Minggu, 22 April 2012

Wisata Kuliner di Negeri Matahari Terbit (Trip To Tokyo #6)

Masakan apa yang terkenal berasal dari Jepang? Jawabannya pasti banyak. Ada tempura, sushi, shabu-shabu, dan sebagainya. Nah, rasa-rasanya, sangat aneh kalau pergi ke Jepang tanpa mencicipi masakan-masakan khas tersebut. Penasaran juga bagaimana rasanya masakan itu kalau dicicipi di negeri asalnya.

Ini juga yang saya lakukan ketika berkesempatan pergi ke Tokyo. Selama di sana, saya dan seluruh rekan-rekan dari Indonesia selalu menyempatkan diri untuk makan di rumah makan khas Jepang. Saat sarapan di hotel pun, makanan yang saya ambil adalah masakan Jepang. Bahkan, ketika pramugari Garuda Indonesia yang saya tumpangi memberikan pilihan makanan yang bisa dimakan, saya juga memilih makanan bercita rasa Jepang. Suka tidak suka, enak atau tidak di lidah saya, itu urusan belakang. Yang penting, saya puas mencicipinya. Beruntung, hampir seluruhnya pas di lidah asli produk dalam negeri ini. Hanya ada beberapa makanan pelengkap yang kurang bisa diterima lidah ini karena rasa bumbu khas Jepang yang asing bagi saya.

Restoran pertama yang menjadi sasaran saya dan seluruh rekan adalah Gonpachi, yang berlokasi di 1-13-11 Nishiazabu, Minato-ku, Tokyo. Nama restoran ini pasti masih asing bagi Anda. Namun, kalau saya menyebut film Kill Bill, Anda pasti langsung tahu. Nah, restoran ini adalah salah satu lokasi shooting film yang dibintangi oleh Uma Thurman tersebut. Kalau Anda ingat bagian film yang berisi adegan pertempuran di dalam restoran Jepang, maka Gonpachi-lah lokasinya. Hingga saat ini, sejumlah memorabilia dari film Kill Bill tersebut, masih disimpan rapi di sebuah lemari etalase di depan restoran.



Suasana bagian dalam restoran ini sangat menarik, persis seperti di film Kill Bill. Saya sempat membayangkan lagi film itu ketika sedang menunggu pesanan makanan diantar. Saya membayangkan bagaimana Uma Thurman berbakbikbuk di dalam restoran yang dibuat sangat lapang ini. Yang lebih unik lagi dari restoran ini adalah para pelayan sering berteriak-teriak saat melayani pengunjung. Anehnya, sejumlah pengunjung juga ikut-ikutan teriak. Tampaknya, acara berteriak ini memang sudah menjadi semacam kebiasaan di Gonpachi. Sayangnya, mereka berteriak dalam bahasa Jepang sehingga saya tidak bisa ikut nimbrung berteriak-teriak.

Saya memesan Shrimp Tempura Served Over Rice sebagai menu makan siang di Gonpachi. Ini adalah nasi yang disajikan dengan udang tepung. Sebagai pelengkapnya, juga diberikan mi Jepang yang diberi kuah berbumbu khas Jepang. Harganya sekitar 850 yen, atau sekitar Rp 85.000 untuk satu porsi. Selain itu, saya juga mengambil beberapa makanan pelengkap lain dari meja prasmanan. Ada jagung rebus, salad, dan manisan buah. Sedangkan minuman yang saya pesan adalah es teh manis.

Saya sangat menikmati seluruh masakan yang disajikan di hadapan saya tersebut. Apalagi, Gonpachi adalah restoran pertama yang saya singgahi dalam lawatan ke Tokyo. Rasa udang tepungnya juga sangat gurih, walau tidak terlalu garing. Lima ekor udang yang disajikan kepada saya, sangat mengenyangkan perut ini. Enak sekali.

Setelah tempura, giliran sushi yang saya santap. Saya menikmati makanan yang disajikan mentah-mentah ini, di sebuah restoran Jepang di kawasan Ginza, yang bernama Restoran Bambu. Entah mengapa diberi nama bambu. Padahal, restoran yang berada di lantai dua di kawasan belanja nomor satu di Jepang itu, tidak punya ciri khas seperti bambu.


Sushi menjadi makanan pilihan ketika saya diminta untuk memilih menu makan siang. Di dalam wadah yang disajikan kepada saya, tersedia beberapa jenis sushi. Umumnya, memang tidak jauh berbeda kalau kita makan sushi di Indonesia. Walau terkesan sangat sedikit yang disajikan kepada saya, namun sangat mengenyangkan. Maklum saja, nasi yang disajikan di bawah daging-daging mentah tersebut adalah nasi ketan. Saya pun mendapatkan semangkok kuah ikan yang sangat lezat sebagai ‘pendorong’ setiap sushi agar mulus masuk ke dalam perut. Nikmat sekali.

Di sebuah restoran Jepang di kawasan Roppongi, saya merasakan nikmatnya menyantap shabu-shabu. Sekilas memang mirip dengan shabu-shabu yang banyak dijual di restoran Jepang di Jakarta. Namun, menurut saya, rasa di Tokyo lebih nikmat. Jenis sayur-sayuran yang disajikan juga sedikit berbeda dengan di Indonesia. Daging yang disajikan juga lebih mantap. Tidak terasa, saya dan tiga rekan lainnya, sampai tiga kali menambah sayur dan daging. Bahkan, daging dari meja sebelah juga sempat kami ‘jajah’. Entah lapar atau enak, yang penting kami kenyang sekali.


Sebenarnya, banyak masakan lain yang ingin saya cicipi di Tokyo. Apalagi, saya tinggal di hotel yang kiri-kanannya banyak restoran khas Jepang. Namun, niat ini tidak terlaksa karena khawatir juga dengan kehalalan makanan yang saya pilih. Hampir seluruh tulisan di Tokyo menggunakan tulisan kanji. Akibatnya, saya tentunya tidak tahu persis apa saja campuran masakan yang bakal disajikan. Sayang, memang. Namun, tidak perlu disesali…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar