Rabu, 02 Mei 2012

Edi Ginting Muncul Lagi di Majalah Travel Fotografi

"Gua suka foto lu yang gereja itu. Karena ada orang-orang sedang beraktifitas di depannya. Karena itu, gua pasang foto itu sampai satu halaman," kata Yuliandi Kusuma, awal pekan lalu.

Malam hari yang diselimuti mendung itu, kami sedang bercakap-cakap di sebuah mall terkenal di kawasan Tangerang, Banten, mengenai majalah Travel Fotografi yang bakal terbit beberapa hari lagi.

Tidak banyak komentar saya atas ucapan Joel, begitu Yuliandi Kusuma biasa saya panggil. Namun, dalam hati saya semakin penasaran dan tidak sabar menunggu beredarnya majalah Travel Fotografi edisi kedua tersebut. Pasalnya, untuk kedua kalinya, tulisan saya akan menghiasi halaman-halaman majalah itu.

Hari Jumat, 27 April 2012, Kirno, pedagang majalah di kantor, datang menghampiri dan memberikan saya satu majalah Travel Fotografi yang sudah beberapa hari ini saya pesan kepadanya. Saya pun langsung membuka plastik yang membalut majalah terbitan Kompas Gramedia tersebut. Tidak butuh waktu lama, saya pun menemukan artikel yang saya tulis.

Di edisi kedua majalah Travel Fotografi itu, muncul tulisan saya yang diberi judul 'Lukisan Alam dari Tanah Karo'. Tulisan saya itu mejeng sepanjang delapan halaman, lengkap dengan sejumlah foto hasil jepretan saya. Saya pun segera membacanya sampai habis. Walau saya sendiri yang menulisnya, namun saya masih tertarik untuk membaca kata demi kata yang tercetak.

Sambil membaca, saya pun memperhatikan segalanya, mmulai bentuk huruf, warna, posisi foto, dan sebagainya. Entah mengapa, saya malah menemukan beberapa kesalahan kecil. Misalkan saja, salah penulisan kata, caption foto yang kurang tepat, dan beberapa kesalahan kecil lainnya. Tidak apa-apa. Kesempurnaan hanya milih Tuhan. Yang pasti, saya sangat bahagia menerima majalah tersebut.

Ini adalah tulisan kedua saya. Pada edisi perdana Travel Fotografi yang terbit pada Februari 2012, tulisan saya yang dimuat berjudul 'Sejuta Pesona Jayapura', yang bercerita mengenai keindahan dan pengalaman berwisata yang ditawarkan Jayapura, Ibu kota Papua. Tulisan saya itu juga muncul delapan halaman yang dipercantik oleh beberapa foto koleksi saya.

Isi dari tulisan kedua saya di Travel Fotografi ini tidak jauh berbeda dengan apa yang saya ungkapkan di tulisan mengenai Jayapura. Saya bercerita mengenai pesona alam, budaya, dan masyarakat Tanah Karo, sebuah daerah di Sumatera Utara.

Karena muncul di rubrik Jelajah, maka saya menulis pengalaman saya dalam menjelajahi Tanah Karo dalam sejumlah kesempatan yang pernah saya peroleh. Tidak hanya alamnya yang memang sangat indah, namun juga penjelajahan wisata kuliner, budidaya pertaniannya yang sudah begitu terkenal di dunia, dan tidak ketinggalan mengenai reportase spot-spot yang menarik untuk hunting foto di dataran tinggi Sumatera Utara itu. Sangat lengkap, karena saya cukup tahu dan kenal Tanah Karo dibandingkan daerah lainnya. Maklum saja, Tanah Karo adalah tanah kelahiran saya.

Sebenarnya, beberapa bagian dalam artikel itu, termasuk sejumlah fotonya, sudah pernah saya posting di dalam blog saya ini. Saya tinggal menyatukan keping-keping cerita tersebut dan menuliskan lagi dengan bahasa yang lebih enak dibaca. Maklum saja, menulis untuk blog tentu harus berbeda dengan menulis untuk media mainstream, yang ada tujuan bisnis di dalamnya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat saya, Yuliandi Kusuma, yang juga sebagai editor majalah Travel Fotografi, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bisa berpartisipasi dalam majalah yang khusus dibuat sebagai panduan fotografi bagi yang hobi jalan-jalan atau traveling tersebut.

Menurut saya, Joel telah mampu menjadi editor yang mumpuni, sehingga Travel Fotografi bisa terbit dengan sangat cakep. Isinya sangat informatif, tidak hanya sebagai panduan jalan-jalan, namun juga memberikan pengetahuan yang lengkap dalam hal fotografi ketika menjalani traveling tersebut. Sebab, jalan-jalan dengan foto adalah dua hal yang sepertinya tidak terpisahkan. Apalagi pada era serba praktis seperti sekarang ini.

Oya, selain artikel saya, masih banyak artikel lain yang menarik di edisi kedua ini. Misalkan saja, kita ajak untuk berpelesir ke obyek-obyek lokal dengan tradisinya yang khas. Tujuan pertama adalah sebuah pasar tradisional di pinggiran Solo di mana Anda bisa memotret aktivitas jual beli trebak, bibit, hingga merekam para pandai besi beraksi dan sabung ayam. Saya sangat menikmati tulisan ini, terutama foto-foto yang melengkapinya.

Kita juga diajak ke desa tradisional berusia ratusan tahun di Nias, pemandian para raja di Yogyakarta, dan juga merekam tradisi Keboan di Banyuwangi. Fotografer profesional, Arbain Rambey juga berbagi perjalanannya ke Myanmar yang penuh dengan Pagoda di edisi kedua ini.

Berikut ini adalah halaman demi halaman Travel Fotografi yang membuat hasil karya saya…













2 komentar:

  1. dan dari mahalah itulah saya kenal blog ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantaffff.... Terima kasih sudah mengunjungi blog saya ini, Rheza. Sukses selalu! :-)

      Hapus