Senin, 19 Maret 2012

Mengintip Gilang Ayunda Bermain Biola

Ada yang berbeda dengan tayangan Wide Shot edisi hari ini. Tema yang diangkat adalah mengenai violin, atau orang lebih mengenal dengan sebutan biola. Tidak hanya beberapa video klip dari artis Vanessa Mae yang diputar. Namun, sang maestro pemain biola Indonesia, Idris Sardi, juga diundang ke acara Wide Shot. Tidak ketinggalan ada dua bintang tamu lain yang juga lihai memainkan alat musik gesek yang diletakkan di leher itu, ikut hadir menemani sang maestro.

Yang lebih mengundang perhatian lagi adalah, aksi memainkan violin alias biola oleh Gilang Ayunda. Salah satu presenter Wide Shot ini, memainkan sekitar tiga lagu pada penayangan Wide Shot kali ini. Ia tampak sangat menguasai alat musik itu. Suara yang dihasilkan dari hasil menggesek violin yang ia tempelkan di lehernya itu, terdengar sangat merdu. Walau Gilang terlihat agak tegang, namun itu semua tertutupi oleh kepiawaiannya dalam memainkan nada demi nada. Cukup sempurna untuk sebuah aksi dadakan.

Aksi Gilang tersebut tidak hanya dapat disaksikan di layar TV. Bagi yang sedang ada di ruang redaksi (newsroom) Metro TV, mereka bisa langsung menyaksikannya di depan mata. Bahkan, mereka dapat juga melihat saat-saat Gilang Ayunda latihan sebelum siaran. Hal ini bisa terjadi karena Wide Shot siaran bukan dari studio, namun dari tengah newsroom.

Aksi tiga presenter Wide Shot (Gilang Ayunda, Sumi Yang, dan Putri Ayuningtyas)

Tempat untuk ketiga presenter Wide Shot membawakan program yang lebih mengedapankan citizen jurnalism itu memang didesain sedemikian rupa di tengah newsroom Metro TV. Karena itu, siapapun bisa menyaksikan bagaimana Gilang Ayunda, Putri Ayuningtyas, dan Sumi Yang, siaran selama empat jam dari pukul satu sampai lima sore. Siapapun bisa melihat bagaimana ketiga penyiar Wide Shot itu bertingkah polah agar terlihat bagus di layar. Kalau pemirsa tidak bisa melihat apa yang mereka perbuat ketika sedang break, maka siapapun di newsroom Metro TV bisa melihatnya.

Ruang siaran yang menyatu dengan ruang redaksi seperti yang dipakai oleh Wide Shot, memang sudah banyak dipakai oleh stasiun TV. CNN juga sudah lama menggunakan sistem ini. Kalau di Indonesia, Liputan 6 SCTV juga telah melakukan hal yang sama, ketika mereka pindah kantor ke Senayan City. Nah, Metro TV juga tidak mau ketinggalan dengan membangun ‘studio’ baru di tengah newsroom. Bahkan, selain digunakan oleh Wide Shot, ‘studio’ baru tersebut juga sering digunakan oleh program lain, terutama untuk dialog.

Newsroom yang merangkap juga sebagai tempat siaran, tentu ada sisi baik dan buruknya. Beragam kejadian-kejadian heboh acapkali datang. Misalkan saja, ketika Wide Shot mengundang komunitas musik perkusi. Saat itu, semua ‘alat-alat musik’ diboyong ke dalam newsroom. Saya memakai tanda petik karena fungsi utama dari alat-alat musik itu sebenarnya bukan untuk bermain musik. Misalkan saja, ada galon air, potongan besi, sampai velg mobil. Suara yang dihasilkan memang berirama harmonis. Namun volumenya sungguh terasa di telinga. Akibatnya, para awak Metro TV yang sedang bekerja di newsroom, menjadi heboh dengan atraksi tersebut.

Di kesempatan lain, giliran orang-orang di newsroom yang membuat heboh ketiga presenter Wide Shot. Teriakan-teriakan para awak Metro TV yang sedang bekerja di newsroom, sering 'bocor' di layar. Apalagi ketika ada potongan besi meja yang jatuh ke lantai, dan menimbulkan suara yang nyaring sekali. Biasanya, setelah besi itu jatuh, juga diikuti oleh suara gemuruh orang-orang di newsroom. Heboh sekali.

Studio yang dibuat menyatu dengan newsroom seperti yang dipakai oleh Wide Shot, memang ada kelebihan dan kekurangannya. Namun, sisi-sisi positifnya jauh lebih terasa. Layar terlihat lebih enak ditonton karena ada orang-orang terlihat beraktifitas di di sekelilingnya. Kamera pun lebih dinamis untuk mengambil angle.

Wide Shot siaran dari tengah Newsroom Metro TV

Di belakang Gilang Ayunda adalah ruang rapat redaksi Metro TV

Studio yang ada di tengah newsroom juga membuat ketiga presenter Wide Shot lebih leluasa untuk menemukan ide-ide pembicaraan. Mereka bisa membahas apa yang sedang terjadi di newsroom, atau membahas siaran TV di beberapa stasiun TV yang ada di depan mereka. Ketika para calon citizen journalist Wide Shot sedang mendapat pengarahan di ruang rapat redaksi yang bersebelahan dengan mereka, para presenter pun membahasnya. Kamera lalu di-zoom ke ruang rapat itu, sehingga tampak apa kegiatan mereka di layar.

Yang pasti, ketiga presenter Wide Shot harus lebih tahan untuk siaran di depan ‘publik’. Kalau di studio, hanya ada kameraman bersama mereka. Namun, di Wide Shot, aksi mereka juga disaksikan oleh orang-orang yang ada di newsroom. Siapapun bisa menonton bagaimana seorang Gilang Ayunda bermain biola, mengintip bagaimana seorang Putri Ayungtyas asyik berjoget-joget ketika di layar sedang ditayangkan sebuah videoklip, atau menatap aksi seorang Sumi Yang asyik dengan BB-nya saat sedang break. Semua ini tentu tidak bisa dilihat para pemirsa.

Terima kasih untuk Risna Noer untuk hasil jepretan foto-fotonya

3 komentar:

  1. mas mas kan juri di babastudia saya ingin bertanya apasaja si karaterestik artikel yang dapat menang menurut bapak

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya sangat mudah untuk bisa memenangkannya. Syarat utama adalah artikel tersebut benar-benar orisinil, tanpa ada bagian yang nyontek/jiplak dari artikel lain. Silahkan ambil datanya saja, dan tulis dengan bahasa sendiri. Satu kalimat saja menjiplak, pasti ketahuan.

      Setelah orisinilitas sudah dipenuhi, tinggal bagaimana membuat artikel tersebut enak dibaca. Buatlah semenarik mungkin. Tumpahkan semua kreatifitas yang dipuca. Nyontek ide boleh, tapi harus dimodifikasi. Istilahnya, ATM (amati, tiru, modifikasi).

      Sebelum mem-posting, artikel harus dibaca dulu bebeberapa kali untuk memastikan semua sudah benar. ini saja tips dari saya. Mudah kan. :-) Sukses untuk Anda.

      Hapus
  2. Anonim1:09 AM

    Gilang ayunda sangat cantik, sampai saya ingin banget minum pipisnya, dikentuti juga mau.

    BalasHapus