Rabu, 18 April 2012

Ke Tokyo dengan Garuda Indonesia (Trip To Tokyo #2)

Sekitar pukul 23.00 WIB, petugas pun memanggil seluruh penumpang Garuda Indonesia dengaan nomor penerbangan GA884, untuk segera naik ke pesawat. Saya pun mengangkat tas dan beranjak berjalan keluar dari ruang tunggu keberangkatan.

Dengan langkah santai, saya pun berjalan menuju lorong garbarata yang berujung di pintu masuk pesawat Garuda Indonesia tujuan Tokyo. Di depan pintu pesawat, saya mengambil koran Indo Pos yang disediakan awak kabin. Setelah itu, saya menuju lambung pesawat dan mencari posisi tempat duduk sesuai yang tertera di boarding pass.

Saya duduk di bangku 16A disamping seorang rekan wartawan dari Investor Daily. Kami pun berkenalan dan bercakap-cakap sambil menunggu keberangkatan pesawat. Ia termasuk jurnalis yang beruntung. Belum genap setahun bekerja, namun sudah mendapatkan kesempatan liputan ke Jepang, yang biasanya merupakan ‘jatah’ bagi jurnalis senior di setiap media. Menurut rekan ini, keberangkatannya ini adalah sebuah keberuntungan. Sebelumnya, ia diproyeksikan untuk liputan ke Singapura, namun terpaksa batal karena sesuatu hal. Karena itu, ketika ada liputan lain ke Jepang, akhirnya ia yang ditugaskan.

Pesawat Garuda Indonesia yang saya naiki adalah jenis Airbus A330-200 berkapasitas sekitar 220 penumpang. Konfigurasi bangku di setiap baris kelas ekonomi adalah adalah 2-3-2. Setiap bangku dilengkapi dengan layar sentuh LCD, yang bisa menjadi teman di sepanjang perjalanan. Melihat layar sentuh LCD ini, saya kembali teringat dengan pengalaman terbang ke Jayapura dengan Garuda Indonesia, sekitar setahun lalu. Menu dan beragam hiburan yang tersaji di layar ini, sama persis.

Waktu terus berjalan dan semakin menjelang tengah malam. Sebentar lagi akan memasuki tanggal baru, tanggal 13 April 2012. Saya sudah tidak sabar menanti kapan pesawat akan mulai terbang. Saya mencoba membunuh waktu dengan membaca majalah Garuda yang ada di kantung kursi depan saya. Saya membuka lembar demi lembar majalah, tanpa tahu apa yang mau dicari. Namun, perhatian saya akhirnya berhenti pada halaman yang membahas mengenai Tokyo. Entah kebetulan atau tidak, pas sekali artikel ini dengan keberangkatan saya ke Tokyo. Saya pun membacanya sambil membayangkan saya telah berada di Jepang. Namun, belum selesai membaca artikel itu, pesawat pun bergerak.


Sekitar pukul 23.30 WIB, pesawat pun mulai terbang dan meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta. Sang pilot cukup mulus menerbangkan pesawat produksi Airbus di Prancis ini. Nyaris tidak ada guncangan yang membuat jantung deg-degan ketika pesawat menembus kegelapan malam Jakarta. Dan, kini, perjalanan saya menuju ke Tokyo pun baru saja dimulai. Saya akan menghabiskan waktu sekitar tujuh jam 30 menit untuk tiba di Tokyo. Waktu yang cukup lama. Kira-kira, waktu tempuh ini sama dengan kalau saya terbang dari Medan ke Jayapura, nonstop.

Begitu pesawat sudah stabil terbang dan lampu tanda memakai sabuk pengaman juga telah dimatikan, para awak kabin yang rata-rata masih muda dan berwajah ayu, mulai berlalu-lalang di lorong kabin pesawat. Setelah saya perhatikan, rupanya, pramugari Garuda Indonesia yang terbang ke Tokyo ini, tidak hanya berwajah orang Indonesia. Beberapa pramugari ternyata berasal dari Jepang. Ya, asli orang Jepang, walau tampaknya mereka sudah mulai bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Saya baru tahu soal ini.

Sebelumnya, saya pikir semua pramugari Garuda Indonesia pasti asli orang Indonesia. Saya kemudian berpikir, apakah pesawat Garuda Indonesia yang terbang ke Amsterdam atau negara lain, juga mempunyai awak kabin dari negara yang bersangkutan. Entah lah. Semoga saja saya bisa mendapatkan jawabannya tidak lama lagi, ketika berkesempatan ikut terbang bersama mereka.

Perkiraan saya, penumpang pesawat Garuda Indonesia yang saya naiki ini, hanya sekitar 60% dari jumlah bangku yang tersedia. Karena itu, awak kabin mempersilahkan para penumpang untuk memilih bangku sendiri kalau ingin tidur berbaring. Saya pun menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Saya lalu mengamati bangku-bangku yang ada di sekitar tempat saya duduk. Rupanya, saya tidak perlu pindah jauh ke belakang untuk mendapatkan tempat yang pas. Satu deretan bangku di samping kanan saya ternyata kosong melompong.

Saya pun langsung beranjak dari kursi 16A. Sebentar kemudian, keempat bangku di deretan 17DEGH telah saya 'kuasai'. Saya tidak perlu duduk di bangku kelas bisnis ataupun first class untuk merasakan bisa tidur telentang di dalam pesawat. Kali ini, di kelas ekonomi pun, saya bisa merasayakannya. Saya tinggal mengangkat dua sandaran lengan di deretan bangku, dan keempat bangku yang saya ‘kuasai’ ini pun sudah menyatu dan memanjang. Panjangnya sudah melebihi tinggi tubuh saya. “Asyik juga pengalaman terbang kali ini,” kata saya dalam hati sambil merebahkan badan.




Sambil tidur telentang, saya pun mendengarkan lagu-lagu dari para artis yang tergabung dalam Republik Cinta milik Ahmad Dani. Hanya sebentar saja, gelombang otak saya sudah turun dari beta ke alfa, dan kemudian ke delta. Saya pun tidur terlelap di atas ketinggian sekitar 11.887 meter, di atas pesawat Garuda Indonesia yang terbang melesat dari Jakarta menuju Tokyo dengan kecepatan sekitar 900 km/ jam. Lampu kabin juga telah dimatikan. Saya perhatikan, hampir seluruh penumpang memilih untuk tidur.

Sekitar pukul 4.30 waktu Jakarta, saya terbangun dari tidur. Saya lihat ada cahaya terang di sela-sela jendela yang terbuka sedikit. Dengan perbedaan waktu dua jam dengan Jakarta, berarti di Jepang kini sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Dari petunjuk penerbangan yang saya pantau di layar sentuh, dua jam lagi pesawat akan tiba di Tokyo. Dalam hati, saya berpikir, waktu ini sama dengan penerbangan Jakarta-Medan. Masih cukup lama.

Tidak lama kemudian, awak kabin membagikan air jeruk dan handuk kecil basah. Saya pun langsung menghabiskan minuman tersebut. Penerbangan yang sudah terlewati selama enam jam, cukup membuat tenggorokan kering. Saya semakin merasa segar dengan handuk kecil basah yang saya sapukan ke wajah dan kedua tangan.

Saya pun memilih tidak untuk tidur lagi. Saya kemudian melihat-lihat hiburan apa lagi yang bisa saya nikmati di layar sentuh. Setelah pecet sana-sini, saya akhirnya memilih untuk menikmati hiburan videoklip musik saja. Entah mengapa, saya hanya bisa menikmati musik di setiap penerbangan yang memberikan layanan hiburan lewat layar sentuh setiap bangku. Padahal, ada beragam film yang juga bisa dipilih dan dinikmati. Dugaan saya, mungkin karena saya tidak bisa bertahan lama ‘memelototi’ layar sentuh tersebut.

Tidak lama kemudian, awak kabin membagikan menu makan pagi. Ada dua pilihan yang disediakan, yakni menu makanan Indonesia dan menu Jepang. Sejak berangkat, awak kabin sudah membagikan kertas berisi pilihan menu ini. Penumpang tinggal melihat dan menyebutkan pilihan mereka ketika waktu makan telah tiba. Saya sendiri memilih menu masakan Indonesia dengan segelas air jeruk. Mungkin karena saya tidak terlalu lapar, saya tidak menghabiskan makanan yang disediakan.


Sekitar pukul 08.30 waktu Tokyo, pesawat Garuda Indonesia bernomor penerbangan GA 884 yang saya naiki, akhirnya mendarat di Bandara Narita. Pendaratan sangat mulus, tanpa ada guncangan apapun. Walau posisi tidak strategis, namun saya berusaha menikmati pemandangan yang ada di balik jendela. Seiring pergerakan pesawat yang semakin mendekati apron, saya pun bisa melihat pesawat-pesawat yang sedang parkir di Bandara Narita.

Sejak roda pesawat menyentuh landasan sampai benar-benar berhenti, butuh waktu cukup lama. Dugaan saya, butuh waktu sekitar 30 menit. Bisa jadi, ini karena jarak landasan dengan apron sangat jauh. Bandara Narita merupakan bandara tersibuk kedua di Jepang setelah Bandara Haneda. Bandara Narita memiliki dua terminal, yakni terminal 1 dan 2. Kegiatan Garuda Indonesia berada di Terminal 1.

Begitu lampu tanda sabuk pengaman sudah dimatikan, saya pun bergegas berdiri dan mengambil tas yang tersimpan di dalam kabin pesawat. Tidak lama kemudian, saya pun berjalan keluar dari pesawat dan mulai menyusuri lorong bandara untuk menuju ruang keimigrasian. Hati saya sedikit berdebar-debar, dan mencoba menyakinkan diri kalau sudah berada di Tokyo, ibukota Jepang. Inilah perjalanan terjauh saya lagi sejak 2008 saat saya berkesempatan pergi ke London dan Bogota.

Suasana ruang terminal Bandara Narita didimonasi warga perak. Pagi itu, bandara relatif sepi. Saya tidak tahu, apakah saat ini bukan jam-jam sibuk penerbangan atau memang seperti ini suasananya. Entah lah. Yang pasti, saya tidak perlu mengantre lama di pemeriksaan keimigrasian dan pemeriksaan kepabeanan. Petugas di meja imigrasi hanya bertanya tujuan saya datang ke Jepang dan rencananya berapa lama. Hanya beberapa pertanyaan standar.

Namun, ada sedikit kejadian yang sedikit menggelikan. Rupanya, awak kabin pesawat hanya memberikan kertas pemeriksaan kepabeanan kepada salah seorang rekan yang ikut dalam rombongan bersama saya. Ia tidak mendapatkan kertas pemeriksaan imigrasi seperti yang diberikan kepada saya atau yang lain. Rupanya, awak kabin pesawat menduga ia adalah orang Jepang, sehingga tidak perlu mengisi dokumen keimigrasian. Konyolnya lagi, petugas yang mengatur di depan konter imigrasi juga mengira hal yang sama. Ketika rekan itu mengaku bukan orang Jepang, baru petugas tersebut memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengannya. Dari penampilan dan wajah, rekan saya ini memang ada potongan sebagai orang Jepang.

Sekitar pukul 10 pagi, saya sudah berada di pintu keluar Bandara Narita. Hawa dingin langsung menyergap tubuh. Selamat datang di Tokyo...

*Foto-foto by Edi Ginting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar