Selasa, 31 Januari 2012

Cerita Tentang Seorang Sahabat

Saya punya seorang sahabat. Namanya Peri Umar Farouk. Saya bukan salah mengetik huruf ‘P’ pada nama depan sahabat saya ini. Namanya memang Peri, dan bukan Feri atau Ferry seperti pada umumnya. Bicara soal nama, sahabat saya ini lebih senang bila dipanggil Feri Farouk saja. Nama inilah yang ia pakai di semua kegiatan publik yang ia lakoni.

Saya mengenal Peri Farouk sekitar 2007, ketika sedang menyelesaikan sebuah liputan di kota Jogja. Saat itu, Peri Farouk adalah salah satu narasumber utama saya dalam liputan yang bertema mengenai maraknya peredaran video mesum di kalangan remaja Indonesia. Berhari-hari saya bersamanya di kota gudeg untuk menyelesaikan peliputan itu. Mulai dari kegiatan peliputan di dua kampus di sana, menemui beberapa narasumber, dan sejumlah kegiatan lain. Bahkan, saya sempat mampir ke rumahnya untuk melihat-lihat koleksi bukunya.

Usai liputan itu, saya kemudian tetap menjalin komunikasi dengan pria berdarah sunda tersebut. Setiap kali ke kota Jogja, saya selalu mengontaknya. Kalau sempat, kami pun bertemu untuk sekadar salaman atau makan malam bersama. Kami pun bergantian mentraktir. Dalam soal traktir-mentraktir ini, saya paling terkesan saat Peri Farouk mentraktir saya makan iga sapi bakar di sebuah rumah makan di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Iga bakarnya sedap sekali. Maknyus sekali, begitu menurut saya kalau boleh menjiplak kata-kata khas dari Bondan Winarno, si pembawa acara program Wisata Kuliner di layar Trans TV.

Bagi saya, Peri Farouk adalah seorang sahabat yang sangat menyenangkan. Pemikirannya sangat luas dan asyik untuk berbincang apa saja dengannya. Hobinya membaca dan menulis, sama seperti saya. Darinya, saya mendapatkan banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang lebih membuka mata dan hati saya dalam memandangi apapun di sekeliling. Ia selalu punya jawaban atas apapun yang orang-orang tanyakan padanya. Peri Farouk adalah seorang pemberi inspirasi. Orang lebih sering menyebut profesi seperti ini dengan istilah motivator.

Akhir 2011, saya mengundang Peri Farouk menjadi narasumber di Wide Shot, sebuah acara baru di Metro TV. Di penghujung tahun itu, saya dan semua tim di Wide Shot, ingin memberikan inspirasi bagi para pemirsa tentang bagaimana kiat sukses di tahun 2012. Singkat kata, saya pun mengontak Peri Farouk untuk menjadi narasumber. Selama hampir satu jam, Peri Farouk pun hadir di Wide Shot untuk berbagi beragam strategi sukses. Tidak hanya lewat kata-kata inspirasinya, namun Peri juga mengajarkan beberapa tips dan trik yang sangat mudah diterapkan dalam hidup ini.

Sahabat saya ini memiliki sebuah tagline yang sangat menarik, yakni ‘Peri Farouk Membuka Mata’. Lewat taglinenya ini, Peri pun setiap hari membagi cerita-cerita inspiratif kepada saya lewat Blackberry Messenger. Menurut Peri, ia memang membagi kisah-kisah tersebut kepada para sahabat-sahabatnya untuk menjadi teman di saat mereka membutuhkannya. Saya bagikan di sini salah satu kisah yang pernah ia kirimkan kepada saya.

Suatu malam. Scene 1. "Ayah, bagaimana aku bisa mendapatkan cahayanya saja, dan tidak semuanya," rajuk seorang anak kepada ayahnya sambil menunjuk sebuah sinar kecil yang menari-nari agak jauh, "Soalnya bagaimana pun kunang-kunang itu kalau aku pegang, rasanya tidak beda seperti serangga lain.. Geli!"

"Ya nggak bisalah, sayang," hibur sang ayah, "Sinar itu tidak bisa diambil atau dicuri siapapun!"

Scene 2.

"Harta benda bisa habis, kekuasaan bisa hilang, ketenaran bisa redup, dan pengaruh bisa lagi tidak relevan," keluh seseorang kepada rekan bijaknya, "Lalu apa yang harus kumiliki, dan tidak bisa diambil atau dicuri dariku?"

"Cahaya dari dirimu!" sahut sang rekan, "Sinar dari keramahan wajahmu, lengkung sejuk dari senyummu, terang dari keindahan kata-kata dan sikapmu!"

SINAR DARI PRIBADIMU, KAWAN, SINAR DARI PRIBADIMU, TIDAK BISA HABIS ATAU HILANG, TIDAK BISA DIAMBIL & DICURI KECUALI OLEH DIRIMU SENDIRI... ITU YANG MENGABADIKAN KAMU DALAM PERGAULAN HIDUP INI!

MILIKI SINAR ITU, TITIK!


Peri mengaku sudah memiliki lebih dari 500 tulisan seperti di atas, dan jumlahnya terus bertambah dari hari ke hari. Ia mengaku sudah menyerahkan sekitar 300 tulisan ke sebuah penerbit untuk dijadikan buku. Semua tulisan itu, dibuat mulai Februari 2010, atau hampir dua tahun. Kini, Peri mengaku mampu melahirkan dua sampai tiga tulisan seperti di atas dalam sehari. Wow...

Dalam satu kesempatan chatting lewat Blackberry Messenger, saya pernah mengorek informasi bagaimana ia bisa menghasilkan begitu banyak tulisan. “Pokoknya lakukan rumus saya, V x 60 menit (P+T) x 21 days + 6 (10 menit). Nanti ide berdatangan sendiri. Apapun yang dilihat dan didengar, bisa menjadi ide,” kata Peri Farouk kepada saya.

Saya memang pernah mendapatkan rumus yang mirip dengan rumus Peri tersebut dari seorang teman lain. Kata teman itu, lakukan apapun kegiatan yang sama selama 40 hari, maka nanti kegiatan tersebut akan menjadi kebiasaan. Jangan sampai terputus. Kalau terputus, maka ulangi dari pertama kali. Saya percaya dengan kedua rumus tersebut. Sebab, apapun kalau dikerjakan berulang-ulang, maka akan menjadi kebiasan yang tidak perlu kita memaksakan diri untuk mengerjakannya. Misalkan saja, untuk bangun jam 4 pagi, awalnya mungkin sangat sulit dan menyiksa. Namun, bila kita memaksa bangun pukul 4 pagi setiap hari dalam jangka waktu 40 hari, maka nanti kita akan sudah otomatis bangun jam 4 pagi tanpa perlu memasang alarm, atau menyuruh orang tua, pacar, istri, atau siapapun untuk membangunkan kita.

Kini, saya selalu menikmati tulisan-tulisan Peri pada saat saya sedang bersantai, atau sedang dalam perjalanan. Tulisannya membuat saya berpikir, yang biasanya juga diiringi dengan senyuman terbentuk di bibir saya. Senyuman yang bemakna saya memang membenarkan isi tulisan itu. Apalagi, bila temanya sesuai dengan pengalaman hidup saya. Atah, bahkan sedang sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Seperti sebuah tulisan di bawah ini yang saya terima tepat dengan suasana hati saya:

Jika kamu ingin memberi, MEMBERILAH!

Jangan seperti kalimat-kalimat di bawah ini:

"Aku sering membagi apapun kepadanya, dia sama sekali tidak pernah membagiku apapun!"

"Setiap ulang tahun, aku memberi dia hadiah... Giliranku, mana ada dia ingat, bahkan tanggal ulang tahunku sekalipun!"

"Tidak ada balas budinya sama sekali!"

"Kapok deh berhubungan dengan dia!"

"Kalau mau rugi, silakan saja kamu sia-siakan waktu memperhatikan dia!"

"Boro-boro memberi kembali, bilang terima kasih saja tidak ada!"

Please give, don't invest! Kalau mau memberi, memberilah, jangan seperti orang yang berinvestasi!

APA YANG KAMU TAHANKAN BAGI KEHIDUPAN INI, KEHIDUPAN AKAN MENAHANKAN HAL YANG SAMA TERHADAPMU!

Mengapa hidupmu sampai sekarang seperti 'tertahan' sesuatu? Pasti hidupmu menahan sesuatu...

Mungkin dari sekian banyak yang tampaknya kau berikan kepada orang lain, sesungguhnya tidak benar-benar kamu 'berikan', kamu berusaha mengimpaskannya dengan mengharap balasan-balasan!
Selengkapnya...

Jumat, 27 Januari 2012

Si Putih yang Mulai Menguasai Jalanan

Saya punya seorang saudara yang hendak mengganti mobil. Mungkin untuk memberi kejutan pada sang istri, ia membeli mobil ‘baru’ dan langsung membawanya ke rumah. Kata ‘baru’ diberi tanda petik, karena yang ia beli adalah mobil bekas. Agar muat banyak penumpang, maka sepupu saya ini, membeli mobil jenis minibus.

Sesampainya di rumah, bukan sambutan yang hangat yang ia peroleh dari sang istri. Bukan pelukan atau ciuman, tapi justru kemarahan. Pertengkaran pun tidak terhindarkan lagi. Keduanya saling menumpahkan emosi tanpa ada yang mau mengalah. Ini terjadi tidak hanya dalam hitungan jam tapi cukup lama. Selama berhari-hari, keduanya hanya saling berdiam diri tanpa bertegur sapa. Padahal, mereka tinggal serumah. Apakah mereka masih sekamar tidur selama berselisih paham ini, saya tidak tahu ya.

Tahukah Anda apa yang membuat mereka bertengkar?

Rupanya, si istri marah besar dengan pilihan mobil ‘baru’ sang suami. Bukan pilihan mereka, jenis, type, atau jenis bahan bakar mobil yang dipermasalahkan si istri. Ia hanya tidak suka dengan warnanya. Rupanya, saudara saya ini memilih mobil warna putih sebagai pengisi garasi rumahnya. Pilihan ini sangat tidak disukai sang istri. Baginya, mobil berwarna putih, identik dengan mobil ambulan, mobil jenazah, atau angkutan kota. Intinya, mobil warna putih tidak ada bagusnya bagi si istri.

Cerita di atas benar-benar terjadi di salah satu keluarga saya. Kisah ini terjadi beberapa tahun lalu. Mungkin lima atau enam tahun lalu. Saya pikir, kejadian pertengkaran diantara mereka, pasti tidak terjadi bila peristiwa membeli mobil ‘baru’ itu, terjadi sekarang. Mobil warna putih saat ini sedang ngetren. Begitu mudah menjumpai mobil warna putih di jalan raya. Tidak hanya mobil kelas di bawah 1300 cc, tapi juga mobil mewah yang harganya di atas setengah miliar rupiah.

Entah bagaimana awalnya, mobil berwarna putih kini kembali ngetren di tengah masyarakat. Dan, entah sampai kapan juga si putih ini akan bertahan lama. Ini hanya tren sesaat atau tidak, hanya waktu yang akan menjawabnya. Yang pasti, selain warna hitam dan silver, putih kini menjadi warna favorit bagi masyarakat dalam memilih mobil baru mereka. Sepertinya, semua produsen mobil juga mulai menyediakan pilihan warna putih di setiap varian mobil yang mereka keluarkan. Buktinya, kita bisa melihat mobil berwarna putih dari segala jenis merek dan type. Padahal, dulunya, Anda harus memesan secara khusus untuk mendapatkan mobil berwarna putih ini.

Saya kemudian googling tentang fenomena mobil warna putih ini. Rupanya, apa yang pikirkan, ternyata memang benar. Mobil warna putih memang tengah jadi tren, bukan hanya di Indonesia, namun juga di dunia. Bahkan, sebuah berita menyebutkan, mobil warna putih diprediksi akan terus menjadi tren sepanjang 2012.

Para produsen pun berlomba-lomba untuk memanfaatkan tren ini demi mendongkrak penjualan. Misalkan saja, Xenia dan Avanza. Dulunya, mobil ini identik dengan warna silver dan hitam. Nah, kedua merek ini kembali memperkenalkan varian baru mereka pada akhir 2011 lalu ke pasar Indonesia, yakni All New Xenia dan All New Avanza. Kali ini, keduanya pun hadir dengan varian warna putih.

Nah, yang saya bingung, bila si putih ini tidak lagi menjadi tren setelah 2012 nanti, lantas dikemanakan semua mobil-mobil itu ya? Jangan-jangan para pemilik si putih ini nantinya bakal menjual mobil mereka secara beramai-ramai ya. Biasanya sih, kalau ada sebuah barang sudah tidak tren, orang akan menjualnya dengan harga murah. Yang penting barang tidak di tangan lagi. Kira-kira, apa nasib ini juga terjadi pada mobil warna putih ya?

Saya kemudian mendapatkan artikel dari dari Tempo.co. Dalam artikel ini, ditulis kecenderungan masyarakat untuk memilih mobil warna putih dalam 11 bulan terakhir terus melonjak. Hasil penelitian perusahaan kimia dan energi yang berbasis di Wilmington, Delaware, Amerika Serikat itu, Du Pont, menunjukkan penjualan mobil berkelir putih dan perak sepanjang 11 bulan tahun 2011 lalu, mencapai 22 persen.

“Warna putih, putih mutiara, dan perak, selama ini memiliki sejarah sebagai terpopuler. Tahun ini, warna itu kembali terpopuler dengan porsi semakin besar,” tutur Nancy Lockhart, Manajer Pemasaran produk pewarna Du Pont, tulis Tempo.co dalam artikel itu.

Saya juga bertemu artikel lain yang cukup menarik yang membahas mengenai mobil warna putih. Dalam artikel itu, tertulis kalau warna putih adalah salah satu warna favorit maling mobil. Warna lain yang paling banyak menjadi incaran adalah hitam dan silver. Warna-warna ini menjadi incaran karena paling mudah menjualnya.

Mmmm….jadi pertimbangan juga dalam membeli mobil nih. Hehehe….

Kebon Jeruk, 27022012
Ide tulisan ini muncul saat melintas di Tol Tangerang-Jakarta
Selengkapnya...

Minggu, 22 Januari 2012

Dua Penghargaan Untuk Metro Realitas

Di penghujung 2011 lalu, program Metro Realitas berhasil memperoleh dua penghargaan dari dua lomba yang berbeda. Ini merupakan kabar baik bagi Metro Realitas yang tetap setia mengudara di layar Metro TV setiap hari Senin dan Rabu malam. Dan, dua piala yang ada dalam genggaman Eva Julianti di foto atas, adalah bukti dari keberhasilan Metro Realitas yang setia bermain di pemberitaan investigatif.  

Piala yang ada di genggaman tangan kanan Eva adalah, piala dari Anugrah Adiwartha 2011. Metro Realitas keluar sebagai pemenang pertama untuk kategori Liputan Investigatif, lewat karya yang berjudul 'Perang Mafia Tambang'.

Liputan ini adalah karya dari tim Metro Realitas yang meliput mengenai persaingan para pengusaha tambang di Kalimantan. Persaingan sudah berjalan tidak sehat, karena segala macam cara dipakai demi bisa menguasai mutiara hitam alias batubara yang banyak tersimpan di perut bumi Kalimantan. Persaingan tidak sehat ini sudah seperti perang mafia yang ada di film-film. Beragam kekuatan resmi pun dituding sudah ikut bermain, seperti Polri, TNI, BIN, apalagi pemda setempat. Episode Metro Realitas tersebut sukses menggambarkan situasi ini secara gamblang, seperti ciri khas Metro Realitas.

Sedangkan piala yang ada di genggaman tangan kiri Eva Julianti adalah, piala dari Anugrah KPI 2011 untuk kategori Berita Investigasi. Metro Realitas memenangkan kategori ini lewat tayangan yang berjudul 'Rebutan Saham Newmont'.

Episode Metro Realitas ini berkisah mengenai rencana divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara senilai 7 persen. Penjualan sisa saham Newmont ini menjad menarik karena pemerintah pusat dan pemerintah daerah saling adu kuat untuk mendapatkan sisa saham 7% tersebut. Kasus ini menjadi menarik karena diduga ada perusahaan besar dibalik pemda yang ingin menguasai Newmont.

Sekali lagi, selamat untuk Metro Realitas, pelopor jurnalisme investigasi di layar TV.
Selengkapnya...

Senin, 02 Januari 2012

Putri Baru di Wide Shot

Ada yang berbeda di tayangan Wide Shot pada hari ini. Tiga presenter yang hadir tidak lagi seperti formasi biasa, yakni Gilang Ayunda, Sumi yang, dan Lucia Saharui. Putri Ayuningtyas hadir untuk menggantikan Lucia. Penampilan Putri bukan sedang menggantikan Lucia Saharui yang sedang mengambil cuti tahunan (Lucia memang sedang cuti). Sejak tanggal 2 Januari ini, Putri Ayuningtyas memang resmi menjadi presenter tetap di Wide Shot untuk menggantikan Lucia Saharui yang akan menjadi presenter program lain di Metro TV.

Penampilan perdana Putri di Wide Shot mampu memberikan warna berbeda di layar. Dari segi karakter, Putri memang sangat berbeda dengan Lucia Saharui. Kalau Lucia lebih kalem, maka Putri lebih atraktif. Namun, dari segi pengetahuan, kedua wanita ini sama-sama pintar. Baik Lucia maupun Putri, sama-sama mampu melengkapi obrolan-obrolan yang disampaikan Gilang maupun Sumi.

Putri Ayuningtyas bukan orang baru di Metro TV. Ia bergabung ke Metro TV sejak awal 2008 sebagai reporter. Wanita yang sekilas memiliki wajah mirip dengan salah satu mantan presenter Metro TV, Meutya Hafid ini, pernah dipercaya meliput beragam peristiwa di Tanah Air. Tidak hanya meliput, namun juga melaporkannya secara langsung.

Putri kemudian terpilih menjadi salah satu presenter di Metro TV. Wanita kelahiran Bali ini, kemudian menjajal kemampuan sebagai presenter pada program Headline News pada malam hingga pagi hari. Setelah lulus ‘ujicoba’, Putri lalu dipercaya menjadi presenter di program Metro Malam, sampai akhirnya pindah ke Wide Shot.

Kami pernah bekerja sama bersama, saat saya menjadi produser di Metro Malam. Sosok seorang Putri Ayuningtyas adalah seorang wanita yang ramah dan tidak pelit membantu di dapur produksi berita. Bahkan, ia sering melempar ide berita dan mau mengerjakannya sendiri, terutama untuk berita-berita luar negeri.


Berbeda saat di layar yang selalu terlihat tegas, Putri Ayuningtyas adalah seorang wanita yang punya selera humor yang tinggi. Ia sering melempar lelucon-lelucon saat sedang tidak siaran. Tatkala program yang sedang ia bawakan sedang break antarsegmen, wanita lulusan Universita Atma Jaya yogyakarta ini sering bertingkah lucu sehingga mengundang tawa para kru yang ada di ruang kontrol siaran. Misalkan saja, ia bernyanyi dan menari-nari. Mungkin ini ia lakukan sekadar untuk mengisi kejenuhan agar tetap rileks hingga akhir siaran.

Contoh lain, saat ia membawakan paket berita soal binatang, maka ketika paket tersebut sedang mengudara, Putri meniru-niru tingkah polah si binatang sambil menatap ke kamera. Kami yang ada di ruang kontrol siaran pasti terpingkal tertawa-tawa.

Kini, Putri mendapat tantangan baru di Wide Shot, sebuah program berita yang memiliki tiga presenter dalam satu panggung. Tanpa telepromter, harus pintar berimprovisasi, dan harus menjaga kekompakan dengan dua host lainnya, Gilang Ayunda dan Sumi Yang.

Yang pasti, Putri Ayuningtyas adalah putri baru di Wide Shot, sebuah program di Metro TV yang mengedepankan semangat Citizen Journalism.
Selengkapnya...