Senin, 21 Mei 2012

Lukisan Alam dari Tanah Karo

Bisa jadi, Sang Pencipta menciptakan Tanah Karo ketika sedang tersenyum. Ini terlihat dari anugerah berlimpah yang diberikan kepada wilayah tersebut.

Alamnya begitu indah yang berkontur bukit-bukit hijau. Tanahnya sangat subur, sehingga menanam apapun akan tumbuh dan menghasilkan. Udaranya segar dengan iklim yang sejuk. Masyarakatnya juga hidup damai dengan kekayaan budaya yang masih kekal dipertahankan. Mungkin saja, salah satu surga dunia itu ada di Tanah Karo.

Kesuburan tanahnya telah menjadikan Tanah Karo sebagai penghasil beragam komoditas unggulan. Tidak hanya terkenal di Indonesia, namun hingga ke mancanegara. Sayur-mayur asal daerah tersebut sudah diekspor sampai ke beberapa negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Begitu juga dengan buah-buahnnya. Jeruk Medan yang sudah begitu tersohor, sebenarnya berasal dari Tanah Karo. Sirup markisa yang biasa dijadikan oleh-oleh dari Medan, juga dipasok Tanah Karo.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, dimana sebenarnya letak Tanah Karo. Daerah ini adalah sebuah kabupaten di Sumatera Utara, dengan nama Kabupaten Karo. Namun, dalam percakapan sehari-sehari, Kabupaten Karo lebih dikenal dengan istilah Tanah Karo, sesuai dengan nama suku yang mendiami daerah tersebut. Tanah Karo berada di dataran tinggi yang masuk dalam ekosistem Pegunungan Bukit Barisan.

Ibu Kota Tanah Karo adalah Kabanjahe, yang berjarak sekitar 78 kilometer dari Kota Medan, ibu kota Sumatera Utara. Tanah Karo menjadi lebih terkenal ketika Gunung Sinabung meletus pada 2010. Gunung yang memiliki tinggi 2.460 meter di atas permukaan laut itu, memang menjadi simbol keberadaan Tanah Karo. Sinabung berada di tengah wilayah Kabupaten Karo. Gunung yang memiliki panorama indah itu, dapat ditatap dari hampir seluruh wilayah Tanah Karo.

Berastagi adalah kota lain di Tanah Karo yang sangat populer ke mana-mana, termasuk ke luar negeri. Kota yang berada di kaki Gunung Sibayak itu, telah lama menjadi kota wisata. Tidak hanya bagi wisatawan lokal, namun juga orang asing. Berastagi menjadi tempat pelarian warga Medan ketika mereka hendak mencari kesegaran. Kalau Jakarta memiliki Puncak Bogor, Bandung punya Lembang, Padang memiliki Bukit Tinggi, atau Malang punya Batu, maka Medan punya Berastagi.

Berastagi berjarak sekitar 70 kilometer dari Medan, yang dapat di tempuh dalam waktu sekitar dua jam. Sejak keluar dari pusat kota, maka jalan akan terus menanjak dan berbelok-belok hingga tiba di Berastagi. Bagi yang tidak biasa, perjalanan akan terasa menyiksa. Namun, penderitaan tersebut seharusnya terobati oleh pemandangan kiri-kanan jalan yang sebagian besar adalah hutan belantara yang dibiarkan tumbuh secara alami.

Begitu tiba di Berastagi, akan langsung terasa suasana khas alam pegunungan. Udara terasa dingin ketika menyentuh kulit. Mata dimanjakan oleh pemandangan hijaunya bukit-bukit dan bunga yang berwarna-warni. Hamparan ladang-ladang yang ditanami dengan berbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan terlihat begitu keluar sedikit dari pusat kota.

Banyak objek wisata yang bisa dikunjungi saat berada di Berastagi. Ada Tahura, yang berupa hutan dengan pohon-pohon besar. Ada bukit Gundaling yang menawarkan keindahan pemandangan sebagian kecil alam Tanah Karo. Gunung Sinabung juga terlihat jelas dari lokasi ini. Ada juga Lau Debuk-debuk yang memberikan kesegaran mandi di kolam air panas. Atau, bila ingin sedikit tantangan, silahkan mendaki ke puncak Gunung Sibayak yang hanya butuh waktu sekitar dua-tiga jam.

Jangan lupa untuk mengelilingi kota Berastagi. Di kota yang sedang berjuang berpisah dari kabupaten induk ini, pedistrian dibuat sangat lebar sehingga orang-orang leluasa untuk berjalan menikmati suasana kota. Pada malam hari, tepi jalan akan penuh dengan pedagang makanan yang menjajakan beragam kuliner khas Tanah Karo dengan harga yang terjangkau.



Puas jalan-jalan ke Berastagi, jangan cepat-cepat beranjak pulang. Tanah Karo tidak hanya Berastagi. Sama seperti Bali yang tidak hanya selebar Pantai Kuta. Ada banyak tempat-tempat lain yang menawarkan pengalaman lebih mengesankan. Keluarlah dari Berastagi. Bawa kendaraan Anda untuk mengelilingi sudut-sudut menarik lain dari daerah tersebut. Kalau tidak ada kendaraan sendiri, ada banyak angkutan umum yang bisa membawa kemanapun tujuan Anda.

Tempat yang paling dekat dari Berastagi adalah Kabanjahe. Jarak ibukota Kabupaten Karo ini tidak sampai sepuluh kilometer dari Berastagi, yang dapat dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit saja. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di kota yang luasnya tidak seberapa ini.

Mampirlah ke rumah makan di sana, dan cicipi sejumlah kuliner khas Tanah Karo. Ada gulai ikan mas yang diarsik, cepera (daging ayam yang digulai dengan tepung jagung), atau tasak telu (daun singkong yang dipotong halus dan dicampur dengan daging ayam). Semua masakan khas Karo tersebut sangat lezat disantap karena dimasak dengan campuran beragam rempah-rempah yang cuma ada di sana. Selera makan juga sebanyak meningkat karena udara dingin pegunungan.

Setelah kenyang mengisi perut, mampirlah ke Pasar Kabanjahe yang berada di pusat kota. Di pasar tradisional yang agak becek dan kotor pada beberapa sudutnya itu, bisa ditemukan beragam jajanan dan oleh-oleh yang menarik. Misalkan saja, kain tradisional Tanah Karo yang harganya mulai Rp 200 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung model dan bahannya. Tidak ada ulos di sana, karena ulos adalah sebutan untuk kain tradisional suku Tapanuli. Orang Karo memiliki beragam nama untuk kain tradisional mereka. Ada yang disebut uis gara, uis nipes, beka buloh, dan sebagainya. Masing-masing memiliki fungsi berbeda saat dikenakan.

Buah-buahan lokal juga membanjiri Pasar Kabanjahe. Tidak hanya jeruk, yang memang menjadi komoditas andalan dari Tanah Karo, namun juga berbagai buah-buahan lainnya. Salah satunya yang biasanya berlimpah adalah buah mangga haranggaul, atau banyak juga menyebutnya dengan nama mangga medan.



Jenis mangga yang berwarna kuning bila sudah mateng ini, berukuran jauh lebih kecil daripada mangga pada umumnya. Mungkin seukuran buah sawo. Rasanya sangat manis, dengan serat yang cukup banyak pada dagingnya. Biasanya, orang mengupas kulitnya dengan menggunakan gigi, dan tidak menggunakan pisau. Awalnya, cara seperti ini terasa aneh. Tapi bila sudah mencicipi satu buah mangga, maka berhati-hatilah Anda akan ketagihan. Silahkan memuaskan diri, karena harganya hanya sekitar Rp 10.000 untuk satu kilogram.

Selesai menikmati mangga medan, sambung wisata kuliner Anda dengan kelezatan buah durian. Durian memang telah turun-temurun menjadi tanaman masyarakat Karo. Hampir seluruh masyarakatnya adalah penyuka buah berduri yang beraroma sangat khas itu. Bahkan, orang Karo terbiasa menjadikan durian sebagai lauk untuk makan nasi. Gunungan durian dapat ditemukan di pinggir-pinggir jalan utama sejak pagi sampai malam hari. Harganya berkisar Rp 8.000 sampai Rp 15.000 untuk satu buah durian yang rasanya dijamin bakal memuaskan.

Dari Kabanjahe, paculah kendaraan Anda lebih menjauh lagi dari pusat kota. Salah satunya mungkin ke ke Danau Lau Kawar. Ini adalah sebuah danau yang terletak persis di kaki Gunung Sinabung. Dari Kabanjahe, dapat ditembuh dalam waktu setengah jam saja dengan kendaraan bermotor.



Perjalanan ke Danau Lau Kawar akan melewati jalan yang naik-turun mengikuti kontur tanah. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah dan memanjakan mata. Selain tampak Gunung Sinabung, di kiri-kanan jalan akan tampak hamparan lahan pertanian milik penduduk setempat yang begitu hijau dan subur. Umumnya, mereka menanam berbagai jenis sayur-sayuran, buah jeruk, buah markisa, dan beberapa jenis palawija. Sedangkan di lereng-lereng jurang yang curam, mereka banyak menanam pohon kemiri.

Jangan lupa untuk berpakaian tebal atau membawa jaket bila hendak jalan-jalan ke Danau Lau Kawar, karena udara di sana jauh lebih dingin daripada Berastagi. Dari danau yang memiliki luas sekitar 200 hektar ini, hanya perlu perjalanan sekitar tiga jam lagi untuk mencapai puncak Gunung Sinabung. Begitu dekatnya, sehingga gunung api itu terlihat hanya seperti sebuah gundukan bukit dari pinggir danau. Karena itu, para pendaki gunung sering berkemah dulu di sekitar danau sebelum mendaki gunung tertinggi di Sumatera Utara itu.

Liburan ke Tanah Karo tidak akan terasa lengkap tanpa sampai di Tongging. Ini adalah nama sebuah desa yang terletak di pinggiran Danau Toba. Salah satu ujung danau seluas 3.000 kilometer persegi itu memang berada di Tanah Karo. Tongging dapat dicapai sekitar satu jam perjalanan dari Kabanjahe. Jalannya relatif datar dengan pemandangan kebun-kebun milik masyarakat di sepanjang perjalanan. Sayangnya, kondisi jalan sering kali rusak sehingga mengganggu kenikmatan perjalanan.



Tongging bertepikan Danau Toba dan bukit-bukit tinggi yang mengelilingi seluruh danau. Dari atas bukit, pemandangan Tongging terlihat sangat indah. Seperti sebuah lukisan alam yang tiada duanya. Air danau terlihat sangat tenang , seakan memberikan kedamaian pada hati. Rumah-rumah di Desa Tongging yang berada di tepi danau, terlihat begitu kecil dari atas bukit. Sangat kecil dibandingkan bukit-bukit tinggi yang mengelilinginya.

Sulit membayangkan, kalau Danau Toba merupakan kaldera gunung api raksasa yang meletus sekitar 74.000 tahun lalu. Menurut para ilmuan, letusan gunung api ini sangat dahsyat, karena abunya beterbangan hingga ke Eropa. Bumi sempat dilanda kegelapan hingga bertahun-tahun, karena sinar matahari tertutupi oleh tebalnya abu. Akibatnya, suhu bumi pun turun dan kiamat nyaris saja terjadi. Dahsyatnya lagi, Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba, menurut para ilmuan, adalah dasar kaldera yang terangkat saat gunung api meletus.

Lokasi yang paling pas untuk menikmati keindahan Tongging adalah dari tempat wisata air terjun Sipiso-piso. Dengan ketinggian sekitar 120 meter, Sipiso-piso termasuk air terjun tertinggi di Indonesia. Dasar air terjun ini bisa dicapai dengan menuruni ratusan anak tangga dari tempat parkir kendaraan. Saat menuruninya memang terasa biasa-biasa saja, namun ketika hendak naik lagi, butuh tenaga ekstra karena banyaknya anak tangga yang harus ditapaki. Jadi, pikirlah secara mendalam bila Anda memang ingin turun ke dasar air terjun.

Puas memanjakan mata dari atas, maka saatnya untuk turun ke Tongging. Jalanan akan berbelok-belok untuk menuju ke desa itu. Sebaiknya pastikan rem kendaraan dalam kondisi sangat baik sebelum menuju ke sana. Kemiringan jalan sangat curam. Jurang yang sangat dalam juga sudah siap menanti di sebelah kanan jalan. Pastikan Anda konsentrasi dalam mengemudikan kendaraan, dan jangan terlalu terpana dengan indahnya pemandangan di sana. Tidak sampai sepuluh menit, Anda akan sudah tiba di Desa Tongging.

Begitu tiba di Tongging, tiba saatnya untuk merasakan kesegaran air Danau Toba. Namun, sebaiknya jangan sembarangan memilih tempat untuk mandi. Kini semakin banyak warga yang memelihara ikan Nila dengan teknik keramba jaring apung. Masalah ini memang sudah cukup lama menghantui Danau Toba. Belum jelasnya pengaturan zona budidaya ikan, pertanian, permukiman, maupun wisata, membuat Danau Toba terlihat semrawut dan kotor. Belum lagi isu pencemaran limbah dan pakan ikan yang sering kali menerpa Danau Toba.

Padahal, para pelaku pariwisata sudah melihat potensi besar di Tongging untuk dijadikan temat wisata berkelas. Buktinya, beberapa hotel sudah berdiri di Tongging. Fasilitasnya juga lumayan bagus, dengan harga yang relatif murah, sekitar Rp 100.000 sampai Rp 500.000 per malam. Mereka sangat berharap dukungan semua pihak, seperti perbaikan infrastruktur sebagai modal utama agar wisata di sana bisa lebih menggiat lagi.

”Potensi sangat besar. Saya sering membawa turis-turis asing yang datang ke Berastagi, untuk melanjutkan wisata mereka ke Tongging. Dan, mereka kagum dengan alam di Tongging ini. Namun, kami tidak bisa bergerak sendiri tanpa didukung semua pihak. Infrastruktur yang paling utama, disamping adanya aturan-aturan yang sangat pro pariwisata,” ujar Dickson Pelawi, seorang pebisnis pariwisata di Tanah Karo, dalam sebuah percakapan di Tongging.

Singgah ke Tongging, wajib merasakan kelezatan ikan Nila dari danau terbesar di Indonesia ini. Kelezatan ikan Nila Danau Toba sudah tersohor hingga ke mancanegara. Berton-ton Nila diekspor dalam bentuk filet sampai ke Eropa oleh sebuah perusahaan asing yang membuka bisnis budidaya ikan nila di danau yang masuk ke dalam enam kabupaten di Sumatera Utara itu. 




Banyak Jalan Menuju Tanah Karo


  • Pesawat yang melayani rute Jakarta-Medan ada puluhan trip setiap hari. Hampir seluruh maskapai nasional membuka rute ke sana. Selain dari Jakarta, kota lain yang memiliki penerbangan langsung dari dan ke Medan adalah Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Penang (Malaysia), dan Singapura. Harga tiket pesawat Jakarta-Medan berkisar Rp 420.000-Rp 2.000.000, tergantung waktu dan kelas tempat duduk.
  • Dari Medan menuju Tanah Karo, bisa ditempuh lewat jalan darat. Bila ingin lebih puas menikmati liburan, maka sebaiknya menyewa mobil dengan tarif sekitar Rp 400.000 perhari (belum termasuk bahan bakar dan tips sopir). Naik angkutan umum juga cukup mudah, karena sangat banyak angkutan yang melayani rute Medan-Kabanjahe dengan tarif Rp 10.000. Di Terminal Berastagi dan Kabanjahe, juga sudah menunggu angkutan pedesaan yang siap mengantar Anda ke sejumlah tempat di Tanah Karo dengan tarif Rp 5.000-Rp 10.000.



    Menginap di Losmen atau Hotel Bintang

    • Jangan khawatir kesulitan mencari tempat menginap di Tanah Karo. Tersedia begitu banyak hotel di Berastagi, mulai dari kelas losmen sampai hotel bintang empat. Semua tersebar mulai pusat kota sampai di beberapa lokasi yang menjual pemandangan indah alam Tanah Karo. Tarif kamar permalam berkisar Rp 100.000-Rp 1.000.000, tergantung hotel dan tipe kamar. Di Berastagi juga banyak vila yang bisa disewa dengan harga minimal Rp 700.000 permalam.
    • Tempat menginap lain yang juga banyak pilihan adalah di Tongging. Kini, sudah ada beberapa hotel berdiri dengan tarif Rp 100.000-Rp 500.000. Rata-rata hotel berdiri di pinggiran Danau Toba. Dari jendela kamar, bisa terlihat jernihnya air danau dan kokohnya bukit-bukit batu yang mengelilingi danau.



      Beberapa tips liburan ke Tanah Karo

      • Walau penduduk Tanah Karo menggunakan bahasa Karo dalam percakapan sehari-hari, namun mereka tetap bisa berbahasa Indonesia. Jangan segan-segan bertanya, karena mereka sangat ramah untuk membantu.
      • Karena berada di dataran tinggi, maka iklim Tanah Karo cukup dingin. Jangan lupa untuk membawa jaket atau baju tebal. Membawa payung juga bisa dipertimbangkan, karena hujan bisa tiba-tiba turun.
      • Listrik sudah ada 24 jam di Tanah Karo. Jadi, jangan khawatir soal mengisi baterai gadget maupun kamera. Kecuali masih mengandalkan baterai sekali pakai. Harap membawa bekal yang cukup, karena sangat sulit mencari baterai alkaline di luar kota.
      • Sangat banyak oleh-oleh yang bisa dibawa dari Tanah Karo maupun Medan. Jangan lupa membawa tas cadangan. Atur semuanya agar tidak melebihi jatah bagasi pesawat gratis yang hanya 20 kg.
      • Bila ingin membawa oleh¬-oleh durian naik pesawat, masukkan buah durian ke dalam wadah plastik. Tambahkan kopi untuk mensamarkan aroma durian, lalu lakban sangat rapat. Masukkan ke bagasi pesawat, dan jangan dibawa ke dalam kabin.



        Tips berburu foto di Tanah Karo

        • Bukit Gundaling merupakan tempat yang tepat untuk mengabadikan Gunung Sinabung, Gunung Sibayak, dan Kota Berastagi.
        • Bawa bekal dan peralatan yang memadai, lalu daki Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Usahakan sampai di puncak saat masih gelap, agar bisa mendapatkan momen matahari terbit. Berharaplah kabut sedang tidak ada. Dari puncak, juga bisa memotret lanskap Tanah Karo yang hijau dan berbukit-bukit.
        • Ada banyak objek menarik untuk berburu foto di Berastagi. Antara lain, hiruk-pikuk kota dan masyarakat, aktivitas bongkar-muat bunga, buah, dan sayur di Pasar, aktivitas masyarakat di ladang-ladang mereka dengan latar belakang Gunung Sinabung, dan sebagainya.
        • Berbagai momen menarik di Kabanjahe, antara lain aktivitas di pasar, suasana terminal dengan angkutan khas Tanah Karo, atau lalu-lalang masyarakat dengan pakaian yang bercirikan Tanah Karo. dari sudut tertentu, Kabajahe pun dapat diabadikan dengan latar belakang Gunung Sinabung.
        • Setiap desa di Tanah Karo memiliki jambur atau balai desa. Hampir seluruh prosesi upacara, pesta, atau kemeriahan lainnya, diadakan di sana. Ini merupakan objek yang menarik untuk difoto, karena umumnya masyarakat Karo mengenakan pakaian tradisional saat menghadiri acara di jambur.
        • Aktifitas petani di Tanah Karo juga sangat menarik diabadikan. Mereka mudah ditemukan. Anda tinggal pergi keluar kota, maka akan menjumpai warga yang sedang memanen jeruk, biji kakao, jagung, atau budidaya lainnya. Karena alam Tanah Karo berbukit-bukit, maka Anda bisa mengeksplorasi mereka dengan sudut-sudut menarik dan unik.
        • Desa Lingga dan Desa Dokan adalah tempat untuk memotret rumah adat suku Karo. Desa Lingga hanya beberapa kilometer dari Kabanjahe. Sedangkan Desa Dokan berada di tengah perjalanan Kabanjahe-Tongging. Sejumlah rumah adat tetap dipelihara di desa ini dan dijadikan kawasan cagar budaya.
        • Selain bisa mengabadikan keindahan air terjun dari tempat wisata air terjun Sipiso-piso, Anda bisa mengabadikan lanskap Danau Toba dengan sangat menarik. Banyak yang mengatakan, fotografer amatiran pun pasti bisa mendapatkan foto sangat bagus dari tempat itu. Apalagi kalau Anda adalah fotografer profesional. 
         
        Catatan:
          Tulisan ini adalah artikel saya yang telah dimuat di Majalah Travel Fotografi edisi April 2012


          7 komentar:

          1. mejuah-juah....
            saya minta izin, bisa ga saya copy-paste kan tulisan ini ke dalam blog saya?

            mantap kap tulisan ndu e, bang.
            adi baci gelah ku-copy ken :D

            mejuah-juah sekali nari :D

            BalasHapus
            Balasan
            1. Mejuah-juah....
              Silahkan saja kam copas asal kam cantumkan blogta enda sebagai sumberna. :-)

              Hapus
          2. pasti adi ena bang :D

            mejuah-juah ita sekali nari,
            tanah karo simalem :)

            BalasHapus
          3. mejuah-juah bang... kunjungan pertamax :D
            bapa nande ku tanjung merawa nari, tapi aku tuboh i jogja bang..
            baru pulang ke kampung 3-4 kali.. rasanya pengen kesana lagi :(

            BalasHapus
          4. Mariani Tarigan3:05 PM

            Info tambahan sedikit, Desa Lingga itu terletak antara Kabanjahe dengan Danau Lau Kawar, bukan antara Kabanjahe dgn Tongging. Bjr

            BalasHapus
            Balasan
            1. betul sekali kam. Antara Kabanjahe dan Tongging ada Desa Dokan, yg juga memiliki sejumlah rumah adat yang masih dipelihara dengan baik. Desa Lingga memang berada antara Kabanjahe dan Lau Kawar. Terima kasih atas koreksinya. Mejuah-juah... :-)

              Hapus