Kamis, 29 Maret 2012

Demi Sebuah Gambar

Ketika membuka koleksi foto-foto lama, tiba-tiba saya menemukan beberapa foto saat sedang melakukan peliputan ke Pangkalan Berandan, Sumatera Utara. Dari puluhan foto yang ada, saya paling tertarik dengan foto-foto yang memperlihatkan rekan saya, Ahmad Lukman Hakim, sedang mengambil gambar dari atas sebuah tiang di tengah sebuah lapangan rumput.

Saya pun teringat lagi dengan kisah peliputan ke kota minyak di Sumatera Utara itu. Ketika itu, kami berangkat ke sana untuk membuat satu episode program Metro Realitas mengenai nasib aset-aset Pertamina yang ada di Pangkalan Berandan. Di kota kecil inilah cikal-bakal Pertamina. Sekitar 105 tahun silam, penjajah menambang minyak di sumur minyak di Pangkalan Berandan. Inilah untuk pertama kalinya minyak diambil dari dalam perut bumi pertiwi.


Setelah Indonesia merdeka, minyak di Pangkalan Berandan diambil alih Indonesia. Singkat cerita, Pertamina pun berkuasa di kota yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Langkat itu. Ketika Pertamina mencapai masa keemasan di Pangkalan Berandan, segala macam fasilitas pun dibangun. Sepertinya, uang Pertamina sangat berlimpah sehingga mau apapun, tinggal mewujudkannya. Sama seperti Alladin yang tinggal meminta kepada jin yang ada di teko, apapun yang ia inginkan.

Apapun dibangun atas nama kebutuhan kegiatan Pertamina di sana. Mulai dari komplek perumahan yang terserak dimana-mana, sekolah, rumah sakit, kolam renang, dan sebagainya. Bahkan, saya menginap di hotel yang dulunya khusus diperuntukkan bagi petinggi-petinggi yang berkunjung ke Pangkalan Berandan.

Namun apa yang terjadi kemudian. Ketika Pertamina merasa kegiatan eksploitasi minyak di Pangkalan Berandan tidak menguntungkan lagi, kota itu pun sepertinya ditinggalkan. Rumah-rumah yang telah dibangun dengan biaya besar, akhirnya kosong. Banyak bangunan yang cuma menjadi tempat bersarang hewan-hewan peliharaan penduduk atau bintang liar. Sangat memprihatinkan, bila membayangkan betapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk membangun semuanya.






Agar tayangan menjadi lebih bagus, kami pun mencari tempat paling tinggi untuk memotret bagaimana kondisi sebuah kompleks Pertamina di Pangkalan Berandan. Kami pun menemukan sebuah tiang yang menjulang tinggi di sebuah lapangan rumput. Tingginya sekitar 20 meter. Lukman akhirnya memanjat sambil membawa kamera. Tiang terlihat sedikit goyang saat dipanjat. Beruntung angin juga tidak berhembus kencang.

Hasilnya memang memuaskan. Kami mendapatkan visual dari atas yang bisa menggambarkan sebuah kompleks Pertamina yang tidak terawat lagi. Demi mendapatkan gambar yang dahsyat, seorang kameramen memang harus melakukan apapun saat berada di lapangan. Bisa jadi, nyawa pun dipertaruhkan demi mendapatkan sebuah momen.

Tidak jarang, seorang kameramen harus berada di tengah pertempuran perang, tawuran antarkampung, atau bentrokan seperti yang belakangan ini marak untuk menolak rencana kenaikan harga BBM. Hilangkan dulu rasa takut. Yang penting, kamera dapat merekam momen-momen cantik yang ada di depan lensa. Kalau seorang wartawan takut berada di daerah konflik, sudah sepantasnya ia berhenti menjadi jurnalis.
Selengkapnya...

Jumat, 23 Maret 2012

Seribu Pesona Jayapura

Jangan membayangkan Jayapura sebagai sebuah kota yang masih kuno dan jauh dari kesan modern. Bisa jadi, begitu menginjakkan kaki di ibukota Provinsi Papua ini, maka Anda justru akan jatuh cinta dengan beragam keunikan yang ditawarkan oleh kota yang dulu bernama Hollandia tersebut. Mulai dari keindahan alam, kehidupan masyarakatnya, kulinernya, dan beragam pengalaman lain yang mengesankan.

Jayapura adalah kota paling timur Indonesia. Dari pusat kota, hanya dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan darat untuk sampai ke perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Pusat kota terletak di tepian Teluk Jayapura. Banyak orang memberikan julukan kepada Jayapura sebagainya Hongkong-nya Indonesia. Seperti halnya kota bekas koloni Inggris itu, Jayapura terletak di pinggir laut dengan tanah yang berbukit-bukit. Sekilas, sulit membayangkan bagaimana penduduk Jayapura bisa tinggal di lereng-lereng bukti yang terlihat sangat terjal.

Penduduk asli Jayapura berasal dari beberapa suku di Papua yang sudah terbiasa berinteraksi dengan para pendatang. Sejarah mencatat, sejumlah bangsa asing pernah singgah ke Papua dalam pelayaran menaklukkan bangsa-bangsa lain. Nama Hollandia yang pernah dipakai sebagai nama Jayapura, juga merupakan pemberian orang asing, saat datang ke Jayapura untuk tujuan eksplorasi. Hollandia kemudian berubah menjadi Kotabaru, berganti lagi menjadi Sukarnopura, dan terakhir bernama Jayapura yang berarti ‘kota kemenangan’.

Namun, seperti di sejumlah kota lain di Indonesia, penduduk asli justru kalah bersaing dengan para pendatang pada sektor ekonomi. Sulit menemukan toko ataupun kios yang dimiliki penduduk asli. Mereka hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Pemerintah seharusnya mencari terobosan-terobosan jitu agar penduduk lokal Papua semakin mampu bersaing dengan para pendatang.

Lihat saja, para penduduk lokal justru lebih banyak ditemui berjualan setiap sore di sebuah lahan parkir di depan Hotel Yasmin. Mereka menjual sejumlah hasil bumi dengan hanya beralaskan karung. Para penggila fotografi yang sedang berkunjung ke Jayapura, hampir pasti tidak pernah lupa untuk hunting foto di tempat ini. Aktifitas jual-beli di areal parkir ini, memang menjadi objek foto yang sangat menarik. Ekspresi dan kesibukan para penduduk lokal yang sedang sibuk menjual dan membeli sejumlah hasil bumi, menawarkan pemandangan yang eksotis di lensa kamera.


Ada satu tempat yang paling cocok untuk melihat Jayapura secara utuh. Namanya Polimak. Lokasinya berada di bukit paling tinggi di tengah Kota Jayapura. Kendaraan roda empat pun bisa menjangkau Polimak hingga ke puncak dengan melewati perkampungan penduduk dan jalan yang berliku-liku. Dari bukit yang juga menjadi lokasi semua menara pemancar TV ini, siapa saja bisa menikmati panorama Kota Jayapura secara utuh. Dan, begitu Anda memalingkan muka ke kanan, maka Samudra Pasifik sudah ada di depan mata Anda.

Biasanya, siapapun yang datang ke bukit Polimak ini, pasti betah berlama-lama di sana. Ada yang sekadar ingin memanjakan mata lewat pemandangan yang tidak pernah membosankan, menikmati tiupan angin yang begitu sejak sambil duduk di bawah pohon rindang, atau berjalan kesana-kemarin untuk hunting foto dari berbagai angle. Silahkan Anda berlama-lama di sini, asal tetap waspada dan berhati-hati agar jangan sampai terperosok ke dasar bukit.

Saat malam tiba, jangan lupa untuk menikmati keindahan Jayapura yang sedang disiram oleh cahaya lampu-lampu. Tempat yang paling pas adalah dari Bukit Bhayangkara. Rasakan betapa mempesonanya Jayapura pada malam hari dari bukit ini. Teluk Jayapura tampak berkilau oleh lampu-lampu dari kapal yang sedang bersandar dan juga dari bangunan yang mengitari bibir pantai sepanjang Teluk Jayapura. Bukit-bukit juga bermandikan cahaya dari lampu rumah-rumah penduduk. Sedangkan di jalan-jalan, tampak terang oleh cahaya dari lampu kendaraan yang lalu-lalang.

Dengan ditemani oleh udara yang cukup sejuk, maka Anda pasti betah berlama-lama duduk di tembok yang memanjang di pinggir di Bukit Bhayangkara ini. Karena itu, agar lebih sempurna acara bersantai-santai di bukit ini, tidak salahnya Anda juga membawa makanan ringan sebagai pelengkapnya. Jangan lupa juga untuk membawa kamera, dan abadikanlah Kota Jayapura pada malam hari yang sedang bermandikan cahaya. Bukit Bhayangkara adalah tempat yang spesial bagi pencinta fotografi yang ingin memotret Jayapura pada malam hari.

Mungkin saat Anda sedang asyik memotret-motret dari Bukit Bhayangkara ini, tiba-tiba ada warga setempat yang menghampiri dan meminta uang kepada Anda. Biasanya, mereka mengatakan Anda sedang berdiri di tanah mereka sehingga harus membayar sejumlah uang. Silahkan Anda berdebat panjang, namun mereka akan tetap menunggu sampai Anda memberikan sejumlah uang. Dan, jangan lupa juga, Anda juga akan dimintai uang parkir oleh warga setempat.

Situasi ini memang sudah jamak terjadi di Papua. Atas nama tanah ulayat, maka ada saja penduduk setempat yang akan meminta sejumlah uang ketika mereka melihat Anda sedang melakukan aktifitas. Apalagi kalau mereka melihat Anda sedang melakukan kegiatan fotografi. Karena itu, selalu sediakan uang ekstra kemanapun Anda bepergian di Papua. Kalau situasi ini kebetulan terjadi pada Anda, anggap saja bagian dari pengalaman Anda berkelana ke tanah Papua. Tidak perlu was-was, apalagi sampai tertekan dan akhirnya merusak acara liburan Anda. Sebab, masih banyak tempat yang menarik dan eksotis lain yang harus Anda lihat dan nikmati kalau sedang berada di Jayapura.

Puas menikmati keindahan Kota Jayapura dan segala hiruk-pikuknya, ada baiknya Anda sedikit berjalan ke luar kota. Salah satu lokasi yang wajib dikunjungi adalah Danau Sentani. Danau ini berlokasi sekitar 50 km dari pusat kota Jayapura, atau sekitar satu jam perjalanan. Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua. Hebatnya lagi, ada sekitar 21 pulau kecil yang terserak di sekeliling danau ini. Hampir setiap pulau berpenghuni. Rumah-rumah kayu milik penduduk terlihat berdiri di pinggiran setiap pulau.



Perjalanan dari Jayapura menuju Sentani juga memberikan pengalaman yang berkesan untuk Anda. Kalau Anda penyuka fotografi, maka Anda akan menemukan banyak titik spot yang indah untuk menambah koleksi foto Anda selama berada di Papua. Ada beberapa kota kecil yang akan Anda lintasi untuk sampai di Danau Sentani, seperti Entrop, Abepura, dan Waisa. Jalanan menuju Sentani juga berliku-liku dan naik turun bukit. Sesekali Anda akan berada di pinggir jurang yang langsung menghadap ke laut. Jangan lupa berhenti di Skyline, salah satu puncak bukit yang memberikan pemandangan indah ke laut lepas. Minum air kelapa muda di sini menambah kesejukan Anda beristirahat sejenak sambil mengarahkan lensa kamera di arah laut.

Saat yang paling cocok berkunjung ke Danau Sentani adalah pada pertengahan tahun. Pada sekitar akhir Juni, biasanya selalu digelar Festival Danau Sentani. Beragam atraksi berlangsung dalam beberapa hari di sekitar danau. Yang paling memikat para pengunjung dari luar Papua adalah atraksi budaya. Bergegaslah datang dengan membawa perlengkapan fotografi Anda untuk mengabadikan beragam atraksi seni dan budaya khas Papua yang begitu menawan, eksotis, dan terlihat sangat indah di lensa kamera.

Menurut cerita penduduk di sekitar danau, nama Sentani diberikan pertama kali oleh serang pendeta yang sedang melakukan misi misionaris di daerah sekitar danau pada awal 1900an. Sentani memiliki arti "di sini kami tinggal dengan damai”. Arti ini tidak salah, karena keindahan Danau Sentani memberikan kedamaian bagi siapa saja yang datang. Ditambah lagi dengan sikap penduduk di sekitar danau yang ramah, membuat acara jalan-jalan ke Danau Sentani pun semakin berkesan.


Sayang, pemda setempat sepertinya belum mengelola pesona Danau Sentani secara maksimal. Selain beberapa rumah makan yang berdiri di pinggir danau, tidak ada aktifitas lain yang bisa dilakukan di sekitar danau. Kalau saja ada beragam aktifitas air atau perahu-perahu yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk berlayar mengelilingi danau, mungkin pengunjung akan semakin banyak datang dan menghabiskan uang mereka di sana.

Kalau ingin mendapatkan pemandangan utuh dari Danau Sentani, maka Monumen McArthur adalah tempatnya. Monumen ini berada di salah satu bukit di jejeran Pegunungan Cyclops yang menjulang tinggi di pinggiran Sentani. Dari jalan raya Abepura-Sentani, persimpangan untuk menuju ke sana ada di sebelah kanan jalan, sebelum memasuki pusat Kota Sentani. Walau jalannya kecil, namun kondisi jalan relatif mulus.

Kita harus melewati pintu gerbang Kompleks Militer Resimen Kodam Cendrawasih untuk bisa sampai ke Monumen McArthur. Namun, tidak perlu khawatir izin akan sulit keluar. Anda tinggal meninggalkan KTP di pos penjagaan, maka Anda sudah bisa kembali memacu kendaraan menuju puncak bukit.

Ketika melihat Monuman McArthur, berarti Anda telah sampai di puncak bukit. Orang sering menyebut bukit ini dengan nama Bukit Makatur, yang bisa jadi plesetan dari McArthur. McArthur adalah salah satu jenderal sekutu yang berusaha menghancurkan pertahanan Jepang di kawasan Pasifik ketika pecah Perang Dunia II. Perbukitan yang menjadi lokasi Monumen McArthur adalah bekas basis markas sang Jenderal asal Australia tersebut. Foto-foto McArthur berikut sejumlah barang-barang peninggalannya, bisa Anda nikmati di sebuah bangunan kecil di areal monumen ini.



Selesai berwisata sejarah, maka jangan lupa untuk berjalan sebentar menuruni bukit di depan monumen hingga sampai di pinggir bukit. Sebuah pemandangan yang menakjubkanakan terlukis di depan Anda. Tataplah hamparan Tanah Papua yang masih hijau dari tepi bukit di pegunungan Cyclops tersebut.

Danau Sentani akan sangat terlihat jelas secara utuh dari bukit Makatur ini. Saking jelasnya pemandangan danau, maka Anda bisa menghitung berapa sebenarnya jumlah pulau yang ada di danau tersebut. Setiap pulau akan terlibat seperti gunung-gunung kecil dengan ujung yang lancip. Begitu juga Bandara Sentani dan hiruk-pikuk Kota Sentani. Pesawat yang mendarat atau akan terbang, terlihat sangat kecil seperti mainan anak-anak saja dari Bukit Makatur.

Waktu yang pas berkunjung ke Bukti Makatur adalah pada menjelang sore hari. Selain tidak panas, Anda akan bisa menikmati matahari terbenam dari sini, asal cuaca sedang berpihak pada Anda. Cuaca di Papua memang bisa berubah-ubah dalam sekejab. Hujan lokal juga menjadi hal biasa di papua. Karena itu, jadwal penerbangan di Papua sering tidak menentu karena sangat tergantung pada cuaca.

Papua sangat terkenal dengan keindahan pantai dan lautnya. Salah satu pantai yang wajib dikunjungi saat berada di Jayapura adalah Pantai Tabalusu. Dari pusat kota, pantai ini dapat dicapai dalam waktu dua jam dengan jalan yang relatif mulus. Pantai ini berada di sebuah teluk yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik. Pantai Tablanusu mulai ramai dikunjungi wisatawan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Yang unik dari pantai ini adalah, seluruh permukaan pantai penuh oleh batu-batu kecil yang berbentuk pipih. Menurut warga sekitar, batu-batu tersebut ada sejak dulu dan bukan hasil rekayasa. Tidak jauh dari pinggir pantai, juga terdapat sebuah danau kecil yang menyimpan air tawar untuk kebutuhkan penduduk setempat.


Pantai Tablanusu mulai ramai dikunjungi ketika pemda setempat sangat serius mengelola dan menata kawasan tersebut. Tidak hanya akses menuju ke sana, namun beberapa fasilitas juga disediakan, seperti lahan parkir, gazebo, dan tempat penginapan dengan harga relatif murah.

Dan, yang paling penting, penduduk di sekitar Pantai Tablanusu juga sudah diberikan ilmu pengetahuan agar mereka melek dunia pariwisata. Kabarnya, pemda setempat harus mendatangkan konsultan wisata untuk mensulap Pantai Tablanusu menjadi tempat wisata yang ramah bagi para pengunjung.

Beragam aktifitas bisa dilakukan di Pantai Tablanusu. Selain menikmati panorama yang memanjakan mata, juga jangan lupa untuk menikmati kesegaran air lautnya. Walau menghadap langsung ke Samudra Pasifik, namun gelombang di pantai ini relatif tenang karena posisi pantai yang berada di sebuah teluk. Anda juga bisa menyewa perahu nelayan setempat untuk berlayar sedikit ke tengah laut, dan menikmati pemandangan kawasan pantai dari tengah laut. Tentunya, Anda tidak boleh lupa membawa semua peralatan fotografi Anda.


Puas jalan-jalan, jangan lupa untuk menikmati beragam kuliner yang ada di Jayapura. Salah satu kuliner yang harus dicoba adalah ikan mujair bakar dari Danau Sentani. Ada banyak rumah makan yang menyediakan menu ikan Mujair bakar. Salah satu yang paling terkenal adalah Warung Nusantara, yang tidak jauh dari Kantor Gubernur Papua. Selain ikan juga lezat, yang menambah selera makan setiap pengunjungnya adalah sambal yang sangat pedas. Sambal dibuat dengan cara cabe diiris-iris, lalu dicampur bawang dan jahe, dan kemudian disiramkan ke ikan. Dijamin Anda akan mengeluarkan keringat saat makan.

Selain ikan mujair bakar, Anda juga harus mencicipi nasi kuning khas Jayapura yang banyak dijual di warung-warung kecil pada malam hari. Menikmati Papeda juga harus dicoba kalau ada di Jayapura. Papeda adalah makanan khas wilayah Timur Indonesia yang disajikan dalam bentuk sup ikan kuah kuning yang dimakan dengan bubur sagu. Kalau Anda tidak terbiasa memakan papeda, maka awalnya Anda pasti kesulitan menyantap hidangan yang sangat lezat ini. Namun, ketika sudah mulai lihai, maka Anda tidak akan bisa berhenti sampai sup ikan kuah kuning tidak tersisa lagi di mangkok. Coto Makassar juga sangat mudah dijumpai di Jayapura dan menjadi salah satu wisata kuliner di sana.

Mungkin Anda heran, dari semua nama makanan tadi, sepertinya tidak ada yang asli makanan Papua. Makanan-makanan jenis itu bisa dijumpai di daerah lain. Anda memang tidak salah. Para pendatanglah yang membawa jenis masakan tersebut. Sangat sulit menjumpai penduduk asli yang membuka usaha rumah makan. Tidak hanya di Jayapura, namun juga di pelosok-pelosok pedalaman Papua.

Ada lagi faktor lain yang harus Anda ketahui kalau hendak bepergian ke Jayapura. Umumnya, harga barang-barang di sana lebih mahal daripada daerah luar Papua. Salah satu faktornya adalah karena mayoritas barang-barang harus didatangkan dari luar Papua, sehingga biaya transportasi menjadi sangat mahal.

Namun, soal makanan juga sama saja. Walau sumber makanan berasal dari papua sendiri, namun harganya juga lumayan mahal. Satu ekor ikan mujair bakar bisa dihargai Rp 50 ribu. Satu piring nasi kuning yang di Jakarta hanya sekitar Rp 7.000, maka di Jayapura bisa mencapai Rp 25.000. Bagi yang pertama kali datang ke Jayapura, biasanya terkejut dengan harga barang-barang di sana. Mungkin ini yang membuat banyak perusahaan memberikan uang kemahalan bagi pegawai mereka yang harus ditugaskan ke Papua.

Kalau Anda penikmat buah-buahan, maka Anda harus merasakan kesegaran salah satu buah khas dari Papua, yang namanya buah Matoa. Pohon matoa banyak tumbuh di sekitar Danau Sentani. Buah matoa mirip dengan buah klengkeng, namun berwarna hijau dan berukuran lebih besar. Kalau sedang musim, harganya sekitar rp 20.000 perkilogram. Tapi, kalau sedang tidak banyak di pasaran, harganya bisa mencapai Rp 100.000 perkilogram. Biasanya musim buah matoa sekitar akhir tahun, mulai September.

Sebelum meninggalkan Jayapura, jangan lupa membeli oleh-oleh khas Papua. Untuk kaos oblong, Anda bisa membelinya di beberapa toserba di pusat kota. Harganya juga bervariasi, antara Rp 40.000 sampai Rp 100.000, tergantung jenis bahan kaos. Motif kaos umumnya adalah gambar-gambar bertemakan daerah, seperti wajah orang papua, alat musik, burung cendrawasih, dan sebagainya.

Sedangkan di kawasan Hamadi, salah satu sudut kota Jayapura, Anda akan menemukan jejeran kios yang menjual beragam pernak-pernik khas Papua yang terbuat dari kayu, batu, maupun logam. Anda bisa mendapatkan gelang dan kalung kayu, koteka, patung, lukisan di kulit kayu, dan beragam kerajinan tangan lainnya. Harganya juga relatif murah, asal Anda pandai menawarnya. Seluruh penjual adalah warga pendatang, dan paling banyak berasal dari Makassar. Tapi, Anda jangan sampai salah pilih oleh-oleh, karena banyak juga barang kerajinan yang dijual di Hamadi, didatangkan dari luar Papua, seperti dari Bali atau Yogyakarta.

Yuk, Terbang ke Jayapura!
Saat ini, sudah banyak maskapai nasional yang membuka rute ke Jayapura. Waktu tempuh penerbangan Jakarta-Jayapura sekitar enam sampai delapan jam, tergantung berapa kali pesawat transit. Ada pesawat yang hanya transit sekali, yakni di Makassar, namun ada juga pesawat yang transit di dua kota.

Bila Anda menggunakan maskapai yang tidak memberikan makanan dan minuman di dalam kabin, maka hendaknya Anda membawa persediaan makanan dan minuman. Anda akan mudah haus karena harus terbang cukup lama. Bila memilih terbang pada malam hari, jangan lupa juga untuk membawa jaket atau selimut, karena di dalam kabin akan terasa sangat dingin.

Harga tiket pesawat Jakarta-Jayapura berkisar antara Rp 1,5 juta sampai Rp 4 juta untuk kelas ekonomi. Harga rata-rata adalah sekitar Rp 2,5 juta. Kalau tidak mendesak, jangan bepergian ke Jayapura pada musim liburan, karena tiket akan sulit diperoleh. Kalau pun ada, harganya bisa berkali-kali lipat.

Berikut beberapa jadwal penerbangan ke Jayapura:
Garuda Indonesia
Berangkat: 05.00 WIB, 21.10 WIB, 22.45 WIB
Tiba : 13.35 WIT, 07.00 WIT, 08.40 WIT

Lion Air
Berangkat : 22.15 WIB
Tiba : 06.55 WIT

Batavia Air:
Berangkat: 22.45 WIB
Tiba : 07.00 WIT

Merpati
Berangkat: 05.00 WIB, 21.30 WIB
Tiba : 15.55 WIT, 07.05 WIT

Mau Sewa Mobil atau Naik Angkutan Umum?
Angkutan Umum memang ada di Jayapura. Namun, jumlahnya tidak terlalu banyak dan hanya melayani beberapa rute saja. Bagi Anda yang ingin menikmati liburan di Jayapura secara leluasa, maka akan lebih baik kalau Anda menyewa mobil saja. Harga sewa mobil di ibukota Provinsi Papua ini, sekitar Rp 500 ribu per hari. Harga ini belum termasuk bahan bakar dan tips bagi sopir. Harga sewa akan lebih mahal bila Anda hendak bepergian jauh ke luarkota. Mobil rental banyak terdapat di Bandara Sentani atau di areal parkir sejumlah hotel.

Nginap dimana di Jayapura?
Seiring majunya perekonomian di Papua, maka semakin banyak hadir hotel-hotel di Jayapura. Anda bisa memilih hotel sesuai dengan isi kantong, mulai dari kelas melati sampai bintang 4. Hotel-hotel favorit pada umunya berada di pusat kota Jayapura. Memang, harga rata-rata hotel di sana lebih mahal daripada kota lain walau masuk dalam kategori sama.

Berikut ini adalah beberapa hotel favorit di Jayapura:
Hotel Aston Jayapura & Convention Center
Superior 900.000
Deluxe 950.000
Premiere Deluxe 1.000.000
Bussiness Suite 1.800.000

Hotel Sentani Indah
Standart 900.000
Superior 950.000
Deluxe 1.500.000
Suite 2.500.000

Hotel SwissBell Papua
Superior 1.000.000
Deluxe 1.185.000
Executive Suite 2.000.000
Deluxe Suite 2.500.000
Presidential Suite 3.655.000

Hotel Yasmin
Standard 750.000
Deluxe 880.000
Executive 980.000
Junior Suite 1.850.000
Yasmin Suite 2.100.000

Hotel Le Premiere Papua
Mulai dari Rp 400.000

(Tulisan ini sudah dimuat di majalah Travel Fotografi edisi Maret 2012)
Selengkapnya...

Senin, 19 Maret 2012

Mengintip Gilang Ayunda Bermain Biola

Ada yang berbeda dengan tayangan Wide Shot edisi hari ini. Tema yang diangkat adalah mengenai violin, atau orang lebih mengenal dengan sebutan biola. Tidak hanya beberapa video klip dari artis Vanessa Mae yang diputar. Namun, sang maestro pemain biola Indonesia, Idris Sardi, juga diundang ke acara Wide Shot. Tidak ketinggalan ada dua bintang tamu lain yang juga lihai memainkan alat musik gesek yang diletakkan di leher itu, ikut hadir menemani sang maestro.

Yang lebih mengundang perhatian lagi adalah, aksi memainkan violin alias biola oleh Gilang Ayunda. Salah satu presenter Wide Shot ini, memainkan sekitar tiga lagu pada penayangan Wide Shot kali ini. Ia tampak sangat menguasai alat musik itu. Suara yang dihasilkan dari hasil menggesek violin yang ia tempelkan di lehernya itu, terdengar sangat merdu. Walau Gilang terlihat agak tegang, namun itu semua tertutupi oleh kepiawaiannya dalam memainkan nada demi nada. Cukup sempurna untuk sebuah aksi dadakan.

Aksi Gilang tersebut tidak hanya dapat disaksikan di layar TV. Bagi yang sedang ada di ruang redaksi (newsroom) Metro TV, mereka bisa langsung menyaksikannya di depan mata. Bahkan, mereka dapat juga melihat saat-saat Gilang Ayunda latihan sebelum siaran. Hal ini bisa terjadi karena Wide Shot siaran bukan dari studio, namun dari tengah newsroom.

Aksi tiga presenter Wide Shot (Gilang Ayunda, Sumi Yang, dan Putri Ayuningtyas)

Tempat untuk ketiga presenter Wide Shot membawakan program yang lebih mengedapankan citizen jurnalism itu memang didesain sedemikian rupa di tengah newsroom Metro TV. Karena itu, siapapun bisa menyaksikan bagaimana Gilang Ayunda, Putri Ayuningtyas, dan Sumi Yang, siaran selama empat jam dari pukul satu sampai lima sore. Siapapun bisa melihat bagaimana ketiga penyiar Wide Shot itu bertingkah polah agar terlihat bagus di layar. Kalau pemirsa tidak bisa melihat apa yang mereka perbuat ketika sedang break, maka siapapun di newsroom Metro TV bisa melihatnya.

Ruang siaran yang menyatu dengan ruang redaksi seperti yang dipakai oleh Wide Shot, memang sudah banyak dipakai oleh stasiun TV. CNN juga sudah lama menggunakan sistem ini. Kalau di Indonesia, Liputan 6 SCTV juga telah melakukan hal yang sama, ketika mereka pindah kantor ke Senayan City. Nah, Metro TV juga tidak mau ketinggalan dengan membangun ‘studio’ baru di tengah newsroom. Bahkan, selain digunakan oleh Wide Shot, ‘studio’ baru tersebut juga sering digunakan oleh program lain, terutama untuk dialog.

Newsroom yang merangkap juga sebagai tempat siaran, tentu ada sisi baik dan buruknya. Beragam kejadian-kejadian heboh acapkali datang. Misalkan saja, ketika Wide Shot mengundang komunitas musik perkusi. Saat itu, semua ‘alat-alat musik’ diboyong ke dalam newsroom. Saya memakai tanda petik karena fungsi utama dari alat-alat musik itu sebenarnya bukan untuk bermain musik. Misalkan saja, ada galon air, potongan besi, sampai velg mobil. Suara yang dihasilkan memang berirama harmonis. Namun volumenya sungguh terasa di telinga. Akibatnya, para awak Metro TV yang sedang bekerja di newsroom, menjadi heboh dengan atraksi tersebut.

Di kesempatan lain, giliran orang-orang di newsroom yang membuat heboh ketiga presenter Wide Shot. Teriakan-teriakan para awak Metro TV yang sedang bekerja di newsroom, sering 'bocor' di layar. Apalagi ketika ada potongan besi meja yang jatuh ke lantai, dan menimbulkan suara yang nyaring sekali. Biasanya, setelah besi itu jatuh, juga diikuti oleh suara gemuruh orang-orang di newsroom. Heboh sekali.

Studio yang dibuat menyatu dengan newsroom seperti yang dipakai oleh Wide Shot, memang ada kelebihan dan kekurangannya. Namun, sisi-sisi positifnya jauh lebih terasa. Layar terlihat lebih enak ditonton karena ada orang-orang terlihat beraktifitas di di sekelilingnya. Kamera pun lebih dinamis untuk mengambil angle.

Wide Shot siaran dari tengah Newsroom Metro TV

Di belakang Gilang Ayunda adalah ruang rapat redaksi Metro TV

Studio yang ada di tengah newsroom juga membuat ketiga presenter Wide Shot lebih leluasa untuk menemukan ide-ide pembicaraan. Mereka bisa membahas apa yang sedang terjadi di newsroom, atau membahas siaran TV di beberapa stasiun TV yang ada di depan mereka. Ketika para calon citizen journalist Wide Shot sedang mendapat pengarahan di ruang rapat redaksi yang bersebelahan dengan mereka, para presenter pun membahasnya. Kamera lalu di-zoom ke ruang rapat itu, sehingga tampak apa kegiatan mereka di layar.

Yang pasti, ketiga presenter Wide Shot harus lebih tahan untuk siaran di depan ‘publik’. Kalau di studio, hanya ada kameraman bersama mereka. Namun, di Wide Shot, aksi mereka juga disaksikan oleh orang-orang yang ada di newsroom. Siapapun bisa menonton bagaimana seorang Gilang Ayunda bermain biola, mengintip bagaimana seorang Putri Ayungtyas asyik berjoget-joget ketika di layar sedang ditayangkan sebuah videoklip, atau menatap aksi seorang Sumi Yang asyik dengan BB-nya saat sedang break. Semua ini tentu tidak bisa dilihat para pemirsa.

Terima kasih untuk Risna Noer untuk hasil jepretan foto-fotonya
Selengkapnya...

Selasa, 13 Maret 2012

Siapa Gubernur DKI Jakarta 2012-2017

Sejak hari ini, KPUD DKI Jakarta mulai membuka pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur yang akan memimpin DKI Jakarta selama lima tahun ke depan. Belum jelas, siapa saja yang bakal mendaftar. Sebab, ada bebeberapa partai besar yang belum menentukan calon mereka. Misalkan saja, Partai Demokrat dan PDIP. Kedua partai itu belum mendeklarasikan siapa pasangan calon yang mereka usung dalam Pemilukada DKI Jakarta kali ini. Namun, melihat dari dinamika politik yang berkembang saat ini, sepertinya mereka akan mengusung kembali Fauzi Bowo, sama seperti lima tahun lalu.

Tidak seperti gubernur di provinsi lain, posisi gubernur DKI Jakarta jauh lebih prestis, karena berada di ibukota negara. Selain memiliki lobi dan jaringan luas, gubernur Jakarta juga memegang kendali terhadap anggaran hingga puluhan triliun rupiah. Belum lagi beraneka macam fasilitas kelas bintang lima. Tak heran, posisi gubernur DKI Jakarta diincar siapa saja.

Untuk 2012 ini saja, APBD DKI Jakarta mencapai Rp 36 triliun. Angka ini akan terus menggelembung seiring majunya perekonomian Indonesia. Sebagai bahan perbandingan, awal Fauzi Bowo memimpin Jakarta pada 2007 lalu, APBD DKI Jakarta (hanya) mencapai Rp 20 triliun.

Tahun 2007 lalu, saya pernah membuat sebuah liputan mendalam mengenai kursi empuk gubernur tanah betawi untuk program Metro Realitas di Metro TV. Dari hasil dari liputan ini, saya menjadi tahu betapa gurihnya kursi DKI 1, sebutan umum untuk gubernur DKI Jakarta. Tidak heran, kalau siapapun mau memperebutkannya. Siapapun berambisi untuk untuk maju. Tidak peduli apa jabatannya sekarang. Termasuk seorang gubernur di provinsi lain yang masih saja mau dicalonkan oleh partainya. Memang, partai politik manapun siap memperdagangkan suara mereka untuk mendukung calon yang punya kans paling besar untuk memenangkan pertarungan.

Tahun 2007 lalu, ada dua pasangan yang bertarung di Pemilukada DKI Jakarta. Keduanya adalah pasangan Adang Daradjatun - Dani Anwar dan pasangan Fauzi Bowo – Prijanto. Inilah pemilihan gubernur pertama di Jakarta yang langsung dipilih oleh warga Jakarta alias Pilkada langsung. Hanya satu yang mereka harapkan, yakni 5,7 juta pemilih akan mencoblos gambar mereka pada hari pemungutan suara pada 8 Agustus 2007. Siapapun yang menang, ia akan memegang kendali kota Jakarta selama 5 tahun ke depan. Pada akhirnya, pasangan Fauzi Bowo – Prijanto memenangkan pertarungan ini.

“Ya, secara sosial, posisi gubernur Jakarta berbeda dengan gubernur-gubernur daerah lain. Gubernur Jakarta adalah gubernurnya ibukota, yang secara politis posisinya lebih besar. Pusat kekuasaan nasional dan pusat bisnis nasional ada di Jakarta semua. Jakarta boleh dikatakan adalah kota metropolitan dan internasional, karena semua ada disini. Gubernur Jakarta memiliki status yang lebih dibandingkan gubernur-gubernur daerah lainnya, dan status lebih ini membuat gubernur Jakarta mendapat tunjangan lebih sebagai gubernur. Artinya dia mendapat gaji. Gaji itu juga lebih,” kata Azas Tigor Nainggolan, yang saat itu menjadi salah satu narasumber dalam tayangan Metro Realitas soal pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang saya garap tersebut. Saat itu, Azas diwawancarai sebagai Koordinator Forum Warga Jakarta (FAKTA).

Dalam tayangan itu, Metro Realitas mengungkap, kalau sebuah kekuasan yang megah menjadi milik siapapun yang menjadi gubernur Jakarta. Problem yang ada di Jakarta adalah miniatur dari problem Indonesia. Sukses memimpin Jakarta, berarti jalan menuju ke kursi presiden sudah terbuka. Ini yang membedakan gubernur Jakarta dengan gubernur daerah lain.

“Menurut saya, daya tertariknya bukan hanya dari dana, tapi juga dari prestise. Prestise seorang gubernur Jakarta adalah levelnya sudah selevel menteri. Apalagi sekarang dipilih langsung, itu kebanggaannya lebih besar lagi. Jadi semakin banyak orang merebutkannya. Jadi bukan masalah dana,” kata Azas.

Menemani Presiden dalam berbagai kegiatan sudah menjadi hal biasa bagi gubernur DKI Jakarta. Apalagi, Presiden dan Wakil Presiden tercatat sebagai warganya gubernur DKI Jakarta. Lobi dan jaringan gubernur DKI pun menjadi jauh lebih luas dibandingkan gubernur daerah lain. “Kita sadar, karena pusat kegiatan, semua tokoh ada di sini,” ujar Sutiyoso suatu ketika saat masih menjadi Gubernur Jakarta.


Gubernur DKI Jakarta adalah gubernur paling terkenal di Indonesia. Berita aktifitasnya setiap hari menghiasi surat kabar atau televisi nasional. “Senang karena punya pergaulan yang luas. Dekat dengan orang-orangh pusat, DPR, dan orang-orang terkenal,” tambah Sutiyoso.

Selain memiliki lobi dan jaringan paling luas, posisi gubernur Jakarta juga menjanjikan kemakmuran yang sangat menggiurkan. Penghasilan seorang gubernur DKI Jakarta ditaksir mencapai miliaran rupiah sebulan. Belum lagi sejumlah fasilitas lainnya yang pasti membuat iri siapapun.

“Kelebihan Jakarta ya pada APBDnya saja paling tidak sekarang mencapai Rp 20 triliun. Bisa dibayangkan! Sementara daerah lain ada yang tidak sampai Rp 1 triliun. Karena Jakarta ini memang khusus, makanya dibilang Daerah Khusus Ibukota. Gubernur Jakarta punya tunjangan lebih, selain gaji dan punya privilege yang lebih. Misalnya, dia punya tunjangan kesehatan lebih, asuransi kesehatan, sampai televisi saja berlangganan TV kabel yang satu bulan sampai sekitar Rp 5 juta,” ungkap Azas.

Mari kita lihat besarnya anggaran untuk pos kepala daerah berdasarkan APBD DKI Jakarta tahun 2007. Untuk pos ini, telah dianggarakan sebesar Rp 9,84 miliar. Uang sebanyak ini dipakai untuk melayani kebutuhan sang gubernur dan wakil gubernur, mulai gaji sampai biaya jalan tol.

Gaji pokok gubernur jakarta sebenarnya hanya Rp 3 juta sebulan. Namun Gubernur Jakarta juga mendapatkan penghasilan dari beragam sumber legal lainnya, yang bisa mencapai miliaran rupiah. “Gaji pokok tidak sampe Rp 5 juta. Tapi dia dapat kontribusi dari pajak. Dari pajak daerah saja, dia dapat 2,5% dari keseluruhan. Itu sebulan bisa dapat sekitar Rp 2 miliar. Itu sah!” kata Azas.

Tigor Nainggolan menaksir, total penghasilan Gubernur Jakarta sekitar Rp 5 miliar per bulan. Itu baru yang legal. Karena itu, menurutnya, sebetulnya siapapun yang jadi gubernur, kalau dia mau bekerja saja, tidak mengambil lagi kiri-kanan, sudah cukup. Sebab, sudah ada anggaran untuk apapun yang dia mau. Sampai untuk menggaji juru tulis pidato saja, ada anggaran sekitar Rp 1 milia setahun. “Lima 5 miliar tidak lah. Memang besar, tapi tidak terlalu besar,“ sanggah Sutiyoso.

Banyak kalangan menilai, berlimpahnya materi menjadi incaran siapapun yang ingin menjadi gubernur DKI Jakarta. Gubernur Jakarta juga memimpin sebuah pemda yang memiliki banyak perusahaan daerah. Berdasarkan situs www.jakarta.go.id, Pemda DKI Jakarta memiliki 19 perusahaan daerah. Pemda DKI Jakarta tercatat memiliki saham di kawasan wisata Ancol dan di Bank DKI yang memiliki aset sekitar Rp 10 triliun.

Nah, kita tunggu saja siapa yang bakal menang dalam pemilukada DKI Jakarta 2012 ini. Apakah Foke akan kembali memimpin Jakarta, atau justru ada nama lain. Bagi Anda warga Jakarta, jangan lupa untuk mencoblos pada 11 Juli 2012.

Sumber Foto:uniqpost.com
Selengkapnya...

Sabtu, 10 Maret 2012

Cara Carlos Slim Jadi Orang Terkaya di Dunia

Tahun 2012, majalah ekonomi Forbes kembali menobatkan Carlos Slim Helu sebagai orang terkaya di dunia. Menurut majalah itu, kekayaan Carlos mencapai US$ 69 miliar, yang kalau dirupiahkan jumlahnya sekitar Rp 690 triliun. Sulit membayangkan bagaimana rasanya memiliki kekayaan sebesar itu. Namun, rupanya tidak demikian bagi seorang Carlos.

Hebatnya lagi, konglomerat asal Meksiko ini, sudah tiga tahun menduduki kursi nomor satu sebagai manusia paling kaya di bumi ini. Ibarat main sepakbola, pengusaha yang berusia 72 tahun pada tahun 2012 ini, sudah melakukan hetrik. Belum ada lawan yang mampu menandinginya. Bill Gate, orang nomor dua terkaya di dunia, tercatat ‘hanya’ memiliki kekayaan US$61 miliar berdasarkan data Forbes 2012. Memang, kekayaan keduanya cukup tipis perbedaannya. Tapi, Bill tetap saja tidak bisa mengejar, apalagi menyalip Carlos.

Saya penasaran, siapa sih sebenarnya manusia yang bernama Carlos Slim Helu ini? Lantas, bagaimana ia bisa sekaya itu? Saya pun berkesempatan untuk googling mengenai sosok konglomerat itu. Siapa tahu, dari hasil berselancar di dunia maya ini, saya bisa menemukan cara cepat dan tepat menjadi kaya-raya milik Carlos Slim.

“Bagaimana rasanya menjadi orang terkaya di dunia dan tinggal di negara dengan 50 juta orang miskin?” tanya seorang wartawan suatu kali, seperti dikutip dari situs Earth Times. Slim tampak terganggu dengan pertanyaan itu. “Saya tidak akan membawa apapun saat saya mati,” jawab pria yang hingga kini tetap tinggal di Mexico City tersebut.

Pertanyaan dari si wartawan tadi memang ada benarnya. Carlos mematahkan anggapan orang kebanyakan kalau orang-orang terkaya di dunia ini, pasti berasal dari negara-negara maju. Sedangkan Carlos berasal dari Meksiko, sebuah negara di Amerika Latin yang masih memilik segudang masalah dengan kemiskinan. Negara itu juga sering ditimpa hura-hara. Belum lagi permasalahan narkoba dan imigran gelap ke Amerika Serikat.

“Dari posisi saya sebagai seorang pebisnis, saya selalu merasa memiliki tanggung jawab besar bagi negara saya, dan saya telah bertindak dengan tepat. Tantangan dalam hidup saya adalah untuk memperbaiki kondisi kesehatan, pendidikan, dan menciptakan lapangan kerja,” kata Slim yang dikenal selalu mengenakan arloji plastik.


Carlos Slim Helú kini berumur 72 tahun. Ia lahir pada 28 Januari 1940 dari pasangan Maronite Julián Slim Haddad dan Linda Helú. Keduanya menikah pada bulan Agustus 1926 dan merupakan keturunan Lebanon. Mereka dikaruniai enam orang anak dan Carlos merupakan anak bungsu mereka. Dunia mengenal Carlos sebagai seorang pengusaha dan filantropis.

Carlos dikenal sebagai orang nomor satu yang mempengaruhi industri telekomunikasi di Meksiko dan juga hampir di seluruh Amerika Latin. Slim terus memperluas bisnis ponselnya maupun bisnis lain di seantero Amerika Latin. Dia memegang kendali atas perusahaan Teléfonos de México (Telmex), Telcel dan América Móvil. Slim juga melibatkan ketiga anaknya yaitu Carlos Slim Domit, Marco Antonio Slim Domit dan Patrick Slim Domit sebagai pimpinan perusahaan.

Perusahaan-perusahaan keluarga Slim setara lebih dari lima persen produk domestrik bruto Meksiko tahun lalu, dan sepertiga perusahaan yang terdaftar di bursa saham Meksiko adalah perusahaan-perusahaan di bawah kendalinya.


Fortune menjuluki Carlos sebagai John D Rockefeller masa kini, merujuk industrialis AS yang meraih kekayaan sangat besar pada awal abad 20. Perusahaan milik Slim meliputi perbankan, otomotif dan telekomunikasi. Teléfonos de México (Telmex) mengendalikan 92 persen saluran telefon di negara itu. Layanan nirkabel América Móvil miliknya, yang menguasai 70 persen pasar, awalnya adalah pabrik ban.

Slim mengantongi reputasi sebagai seorang pria yang mampu mengubah nasib perusahaan bermasalah menjadi kisah sukses dan selalu mencari peluang bisnis, meski para pesaing menuduhnya melakukan praktik monopoli dalam pasar telekomunikasi. Keberuntungannya datang pada 1982 dengan privatisasi Telmex oleh pemerintah Meksiko. Telmex saat ini mendominasi telepon kabel dan pasar akses internet di Meksiko.

Slim mewarisi sifat sebagai seorang pebisnis dari orang tuanya. Ayahnya adalah seorang imigran asal Lebanon yang membuka toko di Mexico City pada 1902 dan selanjutnya membeli real estat komersial saat revolusi pada 1910. Ayah Slim pada masa mudanya melarikan diri ke Meksiko pada tahun 1902 untuk menghindari pemerintahan militer keras dari Kekaisaran Ottoman. Empat orang kakak laki-lakinya sebelumnya sudah menentap di Meksiko. Ibunya, Linda Helú, lahir in Parral, Chihuahua, dari orang tua imigran asal Lebanon yang datang ke Meksiko pada akhir abad ke-19. Kedua orang tuanya adalah perintis majalah berbahasa Arab pertama untuk komunitas Lebanon-Meksiko dengan sebuah mesin cetak yang dibawa saat bermigrasi.

Pada tahun 1911, Julian mendirikan toko bahan pakaian La Estrella del Oriente. Kemudian tahun 1921, ia membeli sejumlah perumahan mewah di distrik komersial pusat kota Mexico City, yang menjadi penyumbang besar kekayaannya.

Slim menyelesaikan kuliahnya di Universidad Nacional Autónoma de México pada jurusan teknik. Ia lalu menikah dengan Soumaya Domit pada tahun 1967. Mereka dikaruniai 3 orang anak yang hingga kini bekerja pada perusahaannya serta bertanggung jawab langsung kepadanya setiap hari.


Usai Slim lulus sebagai ‘tukang’ insinyur pada dasawarsa 60-an, ia memulai karir sebagai pialang saham. Selanjutnya dia mulai mengambil alih berbagai perusahaan semasa krisis ekonomi di Amerika Latin pada dasawarsa 80-an. Pada umurnya yang ke-28, ia dinobatkan sebagai Pengusaha Terbaik di Meksiko. “Kalau Anda hidup berdasarkan pendapat-pendapat orang, sama saja Anda mati. Saya tidak mau hidup sambil memikirkan bagaimana orang akan mengenang saya,” kata Slim suatu ketika.

Carlos Slim merupakan wakil Presiden Komisaris dari Mexican Stock Exchange dan Presiden Komisaris pada perusahaan broker Mexican Association of Brokerage Houses. Dia juga merupakan Presiden pertama pada perusahaan New York Stock Exchange Administration Council yang bekerja pada tahun 1996-1998. Slim juga termasuk jajaran pengurus utama dari Alcatel dan Grup Altria (dulu bernama Philip Morris), walau mengundurkan diri pada April 1996.

Slim juga sempat masuk dalam jajaran pengurus dari SBC Communications hingga bulan Juli 2004 yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk program World Education & Development Fund, yang berfokus pada proyek infrastruktur, kesehatan dan pendidikan dunia. Di sana, ia memiliki saham mayoritas menurut Majority Shareholder of CompUSA.

Pada tahun 1997, banyak perusahaan yang belum mengenal jaringan iMac, dan pada saat itulah Slim membeli 3% saham perusahaan komputer Apple, yang nilainya terus membumbung tinggi dalam beberapa tahun berikutnya. Slim juga dikenal sebagai orang dibalik berkembangnya industri keuangan di Meksiko, yang dinamakan Grup Carso, disamping perusahaan lainnya yaitu jaringan usaha ritel CompUSA.

Tahun 2000, dia mendirikan Fundación del Centro Histórico de la Ciudad de México A.C (Mexico City Historic Downtown Foundation) yang memiliki tujuan merevitalisasi dan menyelamatkan pusat kota Meksiko yang memiliki nilai sejarah tinggi sehingga sekaligus memungkinkan orang-orang memiliki kesempatan hidup yang lebih baik serta akses hiburan yang lebih memadai di area bersejarah ini. Selain itu, penggemar fanatik baseball ini juga aktif mempromosikan budaya dan olahraga.

Sumber: diolah dari berbagai sumber
Selengkapnya...

Jumat, 09 Maret 2012

Liputan Apapun Menarik Ditayangkan Asal Tahu Caranya

Seorang reporter TV mendapatkan tugas untuk meliput acara seminar bertema perpolitikan di Indonesia. Ia pun berangkat ke lokasi acara bersama kameramen. Menjelang sore, si reporter kembali ke kantor dengan membawa hasil liputan dari acara seminar yang berlangsung sejak pagi hari itu.

Produser pun menugaskan si reporter untuk membuat sebuah paket berdasarkan hasil liputannya. Dengan pede-nya, si reporter pun membuat paket dengan durasi sekitar dua menit. Naskah sangat bagus. Apalagi, ada beberapa kutipan wawancara narasumber. Namun, ketika paket itu mau diedit, si reporter tiba-tiba bingung.

Di rekaman liputannya hanya ada suasana acara seminar dan wawancara beberapa narasumber. Durasi visual suasana seminar yang diambil kameramen hanya sekitar dua menit. Sebagian besar hanya berisi orang-orang yang duduk membisu menyimak pembicaran para narasumber di atas podium. Juga terlihat ada visual berdurasi beberapa detik tentang seorang peserta yang tampaknya menahan kantuk.

Seorang narasumber sedang diwawancarai banyak wartawan

Si reporter pun akhirnya selesai mengedit paket berita tersebut. Durasinya memang pas dua menit. Celakanya, sejak detik pertama sampai detik terakhir, visual yang digunakan hanya berisi suasana seminar. Tidak ada gambar lain. Dan, paket tersebut sama sekali tidak menarik untuk pemirsa.

Kalau saja si reporter mau berpikir bagaimana caranya agar penugasan meliput acara seminar itu, bisa lebih menarik saat muncul di layar, maka pasti ia tidak bingung saat akan mengolahnya di dapur editing. Seyogyanya, seorang jurnalis TV dituntut untuk bisa merancang agenda peliputan yang ditugaskan kepadanya. Saat menuju ke lokasi peliputan, ia sudah harus punya gambaran berita seperti apa yang akan disajikan di layar berdasarkan penugasan kepadanya tersebut. Kemampuan memvisualisasikan, yang bahasa umumnya adalah mengkhayal, harus dimiliki setiap jurnalis TV.

Tanpa bisa membayangkan bagaimana nanti hasil liputan merek akan tayang, maka setiap jurnalis TV hanya akan meliput apa yang ada di permukaan. Tidak ada inisiatif untuk memperdalam hasil liputan itu. Bahkan, tugas pokok pun sering tidak maksimal. Ketika ada kesulitan, mereka langsung menyerah tanpa ada usaha untuk menyingkirkan hambatan itu. Misalkan saja, ketika narasumber menolak diwawancarai, tidak ada upaya lain untuk berpikir bagaimana caranya agar pernyataan si narasumber itu tetap ada yang terekam di kamera.

Ketika seorang jurnalis TV mendapat tugas untuk meliput sebuah diskusi, misalnya, maka seharusnya tidak hanya acara diskusi yang diliput dan mewawancarai beberapa narasumber di sana. Umumnya, acara diskusi tidak menarik di layar untuk diberitakan. Membosankan dan monoton. Agar tetap menarik ditampilkan di layar TV, maka si reporter harus cerdas memikirkan bagaimana caranya. Caranya gampang, visualisasikan saja bagaimana nanti ia akan membuat paket beritanya. Bayangkan juga bila ia di posisi penonton, apa yang ia harapkan tersaji di layar. Dengan demikian, maka si reporter itu menjadi tahu paket berita seperti apa yang menarik berdasarkan tema acara diskusi tersebut.

Ritual membayangkan ini tidak sulit dan hanya butuh waktu singkat. Kalau sudah terbiasa, hanya butuh waktu beberapa detik saja. Bahkan, nantinya akan muncul begitu saja dalam pikiran, tanpa perlu lagi fokus memvisualkannya di dalam otak kita. Begitu mendapatkan tugas meliput, langsung tahu harus berbuat apa di lapangan.

Dalam meliput acara diskusi atau seminar, bisa jadi, agar liputannya tetap menarik di layar, maka dibutuhkan gambar atau liputan pendukung. Misalkan saja, mencari tabel atau grafik sesuai dengan tema acara, atau mengambil visual-visual pendukung di luar acara. Contohnya adalah, visual orang-orang, pemandangan di sebuah tempat, atau mungkin membuat personalisasi seseorang.

Memang, hal ini akan butuh waktu lagi untuk mengerjakannya . Tapi, ini semua demi tayangan yang menarik. Penonton suka dan reporter yang meliput pun puas.

Sumber foto: republika.co.id

Selengkapnya...

Kamis, 08 Maret 2012

Inilah 10 Orang Terkaya Dunia Versi Forbes 2012

Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di dunia. Rupanya, posisi pertama masih diduduki oleh orang yang sama dengan tahun lalu. Namanya Carlos Slim Helu. Menurut Forbes, kekayaan Carlos mencapai US$ 69 miliar. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 690 triliun. Wow! Jumlah kekayaan bos perusahaan telekomunikasi Telmex dan Movil asal Brazil itu, mencapai setengah dari APBN Indonesia.

Forbes mengumumkan daftar orang terkaya di dunia ini pada Kamis, 8 Maret 2012. Menurut Forbes, walau tetap menempati peringat pertama, namun kekayaan Carlos Slim Helu anjlok US$ 5 miliar dibandingkan pada 2011 yang mencapai US$ 74 miliar. Berkurangnya harta Carlos akibat saham Movil di Wall Street, mengalami gonjangan sehingga turun hingga separuh harga sepanjang 2011. Selain itu perusahaannya yang lain, Telmex, dikenai denda US$ 1 miliar oleh pemerintah Meksiko karena melakukan monopoli.


Berikut ini adalah 10 orang terkaya di dunia 2012 versi Forbes:
Selengkapnya...

Rabu, 07 Maret 2012

Ada Edi Ginting di Majalah Travel Fotografi

Travel fotografi adalah majalah baru milik Kompas Gramedia. Edisi perdana terbit awal Maret ini. Sesuai dengan namanya, Travel Fotografi adalah sebuah majalah yang menggabungkan informasi tentang travel dan fotografi. Majalah ini melihat sebuah ceruk baru, yakni kebutuhan akan media tentang travel, tapi juga memberi informasi tentang fotografi. Sebab, Kompas Gramedia menilai, antara travel dan kamera tidak bisa dipisahkan. Kamera adalah benda yang tidak boleh ketinggalan dalam setiap perjalanan. Kapapun dan kemanapun.

Edisi perdana Travel Fotografi ini, hadir dengan liputan utama tentang merekam keindahan cityscape. Majalah ini terbit dalam seratus halaman yang full color. Kertasnya lux dengan ukuran lebih kecil daripada majalah pada umumnya. Beragam artikel yang sangat informatif tersaji di setiap halamannya. Mulai dari soal eksplorasi ke suatu tempat, pembahasan kultur, lokasi-lokasi foto yang keren-keren, dan sebagainya.

Namun, selain itu semua, ada hal lain yang membuat Travel Fotografi edisi perdana ini, begitu istimewa untuk saya. Di majalah yang dibanderol seharga Rp 30.000 ini, salah satu rubriknya bernama 'jelajah', yang berisi artikel mengenai petualangan ke sebuah tempat. Papua menjadi tempat pertama yang dikunjungi. Judul artikelnya 'Sejuta Pesona Jayapura'. Artikel ini berisi catatan perjalanan ke kota paling timur Indonesia itu, lengkap dengan beragam tempat yang wajib dikunjungi, kuliner yang lezat, dan sebagainya. Laporan ini begitu lengkap, karena diulas sampai delapan halaman dan dilengkapi dengan sejumlah foto yang sangat cantik dan menarik.

Lantas, mengapa artikel ini sangat menarik buat saya? Baiklah, saya akan membuat sebuah pengakuan. Artikel tersebut adalah tulisan saya! Yap, tulisan tentang Jayapura itu memang hasil karya saya. Begitu juga dengan semua foto yang menyertai tulisan itu, adalah hasil jepretan saya.

Munculnya tulisan saya di edisi perdana Travel Fotografi ini, benar-benar sebuah kebahagiaan untuk saya. Ada sebuah kepuasan yang tidak bisa diukur dengan apapun, termasuk uang sekalipun. Memang begitulah sejatinya seorang penulis, termasuk juga wartawan. Kepuasan atas hasil jerih payah dalam membuat tulisan, adalah ketika tulisan itu naik cetak, diedarkan, dan dibaca publik.


Foto saya tentang Pemandangan Jayapura dari atas bukit Verbak, dipasang sampai dua halaman

Sebagian foto dan tulisan saya di Travel Fotografi ini sudah saya posting di blog ini

Foto anak-anak Papua di salah satu halaman Travel Fotografi menjadi foto favorit saya

Halaman penutup dari tulisan saya sepanjang 8 halaman di Travel Fotografi

Sebenarnya, tulisan saya di Travel Fotografi itu, sebagian sudah pernah saya posting di blog saya ini. Begitu juga dengan beberapa fotonya. Rupanya, tulisan dan beragam laporan perjalanan saya yang ada di blog ini, memikat tim dari Travel Fotografi. Alhamdulillah. Mengutip kata-kata dari Syahrini, tulisan di blog yang tadinya hanya saya buat untuk iseng-iseng, akhirnya menjadi ‘sesuatu banget’.

Saya sangat berterima kasih kepada editor Travel Fotografi, Yuliandi Kusuma, yang sudah memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam Travel Fotografi edisi perdana tersebut. Sahabat saya itu memang jagonya fotografi. Ia juga sudah menelurkan banyak buku tentang fotografi, komputer, aplikasi program, dan lain-lain. Kali ini, Kompas Gramedia pun mempercayainya untuk menerbitkan Travel Fotografi. Edisi perdana pun sukses beredar dengan tampilan dan beragam isi yang keren dan informatif.
Selengkapnya...

Selasa, 06 Maret 2012

Jangan Liputan dengan Kepala Kosong

Entah mengapa, seorang jurnalis selalu dianggap cerdas oleh masyarakat. Bagi mereka, jurnalis adaah pekerjaan yang mengetahui informasi apapun karena dinilai punya akses langsung ke sumber berita. Baik itu berita yang sedang menjadi bahan pembicaraan, ataupun topik-topik yang sudah lewat. Rasanya, setiap jurnalis akan malu atau bahkan minder, bila buta dengan setiap berita yang sedang hangat.

Begitu juga dengan saat liputan. Tanpa dibekali informasi yang cukup mengenai tugas peliputan yang akan ia laksanakan, biasanya si jurnalis tersebut akan kerepotan saat akan mengembangkan berita di lapangan. Bekal informasi tersebut akan menentukan kualitas hasil liputan yang ia dapat. Lebih parah lagi, tugas peliputan tersebut bisa saja gagal akibat minimnya informasi yang dipunya. Sedangkan jaringan dan koneksi yang bisa membantu memberikan ingformasi di lapangan juga tidak ada.

Sebenarnya banyak cara agar setiap jurnalis tidak 'mati gaya' ketika sudah sampai di lapangan. Setiap orang pasti punya cara masing-masing. Yang paling sering adalah dengan menelepon produser atau redaktur untuk minta background peliputan. Ini memang tidak salah. Dan, semestinya pimpinan mereka di kantor memang harus lebih mengarahkan anak buah di lapangan, agar liputan mereka semakin tajam.

Seorang reporter TV sedang siap-siap untuk siaran dari lapangan sepakbola
Namun, kalau segala informasi juga dipasok, termasuk hal-hal yang sebenarnya sudah diketahui publik, ini tentu bukan iklim yang baik bagi seorang jurnalis. Celakanya lagi, bahkan seringkali alamat lokasi peliputan juga diminta kepada produser atau produser. Padahal, sebenarnya alamat tersebut sangat mudah didapat karena sedang ramai dibicarakan. Tidak hanya di media cetak, namun media online juga sudah sering menulisnya.

Sekali, dua kali, atau tiga kali bertanya tentang hal-hal sepele seperti ini tentu masih wajar. Tapi, bila menjadi kebiasaan, maka bersiap-siaplah mendapatkan 'nasihat' dari sang produser atau redaktur mereka. Padahal, begitu banyak langkah yang bisa dilakukan agar informasi yang kita butuhkan, sudah ada di dalam kepala kita, ketika hendak berangkat liputan.

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan:

1.Biasakan datang lebih awal ke kantor. Setelah mengetahui apa penugasan pada hari ini, maka sempatkanlah untuk googling mengenai topik liputan. Kumpulkan artikel-artikel yang penting, lalu print-lah semuanya. Nah, dalam perjalanan, kita bisa membaca dan mencatat poin-poin yang penting.

2. Kalau tidak sempat membaca koran di kantor, maka belilah koran di lampu merah atau dimanapun dalam perjalanan. Harga koran di lampu merah juga biasanya lebih murah daripada membeli di tempat lain. Selain sebagai teman dalam perjalanan, koran tersebut juga menjadi referensi untuk memperdalam hasil liputan kita.

Dua cara di atas bisa jadi sudah tidak biasa lagi pada zaman sekarang. Semakin murahnya smartphone dan semakin menjamurnya tablet, maka mempermudah jurnalis untuk mencari informasi apapun yang dibutuhkan. Yang penting koneksi internet cepat. Namun, setiap jurnalis tetap harus tahu bahwa mempersiapkan bahan liputan sejak berangkat dari kantor, tentu tetap jauh lebih bagus dan efektif. Anda tidak akan direpotkan lagi oleh urusan mencari-cari informasi tambahan liputan sebelum sampai ke tempat peliputan. Sebab, smartphone atau tablet Anda, tentunya bisa digunakan untuk hal-hal lain, seperti untuk hiburan dikala macet atau saat menunggu narasumber yang tidak pasti kapan datang.

Ketika saya mendapatkan tugas peliputan ke luarkota, tidak hanya background soal topik peliputan yang saya siapkan sebelum berangkat ke kota tujuan. Bila saya belum mendapatkan hotel, maka saya pun menyempatkan diri untuk mencatat nama-nama hotel di sana, lengkap dengan tarif dan fasilitan yang disediakan. Saya juga mengumpulkan informasi mengenai kuliner apa saja yang direkomendasikan di kota itu. Dan, yang tidak pernah saya lupakan adalah, mencatat apa saja tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi di sela-sela jadwal peliputan.

Nah, cukup sampai di sini dulu tips reportase dari saya kali ini…

Sumber foto: zimbio.com
Selengkapnya...

Sabtu, 03 Maret 2012

Hitam Putih Kota Tua Jakarta


Saya sudah lupa kapan persisnya datang ke kawasan Kota Tua Jakarta untuk pertama kali. Namun, yang pasti, kawasan Kota Tua adalah salah satu tempat favorit saya untuk melepas lelah ketika sudah jenuh dengan rutinitas. Saya pernah seharian berada di sana, sekadar mampir sebentar, datang malam hari, atau sekadar melintas.

Di kawasan ini, saya bisa rileks dengan menatap bangunan-bangunan tua yang tampak mulai kropos dimakan usia. Kalau rasa lapar dan haus memanggil, saya pun bisa menikmati aneka kuliner yang dijajakan para pedagang kakilima. Tidak hanya makanan kakilima biasa, namun saya juga bisa menemukan makanan dan minuman yang sulit dicari di tempat lain, seperti kerak telor. Saya juga bisa menemukan jajanan, yang kembali mengingatkan saya ke masa kecil, seperti es lilin.

Mungkin masih banyak yang bertanya, dimana kawasan Kota Tua Jakarta ini. Kalau Anda 'googling' dengan kata kunci ‘Kota Tua Jakarta’, maka ada hampir empat juta hasil pencarian. Wow! Alangkah banyak sekali orang yang menulis tentang Kota Tua Jakarta ini.

Berdasarkan Wikipedia, Kota Tua Jakarta yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi. Kawasan ini terbentang di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pada jaman dulu, kawasan Kota Tua ini merupakan pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. Dulunya, kawasan ini menjadi lokasi permukiman penting dan elit, serta menjadi pusat kota. Musium Fatahillah yang menjadi simbol utama Kota Tua, dulunya adalah bekas Balai Kota. Mungkin sekitar Abad ke-16, atau sekitar 500 tahun silam.

Walau sudah berumur ratusan tahun, bangunan-bangunan lama di kawasan ini masih berdiri, walau sudah terlihat banyak yang rusak. Namun, beberapa tahun terakhir ini, Kota Tua memang sudah berubah. Pemda DKI Jakarta terus memoles kawasan ini agar terlihat semakin cantik dan ramah untuk dikunjungi. Tidak hanya sarana dan prasarana, namun juga menata lingkungan, termasuk mengatur para pedagang agar tidak memberi kesan kumuh. Kendaraan pun tidak bisa melintas di beberapa tempat, sehingga orang-orang leluasa berjalan kaki.

Lambat tapi pasti, Kota Tua jakarta mulai mendapatkan banyak penggemar. Lihat saja, setiap akhir pekan, kawasan Kota Tua selalu dipadati oleh para pengunjung. Mereka datang dengan beragam tujuan. Ada yang memang hendak menikmati suasana Kota Tua dengan bangunan-bangunan klasiknya, namun banyak juga yang datang untuk mengajak keluarga liburan. Yang juga jamak dijumpai di sini adalah, orang-orang yang datang untuk sekadar berpacaran dengan sang kekasih. Mmmm...

Satu lagi yang pasti terlihat kalau berada di Kota Tua adalah, orang-orang yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding. Sudah sejak lama, Kota Tua memang menjadi salah satu tempat favorit bagi pasangan yang hendak menikah, untuk melakukan sesi pre-wedding. Bangunan-bangunan tua bergaya Cina dan Belanda, menjadi magnet yang unik di lensa kamera. Bagi mereka, foto terlihat semakin indah dengan kondisi bangunan yang tidak terawat dan rusak dimana-mana.

Hebatnya lagi, para calon pengantin muda ini, cuek saja dengan orang-orang di sekeliling. Tidak malu mengenakan pakaian yang 'tidak biasa' ke keramaian, dan tidak risih beradegan mesra sesuai arahan fotografer. Padahal, entah berapa banyak bola-bola mata menatap mereka. Bisa jadi, bagi mereka adalah, yang penting foto pre-wedding mereka memuaskan, dan bakal dipuji orang-orang.

Walau sudah tampak semakin tertata, Pemda DKI Jakarta masih harus banyak belajar ke negara lain tentang bagaimana mengelola sebuah kawasan kota tua. Foke, atau siapapun yang menjadi gubernur DKI Jakarta, harus berani mengeluarkan modal dan kebijakan berani untuk menata kawasan Kota Tua agar lebih cantik dan nyaman. Luasnya pun bisa ditambah. Kalau perlu, hingga ke kawasan Glodok.

Lewat manajemen kelola yang baik, maka pasti ditemukan peluang-peluang untuk menarik pemasukan sebagai pengganti modal yang telah dikeluarkan. Atau, bahkan nantinya bisa menambah pendapatan asli daerah.

Para pejabat di DKI Jakarta, seharusnya paham, kalau kini kawasan Kota Tua Jakarta tidak hanya menarik bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Wisatawan dari luar kota juga mulai memasukkan Kota Tua sebagai tujuan wisata saat berada di Ibukota. Bahkan, turis asing juga mulai banyak terlihat berdatangan. Ini adalah sebuah kabar baik. Tinggal bagaimana yang punya wewenang, bisa memanfaatkannya.

Dua turis asing terlihat sedang berada di lapangan depan Musim Fatahillah, Kota Tua Jakarta.

Kawasan Kota Tua Jakarta selalu ramai dikunjungi, terutama pada setiap akhir pekan.

Salah satu sudut Kota Tua Jakarta.

Sepasang calon pengantin sedang melakukan sesi Pre-Wedding di Kota Tua Jakarta. Mereka cuek saja dengan anak-anak sekolah yang sedang melintas. Yang penting, selalu terlihat mesra di lensa kamera.

Bemo sedang melintas di salah satu sudut Kota Tua Jakarta.

Seorang penjual Kerak Telor di lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Peminat kuliner khas Jakarta ini cukup banyak.

Sepasang ondel-ondel sedang beratraksi di Kota Tua Jakarta.
Selengkapnya...

Kamis, 01 Maret 2012

Inspirasi Dari Desa Perbesi di Tanah Karo


Di Provinsi Sumatera Utara, ada sebuah desa yang bernama Perbesi. Desa ini berjarak sekitar 100 kilometer dari Medan, ibukota Sumatera Utara. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk mencapainya dari Medan. Tergantung kemujuran Anda, kondisi jalan sedang mulus atau seperti kubangan. Yang pasti, sejak keluar dari Kota Medan, jalan akan terus berliku-liku dan menanjak di perbukitan Bukit Barisan. Pemandangan alam pegunungan yang indah dan hijau setidaknya menjadi obat lamanya perjalanan menuju Perbesi.

Perbesi berada dalam wilayah Kabupaten Karo, tepatnya Kecamatan Tigabinanga. Jarak dari Kabanjahe, ibukota Tanah Karo, sekitar 20 kilometer. Desa ini berada di sebuah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan yang hampir seluruhnya telah menjadi areal tanaman milik penduduk.

Bukit yang paling tepat untuk menatap seluruh panorama Desa Perbesi adalah dari sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan Urok Ndoholi. Dari bukit ini, Anda juga bisa menikmati pemandangan sebagian alam Tanah Karo. Pemandangannya sungguh indah, karena lembah-lembah, perkebunan penduduk, jalan yang meliuk-liuk dan sejumlah desa, terlihat jelas dari atas Urok Ndoholi. Pemandangan yang memanjakan mata ini, semakin nikmati oleh angin sepoi-sepoi yang terasa lembut menerpa kulit. Begitu juga suara hembusan angin yang semakin membuat sejuk hati. Dari Urok Ndoholi juga, Anda bisa menatap Gunung Sinabung yang terlihat sangat utuh hingga ke puncaknya.

Sama seperti desa-desa lain di Tanah Karo, hampir seluruh penduduk Perbesi berasal dari suku Karo. Walau berupa desa, namun Perbesi cukup tersohor di kalangan orang Karo. Desa ini sering disebut-sebut dalam lirik lagu Karo. Banyaknya penduduk Perbesi yang merantau, juga turut andil dalam mempopulerkan desa yang bertepikan sungai Lau Biang dan sungai Lau Rahu ini.

Untuk golongan sebuah desa, penduduk Perbesi termasuk terbanyak di Tanah Karo. Data pasti tidak saya punya. Mungkin sekitar seribuan kepala keluarga. Banyak kalangan berpendapat, bila ada pemekaran kecamatan di Tanah Karo, maka perbesi layak jadi ibukota kecamatan. Karena sudah terlalu besar, Perbesi dibagi-bagi menjadi beberapa kesain, yang mirip dengan istilah dusun di provinsi lain. Ada kesain Muham, Depari, Brahmana, Rumah Tengah, dan Rumah Jahe.

Mayoritas penduduk Perbesi adalah bertani. Areal perkebunan mereka mulai dari pinggir desa, sampai ke atas bukit yang harus ditempuh dalam waktu berjam-jam. Biasanya, setiap areal perkebunan atau ladang, memiliki nama-nama. Ada yang bernama Kutajahe, Sampaharu, Napa, Mondul, dan sebagainya.

Sama seperti orang Karo pada umumnya, mereka berangkat ke ladang pada pagi hari dan pulang ketika matahari hampir terbenam. Situasi ini membuat desa selalu terlihat lengang pada siang hari. Keramaian mulai terasa pada malam hari, saat para bapak melepas lelah di sejumlah warung kopi sambil menunggu sang istri menyiapkan makan malam.

Beragam komoditas pertanian menjadi andalan masyarakat desa ini. Jagung dan coklat adalah tanaman utama. Sebagian masyarakatnya ada juga yang bercocok tanam kacang tanah, cabai, jeruk, kelapa, dan kemiri. Beberapa orang juga memelihara sapi disela-sela kesibukan bercocok tanam. Tanaman buah-buahan lain juga berlimpah di Perbesi. Seperti buah durian, sawo, pepaya, jambu, pisang, dan sebagainya. Bagi penggemar buah-buahan, rasa lapar mereka akan terpuaskan saat berada di Perbesi.

Saya tidak pernah bosan untuk berkunjung ke desa ini. Perbesi menjadi tempat pelarian ketika saya sudah begitu penat menyaksikan hiruk-pikuk Jakarta. Di perbesi, saya bisa menemukan banyak hal yang membuat saya segar kembali. Banyak inspirasi yang berdatangan di dalam alam pikiran saya, ketika menghirup udara segar desa ini. Udara yang sangat jauh dari polusi asap kendaraan bermotor, pabrik, ataupun polusi panggung sandiwara penghuni kota yang tak pernah habis.

Saya akan memperlihatkan beberapa koleksi foto milik saya tentang Desa Perbesi. Nah, ini dia:

Angkutan menuju Perbesi

Jalan utama Desa Perbesi

Pemandangan kesain Brahmana

Balai Desa (Jambur) Kesain Rumah Tengah

Salah satu sudut Kesain Muham

Areal pemakaman

Sumber Air Panas (Lau Melas) di tepi Sungai Lau Rahu

Mobil Pengangkut Jagung di Tanjakan Sungai Lau Rahu

Jagung mulai tumbuh di Kutajahe

Jalan setapak menuju Kutajahe

Coklat menjadi komoditi andalan Perbesi

Buah asam Cekala

Pepaya tumbuh diantara Jagung yang telah dipanen

Jeruk Perbesi terkenal manis dan besar

Sebidang ladang yang baru selesai ditraktor

Pemandangan salah satu bukit dari pinggiran Perbesi

Jagung menjadi andalan utama sejak dulu di Perbesi

Jalan utama menuju Kutajahe

Traktor di tanjakan menuju Kutajahe

Kelapa dari Perbesi terkenal enak

Pohon Kemiri yang sudah dibunuh

Hamparan  Jagung yang sudah menguning

Beginilah pemandangan hampir seluruh permukiman di Perbesi

Perbesi sudah layak jadi ibukota Kecamatan

Panen Jagung di Perbesi

Rumah-rumah di Kesain Depari

Tikungan ke arah Limang

Selengkapnya...