Jumat, 27 April 2012

Yang Unik di Jepang (Trip To Tokyo #11)

Banyak hal menarik yang saya jumpai selama jalan-jalan ke Tokyo. Yang paling penting adalah soal keteraturan di ibu kota negeri matahari terbit itu. Masyarakatnya hidup dalam norma-norma yang penuh kedisplinan. Bisa jadi, peraturan bagi mereka adalah suatu yang haram hukumnya untuk dilanggar. Tidak perlu ada polisi atau satpol PP seperti di Indonesia, agar orang-orang mau tertib ketika berada di tempat umum. Orang Jepang juga sangat displin. Jangan coba-coba untuk ngaret ketika punya janji dengan mereka. Bisa-bisa Anda akan dicap tidak punya etika dan bukan sahabat yang layak untuk dipertahankan.

Namun, di sisi lain, saya merasa orang Jepang adalah orang yang sangat dingin. Rasa-rasanya, mereka hidup dalam dunia sendiri. Tidak ada berbasa-basi ketika bertemu orang lain yang mereka tidak kenal. Jangan harap juga ada senyum dari mereka, kalau Anda tidak mengenal mereka. Di jalan-jalan, mereka juga lebih suka menyendiri dengan memasang earphonedari HP layar sentuh mereka, ketimbang mencari teman baru. Itulah Jepang. Negeri yang dicap sebagai salah satu kiblat kemajuan teknologi di jagat raya ini.

Nah, saya akan menampilkan beberapa foto 'unik' hasil jepretan saya ketika berada di Tokyo...


Becak khas Jepang yang sering terlihat di film-film Jepang, masih bisa dijumpai di Tokyo. Datang saja ke kawasan Asakusa.

Perempuan Jepang sangat PeDe dalam berbusana. Walau cuaca dingin, rok pendek dan kaos kaki tinggi tetap menjadi favorit mereka.

Orang Jepang selalu berpakaian resmi pergi bekerja. Namun, tetap pakaian harus modis.

Jalan kaki sudah melekat dengan orang-orang Jepang.

Banyak pohon penghijauan di Tokyo terlihat dipangkas seperti di dalam foto ini.

Payung menjadi benda yang sangat akrab bagi penduduk Jepang ketika musim semi.

Transportasi publik di Jepang sudah sangat baik. Kecuali jalur sepeda yang belum ada.

Jarang terlihat sepeda motor di jalanan Tokyo.

Pakaian Jas dikenakan ketika berangkat kerja. Tapi, tetap kemana-mana jalan kaki.

Orang Jepang sangat patuh dengan lampu lalu lintas.

Walau negara maju, namun anak sekolah di Jepang tetap berpakaian seragam.

Tempat penyimpanan payung tersedia di pintu masuk setiap toko

Pejalan kaki dan kendaran punya hak yang sama.
Selengkapnya...

Kamis, 26 April 2012

Teriakan Allahu Akbar di Pesawat Garuda Indonesia (Trip to Tokyo #10)

Minggu, 15 April 2012.

Tiba saatnya untuk kembali ke Indonesia. Namun, ada yang mengganjal hati ini. Cuaca hari ini sangat cerah, sama seperti hari pertama saya tiba di Tokyo. Di jalan-jalan seputaran Tokyo, tidak ada lagi orang yang lalu lalang dengan memakai payung seperti sepanjang hari Sabtu.

Saya dan teman-teman lain sedikit menyindir mengapa bukan kemarin saja cuaca cerah seperti ini. Mengapa gerimis turun sepanjang hari kemarin sehingga kami perlu membawa payung kemana-kemana. Padahal, hanya satu hari kemarin saja kami punya kesempatan untuk menjelajahi kota Tokyo. Mengapa tidak kemarin saja cerah agar saya tidak harus memegang payung setiap kali berfoto. "Bisa-bisa nanti orang-orang berpikir kita sedang ingin gaya saja, karena memegang payung setiap kali berfoto" kata seorang rekan yang disambut tawa yang lainnya.

Sekitar pukul 08.38 waktu Tokyo, saya dan semua rekan akhirnya meninggalkan Hotel Ibis, tempat kami menginap selama dua malam. Kami pun langsung menuju Bandara Narita, yang berjarak sekitar 65 km dari hotel.

Suasana jalan-jalan yang kami lewati terlihat lebih sepi. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas. Rupanya, orang Jepang juga mengenal libur. Sebelumnya, saya punya anggapan kalau orang Jepang adalah pekerja keras yang tidak mengenal hari libur. Namun, hari Minggu di Tokyo sama saja dengan hari Minggu di Jakarta. Sepi dari semua aktivitas.

Sepanjang perjalanan menuju ke bandara, saya menatap terus keluar jendela. Dalam hati saya bergumam, entah kapan lagi saya akan bisa menginjakkan kaki di Tokyo, salah satu kota tersibuk di dunia ini. Kalau saja saya bisa lebih lama berada di sini, saya pasti akan mengisinya dengan menikmati seluruh pesona ibukota negeri matahari terbit ini. Lebih menselami hiruk-pikuk masyarakatnya. Namun, tidak ada pilihan lain. Saya sudah harus kembali ke Indonesia. Lagi pula, saya juga sudah kangen dengan anak istri di rumah.


Dalam perjalanan ke bandara, Ms Namaru, pendamping kami selama di Tokyo, memberikan kami kenang-kenangan berupa sebuah pembatas buku. Bentuknya sangat unik, berbentuk wanita Jepang dengan pakaian kimono. Kami pun mengucap terima kasih atas keramahannya. Juga atas kesabarannya menemai kami selama berada di Jepang, yang sering lupa waktu dan sering telat kemana-mana. saya harus mengaku, budaya orang Jepang memang jauh lebih displin dan tertib daripada orang Indonesia. Untungnya, Ms Namaru sangat sabar dalam menemani kami.

Sekitar pukul 11 siang, kami pun tiba di Narita. Kami berangkat dari terminal 1 bandara internasional Jepang ini. Menurut Namaru, kami adalah rombongan jurnalis pertama yang berangkat dari terminal 1. Saya kurang mengerti maksudnya ini. Dugaan saya, mungkin sebelumnya Garuda terbang dari terminal lain, dan baru-baru ini saja pindah ke Terminal 1.


Terminal ini didominasi oleh warna silver dengan gaya minimalis. Sebelumnya, Ms Namaru memberi tahu kalau akan banyak toko di dalam terminal. Kami pun diberikan waktu 20 menit untuk melihat-lihat sambil menunggu proses check in selesai. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Setelah saya mengelilingi terminal, sepertinya jumlah toko tidak sebanyak dugaan saya. Menurut saya, masih lebih banyak toko di Bandara Changi Singapura. Tidak hanya jumlah, namun juga keragaman barang yang dijual.

Tidak terasa, saya dan seorang rekan dari Media Indonesia yang paling belakangan kembali ke titik kumpul. Kami pun disambut dengan sedikit omelan karena datang terlambat. "Kita dicemberuti tuh," kata Wisnu pada saya. Saya hanya menyambutnya dengan senyuman saja.



Kami pun berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan. Sebelum bisa ke sana, kami harus melewati pintu pemeriksaan. Tampaknya pemeriksaan di sini lebih ketat daripada di Bandara Soekarno-Hatta. Semua barang-barang harus melewati pemeriksaan X-ray. Bahkan, tali pinggang pun harus dibuka. Begitu juga dengan laptop yang harus dikeluarkan dari tasnya.

Karena lupa mengeluarkan laptop, saya sempat diperiksa lebih lama dan mendalam lagi di pemeriksaan ini. Bahkan, nama saya pun dicatat lagi oleh seorang petugas yang menghampiri saya. Namun, yang paling lama diperiksa adalah seorang rekan saya yang membawa dua botol minuman yang dibeli di toko dekat hotel kami menginap pada malam sebelumnya. Rupanya, tidak boleh membawa cairan ke dalam pesawat, kecuali dibeli di toko-toko duty free bandara. Akhirnya, kedua botol yang dibeli sekitar Rp 350.000 itu, disita petugas bandara.

Sekitar pukul 11.30, saya pun naik ke dalam pesawat Garuda Indonesia GA 885 yang sudah siap menerbangkan tubuh ini kembali ke Jakarta. Saya duduk di bangku 27E, hanya beberapa baris lagi dari belakang. Entah mengapa, dalam perjalanan kali ini, saya selalu gagal mendapatkan bangku yang dekat jendela. Padahal, itulah posisi favorit saya dalam setiap perjalanan naik pesawat karena saya bisa memotret-motret dari posisi tersebut.



Berbeda dengan ketika berangkat, seluruh bangku pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-200 yang saya naiki ini, tampaknya terisi penuh. Saya lihat ke sekeliling, sepertinya tidak ada bangku yang kosong. Saya semakin yakin, kalau Jepang memang salah satu pasar potensial yang diterbangi oleh Garuda Indonesia. Kabarnya, masyarakat Jepang bahkan lebih memilih terbang dengan Garuda daripada maskapai Jepang, bila bepergian ke Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya tentu bangga dengan fakta ini.

Pesawat akhirnya meninggalkan Bandara Narita tepat pukul 12.00. Saat itu, udara Tokyo sangat cerah, sama seperti saat saya tiba tiga hari lalu. Pesawat sangat mulus take off, sehingga saya nyaris tidak merasakan kalau pesawat sudah melayang di angkasa.

Beberapa menit kemudian, pesawat sudah stabil mengangkasa di udara, dan lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pun sudah dimatikan. Saya lalu mensibukkan diri dengan menikmati beragam hiburan di LCD layar sentuh yang ada di depan saya. Film Mission Imposible pun menjadi pilihan saya untuk membunuh rasa bosan duduk.


Ketika asik menikmati film, para pramugari Garuda Indonesia mulai sibuk hilir-mudik di lorong kabin pesawat. Selain mengecek kondisi para penumpang, mereka juga membagikan minuman dan makanan ringan. Yang pertama dibagikan adalah air jeruk dalam kemasan dan handuk kecil basah. Saya pun segera meminumnya. Air jeruk sangat menyegarkan tenggorakan yang mulai terasa kering setelah beberapa saat pesawat mengudara.

Awak kabin juga membagikan sebungkus kacang-kacangan, satu botol air meneral 500 militer, dan yang terakhir adalah menu makan sore. Dari dua pilihan yang disediakan, saya akhirnya memilih menu makanan Jepang untuk santapan sore. Rasa seluruh makanan yang disajikan cukup enak, walau ada satu jenis makanan yang kurang cocok di lidah saya akibat bumbu khas Jepang yang disertakan.


Kisah perjalanan saya kali ini, rupanya tidak terlalu mulus. Pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi sering mengalami gunjangan akibat melewati cuaca yang tidak bersahabat. Pesawat beberapa kali tergunjang sangat keras, mirip mobil yang sedang melintas di jalan rusak.

Seorang ibu yang duduk beberapa bangku di depan saya, beberapa kali meneriakkan ‘Allahu Akbar’ setiap kali guncangan keras terjadi. Sedangkan para penumpang lain tampak was-was. Mereka duduk membisu sambil berpegangan erat, termasuk saya. Terdiam sambil berdoa dalam hati, agar semuanya segera kembali normal.

Sekitar setengah jam kemudian, pesawat akhirnya kembali stabil. Tidak ada lagi gunjangan yang begitu menakutkan. Namun, lampu tanda sabuk pengaman belum juga dimatikan. Para pramugari juga masih duduk di bangku khusus mereka sambil mengawasi para penumpang. Belum ada penumpang yang berani berdiri. Padahal, sudah banyak yang kebelet ke kamar kecil. Karena itu, ketika lampu sabuk pengaman sudah dimatikan, sejumlah penumpang langsung menyerbu kamar kecil. Antrean terjadi hingga tiga-empat orang di setiap kamar kecil. Saya sendiri mengantre di kamar kecil paling belakang.

Sambil menunggu kamar kecil kosong, saya melihat-lihat kesibukan para pramugari yang sedang membersihkan ‘dapur’ pesawat. Ada yang membersihkan tatakan, mengepel lantai, dan mempersiapkan menu makanan lain yang akan dibagikan.

Salah satu pramugari yang sibuk di sini adalah Minako Ito, pramugari berkebangsaan Jepang. Selama di udara, wanita berparas ayu khas Jepang ini, sangat ramah melayani para penumpang. Bahkan, menurut saya, ia lebih ramah daripada pramugari asal Indonesia. Entah keramahan itu tulus atau semu. Dari wajah dan sikapnya, sih, sepertinya tulus.

Pesawat Garuda Indonesia GA886 yang saya tumpangi, akhirnya mendarat sangat mulus di Bandara Soekarno-Hatta, tepat pukul 18.30 WIB. Selesai sudah perjalanan saya ke Jepang. Rutinitas pun kembali menunggu…

Selengkapnya...

Rabu, 25 April 2012

Tawaran Dugem dari Para Orang Hitam di Tokyo (Trip to Tokyo #9)

Selama di Tokyo, saya berkesempatan untuk mengunjungi sejumlah pusat bisnis di sana. Walau saya kurang tertarik berbelanja karena harga barang di Tokyo bisa berkali-kali lipat daripada harga di Jakarta, namun saya tetap tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi sejumlah pusat perbelanjaan di sana. Siapa tahu ada barang yang cocok juga untuk dibeli. Sekalian bisa mencari oleh-oleh untuk dibawa ke Indonesia.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Asakusa, yang berada di sebelah timur laut Tokyo. Asakusa adalah tempat yang sepertinya wajib disinggahi setiap wisatawan yang datang ke Tokyo. Di hampir semua tulisan tentang Tokyo yang saya temui saat googling, Asakusa juga selalu disebut-sebut. Karena itu, ketika berada di ibu kota Jepang ini, saya pun tidak melewatkan tempat ini.

Asakusa adalah lokasi kuil Asakusa Kannon (Asakusa Kannon Temple), yang merupakan kuil yang paling tua di Tokyo. Untuk menuju kuil ini, maka harus melewati gerbang dewa petir atau Kaminarimon. Saat melewati pintu, maka kita akan melihat lentera berwarna merah yang besar dan tergantung di atas gerbang. Dalam keyakinan orang Jepang, pintu ini memisahkan antara kehidupan yang fana dan kehidupan yang religi. Kalau berada di pintu ini, wajib hukumnya untuk berfoto.




Saat saya datang ke Asakusa, pengunjung terlihat begitu ramai. Dari fisik mereka, mayoritas adalah orang Jepang. Berbeda dengan saya yang memilih tidak masuk ke dalam kuil, mereka umumnya justru masuk ke sana. Sebelum masuk, mereka melewati beberapa tahapan pembersihan diri di bangunan depan kuil yang terlihat begitu besar dan megah itu. Sekilas, saya teringat dengan kegiatan di kelenteng yang ada di Indonesia saat melihat mereka.

Puas menatap kemegahan Asakusa Kannon Temple, saya lalu menyusuri sebuah jalan yang terkenal dengan sebutan Kaminari-mon. Di sepanjang jalan yang panjangnya sekitar 200 meter itu, berderet kios di kiri-kanan jalan. Di kios-kios ini, kita bisa menemukan beragam souvenir bertemakan Jepang, pakaian tradisional Jepang, kaos oblong, beragam makanan, dan sebagainya.

Harga setiap barang yang dijual sudah ada, sehingga sangat memudahkan para pengunjung. Rata-rata penjual juga bisa sedikit berbahasa Inggris. Namun, umumnya kalkulator tetap menjadi penghubung soal harga. Penjual akan mengetikkan harga barang yang kita tanyakan di kalkulator tersebut.


Sebutan Tokyo sebagai salah satu kota termahal di dunia tampak jelas di Asakusa. Rata-rata harga sebuah gantungan kunci atau tempelan kulkas sekitar 350 yen, atau sekitar Rp 35.000. Satu kaos oblong dengan bahan biasa yang di Tanah Abang hanya Rp 25.000, maka di Asakusa mencapai 1000 yen atau Rp 100.000. Kalau hendak membeli sesuatu di sini, perhatikan juga siapa yang memproduksinya. Jangan-jangan, Anda membeli barang yang ada tulisan “made in China’. Lucu juga, pergi ke Jepang, tapi oleh-oleh yang kita beli adalah buatan negara lain. Apalagi, oleh-oleh tersebut nantinya akan dihadiahkan kepada orang lain.

Tempat lain yang saya kunjungi adalah Omotesando, sebuah tempat belanja kelas atas di Tokyo. Di lokasi ini, berdiri toko-toko yang menjual barang bermerek terkenal seperti Chanel, Prada, Louis Vitton, Boss, dan sebagainya. Toko-toko berjejer rapi di pinggir pedistrian yang sangat lebar dan sangat nyaman dijelajahi.


Sekilas, saya teringat dengan Orchard Road di Singapura saat pertama kali melihat suasana Omotesando. Pedestrian yang lebar, rindangnya pepohonan, dan toko-toko yang berjejer sepanjang jalan, sangat mirip dengan suasana Orchard Road. Tapi, melihat tulisan-tulisan kanji dan lalu-lalang orang Jepang di sekitar Omotesando, baru saya sadar kalau saya memang sedang berada di Tokyo, dan bukan di Singapura.

Saat saya berada di Omotesando, sedang ada antrean yang sangat panjang di sepanjang trotoar. Antrean yang mengular dari depan sebuah toko itu, panjangnya mencapai dua ratus meter. Mereka berbaris rapi sambil sibuk ngobrol atau sibuk dengan gadget masing-masing. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka sedang mengantre untuk mendapatkan es krim dari sebuah toko yang akan buka perdana pada hari itu.

Mereka telah mengantre sejak beberapa jam sebelum toko buka pada jam empat sore. Demi es krim, mereka rela berdiri sambil membawa payung. Maklum saja, hujan rintik-rintik sedang membasahi Tokyo sepanjang hari itu. Dalam hati, saya sempat bertanya-tanya, apakah memang demikian budaya orang Jepang, sehingga rela berdiri lama pada saat hujan demi es krim. Kalau saya yang mengantre, bisa-bisa nenek saya marah-marah karena mau beli es krim saat hujan.

Di omotesando, saya sempat masuk ke dalam salah satu toko yang menjual beragam jenis barang-barang mulai pakaian dan souvenir khas Jepang. Namun, melihat harga barang-barang yang menempel, saya pun mengurungkan niat untuk mengeluarkan yen yang saya pegang. Kaos paling murah dijual 1300 yen atau sekitar Rp 130.000. Ada kaos yang berbahan lebih bagus dan saya taksir, harganya mencapai 2300 yen atau Rp 230.000. Mahal sekali untuk ukuran saya. Beda dengan beberapa rekan perempuan yang pergi bersama saya, yang sepertinya mudah sekali mengeluarkan yen untuk membeli beberapa jenis barang di toko ini.

Puas menikmati suasana Omotesando, saya kemudian jalan kaki menuju Harajuku yang jaraknya sekitar 300 meter. Walau cukup jauh, namun sangat tidak terasa karena jalanan begitu ramai. Udara dingin yang sedang mengepung Tokyo juga membuat acara jalan kaki bertambah menyenangkan.Saya berjalan kaki sambil menikmati pemandangan yang ada di sekililing. Begitu banyak orang-orang yang berjalan kaki. Mereka tampak tergesa-gesa berjalan. Jarang terlihat yang asyik ngobrol sambil berjalan seperti yang biasa ada di Jakarta. Saya pun jadi tidak enak karena berjalan cukup santai. Apalagi, sibuk berfoto-foto sambil berjalan. Tapi, biarlah. Namanya juga turis.


Harajuku adalah kawasan belanja lain yang sangat terkenal di Jepang sebagai tempat anak muda Jepang beradu penampilan. Karena itu, mayoritas pengunjung Harajuku adalah anak muda. Mereka mendominasi Harajuku dengan dandanan mereka yang paling keren, paling aktual, dan terkadang aneh untuk ukuran orang Indonesia. Bagi Anda yang ingin memanjakan mata dengan memandangi kecantikan wanita-wanita muda Jepang, maka jangan lewatkan datang ke Harajuku. Mereka akan terlihat hilir-mudik di trotoar atau di toko-toko.

Saya kemudian menyusuri Takeshita Dori, sebuah kawasan jalan kaki sepanjang 400 meter dengan lebar sekitar tiga meter. Sepanjang jalan ini penuh toko yang menjual pakaian , pernak-pernik, kosmetik, dan beragam barang lain yang cocok untuk anak muda. Kawasan ini selalu ramai oleh anak-anak muda Jepang yang ingin mencari aksesoris agar tampil gaya.


Kabarnya, harga yang ditawarkan memang lebih murah dibandingkan tempat lain. Para penjual juga sangat aktif menarik pengunjung, seperti berteriak-teriak di depan toko atau memakai pakaian unik dan terkadang menyeramkan. Di Takeshita Dori juga bisa ditemui Daisho, toko dengan satu harga yaitu 100 yen. Toko ini menjual pakaian, pernak-pernik, makanan dan minuman.

Yang tidak lupa saya susuri adalah kawasan Roppongi. Apalagi, saya juga menginap di kawasan ini. Rasanya, rugi tidak mengenal tempat kita berada padahal waktu ada, dan mencapainya juga sangat mudah. Bagi saya, Roppongi mirip kawasan Mangga Besar Jakarta. Semakin malam, kawasan ini semakin ramai dikunjungi. Sejumlah tempat hiburan malam berserakan di kiri-kanan jalan. Belakangan saya tahu, klub malam bertebaran di sini karena mayoritas kedutaan besar negara-negara di dunia, berada di Roppongi. Wisatawan dan tamu-tamu kedutaan merupakan pasar sangat potensial bagi semua klub malam tersebut.




Saya berkali-kali ditawari para pegawai tempat hiburan di sini, untuk mau mampir ke klub malam tempat mereka bekerja. Entah mengapa, mayoritas orang yang memberikan penawaran itu adalah orang berkulit hitam. Rupanya, hampir semua tempat hiburan malam di Roppongi memakai jasa orang kulit hitam untuk menggaet pengunjung. Padahal, bagi saya, ini tentu tidak menarik. Bahkan, saya cukup risih dengan keberadaan mereka, dan mengganggu acara jalan-jalan yang sedang saya nikmati ini. Jauh akan lebih menarik kalau yang berdiri adalah perempuan-perempuan Jepang dengan wangi tubuh yang sangat menggoda.

“Sir, you in the wrong way!” kata seorang berkulit hitam ketika menolak ajakannya untuk mampir ke sebuah tempat hiburan malam. Saya dan rekan-rekan hanya tersenyum saja mendengarkan kata-kata itu. kami memang tidak punya keinginan untuk menikmati hiburan malam di Roppongi. Kami hanya ingin menikmati suasana malam di kawasan ini, sambil mampir ke Don Quixote, toko yang buka 24 jam untuk membeli oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta.

Biasanya, orang-orang hitam ini mengatakakan akan memberikan hiburan yang paling keren kepada orang-orang yang melintas. Namun, info yang saya peroleh, sebenarnya mereka hanya menakut-nakuti saja. Sebab, bila Anda masuk ke dalam klub malam yang mereka tawarkan, mungkin hanya ada sepuluh pengunjung. Parahnya lagi, begitu masuk, para pelayan klub malam tersebut akan segera memaksa Anda untuk memesan minuman. Agar tidak salah pilih tempat, Anda bisa googling untuk menemukan beberapa klub malam favorit di kawasan Roppongi.
Selengkapnya...

Selasa, 24 April 2012

Terpesona oleh Halaman Istana Kaisar Jepang (Trip To Tokyo #8)

Entah kapan persisnya, saya pernah melihat tayang program Ngulik di Trans TV. Saat itu, si pembawa acara, Asri Welas, sedang berada di sebuah taman di Tokyo. Yang menarik perhatian saya adalah bukan aksi kocak dan spontan wanita yang terkenal lewat komedi Suami-Suami Takut Istri itu. Saya lebih tertarik dengan tempat dimana Asri Welas sedang berada. Di tayangan itu, terlihat ia sedang berada di taman yang pohon-pohonnya berbentuk bonsai. Pohon-pohon itu begitu banyak dengan bentuk sangat unik. Bonsai dalam ukuran lebih besar. Indah sekali.

“Saya pernah melihat di TV kalau ada taman di Tokyo yang pohon-pohonnya mirip bonsai,” celetuk saya di dalam bis yang membawa saya dan rekan-rekan dari Indonesia, berkeliling Tokyo. Belum sempat rekan-rekan lain mengomentari ucapam saya, bis lalu berbelok ke kanan. Tidak lama kemudian, kami sudah memasuki sebuah taman. “Edan nih. Baru diucapkan, eh, kita sudah berada di sini. Cepat sekali terkabulnya,” kata saya ketika kami tiba di tengah taman bonsai tersebut.

Begitu bis sudah berhenti dengan sempurna di areal parkir, saya pun bergegas turun dan menuju taman. Saya langsung menuju ke tengah taman dan menikmati pohon-pohon yang nyaris seluruhnya dibentuk seperti bonsai. Saya begitu menikmati pemandangan yang sangat memanjakan mata ini. Saya juga tidak berhenti untuk berkali-kali memfotonya. Beragam sudut pemotretan saya ambil. Sesekali, saya pun meminta rekan yang kebetulan berada di dekat saya, untuk memotret saya berlatar belakang pohon-pohon bonsai itu.

Taman ini merupakan bagian dari Tokyo Imperial Palace, istananya kaisar Jepang. Letaknya berada di Chiyoda. Istana ini begitu luas yang dikelilingi oleh taman-taman indah. Sedangkan istana utama berada di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh sungai buatan. Bisa jadi, pada saat dibuat dulu, fungsi sungai ini adalah sebagai pelindung istana agar tidak sembarang orang menyerangnya.




Nah, taman bonsai ini berada di salah satu sisi istana yang langsung berbatasan dengan gedung-gedung pencakar langit Tokyo, yang biasa disebut Imperial Palace Plaza atau Kokyogaien. Taman ini merupakan pintu utama menuju pusat istana kaisar. Dari taman ini, saya berjalan cukup jauh untuk sampai ke pintu gerbang istana. Saya pun berada diantara ratusan wisatawan yang berjubel di sekitar jembatan pintu utama ini. Terlihat ada beberapa penjaga istana berjaga di depan gerbang. Mereka terlihat kecil dibandingkan besarnya gerbang di belakang mereka.

Saya terkesima dengan kepiawaian orang Jepang dalam membuat taman ini. Saya sempat bertanya kepada Ms Namaru, pendamping tur kami, apakah bonsai memang berasal dari bahasa Jepang. Ternyata jawabannya memang iya. Jiwa seni orang Jepang memang tidak diragukan lagi. Mereka boleh hidup dalam arus modern dan teknologi kelas satu, tapi mereka tetap memelihara nilai-nilai budaya. Sambil memelihara ini, mereka akhirnya menemukan banyak karya seni yang langsung menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ada bonsai, ikebana, seni menyusun batu, dan seni-seni lainnya. Orang Jepang memang kreatif.

Entah berapa lama Jepang harus membentuk pohon-pohon di Imperial Palace Plaza ini agar bisa menyerupai bonsai. Kalau saya perhatikan, hampir seluruhnya berasal dari pohon pinus, yang sebenarnya juga banyak tumbuh di Indonesia. Di setiap pohon, batang utama dan dahan-dahannya dibentuk agar melengkung kesana-kemari, seperti bentuk tubuh manusia yang sedang menari-nari.





Saya juga penasaran, apakah daun juga rutin dipangkas tetap terlihat indah. Kalau iya, berarti butuh jumlah tenaga yang ekstra agar seluruh pohon tetap terawat. Semua pohon juga dibiarkan tumbuh di tengah lapangan rumput yang tidak boleh diinjak pengunjung. Tampaknya, rumput yang sangat hijau itu, tumbuh subur dengan perawatan yang sangat baik juga.

Walau tidak bisa mendekati pohon-pohon bonsai tersebut, tapi saya tidak perlu berpatah hati. Di sekitar taman telah disediakan jalur untuk jalan kaki yang mengelilingi areal taman. Bangku-bangku yang nyaman untuk diduduki, juga telah disediakan di sepanjang jalur berjalan kaki tersebut. Nah, di salah satu bangku itulah Asri Welas pernah duduk ketika terlihat di dalam tayangan Ngulik. Saat itu, seorang petugas keamanan menghampirinya dan mengatakan tidak boleh ada kegiatan pengambilan gambar di sana.

Kini, saya pun bisa berada di tempat yang sama…
Selengkapnya...

Senin, 23 April 2012

Ke Tokyo Mengejar Bunga Sakura (Trip To Tokyo #7)

Apa yang paling identik dengan Jepang? Jawabannya mungkin saja banyak. Tapi, kalau ditanya bunga apa yang melekat dengan Jepang, maka jawabannya hanya satu. Apa itu? Nah, pastinya semua orang tahu jawabannya. Apalagi kalau bukan bunga sakura. Sejak dulu, bunga Sakura memang identik dengan Jepang. Sakura adalah Jepang, dan Jepang adalah Sakura. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Padahal, katanya, sakura sebenarnya bukan bunga asli Jepang.

Bunga yang dalam bahasa Inggris disebut dengan nama cherry blossoms ini, memang banyak tumbuh di Jepang. Pohon Sakura menjadi tanaman penghijauan di tepi-tepi jalan, seperti pohon mahoni yang banyak ditanam di tepi jalan Jakarta. Sakura juga banyak ditanam di taman-taman, pinggiran sungai, hingga pohon penghijauan di perkantoran. Sekilas, pohon bunga sakura mirip dengan pohon trembesi, yang mulai banyak ditanam di Jakarta. Dahan-dahannya bercabang banyak dengan daun yang kecil.

Saya sangat beruntung datang ke Jepang ketika Sakura sedang mekar. Setiap tahunnya, bunga yang kabarnya berasal dari pegunungan Himalaya ini, biasa mekar pada musim semi. Nah, musim ini biasanya dimulai pada awal April dan berakhir pada akhir April. Puncaknya terjadi pada akhir minggu pertama April.

Ketika saya datang ke Tokyo, sakura sedang mekar-mekarnya di seluruh penjuru kota. Sangat cantik sekali. Bunga yang didominasi warna merah jambu keputih-putihan ini, begitu memanjakan mata. Pada setiap pohon sakura hanya terlihat berisi batang dan bunga. Daun-daun hijaunya entah hilang kemana. Sakura yang hanya terlihat berwarna merah keputihputihan itu, terlihat seperti sebuah foto yang telah dimanipulasi lewat program photoshop agar indah dipandang.




“Lu beruntung banget. Katanya, Sakura sedang mekar sekarang ini,” kata Yuliandi Kusuma, seorang rekan yang sempat berkunjung ke Tokyo pada Februari lalu, ketika saya menceritakan akan ke Jepang. Kata-kata singkat Yuliandi ini kembali terngiang-ngiang di telinga, ketika saya melihat bunga sakura untuk pertama kalinya di pinggiran Bandara Narita. Kesan pertama begitu kuat dan menancap tajam di memori. Bunga yang berwarna putih kemerah-merahan itu, sangat indah dan memenuhi hampir seluruh batangnya.

Dalam perjalanan dari Narita ke pusat Tokyo, Sakura terlihat mekar di beberapa pinggiran jalan tol. Saya tidak pernah bosan-bosan untuk memandanginya. Kamera foto pun sesekali saya arahkan ke sana untuk mendapatkan gambarnya.

Sakura merupakan bunga nasional Jepang. Karena itu, bunga ini dapat terlihat di mana-mana di Jepang. Sakura juga diperlihatkan dalam beraneka ragam barang-barang, seperti uang koin, kimono, alat-alat tulis, peralatan dapur, logo-logo perusahaan, dan sebagainya. Bagi orang Jepang, sakura merupakan simbol penting, yang kerap kali diasosiasikan dengan wanita, kehidupan, kematian, serta juga merupakan simbol untuk mengeksperesikan ikatan antarmanusia, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan. Sakura juga menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal.

Ketika jalan-jalan ke Tokyo Midtown, sebuah kawasan bisnis di Tokyo, saya mendapati begitu banyak sakura sedang mekar di sebuah taman yang ada di salah satu sisinya. Selain ditanam di beberapa bagian taman, sakura juga ditanam berjajar di pinggir jalan. Sedangkan di sampingnya terdapat sebuah tempat nongkrong outdoor. Asyik sekali duduk di sana sambil memandangi sakura yang berwarna putih ke merah-merahan tersebut.

Kebetulan saya berada di sana hingga malam menjemput. Pemandangan lain yang tidak kalah indahnya, ditawarkan jejeran bunga sakura di tepi jalan tadi. Siraman cahaya lampu yang dipasang khusus di sekitar pohon, membuat bunga sakura terlihat lebih indah pada malam hari. Saya pun tidak puas-puas untuk memotretnya. Bahkan saya mengelilinginya hingga bebeberapa kali untuk mendapatkan sudut yang pas untuk pemotretan. Entah berapa foto yang saya hasilkan, dan saya baru berhenti ketika saya sadar kalau gerimis mulai turun dari langit Tokyo. Saya pun buru-buru mengakhiri petualangan saya di Taman Tokyo Midtown.


Kesempatan lain yang saya peroleh untuk memuaskan diri menikmati keindahan sakura adalah ketika berada di depan Musium Meiji dan Taman Tokyo Imperial Palace. Bahkan, di tempat terakhir, saya bisa memegang sakura sepuas-puasnya karena dahannya rendah sekali. Saya pun memetik beberapa tangkai bunga dan memasukkannya ke dalam plastik. Sampai di Jakarta, bunga sakura yang saya bawa ini, masih terlihat bagus walau sudah mulai terlihat rusak.

Entah kapan lagi saya bisa menikmati sakura ketika sedang bermekaran di musim semi di negeri matahari terbit. Saya berharap, suatu hari nanti, bisa kembali lagi ke Jepang. Semoga…





Selengkapnya...