Kamis, 19 April 2012

Dilarang Bunyikan Klekson di Jepang! (Trip to Tokyo #3)

Keluar dari Bandara Narita, hawa dingin langsung menerpa kulit. Padahal, cuaca sangat cerah. Matahari begitu bermurah hatinya menyinari Tokyo, menyambut kedatangan saya untuk pertama kalinya ke negeri matahari terbit ini.

Suhu Tokyo saat itu sekitar 13 derajat celsius. Sangat rendah dibandingkan suhu Jakarta yang mencapai 35 derajat. Karena itu, jaket pun semakin saya rapatkan menutupi tubuh ketika mulai melangkah keluar dari ruang terminal kedatangan bandara.

Saya berjalan mengitu rekan-rekan lain menuju tempat parkir. Rupanya, tidak hanya di dalam ruang terminal yang sepi. Lalu lalang kendaraan di jalan sekitar terminal bandara pun cukup sepi. Berbeda dengan suasana terminal kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta yang biasanya selalu gaduh, maka di Bandara Narita ini malah sebaliknya. Tidak ada kerumunan orang-orang yang menunggu kendaraan. Jangan harap juga menemukan para sopir taksi yang berusaha merayu para calon penumpang. Sangat lengang.



Sambil terus berjalan menuju bis yang akan membawa saya dan seluruh rekan-rekan dari Jakarta, saya tidak putus-putus mengamati suasana Bandara Narita. Keteraturan yang saya jumpai sejak keluar dari pesawat, semakin memperkuat anggapan kalau segalanya di Jepang berjalan tertip, penuh displin, dan kadang-kadang membosankan bagi kita yang biasa hidup dalam ketidakteraturan di Indonesia. Tadi saya, ketika mengambil barang bagasi, kita tidak boleh mendekati ban berjalan tempat keluarnya barang di bagasi. Kalau di Bandara Soekarno-Hatta kita bisa berkerumun di sepanjang ban jalan bahkan kadang-kadang duduk di tepinya, maka di Narita kita harus menunggu bagasi keluar dari jarak sekitar 30 cm.


Begitu sampai di tempat parkir, saya melihat Bis yang akan membawa kami terlihat sangat bagus dan masih mulus sekali. Ukurannya seperti bis ukuran tiga perempat, walau tingginya seperti bis besar. Nama sopir yang membawa kami adalah Tanaka. Orangnya masih muda, sekitar 36 tahun. Tanaka yang akhirnya menemani kami selama berada di Tokyo dan membawa kami ke sejumlah tempat yang menarik dan eksotis di kota asal tokoh Doraemon dan Shincan tersebut.

Setelah kami naik ke bis, Tanaka pun mulai mengemudikan bis meninggalkan Bandara Narita. Cara menyetirnya ternyata sangat bisa diandalkan. Kami sangat merasa nyaman berada di dalam bis dan menikmati perjalanan menuju pusat kota yang melewati jalan tol.

Jarak Narita ke pusat kota sekitar 65 km. Lumayan jauh, dan saya baru menyadarinya ketika melihat papan petunjuk di sepanjang jalan. Jarak Bandara Narita sampai pusat Tokyo mungkin sama dengan jarak dari Bandara Soekarno-Hatta hingga ke Bekasi. Jauhnya boleh sama, tapi pengalamannya tentu sangat berbeda. Bukan ingin membanggakan negeri orang, tapi saya merasa Tokyo sangat jauh lebih menyenangkan. Jakarta harus banyak belajar dengan negeri matahari terbit ini dalam soal bagaimana membangun infrastruktur jalan raya dari dan ke bandara.

Dari tempat duduk, saya pun menikmati perjalanan menuju ke pusat kota. Lalulintas sangat lancar dari kedua arah. Jumlah mobil pribadi dan truk mungkin seimbang, bahkan terkesan lebih banyak truk. Ini bukan berarti orang Tokyo menggunakan truk untuk pergi dari dan ke bandara. Orang Jepang lebih suka naik kendaraan umum, kereta, atau subway untuk bepergian, daripada naik kendaraan pribadi. Selain parkir di Tokyo sangat mahal, harga seleter bensin juga mencapai Rp 11.000. Sedangkan transportasi umum dari Bandara Narita ke pusat kota sangat nyaman dan terjadwal dengan baik. Harganya juga relatif terjangkau.

Saya kagum dengan kondisi jalan raya yang dilewati bis kami. Kondisinya sangat mulus, dan nyaris tanpa ada cacat. Rambu-rambu jalan dan petunjuk arah pun sangat lengkap dan terpelihara dengan baik. Selain itu, semua kendaraan melaju sangat tertib dan nyaris tidak ada kemacetan.


Satu lagi pengalaman yang saya rasakan saat menuju ke pusat kota Tokyo melewati jalan tol adalah, tidak ada lagi antrean di pintu tol. Hebatnya lagi, tidak ada lagi transaksi yang harus dilakukan. Karena itu, tidak ada petugas terlihat melayani di gerbang tol. Di Jepang, semuanya sudah serba otomatis. Pekerjaan manusia sudah digantikan oleh mesin. Karena itu, ketika melewati gerbang tol, kendaraan hanya sedikit memperlambat laju agar mesin dapat memindai mobil. Sangat praktis. Kalau saja semua jalan tol di Jakarta sudah menerapkan sistem ini, seorang Dahlan Iskan tentu tidak perlu lagi harus mengambuk di gerbang tol akibat kecewa dengan panjangnya antrean.

Dalam waktu sekitar satu jam, kami pun sudah sampai ke pusat kota. Suasana di jalan tol dan jalan-jalan protokol di seputaran Tokyo, relatif sama. Semuanya mulus dengan rambu-rambu yang sangat membantu bagi setiap pengguna jalan. Bagi yang tidak mengerti tulisan kanji, mereka juga tidak perlu khawatir tersesat di jalan raya. Biasanya, tulisan kanji selalu dibuat berdampingan dengan tulisan dalam hurup latin.

Tokyo merupakan salah satu kota tersibuk di dunia. Tokyo juga salah satu pusat bisnis utama di kolong langit ini. Namun, rasa-rasanya, sulit mempercayai fakta ini, kalau melihat suasana lalu lintasnya. Sulit menemukan kepadatan kendaraan di jalan raya, apalagi terjebak pada kemacetan. Hampir seluruh jalan-jalan utama di Tokyo relatif lengang. Bahkan, lebih banyak kendaraan umum seperti bis dan taksi yang berseliweran di jalan raya, dibandingkan mobil pribadi.

Lagi-lagi, sepinya kendaraan di jalan raya adalah dampak dari begitu baiknya sistem transportasi publik di Jepang. Orang lebih suka naik bis, subway, atau kereta untuk bepergian ke manapun. Kalau hanya jarak dekat, mereka pun lebih suka berjalan kaki. Sejak lama, budaya jalan kaki memang telah menyatu dengan masyarakat Jepang. Karena itu, semua trotoar dibuat lebar-lebar dan nyaman untuk dilalui. Tidak ada trotoar yang rusak, apalagi habis dipakai para pedagang kaki lima. “jangan-jangan, tidak ada pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar ini, akibat mereka tidak tahan dengan udara dingin. Bukan karena orang Jepang displin,” kata seorang rekan berkelakar, sambil merapatkan jaket yang ia kenakan.




Selama beberapa hari berada di Tokyo, rasa-rasanya saya tidak pernah mendengar ada bunyi klekson mobil di jalan-jalan Tokyo. Tidak mungkin mobil-mobil tersebut tidak memiliki klekson. Saya pastikan, setiap mobil pasti memilikinya. Namun, karena begitu tertibnya orang Jepang, mereka sudah tidak perlu lagi membunyikan klekson. Membunyikan klekson malah dianggap kurang sopan. Saya pun terbayang dengan lalu lintas Jakarta yang penuh dengan kemacetan, polusi, kebisingan, dan tentu saja genangan air kalau sedang hujan.

Tokyo telah memberikan banyak pelajaran kepada saya, tentang bagaimana seharusnya hidup di jalan raya. Entah kapan Jakarta bisa berubah seperti di Tokyo. Mungkin atau mustahil kah? Entahlah. Yang pasti, bis yang saya tumpangi, telah sampai di Tokyo Tower, salah satu menara tertinggi di dunia. Seluruh Tokyo dapat ditatap dari sini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar