Rabu, 25 April 2012

Tawaran Dugem dari Para Orang Hitam di Tokyo (Trip to Tokyo #9)

Selama di Tokyo, saya berkesempatan untuk mengunjungi sejumlah pusat bisnis di sana. Walau saya kurang tertarik berbelanja karena harga barang di Tokyo bisa berkali-kali lipat daripada harga di Jakarta, namun saya tetap tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi sejumlah pusat perbelanjaan di sana. Siapa tahu ada barang yang cocok juga untuk dibeli. Sekalian bisa mencari oleh-oleh untuk dibawa ke Indonesia.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Asakusa, yang berada di sebelah timur laut Tokyo. Asakusa adalah tempat yang sepertinya wajib disinggahi setiap wisatawan yang datang ke Tokyo. Di hampir semua tulisan tentang Tokyo yang saya temui saat googling, Asakusa juga selalu disebut-sebut. Karena itu, ketika berada di ibu kota Jepang ini, saya pun tidak melewatkan tempat ini.

Asakusa adalah lokasi kuil Asakusa Kannon (Asakusa Kannon Temple), yang merupakan kuil yang paling tua di Tokyo. Untuk menuju kuil ini, maka harus melewati gerbang dewa petir atau Kaminarimon. Saat melewati pintu, maka kita akan melihat lentera berwarna merah yang besar dan tergantung di atas gerbang. Dalam keyakinan orang Jepang, pintu ini memisahkan antara kehidupan yang fana dan kehidupan yang religi. Kalau berada di pintu ini, wajib hukumnya untuk berfoto.




Saat saya datang ke Asakusa, pengunjung terlihat begitu ramai. Dari fisik mereka, mayoritas adalah orang Jepang. Berbeda dengan saya yang memilih tidak masuk ke dalam kuil, mereka umumnya justru masuk ke sana. Sebelum masuk, mereka melewati beberapa tahapan pembersihan diri di bangunan depan kuil yang terlihat begitu besar dan megah itu. Sekilas, saya teringat dengan kegiatan di kelenteng yang ada di Indonesia saat melihat mereka.

Puas menatap kemegahan Asakusa Kannon Temple, saya lalu menyusuri sebuah jalan yang terkenal dengan sebutan Kaminari-mon. Di sepanjang jalan yang panjangnya sekitar 200 meter itu, berderet kios di kiri-kanan jalan. Di kios-kios ini, kita bisa menemukan beragam souvenir bertemakan Jepang, pakaian tradisional Jepang, kaos oblong, beragam makanan, dan sebagainya.

Harga setiap barang yang dijual sudah ada, sehingga sangat memudahkan para pengunjung. Rata-rata penjual juga bisa sedikit berbahasa Inggris. Namun, umumnya kalkulator tetap menjadi penghubung soal harga. Penjual akan mengetikkan harga barang yang kita tanyakan di kalkulator tersebut.


Sebutan Tokyo sebagai salah satu kota termahal di dunia tampak jelas di Asakusa. Rata-rata harga sebuah gantungan kunci atau tempelan kulkas sekitar 350 yen, atau sekitar Rp 35.000. Satu kaos oblong dengan bahan biasa yang di Tanah Abang hanya Rp 25.000, maka di Asakusa mencapai 1000 yen atau Rp 100.000. Kalau hendak membeli sesuatu di sini, perhatikan juga siapa yang memproduksinya. Jangan-jangan, Anda membeli barang yang ada tulisan “made in China’. Lucu juga, pergi ke Jepang, tapi oleh-oleh yang kita beli adalah buatan negara lain. Apalagi, oleh-oleh tersebut nantinya akan dihadiahkan kepada orang lain.

Tempat lain yang saya kunjungi adalah Omotesando, sebuah tempat belanja kelas atas di Tokyo. Di lokasi ini, berdiri toko-toko yang menjual barang bermerek terkenal seperti Chanel, Prada, Louis Vitton, Boss, dan sebagainya. Toko-toko berjejer rapi di pinggir pedistrian yang sangat lebar dan sangat nyaman dijelajahi.


Sekilas, saya teringat dengan Orchard Road di Singapura saat pertama kali melihat suasana Omotesando. Pedestrian yang lebar, rindangnya pepohonan, dan toko-toko yang berjejer sepanjang jalan, sangat mirip dengan suasana Orchard Road. Tapi, melihat tulisan-tulisan kanji dan lalu-lalang orang Jepang di sekitar Omotesando, baru saya sadar kalau saya memang sedang berada di Tokyo, dan bukan di Singapura.

Saat saya berada di Omotesando, sedang ada antrean yang sangat panjang di sepanjang trotoar. Antrean yang mengular dari depan sebuah toko itu, panjangnya mencapai dua ratus meter. Mereka berbaris rapi sambil sibuk ngobrol atau sibuk dengan gadget masing-masing. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka sedang mengantre untuk mendapatkan es krim dari sebuah toko yang akan buka perdana pada hari itu.

Mereka telah mengantre sejak beberapa jam sebelum toko buka pada jam empat sore. Demi es krim, mereka rela berdiri sambil membawa payung. Maklum saja, hujan rintik-rintik sedang membasahi Tokyo sepanjang hari itu. Dalam hati, saya sempat bertanya-tanya, apakah memang demikian budaya orang Jepang, sehingga rela berdiri lama pada saat hujan demi es krim. Kalau saya yang mengantre, bisa-bisa nenek saya marah-marah karena mau beli es krim saat hujan.

Di omotesando, saya sempat masuk ke dalam salah satu toko yang menjual beragam jenis barang-barang mulai pakaian dan souvenir khas Jepang. Namun, melihat harga barang-barang yang menempel, saya pun mengurungkan niat untuk mengeluarkan yen yang saya pegang. Kaos paling murah dijual 1300 yen atau sekitar Rp 130.000. Ada kaos yang berbahan lebih bagus dan saya taksir, harganya mencapai 2300 yen atau Rp 230.000. Mahal sekali untuk ukuran saya. Beda dengan beberapa rekan perempuan yang pergi bersama saya, yang sepertinya mudah sekali mengeluarkan yen untuk membeli beberapa jenis barang di toko ini.

Puas menikmati suasana Omotesando, saya kemudian jalan kaki menuju Harajuku yang jaraknya sekitar 300 meter. Walau cukup jauh, namun sangat tidak terasa karena jalanan begitu ramai. Udara dingin yang sedang mengepung Tokyo juga membuat acara jalan kaki bertambah menyenangkan.Saya berjalan kaki sambil menikmati pemandangan yang ada di sekililing. Begitu banyak orang-orang yang berjalan kaki. Mereka tampak tergesa-gesa berjalan. Jarang terlihat yang asyik ngobrol sambil berjalan seperti yang biasa ada di Jakarta. Saya pun jadi tidak enak karena berjalan cukup santai. Apalagi, sibuk berfoto-foto sambil berjalan. Tapi, biarlah. Namanya juga turis.


Harajuku adalah kawasan belanja lain yang sangat terkenal di Jepang sebagai tempat anak muda Jepang beradu penampilan. Karena itu, mayoritas pengunjung Harajuku adalah anak muda. Mereka mendominasi Harajuku dengan dandanan mereka yang paling keren, paling aktual, dan terkadang aneh untuk ukuran orang Indonesia. Bagi Anda yang ingin memanjakan mata dengan memandangi kecantikan wanita-wanita muda Jepang, maka jangan lewatkan datang ke Harajuku. Mereka akan terlihat hilir-mudik di trotoar atau di toko-toko.

Saya kemudian menyusuri Takeshita Dori, sebuah kawasan jalan kaki sepanjang 400 meter dengan lebar sekitar tiga meter. Sepanjang jalan ini penuh toko yang menjual pakaian , pernak-pernik, kosmetik, dan beragam barang lain yang cocok untuk anak muda. Kawasan ini selalu ramai oleh anak-anak muda Jepang yang ingin mencari aksesoris agar tampil gaya.


Kabarnya, harga yang ditawarkan memang lebih murah dibandingkan tempat lain. Para penjual juga sangat aktif menarik pengunjung, seperti berteriak-teriak di depan toko atau memakai pakaian unik dan terkadang menyeramkan. Di Takeshita Dori juga bisa ditemui Daisho, toko dengan satu harga yaitu 100 yen. Toko ini menjual pakaian, pernak-pernik, makanan dan minuman.

Yang tidak lupa saya susuri adalah kawasan Roppongi. Apalagi, saya juga menginap di kawasan ini. Rasanya, rugi tidak mengenal tempat kita berada padahal waktu ada, dan mencapainya juga sangat mudah. Bagi saya, Roppongi mirip kawasan Mangga Besar Jakarta. Semakin malam, kawasan ini semakin ramai dikunjungi. Sejumlah tempat hiburan malam berserakan di kiri-kanan jalan. Belakangan saya tahu, klub malam bertebaran di sini karena mayoritas kedutaan besar negara-negara di dunia, berada di Roppongi. Wisatawan dan tamu-tamu kedutaan merupakan pasar sangat potensial bagi semua klub malam tersebut.




Saya berkali-kali ditawari para pegawai tempat hiburan di sini, untuk mau mampir ke klub malam tempat mereka bekerja. Entah mengapa, mayoritas orang yang memberikan penawaran itu adalah orang berkulit hitam. Rupanya, hampir semua tempat hiburan malam di Roppongi memakai jasa orang kulit hitam untuk menggaet pengunjung. Padahal, bagi saya, ini tentu tidak menarik. Bahkan, saya cukup risih dengan keberadaan mereka, dan mengganggu acara jalan-jalan yang sedang saya nikmati ini. Jauh akan lebih menarik kalau yang berdiri adalah perempuan-perempuan Jepang dengan wangi tubuh yang sangat menggoda.

“Sir, you in the wrong way!” kata seorang berkulit hitam ketika menolak ajakannya untuk mampir ke sebuah tempat hiburan malam. Saya dan rekan-rekan hanya tersenyum saja mendengarkan kata-kata itu. kami memang tidak punya keinginan untuk menikmati hiburan malam di Roppongi. Kami hanya ingin menikmati suasana malam di kawasan ini, sambil mampir ke Don Quixote, toko yang buka 24 jam untuk membeli oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta.

Biasanya, orang-orang hitam ini mengatakakan akan memberikan hiburan yang paling keren kepada orang-orang yang melintas. Namun, info yang saya peroleh, sebenarnya mereka hanya menakut-nakuti saja. Sebab, bila Anda masuk ke dalam klub malam yang mereka tawarkan, mungkin hanya ada sepuluh pengunjung. Parahnya lagi, begitu masuk, para pelayan klub malam tersebut akan segera memaksa Anda untuk memesan minuman. Agar tidak salah pilih tempat, Anda bisa googling untuk menemukan beberapa klub malam favorit di kawasan Roppongi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar