Selasa, 17 April 2012

Secangkir Cappucino untuk Penantian Ke Tokyo (Trip To Tokyo #1)

Waktu baru menunjukkan pukul 19.45 WIB, ketika saya tiba di Terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta . Setelah menaikkan tiga tas ke atas troli, saya pun masuk ke dalam terminal keberangkatan. Sambil mendorong troli, saya mencari-cari dimana letak Olala Café. Saya sempat mengitari Terminal 2E satu kali, sebelum akhirnya berhasil menemukan dimana letak kafe tersebut.

Di depan Olala Café, terlihat serombongan calon penumpang yang sedang berkumpul-kumpul menunggu keberangkatan. Mereka terlihat sedang sibuk mengatur barang-barang bawaan yang lumayan banyak dan disatukan dalam satu tempat. Dugaan saya, mereka adalah rombongan sebuah travel yang akan berwisata ke mancanegara. Tebakan ini saya peroleh dari logo yang ada di sejumlah barang bawaan mereka yang tertulis dalam warna jingga. Mereka juga memakai topi dan beberapa atribut lain yang berwarna sama.

Saya kemudian duduk di salah satu kursi yang kebetulan baru saja ditinggal pergi seorang pengunjungi. Begitu saya duduk, beberapa kali pelayan Olala Café menyapa dan mempersilahkan saya untuk membeli minuman atau makanan di kafe tersebut. "Tunggu ya. Saya masih menunggu teman," jawab saya sekenanya ketika seorang pelayan menyapa saya.

Sambil menunggu rekan-rekan lain, saya pun duduk sambil melihat-lihat suasana sekeliling. Dari sejumlah poster yang dipasang di dalam areal bandara, tampaknya Bandara Soekarno-Hatta akan segera ‘dipermak’ ulang. Bila melihat gambarnya, bandara terbesar di Indonesia ini sepertinya akan dibuat lebih modern, mengikuti tren bandara-bandara di dunia. Kesan minimalis terlihat dengan pemakaian kaca dan baja yang menompang konstruksi bandara. Sistem transportasi seperti kereta api juga akan dibuat menyatu dengan terminal. Sekilas, nantinya Bandara Soekarno-Hatta akan lebih bisa dibanggakan bila dibandingkan kondisi sekarang ini. Sebagai orang Indonesia, saya tentu sangat malu dengan adanya berita beberapa waktu lalu yang menyebutkan Bandara Soekarno-Hatta sebagai salah satu bandara terjorok di dunia.

Sekitar 20 menit kemudian, saya tidak sendiri lagi duduk di tengah bandara yang mulai sepi ini. Seorang rekan yang bakal pergi dengan saya, telah datang dan akhirnya duduk di depan meja yang sama dengan saya. Karena baru pertama kali kenalan, kami pun bercakap-cakap untuk lebih mengakrabkan diri. Sambil menunggu rekan yang lain, kami pun memesan minuman. Saya memesan secangkir cappucino panas, sedangkan rekan saya memesan secangkir teh manis panas.

Selang beberapa menit kemudian, seorang rekan lain datang dan ikut bergabung dengan kami. Ketika jarum jam di tangan kiri saya hampir menunjukkan pukul sembilan malam, akhirnya seluruh rombongan pun tiba dan berkerumun di sekitar Olala Café.

Rekan dari Garuda Indonesia yang bakal menemani kami, kemudian membagikan paspor dan boarding pass kepada masing-masing dari kami. Saya sempat membuka-buka paspor untuk melihat visa Jepang. Maklum saja, saya sebelumnya sempat khawatir tidak bisa ikut ke Jepang karena visa tidak keluar. Saya pun tersenyum bangga saat sudah melihat langsung visa Jepang yang menempel di salah satu lembar di paspor saya.

Setelah saling berkenalan satu dengan yang lainnya, kami pun masuk ke dalam ruang check in Terminal 2E. Nyaris tidak ada antrean di konter Check In Garuda Indonesia. Bisa jadi, tinggal pesawat yang akan kami naiki yang berangkat pada malam ini. Saya pun langsung memasukkan dua tas ke dalam bagasi. Saya hanya membawa satu tas ke dalam kabin, yang berisi kamera, laptop, dan barang-barang sangat penting lainnya.

Selesai urusan di konter check in, saya dan seluruh rombongan langsung menuju ke ruang tunggu E5 dengan melewati petugas keimigrasian dan pemeriksaan keamanan. Pemeriksaan di keimigrasian sama sekali tidak ada masalah, dan paspor saya pun langsung dicap sebagai tanda saya telah meninggalkan Indonesia. Begitu juga di pemeriksaan keamanan sebelum ruang tunggu. Semuanya berjalan lancar dan tanpa hambatan.

Sekitar pukul 22.25, kami pun sudah berada di ruang tunggu untuk menunggu panggilan naik ke pesawat. Tampaknya hanya sedikit calon penumpang ke Tokyo yang akan bersama-sama saya dalam satu pesawat. Hal ini saya perkirakan dari calon penumpang yang berada di ruang tunggu ini. Jumlahnya sedikit dibandingkan jenis pesawat yang bakal berangkat, yang mungkin berkapasitas 200 orang lebih.

Hampir setengah jam kami menunggu sampai akhirnya panggilan yang ditunggu-tunggu akhirnya terdengar. "Kepada penumpang pesawat Garuda Indonesia tujuan Tokyo, kami persilahkan naik ke pesawat," terdengar kata-kata dari petugas. Saya pun bergegas berdiri dan menuju pintu keluar untuk naik ke pesawat.

Saya segera terbang ke Tokyo, ibu kota negeri matahari terbit.

*Ilustrasi foto dari sini

1 komentar:

  1. ke jepang untuk tugas kantor ya mas?saya JDP 7, saya ingin berbagi tentang kisah dibalik layar tugas liputan saya,tapi takut disemprit kantor karena memberi informasi yang juga disalurkan melalui di media kantor.hehe.gimana ya mas?

    BalasHapus