Senin, 09 April 2012

Jurnalis Papua Pos itu Tewas Tertembak

Leiron Kogoya Muliambut mendapatkan tugas penting. Pimpinannya di Papua Pos memerintahkannya untuk segera berangkat dari Nabire menuju Kabupaten Puncak Jaya. Ia diminta untuk membantu awak Papua Pos di sana, guna meliput pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Puncak Jaya yang sebentar lagi berlangsung.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Leiron pun terbang ke Mulia, ibu kota Puncak Jaya. Hatinya senang menjalankan tugas ini. Sebab, Puncak Jaya adalah tanah kelahirannya. Keluarganya juga masih berada di sana. Bekerja sekalian bisa pulang kampung, begitulah yang dirasakan oleh pria berusia 35 tahun tersebut.

Dari Nabire, Leiron menumpang pesawat Trigana Air bernomor registrasi PK-YRF pada hari Minggu pagi, 8 April 2012. Ia duduk diantara belasan penumpang di dalam pesawat yang dipiloti oleh Beby Astek dengan ko-pilot Willy Resubun tersebut. Tidak ada hal aneh selama penerbangan yang makan waktu satu jam 30 menit itu. Mimpi buruk baru datang ketika roda-roda pesawat baru saja menyentuh landasan Bandara Mulia.

Dor…dor….dor…

Kota Mulia, Puncak Jaya


Rentetan tembakan diarahkan ke arah pesawat Trigana Air yang ditumpangi oleh Leiron dari arah bukit yang bersebelahan dengan bandara. Sejumlah peluru mengenai badan pesawat dan serpihannya terus menembus ke dalam ruang kabin. Serpihan-serpihan peluru tepat mengenai sejumlah penumpang yang baru saja berucap syukur pesawat mendarat mulus di Mulia. Celakanya lagi, serpihan peluru juga mengenai pilot dan ko-pilot. Akibatnya, mereka tidak bisa lagi menguasai pesawat sehingga akhirnya menabrak salah satu bangunan di ujung landasan Pandara Mulia.

Nasib paling tragis menimpa Leiron. Serpihan peluru mengenai lehermya. Darah pun menetes. rasa sakit menghampirinya. Jurnalis Papua Pos tersebut pun akhirnya meninggal dunia. Maut memang tidak dapat ditolak. Tidak ada yang tahu, kapan hidup mereka akan berakhir. Kapan Tuhan akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa. Begitu juga dengan Leiron. Tugas untuk meliput Pelaksanaan Pemilukada di Puncak Jaya akhirnya berakhir dengan kematian.

Leiron adalah orang yang kesekian kalinya yang harus merenggang nyawa di Puncak Jaya. Konflik yang berkepanjangan di sana telah mengakibatkan begitu banyak nyawa harus hilang. Ada yang menyebut OPM sebagai pelakunya. Sedangkan aparat lebih suka menyebut gerombolan bersenjata sebagai pihak yang acapkali mengganggu keamanan di Puncak Jaya.

Siapapun pelakunya, mereka telah sukses membunuh banyak orang. Seperti kata pepatah, bahwa peluru itu tidak memiliki mata. Hari ini, ia membunuh seorang jurnalis, kemarin membunuh tentara, polisi, pedagang, tukang ojek, dan siapa saja. Tidak hanya pendatang, namun juga penduduk asli Puncak Jaya.

Tragisnya, tidak ada yang bisa menjamin kapan Puncak Jaya akan aman. Tidak dari seorang presiden, gubernur, bupati, kapolda, pangdam, atau siapapun. Hari ini mereka berkata aman, bisa jadi, besok terjadi lagi penembakan dengan beberapa korban jiwa.

Aneh memang. Negara seperti tidak berdaya mengatasi gangguan keamanan di Puncak Jaya. Atau, jangan-jangan memang disengaja. Ah, rasa-rasanya tidak…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar