Selasa, 24 April 2012

Terpesona oleh Halaman Istana Kaisar Jepang (Trip To Tokyo #8)

Entah kapan persisnya, saya pernah melihat tayang program Ngulik di Trans TV. Saat itu, si pembawa acara, Asri Welas, sedang berada di sebuah taman di Tokyo. Yang menarik perhatian saya adalah bukan aksi kocak dan spontan wanita yang terkenal lewat komedi Suami-Suami Takut Istri itu. Saya lebih tertarik dengan tempat dimana Asri Welas sedang berada. Di tayangan itu, terlihat ia sedang berada di taman yang pohon-pohonnya berbentuk bonsai. Pohon-pohon itu begitu banyak dengan bentuk sangat unik. Bonsai dalam ukuran lebih besar. Indah sekali.

“Saya pernah melihat di TV kalau ada taman di Tokyo yang pohon-pohonnya mirip bonsai,” celetuk saya di dalam bis yang membawa saya dan rekan-rekan dari Indonesia, berkeliling Tokyo. Belum sempat rekan-rekan lain mengomentari ucapam saya, bis lalu berbelok ke kanan. Tidak lama kemudian, kami sudah memasuki sebuah taman. “Edan nih. Baru diucapkan, eh, kita sudah berada di sini. Cepat sekali terkabulnya,” kata saya ketika kami tiba di tengah taman bonsai tersebut.

Begitu bis sudah berhenti dengan sempurna di areal parkir, saya pun bergegas turun dan menuju taman. Saya langsung menuju ke tengah taman dan menikmati pohon-pohon yang nyaris seluruhnya dibentuk seperti bonsai. Saya begitu menikmati pemandangan yang sangat memanjakan mata ini. Saya juga tidak berhenti untuk berkali-kali memfotonya. Beragam sudut pemotretan saya ambil. Sesekali, saya pun meminta rekan yang kebetulan berada di dekat saya, untuk memotret saya berlatar belakang pohon-pohon bonsai itu.

Taman ini merupakan bagian dari Tokyo Imperial Palace, istananya kaisar Jepang. Letaknya berada di Chiyoda. Istana ini begitu luas yang dikelilingi oleh taman-taman indah. Sedangkan istana utama berada di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh sungai buatan. Bisa jadi, pada saat dibuat dulu, fungsi sungai ini adalah sebagai pelindung istana agar tidak sembarang orang menyerangnya.




Nah, taman bonsai ini berada di salah satu sisi istana yang langsung berbatasan dengan gedung-gedung pencakar langit Tokyo, yang biasa disebut Imperial Palace Plaza atau Kokyogaien. Taman ini merupakan pintu utama menuju pusat istana kaisar. Dari taman ini, saya berjalan cukup jauh untuk sampai ke pintu gerbang istana. Saya pun berada diantara ratusan wisatawan yang berjubel di sekitar jembatan pintu utama ini. Terlihat ada beberapa penjaga istana berjaga di depan gerbang. Mereka terlihat kecil dibandingkan besarnya gerbang di belakang mereka.

Saya terkesima dengan kepiawaian orang Jepang dalam membuat taman ini. Saya sempat bertanya kepada Ms Namaru, pendamping tur kami, apakah bonsai memang berasal dari bahasa Jepang. Ternyata jawabannya memang iya. Jiwa seni orang Jepang memang tidak diragukan lagi. Mereka boleh hidup dalam arus modern dan teknologi kelas satu, tapi mereka tetap memelihara nilai-nilai budaya. Sambil memelihara ini, mereka akhirnya menemukan banyak karya seni yang langsung menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ada bonsai, ikebana, seni menyusun batu, dan seni-seni lainnya. Orang Jepang memang kreatif.

Entah berapa lama Jepang harus membentuk pohon-pohon di Imperial Palace Plaza ini agar bisa menyerupai bonsai. Kalau saya perhatikan, hampir seluruhnya berasal dari pohon pinus, yang sebenarnya juga banyak tumbuh di Indonesia. Di setiap pohon, batang utama dan dahan-dahannya dibentuk agar melengkung kesana-kemari, seperti bentuk tubuh manusia yang sedang menari-nari.





Saya juga penasaran, apakah daun juga rutin dipangkas tetap terlihat indah. Kalau iya, berarti butuh jumlah tenaga yang ekstra agar seluruh pohon tetap terawat. Semua pohon juga dibiarkan tumbuh di tengah lapangan rumput yang tidak boleh diinjak pengunjung. Tampaknya, rumput yang sangat hijau itu, tumbuh subur dengan perawatan yang sangat baik juga.

Walau tidak bisa mendekati pohon-pohon bonsai tersebut, tapi saya tidak perlu berpatah hati. Di sekitar taman telah disediakan jalur untuk jalan kaki yang mengelilingi areal taman. Bangku-bangku yang nyaman untuk diduduki, juga telah disediakan di sepanjang jalur berjalan kaki tersebut. Nah, di salah satu bangku itulah Asri Welas pernah duduk ketika terlihat di dalam tayangan Ngulik. Saat itu, seorang petugas keamanan menghampirinya dan mengatakan tidak boleh ada kegiatan pengambilan gambar di sana.

Kini, saya pun bisa berada di tempat yang sama…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar