Jumat, 08 Juni 2012

Peri Farouk Membuka Mata

"Terima kasih kamu sudah memperdulikan keluh kesah & curahan hatiku, serta menghiburku dengan kata-kata manis & menguatkan...

Terima kasih kamu sudah menemaniku semalaman hangout di cafe-cafe...

Terima kasih selalu ingat hari ulang tahunku & mengirim kartu ucapan indah yang sengaja kamu pilih sendiri...

Terima kasih sekali-kali telah membayarkan keperluan & tagihanku...

Terima kasih sudah menjadikan aku orang pertama yang kamu kabarkan apapun keadaanmu...

Terima kasih telah memberikan waktu yang lapang untuk semua urusan yang aku mintakan kamu hadir bersamaku, mengalahkan waktu siapapun...

Terima kasih telah memberikan pandangan mesra & tampak selalu kangen atas kehadiranku...

Terima kasih telah menjawab pesan-pesanku langsung dari SMS, Facebook, Twitter, BBM, bahkan dengan sembunyi-sembunyi...

Terima kasih telah berani berbohong kepada orang-orang yang tulus menyayangimu demi aku...

Dan terima kasih, banyak-banyak terima kasih, kamu telah menjadi kekasih gelapku!"

Bayangkan, sahabat, bagaimana jika ada seseorang lain yang mengucapkan kalimat-kalimat di atas kepada belahan jiwamu?

Menyakitkan bukan?

Maka,

Jadilah belahan jiwa yang setia...

JANGAN LAKUKAN SESUATU YANG MENURUTMU SENDIRI AKAN MENYAKITKAN JIKA ITU DILAKUKAN ORANG TERHADAP DIRIMU SENDIRI.

Selalu ingat,

Karma membalas atas namanya sendiri. Karma tidak memerlukan tindakanmu diketahui oleh orang yang kamu sakiti, dan tidak memerlukan niat dendam dan kutukan.

Otomatis! Tidak memerlukan tanda asterisk, tidak memerlukan 'syarat & ketentuan' lain berlaku...

KARMA MELAKUKAN KEPADAMU APAPUN YANG KAMU LAKUKAN KEPADA ORANG LAIN.

Hati saya bergetar ketika membaca tulisan di atas. Saya merasa, situasi yang sama sering menghampiri. Walau hanya butuh waktu semenit atau bahkan beberapa detik saja, saya lupa menyapa belahan jiwa di rumah. Lupa bertanya apakah ia sudah makan atau belum, seperti masa-masa pacaran dulu. Lupa mengirimkan SMS ketika saya harus terlambat sampai di rumah. Lupa mengirimkan emoticon gambar hati merah lewat Blackberry Messenger. Lupa mengucapkan ‘aku cinta kamu’, seperti yang selalu terucap setiap kali meneleponnya pada beberapa tahun lalu. Lupa, lupa, lupa. Lupa atau malas. Entah lah.

Kalimat-kalimat tersebut membuat saya berpikir. Timbul rasa takut pada diri saya. Saya tidak mau apa yang tertulis, terjadi pada diri saya. Sebuah afirmasi terucap dalam hati. Sifat alpa, kemalasan, menganggap enteng, atau apapun namanya, harus mulai saya kikis. Saya bersyukur, kalimat-kalimat di atas sudah menjadi klakson yang menyadarkan saya. Bunyinya begitu nyaring, dan membuat saya langsung tersadar.

Orang yang ‘membunyikan klekson’ tentang belahan jiwa tersebut adalah Peri Farouk. Ia mengirimkannya kepada saya melalui Blackberry Messenger (BBM). Nyaris setiap hari saya mendapatkan broadcast dari Peri Farouk. Terkadang, ada lebih dari satu broadcast dalam sehari. ‘Peri Farouk Membuka Mata’, begitulah kalimat pembuka nya. Saya selalu membacanya hingga tuntas. Kadang-kadang saya membaca berulang-ulang untuk lebih memahami ‘pesan’ yang ada di dalam kalimat-kalimatnya.

Kini, kumpulan kalimat-kalimat indah yang menggugah tersebut telah menjadi sebuah buku. Judulnya cukup panjang, ‘Peri Farouk Membuka Mata, 288 Percikan Motivasi & Renungan Inspiratif’. Entah mengapa jumlahnya hanya 288 yang terasa cukup ganjil. Barangkali hanya sebuah strategi saja.



Saya sangat menikmati setiap renungan yang terlukis di dalam buku ini. Apalagi, cukup banyak renungan yang belum pernah saya terima lewat BBM. Bahkan, yang sudah pernah saya baca pun kembali menarik perhatian untuk dibaca lagi, berulang-ulang sambil meresapi maknanya dalam-dalam.

Membaca renungan di dalam buku ini seperti ‘klekson’ yang berbunyi nyaring di hati dan pikiran saya. Semuanya sepertinya pas dengan pengalaman hidup saya. Saya kembali teringat dengan perjalanan hidup yang pernah saya tapaki. Kadang-kadang, saya tersenyum membacanya, seakan menjadi tanda kalau apa yang Peri Farouk tulis memang benar adanya.

“Pada saat langit tidak selalu biru, hidup tidak selalu indah, terkadang kita pun ikut runtuh. Melalui Membuka Mata kita akan menjadi bijak dalam mengambil manfaat dari kegagalan sekaligus berani memperbaiki kesalahan. Setelah membaca buku ini, kita bisa mengeluarkan ‘bintang’ di dalam diri kita, yang memang memerlukan langit yang gelap untuk bersinar,’’ kata Shahnaz Haque tentang buku ini.

Dalam sebuah percakapan di BBM, saya sempat bertanya kepada sahabat dan juga mentor saya ini, bagaimana ia bisa menulis begitu banyak kata-kata renungan dalam ‘Peri Farouk Membuka Mata’. Sebagai orang yang juga hobi menulis, saya ingin tahu apa resep ia ia pakai sehingga sangat produktif dalam menulis dan hasilnya pun sangat bermakna.

Ia memang berbagi rahasia kepada saya. Namun, di dalam buku ini saya akhirnya menemukan jawaban yang lebih terbuka lagi. Peri mengaku, renungan-renungan tercipta ketika ia berada dalam kondisi sangat tidak termuliakan. Karena itu, ketika membaca setiap renungan buah karyanya di dalam buku ini, saya pun membayangkan kira-kira bagaimana kondisi seorang Peri Farouk ketika menulis renungan tersebut.

Percikan renungan yang dibuat oleh Peri memang telah membuka mata saya tentang hidup ini. Tiba-tiba saja, gelora yang ada di dalam tubuh seakan mendidih. Saya seperti melihat banyak kesempatan baru di sekeliling yang sebelumnya tertutup rapat, entah oleh apa. Saya menjadi tahu bahwa saya masih bisa lebih baik, hanya dengan mengubah pikiran saya dan berani bermimpi. “Kalau kau menginginkan sesuatu yang belum pernah kau miliki, kau harus melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan,” tulisa Peri Farouk dalam salah satu percikan ‘Membuka Mata’-nya.

Selesai makan nasi padang...

"Mbak ada pisang nggak ya?" tanya saya.

"Nggak ada!" jawab si mbak pelayan, lalu sambil menunjuk deretan minuman ringan ia melanjutkan, "Ada juga limun!"

"Limun? Saya tanya pisang, jawabnya limun!"

"Iya, banyak orang nanya yang nggak ada, saya tunjukkin saja yang ada," tanggap si mbak tanpa rasa bersalah, "Dan banyak orang jadinya membeli apa yang ada di sini!"

Ilmu baru, sahabat, ilmu baru...

KETIKA ORANG MEMBUTUHKAN SESUATU YANG BELUM ATAU TIDAK ADA DALAM DIRIMU, TIDAK ADA SALAHNYA MENGABARKAN YANG TELAH KAMU BISA ATAU KAMU MILIKI. SIAPA TAHU IA BELUM MENGATAKAN KEBUTUHANNYA YANG LAIN, YANG KEBETULAN ADA DALAM DIRIMU.

Yang kamu kuasai mungkin terbatas, tetapi bisa dipastikan, kebutuhan orang juga majemuk...

Sedikitnya,

KETIKA KAMU MENYATAKAN DIRIMU YANG BELUM DILIHAT & DIRASAKAN ORANG, PENGETAHUAN ORANG TENTANG DIRIMU BERTAMBAH.

Sekarang boleh dicoba ya, katakan ini kepada orang yang belum tahu kamu sayangi, "Aku sayang kamu!"

Tunggu jawaban ajaibnya. Mungkin tanpa disangka ia akan mengatakan kepadamu dengan harap-harap cemas, "Limun!"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar