Sabtu, 25 Februari 2012

Kritik Kal Muller Lewat Face To Face With Desi Anwar

Ada yang menarik dari tayangan Face to Face With Desi Anwar di layar Metro TV , Sabtu malam tadi. Si narasumber memberikan sebuah kritikan yang seharusnya membuat malu bangsa Indonesia. Menurut saya, Desi anwar dan timnya telah membuat sebuah tayangan yang sangat berkualitas. Saya dan istri pun betah menonton episode kali ini dari awal sampai akhir. Padahal, pada malam minggu, hampir semua TV lain menayangkan acara-acara hiburan yang meriah dan menggoda sekali untuk ditonton.

Pada episode Face To Face With Desi Anwar kali ini, presenter berita senior itu, mewawancarai Kal Muller, seorang antoplog asal Hungaria. Namun, Desi Anwar bukan mendatangi Kal ke Eropa, Amerika, atau di Singapura, seperti narasumber Face To Face sebelumnya. Desi anwar menemui Kal justru di pedalaman Papua. Desi Anwar harus naik perahu kecil berjam-jam, untuk bisa sampai ke tempat tinggal narasumbernya itu. Di layar TV, ia terlihat sempat tertidur di dalam perjalanan.

Kal memang berpuluh-puluh tahun telah menetap di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika. Ia begitu mencintai Indonesia. Karena itu, pria yang sudah berumur 72 tahun ini, mengaku akan tinggal di Indonesia sampai ajal memanggilnya. Bagi Kal, Papua adalah sebuah wilayah yang sangat menggugahnya. Ia sudah datang ke Mimika, ketika ibukot kabupaten itu, Timika, masih berupa hutan belantara. Ia tahu persis perkembangan kota tambang tempat PT Freeport Indonesia beroperasi itu. "Kota ini mulai ada ketika bandara dibangun," kata Kal kepada Desi Anwar dalam perjalanan dari pusat kota menuju pelabuhan.

Kal menghabiskan hari-harinya di Mimika dengan hidup bersama suku Kamoro, salah satu suku asli di Mimika. Ia telah cukup lama menjadi konsultan PT Freeport Indonesia, dan salah satu tugasnya adalah 'bergaul' dengan masyarakat lokal. Salah satu hasil karya Kal adalah kembali menggali kebudayaan masyarakat asli setempat yang nyaris hilang akibat masuknya agama dan penjajahan Belanda. Kal mendekati masyarakat Kamoro untuk kembali mengenal tradisi budaya mereka dan menjadikannya sesuatu yang ‘berbeda’ di zaman modern ini.

Suku Kamoro sejak dahulukala sudah mengenal seni memahat, dan hasil karya mereka begitu menarik perhatian dunia. Kal kemudian mendekati mereka untuk membeli hasil-hasil karya pahatan penduduk Kamoro. Walau awalnya sulit, namun Kal akhirnya mampu 'mengambil hati' penduduk Kamoro. Ia pun diterima sebagai sahabat. Dalam perjalanannya, Kal lalu membeli dan menjual hasil pahatan orang Kamoro, ke luar negeri. Begitu terjual, Kal kembali datang ke penjual pahatan tadi, dan memberikan keuntungan penjualannya. Cara yang ditempuh Kal ini akhirnya membuat masyarakat Kamoro mulai mengenal dunia luar, termasuk keuntungan dari kerajinan memahat yang sudah diwariskan nenek moyang mereka.

Lima buku tentang Papua yang telah ditulis Kal Muller, setidaknya menjadi bukti betapa ia menguasai Papua. Baginya, masyarakat Papua hingga hari ini masih hidup dalam zaman semi nomaden. Saya lupa apa penjelasan Kal soal istilah ini. Namun, arti dari nomaden itu sendiri adalah hidup berpindah-pindah. Mungkin, maksud semi nomaden yang diutarakan Kal adalah peralihan dari masyarakat nomaden ke tradisional. Banyak orang menyamakan nomaden dengan istilah primitif, walau akan menjadi perdebatan panjang kalau didiskusikan.


Kal Muller (paling kiri). Sumber: jppn.com
Saya sudah beberapa kali berkesempatan untuk berkunjung ke Papua. Saya juga sudah pernah melihat pedalaman papua, dimana masih ada masyarakat yang memakai koteka. Dari dekat, saya dapat melihat bagaimana kehidupan orang Papua di pedalaman. Bahkan, saya juga masuk ke dalam honai mereka.

Honai adalah rumah asli penduduk Papua yang berbentuk bulat dan umumnya tidak berjendela. Pintu pun sangat rendah, sehingga siapapun harus menunduk untuk bisa masuk. Beberapa keluarga bisa tinggal di dalam satu honai, dengan sebuah tungku di tengah honai. Mereka butuh kondisi demikian untuk memberikan kehangatan saat di dalam honai. Maklum saja, suhu di pedalaman Papua pada umumnya sangat dingin. Belum lagi, ancaman dari malaria yang memang sangat menghantui di hampir seluruh wilayah Papua.

Umumnya, masyarakat pedalaman Papua belum mengenal sistem pertanian modern. Cangkul saja tidak mereka kenal. Mereka menggunakan kayu yang ujungnya diruncingkan untuk menggantikan fungsi cangkul. Ketika melihat pemandangan ini, saya berpikir, berapa lama mereka butuh waktu untuk membersihkan ladang mereka. Sedangkan memakai cangkul saja, bisa butuh waktu berhari-hari.

Padahal, pemandangan tersebut saya saksikan di pinggiran kota Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Mungkin ini yang disebut Kal Muller sebagai masyarakat semi nomaden, yakni penduduk Papua yang tidak lagi hidup berpindah-pindah, tapi masih menggunakan cara-cara orang nomaden dalam kehidupan sehari-harinya.

Saya pernah berdikusi panjang dengan seorang teman yang sudah pernah lama bertugas di Papua. Karir militernya sebagian besar dihabiskan di bumi cendrawasih. Sebagai orang yang baru beberapa kali ke Papua, saya lebih banyak mendengar ulasannya saja. Bagi teman ini, masyarakat Papua bisa dibagi ke dalam empat golongan. Keempatnya adalah nomaden, tradisional, semi modern, dan modern. Mayoritas adalah dua golongan yang pertama.

Saya semakin asyik menikmati obrolan, ketika teman tersebut mulai melebarkan tema 'diskusi' ke persoalan politik. Menurut dia, ketika sistem demokrasi dipaksakan di Papua, maka yang terjadi adalah seperti sekarang ini. Keamanan sering terganggu dan perekenomian tidak berkembang walau ada dana triliunan rupiah mengalir ke Papua setiap tahun.

Menurut teman saya itu, yang masih berada di golongan nomaden dan tradisional, akhirnya hanya menjadi alat bagi golongan di atasnya. “Karena itu, yang paling penting adalah, majukan masyarakat Papua. Beri mereka pendidikan,
wawasan, dan ilmu pengetahuan. Tingkatkan perekonomian mereka agar bisa mengejar ketinggalan dari saudara-saudara mereka di pulau lain,” katanya.

Kembali ke tayangan Face To Face di Metro TV malam minggu ini. Menurut saya, Kal Muller pun memberikan sebuah kritik yang sangat tajam ke saya dan siapapun yang merasa orang Indonesia. Kal mengatakan, Indonesia harus lebih mengenal Papua agar tahu apa yang bisa dilakukan untuk Papua. Di pelajaran sekolah ada pelajaran mengenai sejarah perjuangan orang Jawa, Sumatera, dan sebagainya, termasuk pelajaran kebudayaan mereka. Namun, antropolog itu mempertanyakan apakah juga ada sejarah dan kebudayaan orang Papua di sekolah-sekolah di luar Papua.

Saya terkesima dengan kalimat-kalimat Kal di akhir acara. Di saat orang semakin cuek dengan budaya bangsa sendiri, Kal justru mengaku sangat cinta dengan Indonesia yang kaya dengan budaya dan alamnya. Bahkan, ia tidak mau kemana-mana lagi, termasuk pulang ke negaranya hingga akhir hidupnya. "Anak-anak saya memahami keputusan saya ini," kata Kal.

"Orang indonesia kalau punya uang, akan liburan ke bali. Okelah, Bali masih Indonesia. Namun, kalau uangnya lebih banyak lagi, ia akan ke Singapura. Bila uangnya lebih banyak lagi, mereka pergi ke Eropa atau merika. Kenalilah negaramu dulu sebelum yang lain," kata Kal yang sangat membekas untuk saya.

2 komentar:

  1. ashadi9:55 AM

    apresiasi yang tinggi untuk Mr Kall Muller, sejak tahun 2006 sy berinterakdi dg may suku kamoro, lokasi yg di liput diacara ini sy kenal dan beberapa karya Mr Kall saya jadikan rujukan...salam buat Mr Kall jika diijinkan saya pingin ketemu untuk berbagi cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, asik sekali, Anda punya kesempatan beriteraksi langsung dengan Mr Kal Muller. Sepertinya, Mr Kal ini adalah seorang buku yang berjalan ya. Khususnya soal Papua. Para pejabat di negeri ini seharusnya belajar banyak dari Mr Kal. :-) Sukses untuk Anda.....

      Hapus