Jumat, 09 Maret 2012

Liputan Apapun Menarik Ditayangkan Asal Tahu Caranya

Seorang reporter TV mendapatkan tugas untuk meliput acara seminar bertema perpolitikan di Indonesia. Ia pun berangkat ke lokasi acara bersama kameramen. Menjelang sore, si reporter kembali ke kantor dengan membawa hasil liputan dari acara seminar yang berlangsung sejak pagi hari itu.

Produser pun menugaskan si reporter untuk membuat sebuah paket berdasarkan hasil liputannya. Dengan pede-nya, si reporter pun membuat paket dengan durasi sekitar dua menit. Naskah sangat bagus. Apalagi, ada beberapa kutipan wawancara narasumber. Namun, ketika paket itu mau diedit, si reporter tiba-tiba bingung.

Di rekaman liputannya hanya ada suasana acara seminar dan wawancara beberapa narasumber. Durasi visual suasana seminar yang diambil kameramen hanya sekitar dua menit. Sebagian besar hanya berisi orang-orang yang duduk membisu menyimak pembicaran para narasumber di atas podium. Juga terlihat ada visual berdurasi beberapa detik tentang seorang peserta yang tampaknya menahan kantuk.

Seorang narasumber sedang diwawancarai banyak wartawan

Si reporter pun akhirnya selesai mengedit paket berita tersebut. Durasinya memang pas dua menit. Celakanya, sejak detik pertama sampai detik terakhir, visual yang digunakan hanya berisi suasana seminar. Tidak ada gambar lain. Dan, paket tersebut sama sekali tidak menarik untuk pemirsa.

Kalau saja si reporter mau berpikir bagaimana caranya agar penugasan meliput acara seminar itu, bisa lebih menarik saat muncul di layar, maka pasti ia tidak bingung saat akan mengolahnya di dapur editing. Seyogyanya, seorang jurnalis TV dituntut untuk bisa merancang agenda peliputan yang ditugaskan kepadanya. Saat menuju ke lokasi peliputan, ia sudah harus punya gambaran berita seperti apa yang akan disajikan di layar berdasarkan penugasan kepadanya tersebut. Kemampuan memvisualisasikan, yang bahasa umumnya adalah mengkhayal, harus dimiliki setiap jurnalis TV.

Tanpa bisa membayangkan bagaimana nanti hasil liputan merek akan tayang, maka setiap jurnalis TV hanya akan meliput apa yang ada di permukaan. Tidak ada inisiatif untuk memperdalam hasil liputan itu. Bahkan, tugas pokok pun sering tidak maksimal. Ketika ada kesulitan, mereka langsung menyerah tanpa ada usaha untuk menyingkirkan hambatan itu. Misalkan saja, ketika narasumber menolak diwawancarai, tidak ada upaya lain untuk berpikir bagaimana caranya agar pernyataan si narasumber itu tetap ada yang terekam di kamera.

Ketika seorang jurnalis TV mendapat tugas untuk meliput sebuah diskusi, misalnya, maka seharusnya tidak hanya acara diskusi yang diliput dan mewawancarai beberapa narasumber di sana. Umumnya, acara diskusi tidak menarik di layar untuk diberitakan. Membosankan dan monoton. Agar tetap menarik ditampilkan di layar TV, maka si reporter harus cerdas memikirkan bagaimana caranya. Caranya gampang, visualisasikan saja bagaimana nanti ia akan membuat paket beritanya. Bayangkan juga bila ia di posisi penonton, apa yang ia harapkan tersaji di layar. Dengan demikian, maka si reporter itu menjadi tahu paket berita seperti apa yang menarik berdasarkan tema acara diskusi tersebut.

Ritual membayangkan ini tidak sulit dan hanya butuh waktu singkat. Kalau sudah terbiasa, hanya butuh waktu beberapa detik saja. Bahkan, nantinya akan muncul begitu saja dalam pikiran, tanpa perlu lagi fokus memvisualkannya di dalam otak kita. Begitu mendapatkan tugas meliput, langsung tahu harus berbuat apa di lapangan.

Dalam meliput acara diskusi atau seminar, bisa jadi, agar liputannya tetap menarik di layar, maka dibutuhkan gambar atau liputan pendukung. Misalkan saja, mencari tabel atau grafik sesuai dengan tema acara, atau mengambil visual-visual pendukung di luar acara. Contohnya adalah, visual orang-orang, pemandangan di sebuah tempat, atau mungkin membuat personalisasi seseorang.

Memang, hal ini akan butuh waktu lagi untuk mengerjakannya . Tapi, ini semua demi tayangan yang menarik. Penonton suka dan reporter yang meliput pun puas.

Sumber foto: republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar