Sabtu, 03 Maret 2012

Hitam Putih Kota Tua Jakarta


Saya sudah lupa kapan persisnya datang ke kawasan Kota Tua Jakarta untuk pertama kali. Namun, yang pasti, kawasan Kota Tua adalah salah satu tempat favorit saya untuk melepas lelah ketika sudah jenuh dengan rutinitas. Saya pernah seharian berada di sana, sekadar mampir sebentar, datang malam hari, atau sekadar melintas.

Di kawasan ini, saya bisa rileks dengan menatap bangunan-bangunan tua yang tampak mulai kropos dimakan usia. Kalau rasa lapar dan haus memanggil, saya pun bisa menikmati aneka kuliner yang dijajakan para pedagang kakilima. Tidak hanya makanan kakilima biasa, namun saya juga bisa menemukan makanan dan minuman yang sulit dicari di tempat lain, seperti kerak telor. Saya juga bisa menemukan jajanan, yang kembali mengingatkan saya ke masa kecil, seperti es lilin.

Mungkin masih banyak yang bertanya, dimana kawasan Kota Tua Jakarta ini. Kalau Anda 'googling' dengan kata kunci ‘Kota Tua Jakarta’, maka ada hampir empat juta hasil pencarian. Wow! Alangkah banyak sekali orang yang menulis tentang Kota Tua Jakarta ini.

Berdasarkan Wikipedia, Kota Tua Jakarta yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi. Kawasan ini terbentang di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pada jaman dulu, kawasan Kota Tua ini merupakan pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. Dulunya, kawasan ini menjadi lokasi permukiman penting dan elit, serta menjadi pusat kota. Musium Fatahillah yang menjadi simbol utama Kota Tua, dulunya adalah bekas Balai Kota. Mungkin sekitar Abad ke-16, atau sekitar 500 tahun silam.

Walau sudah berumur ratusan tahun, bangunan-bangunan lama di kawasan ini masih berdiri, walau sudah terlihat banyak yang rusak. Namun, beberapa tahun terakhir ini, Kota Tua memang sudah berubah. Pemda DKI Jakarta terus memoles kawasan ini agar terlihat semakin cantik dan ramah untuk dikunjungi. Tidak hanya sarana dan prasarana, namun juga menata lingkungan, termasuk mengatur para pedagang agar tidak memberi kesan kumuh. Kendaraan pun tidak bisa melintas di beberapa tempat, sehingga orang-orang leluasa berjalan kaki.

Lambat tapi pasti, Kota Tua jakarta mulai mendapatkan banyak penggemar. Lihat saja, setiap akhir pekan, kawasan Kota Tua selalu dipadati oleh para pengunjung. Mereka datang dengan beragam tujuan. Ada yang memang hendak menikmati suasana Kota Tua dengan bangunan-bangunan klasiknya, namun banyak juga yang datang untuk mengajak keluarga liburan. Yang juga jamak dijumpai di sini adalah, orang-orang yang datang untuk sekadar berpacaran dengan sang kekasih. Mmmm...

Satu lagi yang pasti terlihat kalau berada di Kota Tua adalah, orang-orang yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding. Sudah sejak lama, Kota Tua memang menjadi salah satu tempat favorit bagi pasangan yang hendak menikah, untuk melakukan sesi pre-wedding. Bangunan-bangunan tua bergaya Cina dan Belanda, menjadi magnet yang unik di lensa kamera. Bagi mereka, foto terlihat semakin indah dengan kondisi bangunan yang tidak terawat dan rusak dimana-mana.

Hebatnya lagi, para calon pengantin muda ini, cuek saja dengan orang-orang di sekeliling. Tidak malu mengenakan pakaian yang 'tidak biasa' ke keramaian, dan tidak risih beradegan mesra sesuai arahan fotografer. Padahal, entah berapa banyak bola-bola mata menatap mereka. Bisa jadi, bagi mereka adalah, yang penting foto pre-wedding mereka memuaskan, dan bakal dipuji orang-orang.

Walau sudah tampak semakin tertata, Pemda DKI Jakarta masih harus banyak belajar ke negara lain tentang bagaimana mengelola sebuah kawasan kota tua. Foke, atau siapapun yang menjadi gubernur DKI Jakarta, harus berani mengeluarkan modal dan kebijakan berani untuk menata kawasan Kota Tua agar lebih cantik dan nyaman. Luasnya pun bisa ditambah. Kalau perlu, hingga ke kawasan Glodok.

Lewat manajemen kelola yang baik, maka pasti ditemukan peluang-peluang untuk menarik pemasukan sebagai pengganti modal yang telah dikeluarkan. Atau, bahkan nantinya bisa menambah pendapatan asli daerah.

Para pejabat di DKI Jakarta, seharusnya paham, kalau kini kawasan Kota Tua Jakarta tidak hanya menarik bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Wisatawan dari luar kota juga mulai memasukkan Kota Tua sebagai tujuan wisata saat berada di Ibukota. Bahkan, turis asing juga mulai banyak terlihat berdatangan. Ini adalah sebuah kabar baik. Tinggal bagaimana yang punya wewenang, bisa memanfaatkannya.

Dua turis asing terlihat sedang berada di lapangan depan Musim Fatahillah, Kota Tua Jakarta.

Kawasan Kota Tua Jakarta selalu ramai dikunjungi, terutama pada setiap akhir pekan.

Salah satu sudut Kota Tua Jakarta.

Sepasang calon pengantin sedang melakukan sesi Pre-Wedding di Kota Tua Jakarta. Mereka cuek saja dengan anak-anak sekolah yang sedang melintas. Yang penting, selalu terlihat mesra di lensa kamera.

Bemo sedang melintas di salah satu sudut Kota Tua Jakarta.

Seorang penjual Kerak Telor di lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Peminat kuliner khas Jakarta ini cukup banyak.

Sepasang ondel-ondel sedang beratraksi di Kota Tua Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar