Selasa, 12 Juni 2012

Mengapa Ada 3 Presenter Wide Shot

Sebuah email terkirim ke alamat saya. Pengirimnya adalah Nicho, seorang mahasiswa pascasarjana jurusan komunikasi di Solo, Jawa Tengah. Dalam emailnya, ia mengaku sedang membuat tugas akhir dengan tema citizen journalism. Program Wide Shot yang rutin tayang di layar Metro TV setiap Senin-Jumat pukul 13.00-17.00 menjadi bahan penelitiannya.

Dalam emailnya, Nicho menanyakan sejumlah hal tentang Wide Shot. Salah satu pertanyaannya adalah mengapa Wide Shot memiliki tiga orang presenter dan mengapa ketiganya adalah perempuan. Saya tersenyum ketika membaca kalimat ini pertama kali, terutama pada bagian ‘mengapa ketiganya adalah perempuan’.

Bagi sebagian penonton, kehadiran tiga presenter dalam satu program rupanya masih terlihat seperti hal yang tidak biasa. Memang, biasanya program berita hanya memiliki satu presenter dalam setiap penayangan. Hanya ada beberapa program berita yang dibawakan oleh dua orang presenter.

Sejak mengudara pada 25 November 2011, Wide Shot memang telah hadir dengan tiga orang presenter. Ada Gilang Ayunda, Sumi Yang, dan Lucia Saharui. Putri Ayungningtyas kemudian menggantikan Lucia karena sedang hamil.



Wide Shot sangat jarang mengudara dengan kurang dari tiga orang presenter. Ketika salah satu dari mereka berhalangan, biasanya akan ada pengganti presenter. Gadiza Fauzi dan Robert Harianto adalah dua nama yang sering menjadi peran pengganti. Bahkan, Wide Shot pernah juga mengundang presenter tamu ketika salah satu host tetap harus berhalangan, seperti mengundang Mongol dan Edmond Daniel.

Ada beberapa alasan mengapa Wide Shot hadir dengan tiga orang presenter. Sebagai orang yang ikut membidani lahirnya program yang mengangkat semangat citizen journalism ini, saya mencoba merekonstruksi alasannya untuk menjawab pertanyaan Nicho.

“Durasi yang mencapai empat jam tentu sangat menguras energi. Apalagi, presenter Wide Shot hadir tanpa membaca script seperti program berita umumnya. Pada umumnya satu presenter membawakan program setengah jam berita. Bila durasinya satu jam, biasanya akan tampil dua presenter, seperti pada program Metro Siang atau Metro Malam. Mereka juga tinggal membaca promter saat membawakan berita, kecuali ada dialog. Tidak perlu ada improvisasi,” tulis saya.

Nah, dengan kondisi ini akhirnya diputuskan Wide Shot memakai tiga orang presenter. Dengan jumlah tiga orang, mereka diharapkan bisa saling mengisi saat tampil agar terlihat natural di layar. Stamina mereka juga diharapkan bisa terjaga selama empat jam siaran. Ketiganya bisa tampil dengan membangun dialog-dialog segar dan menghibur dari setiap paket berita yang mereka sampaikan, tanpa perlu terpaku pada lead berita yang mereka pegang.

Mengapa ketiga presenter perempuan semua? Belakangan ini ada Robert Hariyanto sebagai presenter pengganti. Tapi, presenter utama memang tiga perempuan; Gilang Ayunda, Putri Ayuningtyas, dan Sumi Yang. Ketiganya sengaja dipilih karena masih muda dan bisa mewakili warna citizen journalism yang ingin ditampilkan Wide Shot. Umumnya, presenter perempuan juga lebih mudah diterima penonton daripada presenter pria. Pemirsa perempuaan bisa menerima presenter wanita dan pria, namun pemirsa pria umumnya hanya menyukai presenter wanita.

Itulah jawaban saya untuk Nicho. Saya tidak tahu apakah jawaban saya ini memuaskannya atau tidak, karena saya belum mendapatkan email balasan lagi.
Selengkapnya...

Jumat, 08 Juni 2012

Peri Farouk Membuka Mata

"Terima kasih kamu sudah memperdulikan keluh kesah & curahan hatiku, serta menghiburku dengan kata-kata manis & menguatkan...

Terima kasih kamu sudah menemaniku semalaman hangout di cafe-cafe...

Terima kasih selalu ingat hari ulang tahunku & mengirim kartu ucapan indah yang sengaja kamu pilih sendiri...

Terima kasih sekali-kali telah membayarkan keperluan & tagihanku...

Terima kasih sudah menjadikan aku orang pertama yang kamu kabarkan apapun keadaanmu...

Terima kasih telah memberikan waktu yang lapang untuk semua urusan yang aku mintakan kamu hadir bersamaku, mengalahkan waktu siapapun...

Terima kasih telah memberikan pandangan mesra & tampak selalu kangen atas kehadiranku...

Terima kasih telah menjawab pesan-pesanku langsung dari SMS, Facebook, Twitter, BBM, bahkan dengan sembunyi-sembunyi...

Terima kasih telah berani berbohong kepada orang-orang yang tulus menyayangimu demi aku...

Dan terima kasih, banyak-banyak terima kasih, kamu telah menjadi kekasih gelapku!"

Bayangkan, sahabat, bagaimana jika ada seseorang lain yang mengucapkan kalimat-kalimat di atas kepada belahan jiwamu?

Menyakitkan bukan?

Maka,

Jadilah belahan jiwa yang setia...

JANGAN LAKUKAN SESUATU YANG MENURUTMU SENDIRI AKAN MENYAKITKAN JIKA ITU DILAKUKAN ORANG TERHADAP DIRIMU SENDIRI.

Selalu ingat,

Karma membalas atas namanya sendiri. Karma tidak memerlukan tindakanmu diketahui oleh orang yang kamu sakiti, dan tidak memerlukan niat dendam dan kutukan.

Otomatis! Tidak memerlukan tanda asterisk, tidak memerlukan 'syarat & ketentuan' lain berlaku...

KARMA MELAKUKAN KEPADAMU APAPUN YANG KAMU LAKUKAN KEPADA ORANG LAIN.

Hati saya bergetar ketika membaca tulisan di atas. Saya merasa, situasi yang sama sering menghampiri. Walau hanya butuh waktu semenit atau bahkan beberapa detik saja, saya lupa menyapa belahan jiwa di rumah. Lupa bertanya apakah ia sudah makan atau belum, seperti masa-masa pacaran dulu. Lupa mengirimkan SMS ketika saya harus terlambat sampai di rumah. Lupa mengirimkan emoticon gambar hati merah lewat Blackberry Messenger. Lupa mengucapkan ‘aku cinta kamu’, seperti yang selalu terucap setiap kali meneleponnya pada beberapa tahun lalu. Lupa, lupa, lupa. Lupa atau malas. Entah lah.

Kalimat-kalimat tersebut membuat saya berpikir. Timbul rasa takut pada diri saya. Saya tidak mau apa yang tertulis, terjadi pada diri saya. Sebuah afirmasi terucap dalam hati. Sifat alpa, kemalasan, menganggap enteng, atau apapun namanya, harus mulai saya kikis. Saya bersyukur, kalimat-kalimat di atas sudah menjadi klakson yang menyadarkan saya. Bunyinya begitu nyaring, dan membuat saya langsung tersadar.

Orang yang ‘membunyikan klekson’ tentang belahan jiwa tersebut adalah Peri Farouk. Ia mengirimkannya kepada saya melalui Blackberry Messenger (BBM). Nyaris setiap hari saya mendapatkan broadcast dari Peri Farouk. Terkadang, ada lebih dari satu broadcast dalam sehari. ‘Peri Farouk Membuka Mata’, begitulah kalimat pembuka nya. Saya selalu membacanya hingga tuntas. Kadang-kadang saya membaca berulang-ulang untuk lebih memahami ‘pesan’ yang ada di dalam kalimat-kalimatnya.

Kini, kumpulan kalimat-kalimat indah yang menggugah tersebut telah menjadi sebuah buku. Judulnya cukup panjang, ‘Peri Farouk Membuka Mata, 288 Percikan Motivasi & Renungan Inspiratif’. Entah mengapa jumlahnya hanya 288 yang terasa cukup ganjil. Barangkali hanya sebuah strategi saja.



Saya sangat menikmati setiap renungan yang terlukis di dalam buku ini. Apalagi, cukup banyak renungan yang belum pernah saya terima lewat BBM. Bahkan, yang sudah pernah saya baca pun kembali menarik perhatian untuk dibaca lagi, berulang-ulang sambil meresapi maknanya dalam-dalam.

Membaca renungan di dalam buku ini seperti ‘klekson’ yang berbunyi nyaring di hati dan pikiran saya. Semuanya sepertinya pas dengan pengalaman hidup saya. Saya kembali teringat dengan perjalanan hidup yang pernah saya tapaki. Kadang-kadang, saya tersenyum membacanya, seakan menjadi tanda kalau apa yang Peri Farouk tulis memang benar adanya.

“Pada saat langit tidak selalu biru, hidup tidak selalu indah, terkadang kita pun ikut runtuh. Melalui Membuka Mata kita akan menjadi bijak dalam mengambil manfaat dari kegagalan sekaligus berani memperbaiki kesalahan. Setelah membaca buku ini, kita bisa mengeluarkan ‘bintang’ di dalam diri kita, yang memang memerlukan langit yang gelap untuk bersinar,’’ kata Shahnaz Haque tentang buku ini.

Dalam sebuah percakapan di BBM, saya sempat bertanya kepada sahabat dan juga mentor saya ini, bagaimana ia bisa menulis begitu banyak kata-kata renungan dalam ‘Peri Farouk Membuka Mata’. Sebagai orang yang juga hobi menulis, saya ingin tahu apa resep ia ia pakai sehingga sangat produktif dalam menulis dan hasilnya pun sangat bermakna.

Ia memang berbagi rahasia kepada saya. Namun, di dalam buku ini saya akhirnya menemukan jawaban yang lebih terbuka lagi. Peri mengaku, renungan-renungan tercipta ketika ia berada dalam kondisi sangat tidak termuliakan. Karena itu, ketika membaca setiap renungan buah karyanya di dalam buku ini, saya pun membayangkan kira-kira bagaimana kondisi seorang Peri Farouk ketika menulis renungan tersebut.

Percikan renungan yang dibuat oleh Peri memang telah membuka mata saya tentang hidup ini. Tiba-tiba saja, gelora yang ada di dalam tubuh seakan mendidih. Saya seperti melihat banyak kesempatan baru di sekeliling yang sebelumnya tertutup rapat, entah oleh apa. Saya menjadi tahu bahwa saya masih bisa lebih baik, hanya dengan mengubah pikiran saya dan berani bermimpi. “Kalau kau menginginkan sesuatu yang belum pernah kau miliki, kau harus melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan,” tulisa Peri Farouk dalam salah satu percikan ‘Membuka Mata’-nya.

Selesai makan nasi padang...

"Mbak ada pisang nggak ya?" tanya saya.

"Nggak ada!" jawab si mbak pelayan, lalu sambil menunjuk deretan minuman ringan ia melanjutkan, "Ada juga limun!"

"Limun? Saya tanya pisang, jawabnya limun!"

"Iya, banyak orang nanya yang nggak ada, saya tunjukkin saja yang ada," tanggap si mbak tanpa rasa bersalah, "Dan banyak orang jadinya membeli apa yang ada di sini!"

Ilmu baru, sahabat, ilmu baru...

KETIKA ORANG MEMBUTUHKAN SESUATU YANG BELUM ATAU TIDAK ADA DALAM DIRIMU, TIDAK ADA SALAHNYA MENGABARKAN YANG TELAH KAMU BISA ATAU KAMU MILIKI. SIAPA TAHU IA BELUM MENGATAKAN KEBUTUHANNYA YANG LAIN, YANG KEBETULAN ADA DALAM DIRIMU.

Yang kamu kuasai mungkin terbatas, tetapi bisa dipastikan, kebutuhan orang juga majemuk...

Sedikitnya,

KETIKA KAMU MENYATAKAN DIRIMU YANG BELUM DILIHAT & DIRASAKAN ORANG, PENGETAHUAN ORANG TENTANG DIRIMU BERTAMBAH.

Sekarang boleh dicoba ya, katakan ini kepada orang yang belum tahu kamu sayangi, "Aku sayang kamu!"

Tunggu jawaban ajaibnya. Mungkin tanpa disangka ia akan mengatakan kepadamu dengan harap-harap cemas, "Limun!"
Selengkapnya...

Senin, 04 Juni 2012

Tradisi Rebu Jaga Keharmonisan Keluarga

Ada begitu banyak berita perselingkuhan muncul setiap hari. Ada berita perselingkuhan dengan iparnya, mertuanya, bahkan perselingkuhan dengan besannya. Sepertinya tidak ada lagi etika yang dipegang. Kesetiaan kepada pasangan tinggal cerita dalam sejarah saja. Larangan dari agama pun terlupakan. Hanya karena nafsu syahwat belaka, perselingkuhan harus terjadi. Keharmonisan keluarga pun hancur.

Sebenarnya, ada begitu banyak norma di masyarakat yang bisa mencegah terjadinya perselingkuhan dalam lingkungan keluarga sedarah atau keluarga akibat terjadinya perkawinan. Jauh sebelum agama berkembang, masyarakat Indonesia sudah menjunjung tinggi adat istiadat di daerah masing-masing. Nenek moyang mereka membuat norma-norma yang merupakan bagian dari adat-istiadat untuk mengatur tatanan hidup bermasyarakat.

Lewat adat ini, masyarakatnya diatur agar tertib, punya tenggang rasa kepada sesama, saling berhormati, berbudaya, bermoral, memiliki tata krama, menjauhi perbuatan-perbuatan kotor yang bisa merusak semuanya, dan sejumlah tujuan mulia lainnya.

Adat-istiadat ini lahir dari kondisi sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika mereka belum mengenal agama, para orang tua yang hidup pada jaman dahulu sebenarnya sudah paham bagaimana mengatur hidup ini agar harmonis dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

Orang suku Karo yang berasal dari Sumatera Utara memiliki sebuah tata krama yang ampuh untuk mencegah terjadinya perselingkuhan yang bisa terjadi dalam keluarga. Mereka menyebutnya dengan istilah rebu. Pelaksanaan rebu ini tidak sebatas larangan berbicara dengan orang yang di-rebu-kan. Mereka juga pantang bersentuhan anggota badan, duduk berhadap-hadapan, hingga duduk dalam satu kursi atau tikar, atau bahkan saling berpandangan mata.

Tata krama rebu sudah ada sejak dulu dan masih berlaku hingga sekarang, walau akhir-akhir ini mulai luntur tergilas oleh jaman yang kian modern. Rebu adalah bagian dari adat yang lahir dari kebudayaan orang Karo. Perselingkuhan hanyalah satu contoh perbuatan yang dapat dicegah dengan adanya sistem rebu pada masyarakat Karo. Jauh daripada sekadar persoalan perselingkuhan, rebu memiliki fungsi yang sangat mulia.

Lewat rebu ini, betapa masyarakat Karo benar-benar menghargai setiap hubungan kekerabatan yang melibatkan dirinya. Orang yang memiliki hubungan rebu akan selalu menjaga sikap terhadap orang lain yang memiliki ikatan rebu dengannya. Seseorang akan dicap berbuat aib besar jika melakukan sesuatu yang tidak benar di depan orang yang punya ikatan rebu dengannya.

Yang lebih parah lagi, harga diri seorang juga akan sangat rendah di mata orang lain tatkala ia melakukan perbuatan tidak sopan, melanggar asusila, bahkan terjadi hubungan perselingkuhan, dengan orang yang rebu dengannya. Sebab, ketika ia rebu dengan seseorang, sejumlah pantangan sudah menempel kepadanya. Mulai dari pantangan berbicara langsung, duduk berdekatan, duduk berhadap-hadapan, berpandangan mata, bersentuhan, apalagi duduk berdua di dalam satu ruangan tanpa ada orang lain.

Golongan yang harus rebu adalah mertua perempuan (mami) dengan menantu laki-laki (kela), mertua laki-laki (bengkila) dengan menantu perempuan (permen), orang tua perempuan dengan mertua laki-laki, orang tua lak-laki dengan mertua perempuan, dan antara saudara ipar dengan ipar (turangku). Yang disebut dengan turangku bisa dua pengertian. Bila ia adalah seorang laki-laki, maka turangku-nya adalah istri dari saudara kandung laki-laki istrinya. Bila ia seorang perempuan, maka turangku-nya adalah suami dari saudara perempuan suaminya.

Semua kekerabatan yang terkena norma rebu tersebut memang rawan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak hanya perbuatan asusila, namun juga rawan terjadi konflik, perselisihan, ketidakharmonisan, dan sikap tidak saling menghargai. Oleh karena itu, rebu menjadi pelindung bagi mereka agar tetap menjaga keharmonisan kekeluargaan. Menjadi wasit ketika muncul pikiran-pikiran yang tidak bersih.

Sejumlah penelitian mencoba merekonstruksi bagaimana awalnya nenek moyang suku Karo melahirkan sistem rebu. Dari berbagai ulasan yang ada, alasan yang paling masuk akal adalah dengan melihat bagaimana orang Karo dulunya tinggal.

Ketika orang Karo belum tinggal di rumah-rumah seperti yang ada sekarang ini, mereka hidup bersama di dalam rumah adat. Dalam satu rumah adat, bisa ditempati oleh banyak keluarga, tergantung luasnya. Ada yang ditempati empat, enam, atau bahkan delapan keluarga. Mulai dari orang tua, anak-anak beserta cucu-cucunya, besan dan anak-anaknya yang lain, saudara kandung dan anak-anaknya, atau yang lainnya. Semuanya hidup dalam atap yang sama, tanpa ada sekat-sekat yang memisahkan antarrumah.

Hidup dengan pola seperti ini tentu sangat berbahaya tanpa ada tata krama, aturan, norma, atau adat yang harus dijunjung tinggi oleh semuanya. Lewat rebu, maka masyarakat Karo sudah membangun sebuah benteng diri agar rasa hormat-menghormati tetap ada. Rebu menjadi sebuah cara agar orang mampu mengkontrol perbuatannya. Rebu melahirkan rasa enggan (mehangke). Dari rasa enggan ini, maka akan muncul rasa hormat. Terakhir, hormat akan melahirkan sopan santun.







Tata krama rebu berlaku kapanpun dan dimanapun, bahkan dalam kondisi darurat sekalipun. Ketika berpapasan dengan orang yang rebu dengannya, mereka tidak boleh saling menegur, saling menatap, apalagi saling bersalaman. Ketika ada seseorang hendak berkunjung ke satu rumah dan melihat hanya ada orang yang harus ia rebu-kan di dalam rumah, maka ia harus memilih untuk tidak masuk ke dalam rumah.

Bila memang terpaksa harus berkomunikasi dengan orang yang rebu dengannya, maka ia harus mencari perantara dalam berkomunikasi. Biasanya, pesan akan disampaikan melalui orang lain. Karena sudah saling mengerti kalau ada tata krama rebu, biasanya orang yang menjadi perantara itu, langsung paham tanpa perlu memperpanjang pertanyaan mengapa ia harus menjadi perantara.

Kadang-kadang situasi rebu ini memang cukup merepotkan. Apalagi, ternyata tidak ada orang yang bisa dijadikan perantara untuk berbicara. Biasanya, ada saja akal-akalan yang dipakai. Yang penting, komunikasi harus dilakukan akibat informasi yang ingin disampaikan tidak dapat ditunda lagi. Jalan satu-satunya adalah mensiasatinya lewat mencari perantara, apapun bentuknya, termasuk benda mati sekalipun. Yang penting, jangan bicara langsung.
Kalau di sana ada seorang bayi, maka ia menyampaikan pesan kepada bayi tersebut dan meminta untuk diteruskan kepada ibunya. Si bayi tentu tidak bisa meneruskan pesan itu. Namun, karena sang ibu sudah mendengar perkataan orang tersebut, maka ia pun menjawabnya lewat perantara bayi.

Bagi sebagian orang mungkin kondisi tersebut menjadi aneh. Namun, inilah adat yang harus tetap dijalankan. Sebab, tujuannya sangat mulia, untuk menjaga moral, rasa hormat dan sopan-santun. Sebab, bila tata krama rebu ini dilanggar, maka yang bersangkutan akan kena sanksi moral dari lingkungan. Ia akan dicap sebagai orang yang tidak punya sopan santun.

Seiring perjalanan waktu, rebu semakin kehilangan makna. Banyak orang Karo yang mulai meninggalkan tata krama ini dalam kehidupan mereka, terutama yang tinggal di luar Tanah Karo. Tidak ada lagi rasa sungkan antara orang-orang yang seharusnya pantang berinteraksi. Antara menantu laki-laki dengan mertua perempuan sudah berani bercakap-cakap, antara menantu perempuan dan mertua laki-laki sudah berani duduk dalam satu tikar atau kursi. Antara seorang istri dengan suami dari saudara perempuan suaminya sudah berani bersenda gurau. Bahkan, antara seorang suami dengan istri dari saudara laki-laki istrinya, sudah berani bersalaman dan duduk berhadap-hadapan.

Banyak faktor yang menyebabkan lunturnya keberadaan rebu di masyarakat Karo. Misalkan saja, kurangnya pemahaman generasi muda Karo terhadap istilah dan adat kekerabatan, kurangnya sosialisasi, melemahnya rasa menghargai dan rasa bangga terhadap nilai-nilai budaya sebagai identitas diri, dan kurangnya tanggung jawab generasi tua untuk membimbing generasi muda. Kalau orang tua saja sudah tidak menerapkan rebu dalam keluarga, tentu anak-anak mereka akan mengikutinya.

Kondisi yang demikian semakin diperparah oleh faktor lain, seperti faktor lingkungan, perkembangan teknologi informasi, tingginya tingkat alkulturasi atau pencampuran kebudayaan, hingga tingginya tingkat perkawinan campur antaretnik.

Alasan susah untuk berkomunikasi dan juga rebu dianggap sebagai sebuah adat yang usang dan kuno, membuat keberadaannya semakin tidak dianggap. Rebu memang sebuah aturan adat yang tidak tertulis. Karena itu, boleh saja masing-masing pihak menentukan pilihannya.

Namun, satu hal yang patut kita renungkan dalam-dalam adalah, bahwa rebu dibuat nenek moyang orang Karo bukan tanpa tujuan. Adalah sangat risih jika melihat seorang laki-laki bergaul akrab dengan mertua perempuannya ataupun seorang suami yang bercanda-canda dengan istri dari saudara laki-laki istri. Sebab, dari sinilah cikal-bakal perbuatan terlarang bisa lahir. Salah satunya adalah perselingkuhan. Perbuatan yang merusak kesetiaan kepada pasangan, menghancurkan keharmonisan, dan menjauhkan hidup dari bahagia.

Catatan:
Tulisan saya ini sudah dimuat di rubrik Khazanah harian Media Indonesia edisi Sabtu, 2 Juni 2012.
Sumber foto: dari sini
Selengkapnya...