling besar di Papua ini!

koran Papua
Bagaimana dengan barang-barang yang diproduksi sendiri di Papua? Buat saya, juga lebih mahal daripada di daerah lain, walaupun tidak berkali-kali lipat. Saat berada di Puncak Jaya, saya sempat membeli buah markisa di pasar. Pedagang menjual perlima buah Rp 5.000. saya juga sempat membeli buah nanas yang dijual Rp 10.000 perbuah. Memang, masih relatif ‘normal’-lah harganya dibandingkan segala macam barang yang harus ‘diimpor’ dari luar daerah tadi.

Bagaimana ya inflasi di Papua kalau apapun mahal di sana? Entah lah.... (bersambung ke Kisah ke-7)




Foto-foto by Edi Ginting

Selengkapnya...