Selasa, 10 April 2012

Reporter Muda Meliput Kasus Moerdiono

Seorang reporter muda mendapatkan tugas untuk meliput kasus ribut-ribut antara keluarga Moerdiono dengan Poppy Dharsono. Bersama kameraman, reporter TV itu pun berangkat liputan sesuai arahan koordinator liputan. Liputan dimulai dengan mengikuti kegiatan keluarga mantan Mensesneg era Presiden Soeharto itu, mendatangi Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Mereka bermaksud melaporkan Poppy ke DPD, karena perancang busana itu memang seorang anggota DPD periode 2008-2014.

Hasil liputan ternyata tidak maksimal. Produser berkesimpulan, hasil liputan sama sekali belum bisa ditayangkan. Salah satu penyebabnya adalah visual minim sekali. Sebagian besar gambar yang terlihat di rekaman hasil liputan adalah wawancara dengan pihak keluarga Moerdiono. Sedangkan suasana pertemuan dan gambar lainnya hanya ada sedikit.

Setelah ditelusuri, ternyata reporter muda tersebut datang terlambat ke pertemuan di gedung DPD. Pertemuan keluarga Moerdiono dengan DPD sudah selesai ketika ia tiba. Ia hanya mendapatkan suasana pascapertemuan, karena anak dan adik Moerdiono belum beranjak pulang.

Si reporter muda itu pun langsung mewawancarai pihak keluarga. Usai wawancara, ia berusaha mengejar pihak DPD yang tadi menemui keluarga tersebut. Akibatnya, ia tidak mendapatkan banyak visual lain, seperti apa yang dilakukan keluarga Moerdiono usai pertemuan di dalam gedung DPD. Padahal, visual bagaimana mereka berjalan ke dalam mobil saja menarik untuk ditayangkan di layar, karena merupakan gambar bergerak.

Akibat salah strategi yang dilakukan si reporter muda tadi, maka hasil liputannya sangat tidak memuaskan produser di tempatnya bekerja. Belakangan, juga ketahuan kalau pihak DPD yang menerima keluarga Moerdiono bukan pimpinan dewan, melainkan hanya staf biasa. Si reporter muda rupanya belum paham soal ini. Ia belum tahu kalau DPD bukanlah narasumber utama yang harus dikejar, dan mengabaikan narasumber penting yang ada di depan mata.

Salah mengatur strategi saat meliput, hasilnya memang fatal bagi jurnalis TV. Narasumber bisa lenyap entah kemana tanpa bisa ditemui lagi. Momen yang seharusnya bisa memperkaya liputan pun lewat begitu saja tanpa terrekam sedetikpun di dalam kamera.


Ada dua penyebab kesalahan dalam membuat strategi peliputan. Yang pertama, karena sedang tidak beruntung. Si reporter sebenarnya tahu persis apa yang sedang dihadapinya. Namun, ia harus menentukan pilihan diantara beberapa pilihan.Ternyata pilihan ia yang diambil salah karena faktor eksternal. Ibarat seorang kiper yang sedang menghadapi tendangan pinalti di lapangan hijau. Si kiper meloncat ke kanan untuk menangkap bola. Tapi, pemain lawan rupanya menendang bola ke kiri si kiper.

Penyebab kesalahan kedua adalah karena ketidaktahuan. Sebenarnya tidak ada yang harus dipilih, namun si reporter merasa ada pilihan yang harus ditentukan. Celakanya, ia memilih yang seharusnya tidak dipilih. Akibatnya, liputan utama pun tidak didapat, sedangkan liputan yang tidak penting begitu lengkapnya. Mengapa kondisi kedua ini bisa terjadi? Umumnya adalah karena faktor jam terbang. Reporter muda yang baru mengawali karir jurnalistik, pasti mengalami hal ini.

Dari setiap agenda liputannya, seharusnya ia bisa selalu memetik pelajaran. Diskusi dengan para senior juga penting untuk 'mencuri' pengalaman mereka. Kalau ini rutin dilakukan, dalam waktu sebentar saja, si reporter muda tersebut akan lebih gesit di lapangan. Cepat mengambil keputusan dan tidak salah melangkah.

3 komentar:

  1. kapan ya aku diuber-uber paparazi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, benaran pengen nih? Ga enak lho. Capek diuber-uber. Kaki bisa pegal lari-lari. Hehehe....

      Hapus
  2. saya reporter baru mas, mohon bimbingan tentang apa saja yang harus diperhatikan dalam setiap tugas peliputan.hehe

    BalasHapus