Kamis, 26 April 2012

Teriakan Allahu Akbar di Pesawat Garuda Indonesia (Trip to Tokyo #10)

Minggu, 15 April 2012.

Tiba saatnya untuk kembali ke Indonesia. Namun, ada yang mengganjal hati ini. Cuaca hari ini sangat cerah, sama seperti hari pertama saya tiba di Tokyo. Di jalan-jalan seputaran Tokyo, tidak ada lagi orang yang lalu lalang dengan memakai payung seperti sepanjang hari Sabtu.

Saya dan teman-teman lain sedikit menyindir mengapa bukan kemarin saja cuaca cerah seperti ini. Mengapa gerimis turun sepanjang hari kemarin sehingga kami perlu membawa payung kemana-kemana. Padahal, hanya satu hari kemarin saja kami punya kesempatan untuk menjelajahi kota Tokyo. Mengapa tidak kemarin saja cerah agar saya tidak harus memegang payung setiap kali berfoto. "Bisa-bisa nanti orang-orang berpikir kita sedang ingin gaya saja, karena memegang payung setiap kali berfoto" kata seorang rekan yang disambut tawa yang lainnya.

Sekitar pukul 08.38 waktu Tokyo, saya dan semua rekan akhirnya meninggalkan Hotel Ibis, tempat kami menginap selama dua malam. Kami pun langsung menuju Bandara Narita, yang berjarak sekitar 65 km dari hotel.

Suasana jalan-jalan yang kami lewati terlihat lebih sepi. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas. Rupanya, orang Jepang juga mengenal libur. Sebelumnya, saya punya anggapan kalau orang Jepang adalah pekerja keras yang tidak mengenal hari libur. Namun, hari Minggu di Tokyo sama saja dengan hari Minggu di Jakarta. Sepi dari semua aktivitas.

Sepanjang perjalanan menuju ke bandara, saya menatap terus keluar jendela. Dalam hati saya bergumam, entah kapan lagi saya akan bisa menginjakkan kaki di Tokyo, salah satu kota tersibuk di dunia ini. Kalau saja saya bisa lebih lama berada di sini, saya pasti akan mengisinya dengan menikmati seluruh pesona ibukota negeri matahari terbit ini. Lebih menselami hiruk-pikuk masyarakatnya. Namun, tidak ada pilihan lain. Saya sudah harus kembali ke Indonesia. Lagi pula, saya juga sudah kangen dengan anak istri di rumah.


Dalam perjalanan ke bandara, Ms Namaru, pendamping kami selama di Tokyo, memberikan kami kenang-kenangan berupa sebuah pembatas buku. Bentuknya sangat unik, berbentuk wanita Jepang dengan pakaian kimono. Kami pun mengucap terima kasih atas keramahannya. Juga atas kesabarannya menemai kami selama berada di Jepang, yang sering lupa waktu dan sering telat kemana-mana. saya harus mengaku, budaya orang Jepang memang jauh lebih displin dan tertib daripada orang Indonesia. Untungnya, Ms Namaru sangat sabar dalam menemani kami.

Sekitar pukul 11 siang, kami pun tiba di Narita. Kami berangkat dari terminal 1 bandara internasional Jepang ini. Menurut Namaru, kami adalah rombongan jurnalis pertama yang berangkat dari terminal 1. Saya kurang mengerti maksudnya ini. Dugaan saya, mungkin sebelumnya Garuda terbang dari terminal lain, dan baru-baru ini saja pindah ke Terminal 1.


Terminal ini didominasi oleh warna silver dengan gaya minimalis. Sebelumnya, Ms Namaru memberi tahu kalau akan banyak toko di dalam terminal. Kami pun diberikan waktu 20 menit untuk melihat-lihat sambil menunggu proses check in selesai. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Setelah saya mengelilingi terminal, sepertinya jumlah toko tidak sebanyak dugaan saya. Menurut saya, masih lebih banyak toko di Bandara Changi Singapura. Tidak hanya jumlah, namun juga keragaman barang yang dijual.

Tidak terasa, saya dan seorang rekan dari Media Indonesia yang paling belakangan kembali ke titik kumpul. Kami pun disambut dengan sedikit omelan karena datang terlambat. "Kita dicemberuti tuh," kata Wisnu pada saya. Saya hanya menyambutnya dengan senyuman saja.



Kami pun berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan. Sebelum bisa ke sana, kami harus melewati pintu pemeriksaan. Tampaknya pemeriksaan di sini lebih ketat daripada di Bandara Soekarno-Hatta. Semua barang-barang harus melewati pemeriksaan X-ray. Bahkan, tali pinggang pun harus dibuka. Begitu juga dengan laptop yang harus dikeluarkan dari tasnya.

Karena lupa mengeluarkan laptop, saya sempat diperiksa lebih lama dan mendalam lagi di pemeriksaan ini. Bahkan, nama saya pun dicatat lagi oleh seorang petugas yang menghampiri saya. Namun, yang paling lama diperiksa adalah seorang rekan saya yang membawa dua botol minuman yang dibeli di toko dekat hotel kami menginap pada malam sebelumnya. Rupanya, tidak boleh membawa cairan ke dalam pesawat, kecuali dibeli di toko-toko duty free bandara. Akhirnya, kedua botol yang dibeli sekitar Rp 350.000 itu, disita petugas bandara.

Sekitar pukul 11.30, saya pun naik ke dalam pesawat Garuda Indonesia GA 885 yang sudah siap menerbangkan tubuh ini kembali ke Jakarta. Saya duduk di bangku 27E, hanya beberapa baris lagi dari belakang. Entah mengapa, dalam perjalanan kali ini, saya selalu gagal mendapatkan bangku yang dekat jendela. Padahal, itulah posisi favorit saya dalam setiap perjalanan naik pesawat karena saya bisa memotret-motret dari posisi tersebut.



Berbeda dengan ketika berangkat, seluruh bangku pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-200 yang saya naiki ini, tampaknya terisi penuh. Saya lihat ke sekeliling, sepertinya tidak ada bangku yang kosong. Saya semakin yakin, kalau Jepang memang salah satu pasar potensial yang diterbangi oleh Garuda Indonesia. Kabarnya, masyarakat Jepang bahkan lebih memilih terbang dengan Garuda daripada maskapai Jepang, bila bepergian ke Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya tentu bangga dengan fakta ini.

Pesawat akhirnya meninggalkan Bandara Narita tepat pukul 12.00. Saat itu, udara Tokyo sangat cerah, sama seperti saat saya tiba tiga hari lalu. Pesawat sangat mulus take off, sehingga saya nyaris tidak merasakan kalau pesawat sudah melayang di angkasa.

Beberapa menit kemudian, pesawat sudah stabil mengangkasa di udara, dan lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pun sudah dimatikan. Saya lalu mensibukkan diri dengan menikmati beragam hiburan di LCD layar sentuh yang ada di depan saya. Film Mission Imposible pun menjadi pilihan saya untuk membunuh rasa bosan duduk.


Ketika asik menikmati film, para pramugari Garuda Indonesia mulai sibuk hilir-mudik di lorong kabin pesawat. Selain mengecek kondisi para penumpang, mereka juga membagikan minuman dan makanan ringan. Yang pertama dibagikan adalah air jeruk dalam kemasan dan handuk kecil basah. Saya pun segera meminumnya. Air jeruk sangat menyegarkan tenggorakan yang mulai terasa kering setelah beberapa saat pesawat mengudara.

Awak kabin juga membagikan sebungkus kacang-kacangan, satu botol air meneral 500 militer, dan yang terakhir adalah menu makan sore. Dari dua pilihan yang disediakan, saya akhirnya memilih menu makanan Jepang untuk santapan sore. Rasa seluruh makanan yang disajikan cukup enak, walau ada satu jenis makanan yang kurang cocok di lidah saya akibat bumbu khas Jepang yang disertakan.


Kisah perjalanan saya kali ini, rupanya tidak terlalu mulus. Pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi sering mengalami gunjangan akibat melewati cuaca yang tidak bersahabat. Pesawat beberapa kali tergunjang sangat keras, mirip mobil yang sedang melintas di jalan rusak.

Seorang ibu yang duduk beberapa bangku di depan saya, beberapa kali meneriakkan ‘Allahu Akbar’ setiap kali guncangan keras terjadi. Sedangkan para penumpang lain tampak was-was. Mereka duduk membisu sambil berpegangan erat, termasuk saya. Terdiam sambil berdoa dalam hati, agar semuanya segera kembali normal.

Sekitar setengah jam kemudian, pesawat akhirnya kembali stabil. Tidak ada lagi gunjangan yang begitu menakutkan. Namun, lampu tanda sabuk pengaman belum juga dimatikan. Para pramugari juga masih duduk di bangku khusus mereka sambil mengawasi para penumpang. Belum ada penumpang yang berani berdiri. Padahal, sudah banyak yang kebelet ke kamar kecil. Karena itu, ketika lampu sabuk pengaman sudah dimatikan, sejumlah penumpang langsung menyerbu kamar kecil. Antrean terjadi hingga tiga-empat orang di setiap kamar kecil. Saya sendiri mengantre di kamar kecil paling belakang.

Sambil menunggu kamar kecil kosong, saya melihat-lihat kesibukan para pramugari yang sedang membersihkan ‘dapur’ pesawat. Ada yang membersihkan tatakan, mengepel lantai, dan mempersiapkan menu makanan lain yang akan dibagikan.

Salah satu pramugari yang sibuk di sini adalah Minako Ito, pramugari berkebangsaan Jepang. Selama di udara, wanita berparas ayu khas Jepang ini, sangat ramah melayani para penumpang. Bahkan, menurut saya, ia lebih ramah daripada pramugari asal Indonesia. Entah keramahan itu tulus atau semu. Dari wajah dan sikapnya, sih, sepertinya tulus.

Pesawat Garuda Indonesia GA886 yang saya tumpangi, akhirnya mendarat sangat mulus di Bandara Soekarno-Hatta, tepat pukul 18.30 WIB. Selesai sudah perjalanan saya ke Jepang. Rutinitas pun kembali menunggu…

1 komentar: