Rabu, 15 Februari 2012

Tidak Ada Narasumber Yang Sulit Ditembus

"Anda memberi tugas kepada reporter Anda untuk mewawancarai seorang narasumber. Dari lapangan, reporter tersebut kemudian melaporkan kepada Anda kalau narasumber tersebut tidak mau diwawancarai. Apa jawaban Anda untuk reporter tersebut?"

Tulisan di atas adalah sebuah soal saat saya mengikuti tes kompetensi sebagai produser. Saya butuh waktu beberapa detik untuk memikirkan jawabannya. Bukan jawaban yang serba mengira-ngira yang saya pikirkan, tapi saya mencoba mengingat-ingat kembali semua pengalaman saya yang sesuai dengan pertanyaan tadi.

Berhadapan dengan narasumber yang tertutup adalah pengalaman yang sangat tidak enak. Apalagi, si narasumber itu adalah orang yang sangat penting dalam topik liputan yang sedang dikerjakan. Kadang-kadang, dia adalah tokoh utama dalam cerita. Tidak mendapatkannya sama saja dengan mementahkan hasil liputan. Yang lebih menjengkelkan lagi, kadang-kadang penolakan terjadi saat kita sudah berhadapan dengan si narasumber. Sebenarnya, kita tinggal menghidupkan kamera dan menyodorkan mikrofon ke si narasumber itu saja.

Situasi ini jelas berbeda bagi jurnalis media cetak maupun online. Dengan bisa bertemu dengan si narasumber itu saja, sudah menjadi sebuah berita. Penolakan narasumber untuk berbicara juga sudah menjadi sebuah berita dan bisa dipakai dalam berita. Namun, tidak demikian dengan berita TV yang harus ada visual. Bagamanapun ceritanya, harus ada rekamanan pernyataan si narasumber.

Berdasarkan pengalaman selama menjadi jurnalis di media cetak dan televise, banyak cara yang bisa dilakukan seorang jurnalis untuk ‘memaksa’ si narasumber mau berbicara. Yang penting adalah, setiap jurnalis harus tahu strateginya. Tidak hanya dua tiga cara, tapi sangat banyak strategi. Kalau semua jurnalis menguasai semuanya, rasanya, narasumber yang sesulit apapun, pasti bisa ditembus.

Cerita berikut ini mungkin menjadi sebuah contoh bahwa banyak cara yang bisa dipakai untuk menembus narasumber sesulit apapun.

Seorang teman jurnalis dari sebuah majalah berita, mendapatkan tugas untuk mewawancarai seorang mantan menteri mengenai sebuah kasus. Tapi, jangankan mewawancarai, menelepon saja bukan main susahnya. Rupanya, teman ini tidak patah semangat. Ia pun mendapatkan informasi dari seseorang yang dekat dengan si narasumber itu, kalau setiap pagi si mantan menteri tersebut selalu jogging di dekat kompleks rumahnya.

Besok paginya, si jurnalis ini pun sudah nongkrong di sana saat masih pagi buta. Ia pun memakai pakaian seperti yang biasa orang pakai ketika hendak berolahraga pagi. Saya lupa, apakah ia juga membawa sebuah handuk kecil yang diletakkan di lehernya seperti yang biasa dilakukan orang yang sedang lari pagi. Yang pasti, berkat usahanya ini, ia pun berhasil bertemu dengan si narasumber yang sedang berlari pagi dengan isterinya.

Ada lagi cerita lain yang merupakan pengalaman saya sendiri. Suatu hari, saya hendak mewawancarai seorang pejabat. Saya sudah berusaha meneleponnya, namun tidak ada respon. Saya lalu nekat datang ke kantornya. Sesampainya di sana, saya pun melobi lewat staf maupun bagian humas. Semuanya menyambut saya dengan kata-kata manis dan meminta menunggu sebentar. Saya pun menurutinya. Beberapa menit, sejam, dua jam, tidak ada kabar. Setiap kali bertanya, lagi-lagi saya hanya disuruh menunggu. Pahitnya lagi, ketika sudah beberapa jam menunggu, seorang stafnya malah mengatakan akan menghubungi saya bila bosnya sudah ada waktu menerima saya.

Saya punberlalu meninggalkan kantor si pejabat itu sambil terus berpikir bagaimana bisa mendapatkan si narasumber itu untuk sebuah wawancara. Ketika berada di dalam mobil, saya menghubungi beberapa orang yang menurut saya bisa melobi si narasumber tadi. Cara saya ini sukses. Seorang teman yang tadi saya hubungi, mengontak saya dan mengatakan si narasumber menunggu saya di kantornya sekarang juga. Saya pun mendapatkan sebuah wawancara yang lengkap. Sedangkan para staf di kantor si pejabat heran bagaimana saya bisa menembus pimpinan mereka tanpa melewati mereka.

Karena itu, sesungguhnya sangat banyak cara untuk mengejar narasumber yang sesulit apapun. Nah, sebagai jawaban atas pertanyaan di atas, maka saya memberikan jawaban seperti berikut ini.

1. Terus berusaha untuk melobi narasumber tersebut. Tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, tapi berkali-kali. Apalagi, alas an penolakannya hanya karena "tidak mau" saja. Dekati dia dengan cara memancing simpatinya. Jangan putus pada usaha kelima, karena siapa yang tahu, dia justru mau pada usaha keenam.

2. Saat bertemu dengan si narasuber, kasih kode ke camperaperson untuk terus menghidupkan kamera ketika Anda sedang berbicara dengannya. Memang ini tidak sopan, tapi untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu, wawancara yang diambil secara diam-diam ini bisa dipakai suatu saat nanti.

3. Cari orang-orang yang kenal dekat dengan si narasumber. Minta mereka untuk menelepon si narasumber dan merayunya agar mau diwawancarai.

4. Kejar si narasumber saat sedang beraktifitas di luar. Saat sudah bertemu, langsung sodorkan mikropon dan wawancarai. Apapun kata-katanya, itu sudah bermanfaat untuk diberitakan. (ini jenis wawancara doorstop)

5. Bila beragam cara sudah tidak gagal dan rasa putusasa pun sudah ada di depan mata, cari narasumber lain yang bisa menjelaskan apa yang ingin ditanyakan kepada narasumber utama tadi. Usahakan narasumber pengganti tadi juga bisa menjelaskan mengapa narasumber utama tersebut tidak mau diwawancarai dan bagaimana tanggapannya saat sudah menjadi incaran para jurnalis.

Sumber foto: http://junecaldwell.wordpress.com/tag/press-freedom/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar