Selasa, 28 Februari 2012

Cara Gampang Akali Visual Tayangan TV

Ada kalanya, saat membuat sebuah laporan peliputan, kita kekurangan visual. Mencari gambar dokumentasi juga tidak berhasil, walau sudah mencari kemana-mana. Waktu pun seakan telah habis untuk kita. Pilihan untuk terjun lagi ke lapangan guna menambah visual pun tidak bisa lagi. Otak pun harus diputar agar tayangan tetap bisa muncul di layar dengan lebih dinamis dan menarik untuk ditonton.

Kalau sedang menghadapi situasi seperti ini, saya sudah punya beberapa strategi untuk mengakali kekurangan gambar tadi. Cara pertama adalah, saya akan menshooting semua dokumen yang berkaitan dengan tema peliputan. Dokumen ini bisa mencakup apa saja, seperti surat-menyurat, angka-angka statistik, foto-foto, dan sebagainya. Kalau kita bisa meramunya dengan indah, maka tayangan akan semakin cantik ditonton. Pemirsa pasti tidak akan sadar, kalau penggunaan dokumen tersebut sebenarnya hanya akal-akalan ketika kita sedang kekurangan gambar.

Cara kedua yang sering saya lakukan adalah, dengan memakai berita-berita di koran atau media online yang berkaitan dengan tema yang sedang diulas. Judul-judul mereka umumnya dibuat sangat menarik agar orang tertarik untuk membacanya. Nah, kondisi pun bisa kita manfaatkan untuk menambah keragaman visual paket liputan kita. Kita tinggal menshooting berita-berita di media cetak dan online dari beragam komposisi gambar. Dari yang utuh satu artikel, hanya kepala berita, hanya judul, atau bahkan hanya satu kata saja yang paling menarik di judul atau isi berita.

Kasus yang terbaru adalah berita dugaan penamparan seorang anggota DPR dari Fraksi PAN terhadap petugas bea cukai di Bandara Soekarno-Hatta. Dugaan penamparan terjadi ketika wakil rakyat tersebut tidak mau mengantri lama di bagian pemeriksaan kepabeanan bandara. Dalam kasus ini, tidak ada visual apapun yang dimiliki selain sebuah blackberry messenger berisi berita penamparan itu. Akhirnya, berita-berita di media online pun dipakai sebagai pelengkap dari pernyataan fungsionaris PAN yang menolak adanya kasus penamparan itu.

Biasanya, setelah memunculkan potongan-potongan artikel media cetak atau online tadi, saya kemudian mengakhirinya dengan potongan wawancara seorang tokoh atau orang yang menjadi pusat pemberitaan di dalam artikel-artikel tadi. Isinya bisa berupa tambahan dari apa yang kita sampaikan dalam narasi, atau justru sanggahan dari pihak yang disudutkan.

Misalkan saja, ketika ramai berita Gayus Tambunan melancong ke bali ketika masih berstatus tahanan di Rutan Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Saat itu, banyak sekali pihak ataupun tokoh yang ikut melontarkan kritik kepada pemerintah yang dinilai sangat lemah dalam pengawasan. Saya pun memakai potongan artikel-artikel koran dalam narasi. Setelah muncul potongan-potongan artiyel itu, lalu saya sambung dengan parade komentar beberapa tokoh yang sangat kritis dan berani mengecam pemerintah. Agar seimbang dan menarik ditonton, saya pun menambahkan komentar dari pihak pemerintah yang berusaha menangkis semua kritik-kritik tadi.

Penggunaan visual dari potongan artikel media cetak atau online, dan dokumen-dokumen ini, tentu akan lebih keren kalau proses editing memakai efek-efek yang menarik yang telah disediakan oleh mesin editing. Kita bisa mengatur tampilannya sesuka hati sesuai dengan daya kreatifitas, karena semuanya sudah disediakan oleh mesin editing tersebut. Kita tinggal menggunakannya saja. Sangat mudah.

Jadi, seharusnya tidak ada lagi kata ‘tidak ada visual’ yang dilontarkan oleh para jurnalis TV.
Selengkapnya...

Sabtu, 25 Februari 2012

Kritik Kal Muller Lewat Face To Face With Desi Anwar

Ada yang menarik dari tayangan Face to Face With Desi Anwar di layar Metro TV , Sabtu malam tadi. Si narasumber memberikan sebuah kritikan yang seharusnya membuat malu bangsa Indonesia. Menurut saya, Desi anwar dan timnya telah membuat sebuah tayangan yang sangat berkualitas. Saya dan istri pun betah menonton episode kali ini dari awal sampai akhir. Padahal, pada malam minggu, hampir semua TV lain menayangkan acara-acara hiburan yang meriah dan menggoda sekali untuk ditonton.

Pada episode Face To Face With Desi Anwar kali ini, presenter berita senior itu, mewawancarai Kal Muller, seorang antoplog asal Hungaria. Namun, Desi Anwar bukan mendatangi Kal ke Eropa, Amerika, atau di Singapura, seperti narasumber Face To Face sebelumnya. Desi anwar menemui Kal justru di pedalaman Papua. Desi Anwar harus naik perahu kecil berjam-jam, untuk bisa sampai ke tempat tinggal narasumbernya itu. Di layar TV, ia terlihat sempat tertidur di dalam perjalanan.

Kal memang berpuluh-puluh tahun telah menetap di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika. Ia begitu mencintai Indonesia. Karena itu, pria yang sudah berumur 72 tahun ini, mengaku akan tinggal di Indonesia sampai ajal memanggilnya. Bagi Kal, Papua adalah sebuah wilayah yang sangat menggugahnya. Ia sudah datang ke Mimika, ketika ibukot kabupaten itu, Timika, masih berupa hutan belantara. Ia tahu persis perkembangan kota tambang tempat PT Freeport Indonesia beroperasi itu. "Kota ini mulai ada ketika bandara dibangun," kata Kal kepada Desi Anwar dalam perjalanan dari pusat kota menuju pelabuhan.

Kal menghabiskan hari-harinya di Mimika dengan hidup bersama suku Kamoro, salah satu suku asli di Mimika. Ia telah cukup lama menjadi konsultan PT Freeport Indonesia, dan salah satu tugasnya adalah 'bergaul' dengan masyarakat lokal. Salah satu hasil karya Kal adalah kembali menggali kebudayaan masyarakat asli setempat yang nyaris hilang akibat masuknya agama dan penjajahan Belanda. Kal mendekati masyarakat Kamoro untuk kembali mengenal tradisi budaya mereka dan menjadikannya sesuatu yang ‘berbeda’ di zaman modern ini.

Suku Kamoro sejak dahulukala sudah mengenal seni memahat, dan hasil karya mereka begitu menarik perhatian dunia. Kal kemudian mendekati mereka untuk membeli hasil-hasil karya pahatan penduduk Kamoro. Walau awalnya sulit, namun Kal akhirnya mampu 'mengambil hati' penduduk Kamoro. Ia pun diterima sebagai sahabat. Dalam perjalanannya, Kal lalu membeli dan menjual hasil pahatan orang Kamoro, ke luar negeri. Begitu terjual, Kal kembali datang ke penjual pahatan tadi, dan memberikan keuntungan penjualannya. Cara yang ditempuh Kal ini akhirnya membuat masyarakat Kamoro mulai mengenal dunia luar, termasuk keuntungan dari kerajinan memahat yang sudah diwariskan nenek moyang mereka.

Lima buku tentang Papua yang telah ditulis Kal Muller, setidaknya menjadi bukti betapa ia menguasai Papua. Baginya, masyarakat Papua hingga hari ini masih hidup dalam zaman semi nomaden. Saya lupa apa penjelasan Kal soal istilah ini. Namun, arti dari nomaden itu sendiri adalah hidup berpindah-pindah. Mungkin, maksud semi nomaden yang diutarakan Kal adalah peralihan dari masyarakat nomaden ke tradisional. Banyak orang menyamakan nomaden dengan istilah primitif, walau akan menjadi perdebatan panjang kalau didiskusikan.


Kal Muller (paling kiri). Sumber: jppn.com
Saya sudah beberapa kali berkesempatan untuk berkunjung ke Papua. Saya juga sudah pernah melihat pedalaman papua, dimana masih ada masyarakat yang memakai koteka. Dari dekat, saya dapat melihat bagaimana kehidupan orang Papua di pedalaman. Bahkan, saya juga masuk ke dalam honai mereka.

Honai adalah rumah asli penduduk Papua yang berbentuk bulat dan umumnya tidak berjendela. Pintu pun sangat rendah, sehingga siapapun harus menunduk untuk bisa masuk. Beberapa keluarga bisa tinggal di dalam satu honai, dengan sebuah tungku di tengah honai. Mereka butuh kondisi demikian untuk memberikan kehangatan saat di dalam honai. Maklum saja, suhu di pedalaman Papua pada umumnya sangat dingin. Belum lagi, ancaman dari malaria yang memang sangat menghantui di hampir seluruh wilayah Papua.

Umumnya, masyarakat pedalaman Papua belum mengenal sistem pertanian modern. Cangkul saja tidak mereka kenal. Mereka menggunakan kayu yang ujungnya diruncingkan untuk menggantikan fungsi cangkul. Ketika melihat pemandangan ini, saya berpikir, berapa lama mereka butuh waktu untuk membersihkan ladang mereka. Sedangkan memakai cangkul saja, bisa butuh waktu berhari-hari.

Padahal, pemandangan tersebut saya saksikan di pinggiran kota Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Mungkin ini yang disebut Kal Muller sebagai masyarakat semi nomaden, yakni penduduk Papua yang tidak lagi hidup berpindah-pindah, tapi masih menggunakan cara-cara orang nomaden dalam kehidupan sehari-harinya.

Saya pernah berdikusi panjang dengan seorang teman yang sudah pernah lama bertugas di Papua. Karir militernya sebagian besar dihabiskan di bumi cendrawasih. Sebagai orang yang baru beberapa kali ke Papua, saya lebih banyak mendengar ulasannya saja. Bagi teman ini, masyarakat Papua bisa dibagi ke dalam empat golongan. Keempatnya adalah nomaden, tradisional, semi modern, dan modern. Mayoritas adalah dua golongan yang pertama.

Saya semakin asyik menikmati obrolan, ketika teman tersebut mulai melebarkan tema 'diskusi' ke persoalan politik. Menurut dia, ketika sistem demokrasi dipaksakan di Papua, maka yang terjadi adalah seperti sekarang ini. Keamanan sering terganggu dan perekenomian tidak berkembang walau ada dana triliunan rupiah mengalir ke Papua setiap tahun.

Menurut teman saya itu, yang masih berada di golongan nomaden dan tradisional, akhirnya hanya menjadi alat bagi golongan di atasnya. “Karena itu, yang paling penting adalah, majukan masyarakat Papua. Beri mereka pendidikan,
wawasan, dan ilmu pengetahuan. Tingkatkan perekonomian mereka agar bisa mengejar ketinggalan dari saudara-saudara mereka di pulau lain,” katanya.

Kembali ke tayangan Face To Face di Metro TV malam minggu ini. Menurut saya, Kal Muller pun memberikan sebuah kritik yang sangat tajam ke saya dan siapapun yang merasa orang Indonesia. Kal mengatakan, Indonesia harus lebih mengenal Papua agar tahu apa yang bisa dilakukan untuk Papua. Di pelajaran sekolah ada pelajaran mengenai sejarah perjuangan orang Jawa, Sumatera, dan sebagainya, termasuk pelajaran kebudayaan mereka. Namun, antropolog itu mempertanyakan apakah juga ada sejarah dan kebudayaan orang Papua di sekolah-sekolah di luar Papua.

Saya terkesima dengan kalimat-kalimat Kal di akhir acara. Di saat orang semakin cuek dengan budaya bangsa sendiri, Kal justru mengaku sangat cinta dengan Indonesia yang kaya dengan budaya dan alamnya. Bahkan, ia tidak mau kemana-mana lagi, termasuk pulang ke negaranya hingga akhir hidupnya. "Anak-anak saya memahami keputusan saya ini," kata Kal.

"Orang indonesia kalau punya uang, akan liburan ke bali. Okelah, Bali masih Indonesia. Namun, kalau uangnya lebih banyak lagi, ia akan ke Singapura. Bila uangnya lebih banyak lagi, mereka pergi ke Eropa atau merika. Kenalilah negaramu dulu sebelum yang lain," kata Kal yang sangat membekas untuk saya.
Selengkapnya...

Sabtu, 18 Februari 2012

Jadilah Citizen Journalist di Wide Shot Metro TV

Masih banyak yang bertanya bagaimana caranya menjadi citizen Journalist di program Wide Shot Metro TV. Walau sudah setiap hari ketiga presenter Wide Shot memberi tahu, namun pertanyaan yang sama, masih saja ditanyakan oleh para penonton setia Wide Shot. Ini mungkin pertanda, kalau semangat citizen journalism memang sedang menggelora di Indonesia. Program Wide Shot yang memang dilahirkan untuk menangkap tren ini, segera mampu menarik banyak penggemar.

Wide Shot memang lahir untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi perkembangan citizen journalism di tanah air. Yang paling diminati tentu saja liputan para citizen journalist mengenai beragam topik menarik. Satu reporter akan meliput satu berita yang menarik bagi masyarakat, khususnya pemirsa Metro TV.

Untuk menjadi citizen journalist di Wide Shot, ada dua cara yang bisa diambil. Cara pertama adalah dengan mengirimkan materi hasil liputan sendiri. Si pengirim benar-benar membuat liputan sendiri, lalu hasilnya dikirimkan ke redaksi Wide Shot di Metro TV. Nanti tim Wide Shot yang akan menilai apakah hasil liputan tersebut layak tayang atau tidak. Banyak materi yang tidak memenuhi syarat sehingga terpaksa tidak bisa ditayangkan. Beberapa elemen yang menjadi pertimbangan adalah, kualitas gambar, kualitas audio, topik yang disampaikan, dan beberapa elemen lain.

Materi video bisa dikirim ke redaksi Wide Shot dengan cara meng-upload ke situs www.metrotvnews.com/wideshot. Kalau mengalami kesulitan meng-upload, maka materi juga bisa dikirim via email ke wideshot@metrotvnews.com atau wideshot@ymail.com. Cara terakhir adalah, mengirimkan materi video via pos ke redaksi Wide Shot dengan alamat di Metro TV, Jalan Pilar Mas raya, Kavling A-D, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Jangan lupa cantumkan tulisan Wide Shot di amplop, untuk mencegah surat tersasar ke bagian lain.

Cara kedua, adalah dengan mendaftar sebagai calon citizen journalist ke redaksi Wide Shot. Lalu, Anda akan dipanggil untuk merasakan bagaimana menjadi seorang reporter Metro TV dalam sehari. Caranya mudah sekal, dan siapapun bisa berpartisipasi. Anda tinggal mengirimkan permohonan yang dilengkapi dengan biodata ke alamat email wideshot@metrotvnews.com atau wideshot@ymail.com.

Begitu Anda mengirimkan email, maka tim Wide Shot akan menghubungi Anda via telepon. Anda akan diminta untuk datang ke Metro Tv untuk mengikuti sesi coaching terlebih dahulu. Sebaiknya Anda datang dengan sudah membawa beberapa ide tema peliputan. Saat sesi coaching ini, Anda akan diajari bagaimana melakukan proses peliputan terhadap tema yang akan diliput. Yang bertugas memberikan pelajaran ini adalah para produser di Wide Shot. Mereka akan mengajari Anda mengenai segala hal yang diperlukan. Mulai dari cara reportasi, mewawancarai narasumber, visual yang harus didapatkan di lapangan, cara stand up, dan sebagainya.

Saat sesi coaching ini, tim Wide Shot juga akan membagi jadwal liputan para calon citizen journalist yang hadir. Setiap hari ada dua orang yang liputan. Mereka akan meliput dengan cameraperson yang telah disiapkan Metro TV. Anda akan mendapatkan pengalaman bagaimana rasanya menjadi seorang jurnalis betulan. Hebatnya lagi, karya liputan Anda tidak akan sia-sia, karena akan ditayangkan di program Wide Shot setelah melewati proses editing.

Jangan lupa untuk memberi tahu orang tua, saudara, teman, pacar, tetangga, atau siapapun orang-orang yang Anda kenali, agar mereka ikut menyaksikan penampilan Anda di layar TV.

Jadi, tunggu apalagi. Jadilah bagian dari citizen journalist di Wide Shot Metro TV!
Selengkapnya...

Kamis, 16 Februari 2012

Ketika Rating & Share TV Menentukan Nasib

Sepertinya, rating dan share kini menjadi dewa bagi setiap TV swasta di Indonesia. Kualitas program bukan lagi menjadi ukuran kepuasan apalagi keberhasilan. Walau kualitas sangat mantap, tapi rating dan share jeblok, maka bersiap-siaplah menerima makian dari bos-bos di kantor. Apalagi, bila ternyata rating dan share program tersebut kalah dari TV pesaing. Teguran pun bisa datang berkali-kali lipat. Sedemikian agungnya rating dan share sehingga sesusah apapun materi yang telah dikerjakan, maka tidak akan berarti bila rating dan share tidak memuaskan.

Bahkan, di beberapa TV swasta, mereka rela ‘membunuh’ program yang dianggap gagal menghasilkan rating dan share yang memuaskan. Padahal, program tersebut baru mengudara beberapa epidose saja. Kalau Anda melihat sebuah program baru yang tiba-tiba saja menghilang alias tidak muncul di layar lagi, maka besar kemungkinan pemilik stasiun TV telah ‘memetieskan’ program tersebut.

Data rating dan share begitu penting bagi setiap stasiun TV swasta, karena itulah yang dipakai untuk modal berdagang ke para pemasang iklan. Logika mudahnya adalah, bila rating dan share tinggi, maka itu berarti program tersebut ditonton oleh banyak pemirsa. Para pemasang iklan tentu akan memilih program-program dengan jumlah penonton yang besar untuk mereka pasangi iklan. Merek pasti menolak memasang iklan di program yang sepi penonton. Sudah bayar mahal-mahal, tapi tidak ada orang yang melihat iklan mereka. Maka, percuma saja mereka menggelontorkan banyak uang untuk berpromosi.

Hampir setiap TV swasta kini punya bagian yang khusus membedah data-data rating dan share setiap program dari menit ke menit. Hasil analisa tersebut akan menjadi bagian programing untuk menyusun strategi siaran. Program apa yang cocok pada jam apa, program apa yang harus mendahului program apa, atau berita apa yang cocok untuk jam berapa, adalah beberapa hal yang dicari lewat bedah data rating dan share tadi.

Namun, sekali lagi, hasil analisa tersebut bukanlah segalanya. Rating dan share sebuah program bisa saja tetap jeblok walau sudah mengikuti hasil analisa tadi. Lantas, siapa yang harus disalahkan? Produser program kah? Tampaknya demikian.
Selengkapnya...

Rabu, 15 Februari 2012

Tidak Ada Narasumber Yang Sulit Ditembus

"Anda memberi tugas kepada reporter Anda untuk mewawancarai seorang narasumber. Dari lapangan, reporter tersebut kemudian melaporkan kepada Anda kalau narasumber tersebut tidak mau diwawancarai. Apa jawaban Anda untuk reporter tersebut?"

Tulisan di atas adalah sebuah soal saat saya mengikuti tes kompetensi sebagai produser. Saya butuh waktu beberapa detik untuk memikirkan jawabannya. Bukan jawaban yang serba mengira-ngira yang saya pikirkan, tapi saya mencoba mengingat-ingat kembali semua pengalaman saya yang sesuai dengan pertanyaan tadi.

Berhadapan dengan narasumber yang tertutup adalah pengalaman yang sangat tidak enak. Apalagi, si narasumber itu adalah orang yang sangat penting dalam topik liputan yang sedang dikerjakan. Kadang-kadang, dia adalah tokoh utama dalam cerita. Tidak mendapatkannya sama saja dengan mementahkan hasil liputan. Yang lebih menjengkelkan lagi, kadang-kadang penolakan terjadi saat kita sudah berhadapan dengan si narasumber. Sebenarnya, kita tinggal menghidupkan kamera dan menyodorkan mikrofon ke si narasumber itu saja.

Situasi ini jelas berbeda bagi jurnalis media cetak maupun online. Dengan bisa bertemu dengan si narasumber itu saja, sudah menjadi sebuah berita. Penolakan narasumber untuk berbicara juga sudah menjadi sebuah berita dan bisa dipakai dalam berita. Namun, tidak demikian dengan berita TV yang harus ada visual. Bagamanapun ceritanya, harus ada rekamanan pernyataan si narasumber.

Berdasarkan pengalaman selama menjadi jurnalis di media cetak dan televise, banyak cara yang bisa dilakukan seorang jurnalis untuk ‘memaksa’ si narasumber mau berbicara. Yang penting adalah, setiap jurnalis harus tahu strateginya. Tidak hanya dua tiga cara, tapi sangat banyak strategi. Kalau semua jurnalis menguasai semuanya, rasanya, narasumber yang sesulit apapun, pasti bisa ditembus.

Cerita berikut ini mungkin menjadi sebuah contoh bahwa banyak cara yang bisa dipakai untuk menembus narasumber sesulit apapun.

Seorang teman jurnalis dari sebuah majalah berita, mendapatkan tugas untuk mewawancarai seorang mantan menteri mengenai sebuah kasus. Tapi, jangankan mewawancarai, menelepon saja bukan main susahnya. Rupanya, teman ini tidak patah semangat. Ia pun mendapatkan informasi dari seseorang yang dekat dengan si narasumber itu, kalau setiap pagi si mantan menteri tersebut selalu jogging di dekat kompleks rumahnya.

Besok paginya, si jurnalis ini pun sudah nongkrong di sana saat masih pagi buta. Ia pun memakai pakaian seperti yang biasa orang pakai ketika hendak berolahraga pagi. Saya lupa, apakah ia juga membawa sebuah handuk kecil yang diletakkan di lehernya seperti yang biasa dilakukan orang yang sedang lari pagi. Yang pasti, berkat usahanya ini, ia pun berhasil bertemu dengan si narasumber yang sedang berlari pagi dengan isterinya.

Ada lagi cerita lain yang merupakan pengalaman saya sendiri. Suatu hari, saya hendak mewawancarai seorang pejabat. Saya sudah berusaha meneleponnya, namun tidak ada respon. Saya lalu nekat datang ke kantornya. Sesampainya di sana, saya pun melobi lewat staf maupun bagian humas. Semuanya menyambut saya dengan kata-kata manis dan meminta menunggu sebentar. Saya pun menurutinya. Beberapa menit, sejam, dua jam, tidak ada kabar. Setiap kali bertanya, lagi-lagi saya hanya disuruh menunggu. Pahitnya lagi, ketika sudah beberapa jam menunggu, seorang stafnya malah mengatakan akan menghubungi saya bila bosnya sudah ada waktu menerima saya.

Saya punberlalu meninggalkan kantor si pejabat itu sambil terus berpikir bagaimana bisa mendapatkan si narasumber itu untuk sebuah wawancara. Ketika berada di dalam mobil, saya menghubungi beberapa orang yang menurut saya bisa melobi si narasumber tadi. Cara saya ini sukses. Seorang teman yang tadi saya hubungi, mengontak saya dan mengatakan si narasumber menunggu saya di kantornya sekarang juga. Saya pun mendapatkan sebuah wawancara yang lengkap. Sedangkan para staf di kantor si pejabat heran bagaimana saya bisa menembus pimpinan mereka tanpa melewati mereka.

Karena itu, sesungguhnya sangat banyak cara untuk mengejar narasumber yang sesulit apapun. Nah, sebagai jawaban atas pertanyaan di atas, maka saya memberikan jawaban seperti berikut ini.

1. Terus berusaha untuk melobi narasumber tersebut. Tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, tapi berkali-kali. Apalagi, alas an penolakannya hanya karena "tidak mau" saja. Dekati dia dengan cara memancing simpatinya. Jangan putus pada usaha kelima, karena siapa yang tahu, dia justru mau pada usaha keenam.

2. Saat bertemu dengan si narasuber, kasih kode ke camperaperson untuk terus menghidupkan kamera ketika Anda sedang berbicara dengannya. Memang ini tidak sopan, tapi untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu, wawancara yang diambil secara diam-diam ini bisa dipakai suatu saat nanti.

3. Cari orang-orang yang kenal dekat dengan si narasumber. Minta mereka untuk menelepon si narasumber dan merayunya agar mau diwawancarai.

4. Kejar si narasumber saat sedang beraktifitas di luar. Saat sudah bertemu, langsung sodorkan mikropon dan wawancarai. Apapun kata-katanya, itu sudah bermanfaat untuk diberitakan. (ini jenis wawancara doorstop)

5. Bila beragam cara sudah tidak gagal dan rasa putusasa pun sudah ada di depan mata, cari narasumber lain yang bisa menjelaskan apa yang ingin ditanyakan kepada narasumber utama tadi. Usahakan narasumber pengganti tadi juga bisa menjelaskan mengapa narasumber utama tersebut tidak mau diwawancarai dan bagaimana tanggapannya saat sudah menjadi incaran para jurnalis.

Sumber foto: http://junecaldwell.wordpress.com/tag/press-freedom/
Selengkapnya...

Jumat, 10 Februari 2012

Berburu Kelezatan Durian Lokal

Musim durian lokal telah tiba. Ya, akhir tahun 2011 lalu adalah saat durian lokal mulai membanjiri pasar. Bulan Februari 2012 bisa jadi adalah puncaknya. Pasalnya, begitu banyak pedagang buah durian dadakan membuka lapak di sejumlah pinggir jalan Jakarta dan sekitarnya. Ada yang hanya menjual dua tumpukan durian yang jumlah totalnya tidak sampai 50 duren, ada yang menggantungnya di pohon yang tumbuh di pinggir jalan, ada yang sengaja membuka lapak kecil, dan banyak juga yang menjual dari atas mobil bak terbuka berplat asal Lampung atau Sumatera Selatan. Harganya juga relatif murah, mulai Rp 5.000 sampai Rp 25.000 untuk satu buah duren.

Sepertinya, tahun ini durian lokal memang berbuah sangat bagus. Para pemilik pohon durian pun seharusnya berpesta pora. Pasokan yang berlimpah menjadi salah satu buktinya. Membludaknya pasokan ini pada akhirnya mempengaruhi harga jual buah berduri yang beraroma sangat tajam tersebut. Dengan harga yangg rata-rata (hanya) Rp 15.000, tentu ini sangat murah dibandingkan membeli durian monthong yang harga perkilogram bisa mencapai Rp 25.000. Biasanya, orang membeli satu buah durian monthong seberat tiga sampai empat kilogram. Dengan demikian, membeli satu durian monthong sama dengan membeli empat buah duria lokal berukuran sedang.

Saya termasuk orang yang cukup puas dengan berlimpahnya durian lokal pada awal 2012 ini. Saya memakai kata ‘cukup puas’ karena kenikmatan memakan durian lokal tersebut, masih kalah jauh dengan pengalaman memakan durian Medan. Bagi saya, kelezatan dan kegelitan durian Medan, belum tertandingi oleh durian lokal asal daerah manapun. Setidaknya ini hasil pengalaman saya, setelah banyak mencicipi durian kalau sedang bepergian ke sejumlah daerah.

Tahun ini, belief yang sudah lama tertanam di diri saya tentang tidak ada durian lokal yang layak dicoba selain durian Medan, sedikit mulai terkikis dalam dua-tiga pekan terakhir. Akibatnya, hampir setiap hari durian selalu tersedia di rumah. Bila persediaan habis maka acara berburu durian pun kembali dijalankan. Setidaknya, saya sudah punya satu langganan pedagang durian lokal di dekat rumah yang menjadi tujuan saya dalam berburu durian lokal dalam beberapa pekan ini. Saya biasa membeli tiga sampai empat durian setiap datang ke sana dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 15.000 perbuah. Saya dan istri pun langsung berlomba menghabiskannya di rumah.

Hasil pemantauan saya, tahun ini durian lokal tidak terlalu mengecewakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena pasokan durian datang dari sejumlah daerah di Sumatera Selatan. Daerah ini memang sudah lama terkenal dengan salah satu pemasok durian bermutu ke Jakarta. Para pedagang biasa menyebutnya durian Palembang. Padahal, sesungguhnya, tidak ada durian yang datang dari Palembang. Sama dengan istilah duku Palembang, durian-durian tersebut sebenarnya dipasok dari berbagai kabupaten di Sumatera Selatan, mulai Lahat, Muara Enim, OKI, dan sejumlah daerah lainnya.

Bagi saya, rasa durian Palembang ini hanya satu-dua tingkat dibawah kelezatan durian Medan, namun berada beberapa tingkat di atas durian lokal dari sejumlah daerah di Jawa. Yang menggembirakan, rata—rata durian sudah matang di pohon, sehingga rasa duriannya sangat terasa. Ini berbeda dengan pengalaman saya selama ini, yang selalu mendapati durian yang dijual adalah buah hasil pematangan manusia, alias direkayasa setelah diambil mentah-mentah dari pohon.

Bagi penikmat durian, tentu sangat mudah membedakan mana durian yang matang di pohon dan matang karena direkayasa . Tidak hanya dari rasanya, namun dari aromanya saja sudah bisa ditebak. Salah satu cara yang sering dipakai para pedagang durian untuk mematangkan durian mentah adalah dengan mengggunakan karbit. Ini salah satu alasan yang sebelumnya membuat saya sangat jarang mau membeli durian lokal. Daripada kecewa dengan harganya, saya lebih suka mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli durian monthong, yang rasanya sudah dipastikan akan manis-manis.

Ya, itu memang cerita dulu. Kini, saya sedang menikmati pesta musim durian lokal yang aduhai kelezatannya. Semoga saja, tahun depan akan seperti ini agar kerindungan akan durian Medan sedikit terobati.
Selengkapnya...