Sabtu, 21 April 2012

Menginap di Ibis Hotel Roppongi Tokyo (Trip to Tokyo #5)

Selama di Tokyo, saya dan seluruh rekan-rekan yang berangkat dari Jakarta, menginap di Ibis Hotel Roppongi. Hotel ini berada di tengah keramaian kawasan Roppongi, salah satu pusat hiburan malam di Tokyo. Alamat persisnya di 7-14-4 Roppongi, Minato-ku, Tokyo.

Kami tiba di hotel sekitar pukul 13.30 waktu Tokyo. Ibis Hotel Roppongi hanyalah sebuah hotel kecil yang berada di antara bangunan padat di kawasan Roppongi. Bahkan, lobi hotel berada di lantai lima. Sedangkan kamar-kamar berada di lantai enam ke atas. Saya sendiri menginap di lantai sembilan di kamar 961. Posisi kamar saya ini tidak mengecewakan, karena langsung menghadap ke jalan utama. Dari jendela kamar, saya bisa menikmati pemandangan kawasan Roppongi yang selalu ramai 24 jam. Bahkan, saya juga bisa menatap Tokyo Tower dari dalam kamar.

Saya cukup terkejut ketika pertama kali masuk ke dalam kamar. Ukuran kamar jauh lebih kecil daripada kamar hotel umumnya di Indonesia. Perkiraan saya, luasnya hanya 3x3 meter. Kamar dijelali oleh tempat tidur, meja TV, meja kerja, dan kamar mandi. Ruang yang tersisa hanya tinggal sedikit. Saya merasa sedang berada di sebuah kamar kos daripada hotel.



Bentuk kamar mandi juga tidak kalah unik. Selain ukurannya juga sangat kecil, tampaknya kamar mandi di kamar saya ini juga berbentuk portable. Seluruh bidangnya berbahan plastik yang saling menyatu. Karena itu, kalau ada dinding yang rusak, tampaknya pihak hotel tidak punya pilihan lain kecuali harus mengganti seluruh bidang. Saya baru pertama kali menemukan kamar hotel seperti ini. Bentuk seperti ini malah mengingatkan saya pada kamar mandi di dalam kabin pesawat atau di dalam bis.

Walau kecil, soal kebersihan tetap terjaga. Fasilitas yang diberikan juga komplit. Sabun, sampo, dan kondisioner, tersedia dalam jumlah yang sangat banyak. Handuk juga tersedia dari ukuran besar, sedang, dan kecil. Begitu juga air panas dan dingin, langsung ngocor begitu keran diputar. Ya, pilihan air memang ada yang panas dan dingin. Tidak ada air biasa sesuai suhu tubuh kita. Karena itu, saya harus pandai-pandai mengatur campuran keduanya agar pas untuk tubuh saya. Dugaan saya, mungkin air dibuat sangat dingin untuk dipakai pada saat Jepang sedang pada musim panas.

Padahal, dari segi tarif, hotel yang masuk dalam kategori bintang dua ini, tidaklah murah-murah amat. Untuk kamar single seperti yang saya pakai, tarif per malam mencapai 13.382 yen, atau sekitar Rp 1.338.200. Untuk yang tipe dobel, mencapai 16.285 yen, atau Rp 1.628.500. Dengan harga sebesar itu, seandaianya menginap di Jakarta, saya sudah bisa mengambil kamar di Hotel Sahid yang berbintang empat.

Tapi, saya harus kembali menyadarkan diri kalau sedang berada di Tokyo, sebuah kota yang biaya hidupnya termahal di dunia. Rupiah sepertinya memang tidak berharga di sini. Karena itu, orang Jepang menjadikan Indonesia sebagai tempat tujuan wisata mereka karena yen mereka sangat mahal di Indonesia. Begitu banyak penerbangan yang langsung menuju Bali dari Jepang dengan membawa ribuan turis. Dengan uang yen yang mereka bawa, mereka bisa membeli apa saja di Bali. Dengan memiliki 1000 yen, hanya bisa untuk sekali makan di Jepang dan empat kali makan di rumah makan Padang di Jakarta.

Ada lagi yang unik dengan hotel tempat saya menginap ini. Seluruh saluran TV adalah siaran lokal Jepang yang seluruhnya berbahasa Jepang. Mungkin hanya ada satu saluran film barat, dan itu pun sudah di-dubbing ke dalam bahasa Jepang. Selebihnya adalah saluran-saluran lokal yang umumnya hanya berisi acara berita, dialog, masak-memasak, dan info produk seperti sering muncul di TV Indonesia. Buat saya, seluruh acara TV tersebut sangat tidak menarik. Selain tidak mengerti bahasa Jepang, saya juga merasa semua acara itu tidak ada unsur hiburan.


Tapi, tunggu dulu. Pihak hotel bukan tidak menyediakan saluran lain. Ada banyak saluran lain dan bisa jadi, kali ini tidak melulu dalam bahasa Jepang. Bahkan, dari beberapa brosur di samping TV, pihak hotel juga menyediakan saluran khusus film dewasa khas Jepang. Ini memang biasa di Jepang, sebuah negara yang melegalkan bisnis film esek-esek. Sejumlah artis film porno Jepang sangat terkenal di Indonesia. Misalkan saja, Maria ozawa alias Miyabi, Sola Aoi, dan sebagainya.

Nah, untuk menikmati ini saluran ‘yang tidak biasa’ ini, maka harus membayar 1.000 yen, atau sekitar Rp 100.000 perhari. Di setiap lantai hotel, ada sebuah mesin untuk memesan layanan ini. Kita tinggal memasukkan uang, dan kita akan mendapatkan sebuah kartu khusus. Kartu ini lalu dimasukkan ke mesin player yang ada di bawah TV LCD di dalam kamar. Saya sendiri tidak mencoba fasilitas ini, karena merasa sayang harus mengeluarkan Rp 100.000 untuk pelayanan yang belum tentu akan saya nikmati.

Soal sarapan, Ibis Hotel Roppongi cukup memuaskan. Mereka menyediakan sejumlah menu prasmanan yang tinggal dipilih sesuka hati. Umumnya yang disediakan memang masakan Jepang, namun saya tetap bisa menikmatinya dengan lidah Indonesia saya. Ada salad, ikan, roti, sup, dan sebagainya. Saya juga tetap bisa menikmati telor ceplok setengah matang kegemaran saya. Untuk minuman, saya juga bisa memilih orange Juice atau air putih dingin. Semua tinggal mengambil sendiri.

Ada satu hal yang paling saya suka dari hotel ini, yakni jaringan internet gratisnya. Kecepatan internet di Ibis Hotel Roppongi sangat memuaskan. Saya mengetesnya dengan membuka video-video di Youtube, dan tidak pernah ada buffering. Video dapat berjalan sangat lancar tanpa ada sedetikpun berhenti. Sayangnya, jaringan wifi hanya ada di lobi hotel. Sedangkan di dalam kamar, harus menggunakan jaringan LAN. Namun, saya tidak perlu khawatir dengan kabel, sebab pihak hotel sudah menyediakannya di dalam laci.

Entah kapan Indonesia akan punya akses internet secepat Jepang. Dengan jumlah pengguna sudah melebihi 50 juta orang, kecepatan internet di Indonesia malah semakin mengecewakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar