Jumat, 20 April 2012

Berdiri di Atas Langit Tokyo (Trip To Tokyo #4)

Tempat pertama yang saya singgahi saat berada di Tokyo adalah Tokyo Tower. Ini adalah menara setinggi 333 meter, lebih tinggi daripada Menara Eiffel di Paris, yang (hanya) setinggi 320 meter. Tokyo Tower menjadi tempat yang paling pas untuk menikmati pemandangan Kota Tokyo yang penuh dengan hutan beton yang berlomba-lomba mencakar langit. Dan, saya beruntung sekali, cuaca ibu kota Jepang sedang sangat cerah, sehingga saya dapat memanjakan mata dari ketinggian 250 meter. Hampir seluruh sudut Tokyo dapat saya pandang. Ya, seluruhnya, 360 derajat.

Tokyo Tower berada di 4-2-8 Shiba-Koen, Minato-ku, Tokyo. Kalau naik transportasi umum, sangat mudah mencapainya. Setidaknya ada lima jalur kereta yang melewatinya. Kelimanya adalah, Metropolitan Subway Oodo LinTe, Tokyo Metro Hibiya Line, Metropolitan Subway Mita Line, Metropolitan Subway Asakusa Line, dan JR Yamanote Line. Tapi, awas jangan sampai salah pilih stasiun untuk turun. Perhatikan sekali posisinya kalau Anda tidak mau tersasar di ratusan stasiun di seluruh Tokyo.

Saya tidak perlu bersusah payah untuk mempelajari cara menuju Tokyo Tower karena sudah ada bis yang mengantarkan saya ke sana. Mungkin lain kali kalau ada kesempatan lagi pergi ke Tokyo, saya akan menggunakan transportasi umum ke Tokyo Tower. Sebenarnya, tentu pasti akan lebih banyak pengalaman kalau kita menggunakan transportasi umum di kota yang kita singgahi. Saya pun sering melakukan hal ini. Namun, kali ini tidak bisa saya lakukan di Tokyo.

Begitu sampai di pintu masuk Tokyo Tower, saya pun memperhatikan loket tempat penjualan tiket. Walau bukan akhir pekan, cukup banyak pengunjung yang datang. Mereka tertib mengantre di loket. Ada dua jenis tiket dewasa yang bisa dibeli. Yang pertama adalah, tiket untuk sampai di lantai main observatory setinggi 150 meter. Harganya 820 yen atau sekitar Rp 82.000. sedangkan jenis tiket kedua adalah tiket untuk sampai di special observatory setinggi 250 meter. Harganya tambah lagi 600 yen atau sekitar Rp 60.000. Jadi, total harga tiket agar bisa sampai ke puncak Tokyo Tower yang selesai dibangun pada 1958 ini adalah sekitar Rp 142.000.



Begitu tiket sudah ada di tangan, saya pun bergegas ke lift menuju main observatory. Beberapa pegawai yang bertugas membantu para pengunjung, langsung menyambut begitu saya berada di dalam ruangan tempat lift berada. Rata-rata adalah perempuan Jepang yang masih muda-muda. Sebagai pengunjung dari luar Jepang, saya tentu menikmati keberadaan mereka. Apalagi, mereka umumnya berwajah cantik-cantik. Bahkan, beberapa rekan saya sempat mengajak mereka berfoto bersama sehingga mengundang tawa yang lainnya. Mereka juga sangat ramah, dan selalu tersenyum dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jepang. Walau saya tidak paham apa yang mereka ucapkan, tapi mungkin berisi ucapan selamat datang kepada para pengunjung.

Tidak lama kemudian, saya pun masuk ke dalam lift. Setelah lift penuh oleh sekitar delapan orang, petugas pun menutup pintu. Lift lalu mulai naik dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam hitungan beberapa detik, saya sudah sampai di ketinggian 150 meter. Saya pun segera keluar dari lift. Rupanya, cukup banyak pengunjung yang sudah ada di main observatory ini. Saya pun berbaur di antara mereka dan berjalan menuju tepi jendela untuk memandangi Tokyo yang sedang cerah-cerahnya. Saya tidak bosan untuk menjepretkan lensa kamera ke sudut-sudut kota yang paling menarik. Entah berapa banyak foto yang terekam di sini.



Saya hanya berada di sekitar enam menit di main observatory. Di layar LCD yang dipasang di beberapa sudut ruangan, terlihat nomor tiket saya telah tertulis. Itu artinya, saya harus segera menuju lift yang akan membawa saya ke tempat yang lebih tinggi lagi, yakni special observatory yang ada di ketinggian 250 meter. Liftnya lebih kecil daripada sebelumnya dan dindingnya tranparan. Kali ini, saya pun lebih merasakan gerakan lift yang terus naik. Apalagi, lift semakin rapat dengan rangka baja Tokyo Tower sehingga terlihat jelas pemandangan kota. Bagi yang punya pobia dengan ketinggian, berhati-hatilah rasa takut Anda akan tiba-tiba muncul dengan sangat hebat.

Tapi, tahan dulu rasa takut Anda tadi. Sebab, Anda akan mendapatkan pengalaman yang langka kalau sudah sampai di Special observatory. Dari ketinggian 250 meter ini, Anda dapat melihat Tokyo secara lebih utuh lagi. Gedung-gedung terlibat kecil, apalagi mobil-mobil yang ada di jalan raya. Sebuah pemandangan yang fastastik akan bisa dinikmati 360 derajat dari lokasi ini. Bahkan, kalau Anda beruntung, Gunung Fuji dan Gunung Tsukuba pun dapat terlihat. Namun, saya rupanya bukan termasuk orang yang beruntung tadi. Saya luput untuk memperhatikan kedua gunung yang diselimuti salju abadi itu ketika berada di Special observatory. Mungkin karena saya terlalu asyik menjepret-jepret dengan kamera ke semua penjuru kota. Tapi, tidak apalah. Yang penting, saya sudah merasakan sensasi berada di ketinggian 250 meter di Tokyo Tower ini.



Saya berada di Special observatory sekitar 10 menit. Saya kemudian kembali turun ke Main observatory. Dari tempat yang sebelumnya sudah saya jelajahi, saya kemudian turun satu lantai melewati tangga. Selain ada beberapa kafe di lantai 1F Main observatory ini, juga ada hal lain yang bisa memberikan sensasi lain kepada setiap pengunjung Tokyo Tower. Di salah satu sudut lantai ini, ada bagian lantai yang terbuat dari kaca, yang disebut dengan lookdown window. Dengan berdiri di atas kaca ini, maka Anda merasa sedang terbang. saya berusaha untuk menumbuhkan keberanian untuk mampu berdiri di kaca tersebut. Sebab, rasa gamang langsung timbul begitu menatap ke bawah lewat kaca tersebut.


Tidak terasa, hampir satu jam saya menghabiskan waktu di Tokyo Tower. Saya kagum pada Jepang yang mampu menjual menara ini sebagai salah satu objek wisata di Tokyo. Padahal, sejatinya, menara yang mulai dibuka untuk publik pada 1958 ini, dibangun sebagai tempat pemancar sejumlah stasiun TV dan radio. Dengan menjual Tokyo Tower sebagai salah satu tujuan wisata, maka pemasukan dari tiket tentu sangat banyak. Apalagi, Tokyo Tower dibuka sampai malam hari. Para Pengunjung dapat menikmati Tokyo pada malam hari ketika sedang bermandikan cahaya lampu. Sebenarnya, Tokyo Tower juga bermandikan cahaya pada malam hari. Dari kejauhan, bangunan setingi 333 meter ini sangat indah dipandang karena berkilauan oleh cahaya.

Saya tidak akan pernah lupa sensasi yang saya rasakan dari perjalanan menuju puncak Tokyo Tower. Play in the Tokyo sky. Begitulah yang saya rasakan....

Namun, sebentar lagi, posisi Tokyo Tower sebagai simbol ibu kota negeri sakura ini, akan digantikan oleh Tokyo Skytree, sebuah menara setinggi 666 meter. Pengunjung dapat menatap Tokyo dari ketinggian 450 meter, atau hampir dua kali lipat dari Tokyo Tower. Saya tidak bisa membayangkan, seberapa kecil mobil dan gedung-gedung terlihat dari tower yang akan dibuka mulai 22 Mei 2012 ini. Tokyo Skytree semakin menancapkan Jepang sebagai negara maju dan berteknologi tinggi dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar