Selasa, 13 Maret 2012

Siapa Gubernur DKI Jakarta 2012-2017

Sejak hari ini, KPUD DKI Jakarta mulai membuka pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur yang akan memimpin DKI Jakarta selama lima tahun ke depan. Belum jelas, siapa saja yang bakal mendaftar. Sebab, ada bebeberapa partai besar yang belum menentukan calon mereka. Misalkan saja, Partai Demokrat dan PDIP. Kedua partai itu belum mendeklarasikan siapa pasangan calon yang mereka usung dalam Pemilukada DKI Jakarta kali ini. Namun, melihat dari dinamika politik yang berkembang saat ini, sepertinya mereka akan mengusung kembali Fauzi Bowo, sama seperti lima tahun lalu.

Tidak seperti gubernur di provinsi lain, posisi gubernur DKI Jakarta jauh lebih prestis, karena berada di ibukota negara. Selain memiliki lobi dan jaringan luas, gubernur Jakarta juga memegang kendali terhadap anggaran hingga puluhan triliun rupiah. Belum lagi beraneka macam fasilitas kelas bintang lima. Tak heran, posisi gubernur DKI Jakarta diincar siapa saja.

Untuk 2012 ini saja, APBD DKI Jakarta mencapai Rp 36 triliun. Angka ini akan terus menggelembung seiring majunya perekonomian Indonesia. Sebagai bahan perbandingan, awal Fauzi Bowo memimpin Jakarta pada 2007 lalu, APBD DKI Jakarta (hanya) mencapai Rp 20 triliun.

Tahun 2007 lalu, saya pernah membuat sebuah liputan mendalam mengenai kursi empuk gubernur tanah betawi untuk program Metro Realitas di Metro TV. Dari hasil dari liputan ini, saya menjadi tahu betapa gurihnya kursi DKI 1, sebutan umum untuk gubernur DKI Jakarta. Tidak heran, kalau siapapun mau memperebutkannya. Siapapun berambisi untuk untuk maju. Tidak peduli apa jabatannya sekarang. Termasuk seorang gubernur di provinsi lain yang masih saja mau dicalonkan oleh partainya. Memang, partai politik manapun siap memperdagangkan suara mereka untuk mendukung calon yang punya kans paling besar untuk memenangkan pertarungan.

Tahun 2007 lalu, ada dua pasangan yang bertarung di Pemilukada DKI Jakarta. Keduanya adalah pasangan Adang Daradjatun - Dani Anwar dan pasangan Fauzi Bowo – Prijanto. Inilah pemilihan gubernur pertama di Jakarta yang langsung dipilih oleh warga Jakarta alias Pilkada langsung. Hanya satu yang mereka harapkan, yakni 5,7 juta pemilih akan mencoblos gambar mereka pada hari pemungutan suara pada 8 Agustus 2007. Siapapun yang menang, ia akan memegang kendali kota Jakarta selama 5 tahun ke depan. Pada akhirnya, pasangan Fauzi Bowo – Prijanto memenangkan pertarungan ini.

“Ya, secara sosial, posisi gubernur Jakarta berbeda dengan gubernur-gubernur daerah lain. Gubernur Jakarta adalah gubernurnya ibukota, yang secara politis posisinya lebih besar. Pusat kekuasaan nasional dan pusat bisnis nasional ada di Jakarta semua. Jakarta boleh dikatakan adalah kota metropolitan dan internasional, karena semua ada disini. Gubernur Jakarta memiliki status yang lebih dibandingkan gubernur-gubernur daerah lainnya, dan status lebih ini membuat gubernur Jakarta mendapat tunjangan lebih sebagai gubernur. Artinya dia mendapat gaji. Gaji itu juga lebih,” kata Azas Tigor Nainggolan, yang saat itu menjadi salah satu narasumber dalam tayangan Metro Realitas soal pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang saya garap tersebut. Saat itu, Azas diwawancarai sebagai Koordinator Forum Warga Jakarta (FAKTA).

Dalam tayangan itu, Metro Realitas mengungkap, kalau sebuah kekuasan yang megah menjadi milik siapapun yang menjadi gubernur Jakarta. Problem yang ada di Jakarta adalah miniatur dari problem Indonesia. Sukses memimpin Jakarta, berarti jalan menuju ke kursi presiden sudah terbuka. Ini yang membedakan gubernur Jakarta dengan gubernur daerah lain.

“Menurut saya, daya tertariknya bukan hanya dari dana, tapi juga dari prestise. Prestise seorang gubernur Jakarta adalah levelnya sudah selevel menteri. Apalagi sekarang dipilih langsung, itu kebanggaannya lebih besar lagi. Jadi semakin banyak orang merebutkannya. Jadi bukan masalah dana,” kata Azas.

Menemani Presiden dalam berbagai kegiatan sudah menjadi hal biasa bagi gubernur DKI Jakarta. Apalagi, Presiden dan Wakil Presiden tercatat sebagai warganya gubernur DKI Jakarta. Lobi dan jaringan gubernur DKI pun menjadi jauh lebih luas dibandingkan gubernur daerah lain. “Kita sadar, karena pusat kegiatan, semua tokoh ada di sini,” ujar Sutiyoso suatu ketika saat masih menjadi Gubernur Jakarta.


Gubernur DKI Jakarta adalah gubernur paling terkenal di Indonesia. Berita aktifitasnya setiap hari menghiasi surat kabar atau televisi nasional. “Senang karena punya pergaulan yang luas. Dekat dengan orang-orangh pusat, DPR, dan orang-orang terkenal,” tambah Sutiyoso.

Selain memiliki lobi dan jaringan paling luas, posisi gubernur Jakarta juga menjanjikan kemakmuran yang sangat menggiurkan. Penghasilan seorang gubernur DKI Jakarta ditaksir mencapai miliaran rupiah sebulan. Belum lagi sejumlah fasilitas lainnya yang pasti membuat iri siapapun.

“Kelebihan Jakarta ya pada APBDnya saja paling tidak sekarang mencapai Rp 20 triliun. Bisa dibayangkan! Sementara daerah lain ada yang tidak sampai Rp 1 triliun. Karena Jakarta ini memang khusus, makanya dibilang Daerah Khusus Ibukota. Gubernur Jakarta punya tunjangan lebih, selain gaji dan punya privilege yang lebih. Misalnya, dia punya tunjangan kesehatan lebih, asuransi kesehatan, sampai televisi saja berlangganan TV kabel yang satu bulan sampai sekitar Rp 5 juta,” ungkap Azas.

Mari kita lihat besarnya anggaran untuk pos kepala daerah berdasarkan APBD DKI Jakarta tahun 2007. Untuk pos ini, telah dianggarakan sebesar Rp 9,84 miliar. Uang sebanyak ini dipakai untuk melayani kebutuhan sang gubernur dan wakil gubernur, mulai gaji sampai biaya jalan tol.

Gaji pokok gubernur jakarta sebenarnya hanya Rp 3 juta sebulan. Namun Gubernur Jakarta juga mendapatkan penghasilan dari beragam sumber legal lainnya, yang bisa mencapai miliaran rupiah. “Gaji pokok tidak sampe Rp 5 juta. Tapi dia dapat kontribusi dari pajak. Dari pajak daerah saja, dia dapat 2,5% dari keseluruhan. Itu sebulan bisa dapat sekitar Rp 2 miliar. Itu sah!” kata Azas.

Tigor Nainggolan menaksir, total penghasilan Gubernur Jakarta sekitar Rp 5 miliar per bulan. Itu baru yang legal. Karena itu, menurutnya, sebetulnya siapapun yang jadi gubernur, kalau dia mau bekerja saja, tidak mengambil lagi kiri-kanan, sudah cukup. Sebab, sudah ada anggaran untuk apapun yang dia mau. Sampai untuk menggaji juru tulis pidato saja, ada anggaran sekitar Rp 1 milia setahun. “Lima 5 miliar tidak lah. Memang besar, tapi tidak terlalu besar,“ sanggah Sutiyoso.

Banyak kalangan menilai, berlimpahnya materi menjadi incaran siapapun yang ingin menjadi gubernur DKI Jakarta. Gubernur Jakarta juga memimpin sebuah pemda yang memiliki banyak perusahaan daerah. Berdasarkan situs www.jakarta.go.id, Pemda DKI Jakarta memiliki 19 perusahaan daerah. Pemda DKI Jakarta tercatat memiliki saham di kawasan wisata Ancol dan di Bank DKI yang memiliki aset sekitar Rp 10 triliun.

Nah, kita tunggu saja siapa yang bakal menang dalam pemilukada DKI Jakarta 2012 ini. Apakah Foke akan kembali memimpin Jakarta, atau justru ada nama lain. Bagi Anda warga Jakarta, jangan lupa untuk mencoblos pada 11 Juli 2012.

Sumber Foto:uniqpost.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar