Kamis, 29 Maret 2012

Demi Sebuah Gambar

Ketika membuka koleksi foto-foto lama, tiba-tiba saya menemukan beberapa foto saat sedang melakukan peliputan ke Pangkalan Berandan, Sumatera Utara. Dari puluhan foto yang ada, saya paling tertarik dengan foto-foto yang memperlihatkan rekan saya, Ahmad Lukman Hakim, sedang mengambil gambar dari atas sebuah tiang di tengah sebuah lapangan rumput.

Saya pun teringat lagi dengan kisah peliputan ke kota minyak di Sumatera Utara itu. Ketika itu, kami berangkat ke sana untuk membuat satu episode program Metro Realitas mengenai nasib aset-aset Pertamina yang ada di Pangkalan Berandan. Di kota kecil inilah cikal-bakal Pertamina. Sekitar 105 tahun silam, penjajah menambang minyak di sumur minyak di Pangkalan Berandan. Inilah untuk pertama kalinya minyak diambil dari dalam perut bumi pertiwi.


Setelah Indonesia merdeka, minyak di Pangkalan Berandan diambil alih Indonesia. Singkat cerita, Pertamina pun berkuasa di kota yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Langkat itu. Ketika Pertamina mencapai masa keemasan di Pangkalan Berandan, segala macam fasilitas pun dibangun. Sepertinya, uang Pertamina sangat berlimpah sehingga mau apapun, tinggal mewujudkannya. Sama seperti Alladin yang tinggal meminta kepada jin yang ada di teko, apapun yang ia inginkan.

Apapun dibangun atas nama kebutuhan kegiatan Pertamina di sana. Mulai dari komplek perumahan yang terserak dimana-mana, sekolah, rumah sakit, kolam renang, dan sebagainya. Bahkan, saya menginap di hotel yang dulunya khusus diperuntukkan bagi petinggi-petinggi yang berkunjung ke Pangkalan Berandan.

Namun apa yang terjadi kemudian. Ketika Pertamina merasa kegiatan eksploitasi minyak di Pangkalan Berandan tidak menguntungkan lagi, kota itu pun sepertinya ditinggalkan. Rumah-rumah yang telah dibangun dengan biaya besar, akhirnya kosong. Banyak bangunan yang cuma menjadi tempat bersarang hewan-hewan peliharaan penduduk atau bintang liar. Sangat memprihatinkan, bila membayangkan betapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk membangun semuanya.






Agar tayangan menjadi lebih bagus, kami pun mencari tempat paling tinggi untuk memotret bagaimana kondisi sebuah kompleks Pertamina di Pangkalan Berandan. Kami pun menemukan sebuah tiang yang menjulang tinggi di sebuah lapangan rumput. Tingginya sekitar 20 meter. Lukman akhirnya memanjat sambil membawa kamera. Tiang terlihat sedikit goyang saat dipanjat. Beruntung angin juga tidak berhembus kencang.

Hasilnya memang memuaskan. Kami mendapatkan visual dari atas yang bisa menggambarkan sebuah kompleks Pertamina yang tidak terawat lagi. Demi mendapatkan gambar yang dahsyat, seorang kameramen memang harus melakukan apapun saat berada di lapangan. Bisa jadi, nyawa pun dipertaruhkan demi mendapatkan sebuah momen.

Tidak jarang, seorang kameramen harus berada di tengah pertempuran perang, tawuran antarkampung, atau bentrokan seperti yang belakangan ini marak untuk menolak rencana kenaikan harga BBM. Hilangkan dulu rasa takut. Yang penting, kamera dapat merekam momen-momen cantik yang ada di depan lensa. Kalau seorang wartawan takut berada di daerah konflik, sudah sepantasnya ia berhenti menjadi jurnalis.

2 komentar:

  1. prok prok prok, salut. totalitas berkarya. itu naiknya ga pakai pengaman lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak pake. Alhamdulillah, selamat hingga turun lagi. hehehe...

      Hapus