Senin, 04 Juni 2012

Tradisi Rebu Jaga Keharmonisan Keluarga

Ada begitu banyak berita perselingkuhan muncul setiap hari. Ada berita perselingkuhan dengan iparnya, mertuanya, bahkan perselingkuhan dengan besannya. Sepertinya tidak ada lagi etika yang dipegang. Kesetiaan kepada pasangan tinggal cerita dalam sejarah saja. Larangan dari agama pun terlupakan. Hanya karena nafsu syahwat belaka, perselingkuhan harus terjadi. Keharmonisan keluarga pun hancur.

Sebenarnya, ada begitu banyak norma di masyarakat yang bisa mencegah terjadinya perselingkuhan dalam lingkungan keluarga sedarah atau keluarga akibat terjadinya perkawinan. Jauh sebelum agama berkembang, masyarakat Indonesia sudah menjunjung tinggi adat istiadat di daerah masing-masing. Nenek moyang mereka membuat norma-norma yang merupakan bagian dari adat-istiadat untuk mengatur tatanan hidup bermasyarakat.

Lewat adat ini, masyarakatnya diatur agar tertib, punya tenggang rasa kepada sesama, saling berhormati, berbudaya, bermoral, memiliki tata krama, menjauhi perbuatan-perbuatan kotor yang bisa merusak semuanya, dan sejumlah tujuan mulia lainnya.

Adat-istiadat ini lahir dari kondisi sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika mereka belum mengenal agama, para orang tua yang hidup pada jaman dahulu sebenarnya sudah paham bagaimana mengatur hidup ini agar harmonis dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

Orang suku Karo yang berasal dari Sumatera Utara memiliki sebuah tata krama yang ampuh untuk mencegah terjadinya perselingkuhan yang bisa terjadi dalam keluarga. Mereka menyebutnya dengan istilah rebu. Pelaksanaan rebu ini tidak sebatas larangan berbicara dengan orang yang di-rebu-kan. Mereka juga pantang bersentuhan anggota badan, duduk berhadap-hadapan, hingga duduk dalam satu kursi atau tikar, atau bahkan saling berpandangan mata.

Tata krama rebu sudah ada sejak dulu dan masih berlaku hingga sekarang, walau akhir-akhir ini mulai luntur tergilas oleh jaman yang kian modern. Rebu adalah bagian dari adat yang lahir dari kebudayaan orang Karo. Perselingkuhan hanyalah satu contoh perbuatan yang dapat dicegah dengan adanya sistem rebu pada masyarakat Karo. Jauh daripada sekadar persoalan perselingkuhan, rebu memiliki fungsi yang sangat mulia.

Lewat rebu ini, betapa masyarakat Karo benar-benar menghargai setiap hubungan kekerabatan yang melibatkan dirinya. Orang yang memiliki hubungan rebu akan selalu menjaga sikap terhadap orang lain yang memiliki ikatan rebu dengannya. Seseorang akan dicap berbuat aib besar jika melakukan sesuatu yang tidak benar di depan orang yang punya ikatan rebu dengannya.

Yang lebih parah lagi, harga diri seorang juga akan sangat rendah di mata orang lain tatkala ia melakukan perbuatan tidak sopan, melanggar asusila, bahkan terjadi hubungan perselingkuhan, dengan orang yang rebu dengannya. Sebab, ketika ia rebu dengan seseorang, sejumlah pantangan sudah menempel kepadanya. Mulai dari pantangan berbicara langsung, duduk berdekatan, duduk berhadap-hadapan, berpandangan mata, bersentuhan, apalagi duduk berdua di dalam satu ruangan tanpa ada orang lain.

Golongan yang harus rebu adalah mertua perempuan (mami) dengan menantu laki-laki (kela), mertua laki-laki (bengkila) dengan menantu perempuan (permen), orang tua perempuan dengan mertua laki-laki, orang tua lak-laki dengan mertua perempuan, dan antara saudara ipar dengan ipar (turangku). Yang disebut dengan turangku bisa dua pengertian. Bila ia adalah seorang laki-laki, maka turangku-nya adalah istri dari saudara kandung laki-laki istrinya. Bila ia seorang perempuan, maka turangku-nya adalah suami dari saudara perempuan suaminya.

Semua kekerabatan yang terkena norma rebu tersebut memang rawan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak hanya perbuatan asusila, namun juga rawan terjadi konflik, perselisihan, ketidakharmonisan, dan sikap tidak saling menghargai. Oleh karena itu, rebu menjadi pelindung bagi mereka agar tetap menjaga keharmonisan kekeluargaan. Menjadi wasit ketika muncul pikiran-pikiran yang tidak bersih.

Sejumlah penelitian mencoba merekonstruksi bagaimana awalnya nenek moyang suku Karo melahirkan sistem rebu. Dari berbagai ulasan yang ada, alasan yang paling masuk akal adalah dengan melihat bagaimana orang Karo dulunya tinggal.

Ketika orang Karo belum tinggal di rumah-rumah seperti yang ada sekarang ini, mereka hidup bersama di dalam rumah adat. Dalam satu rumah adat, bisa ditempati oleh banyak keluarga, tergantung luasnya. Ada yang ditempati empat, enam, atau bahkan delapan keluarga. Mulai dari orang tua, anak-anak beserta cucu-cucunya, besan dan anak-anaknya yang lain, saudara kandung dan anak-anaknya, atau yang lainnya. Semuanya hidup dalam atap yang sama, tanpa ada sekat-sekat yang memisahkan antarrumah.

Hidup dengan pola seperti ini tentu sangat berbahaya tanpa ada tata krama, aturan, norma, atau adat yang harus dijunjung tinggi oleh semuanya. Lewat rebu, maka masyarakat Karo sudah membangun sebuah benteng diri agar rasa hormat-menghormati tetap ada. Rebu menjadi sebuah cara agar orang mampu mengkontrol perbuatannya. Rebu melahirkan rasa enggan (mehangke). Dari rasa enggan ini, maka akan muncul rasa hormat. Terakhir, hormat akan melahirkan sopan santun.







Tata krama rebu berlaku kapanpun dan dimanapun, bahkan dalam kondisi darurat sekalipun. Ketika berpapasan dengan orang yang rebu dengannya, mereka tidak boleh saling menegur, saling menatap, apalagi saling bersalaman. Ketika ada seseorang hendak berkunjung ke satu rumah dan melihat hanya ada orang yang harus ia rebu-kan di dalam rumah, maka ia harus memilih untuk tidak masuk ke dalam rumah.

Bila memang terpaksa harus berkomunikasi dengan orang yang rebu dengannya, maka ia harus mencari perantara dalam berkomunikasi. Biasanya, pesan akan disampaikan melalui orang lain. Karena sudah saling mengerti kalau ada tata krama rebu, biasanya orang yang menjadi perantara itu, langsung paham tanpa perlu memperpanjang pertanyaan mengapa ia harus menjadi perantara.

Kadang-kadang situasi rebu ini memang cukup merepotkan. Apalagi, ternyata tidak ada orang yang bisa dijadikan perantara untuk berbicara. Biasanya, ada saja akal-akalan yang dipakai. Yang penting, komunikasi harus dilakukan akibat informasi yang ingin disampaikan tidak dapat ditunda lagi. Jalan satu-satunya adalah mensiasatinya lewat mencari perantara, apapun bentuknya, termasuk benda mati sekalipun. Yang penting, jangan bicara langsung.
Kalau di sana ada seorang bayi, maka ia menyampaikan pesan kepada bayi tersebut dan meminta untuk diteruskan kepada ibunya. Si bayi tentu tidak bisa meneruskan pesan itu. Namun, karena sang ibu sudah mendengar perkataan orang tersebut, maka ia pun menjawabnya lewat perantara bayi.

Bagi sebagian orang mungkin kondisi tersebut menjadi aneh. Namun, inilah adat yang harus tetap dijalankan. Sebab, tujuannya sangat mulia, untuk menjaga moral, rasa hormat dan sopan-santun. Sebab, bila tata krama rebu ini dilanggar, maka yang bersangkutan akan kena sanksi moral dari lingkungan. Ia akan dicap sebagai orang yang tidak punya sopan santun.

Seiring perjalanan waktu, rebu semakin kehilangan makna. Banyak orang Karo yang mulai meninggalkan tata krama ini dalam kehidupan mereka, terutama yang tinggal di luar Tanah Karo. Tidak ada lagi rasa sungkan antara orang-orang yang seharusnya pantang berinteraksi. Antara menantu laki-laki dengan mertua perempuan sudah berani bercakap-cakap, antara menantu perempuan dan mertua laki-laki sudah berani duduk dalam satu tikar atau kursi. Antara seorang istri dengan suami dari saudara perempuan suaminya sudah berani bersenda gurau. Bahkan, antara seorang suami dengan istri dari saudara laki-laki istrinya, sudah berani bersalaman dan duduk berhadap-hadapan.

Banyak faktor yang menyebabkan lunturnya keberadaan rebu di masyarakat Karo. Misalkan saja, kurangnya pemahaman generasi muda Karo terhadap istilah dan adat kekerabatan, kurangnya sosialisasi, melemahnya rasa menghargai dan rasa bangga terhadap nilai-nilai budaya sebagai identitas diri, dan kurangnya tanggung jawab generasi tua untuk membimbing generasi muda. Kalau orang tua saja sudah tidak menerapkan rebu dalam keluarga, tentu anak-anak mereka akan mengikutinya.

Kondisi yang demikian semakin diperparah oleh faktor lain, seperti faktor lingkungan, perkembangan teknologi informasi, tingginya tingkat alkulturasi atau pencampuran kebudayaan, hingga tingginya tingkat perkawinan campur antaretnik.

Alasan susah untuk berkomunikasi dan juga rebu dianggap sebagai sebuah adat yang usang dan kuno, membuat keberadaannya semakin tidak dianggap. Rebu memang sebuah aturan adat yang tidak tertulis. Karena itu, boleh saja masing-masing pihak menentukan pilihannya.

Namun, satu hal yang patut kita renungkan dalam-dalam adalah, bahwa rebu dibuat nenek moyang orang Karo bukan tanpa tujuan. Adalah sangat risih jika melihat seorang laki-laki bergaul akrab dengan mertua perempuannya ataupun seorang suami yang bercanda-canda dengan istri dari saudara laki-laki istri. Sebab, dari sinilah cikal-bakal perbuatan terlarang bisa lahir. Salah satunya adalah perselingkuhan. Perbuatan yang merusak kesetiaan kepada pasangan, menghancurkan keharmonisan, dan menjauhkan hidup dari bahagia.

Catatan:
Tulisan saya ini sudah dimuat di rubrik Khazanah harian Media Indonesia edisi Sabtu, 2 Juni 2012.
Sumber foto: dari sini

4 komentar:

  1. hehehe pas kang katandu ena :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bujur melala. jadi kam sepakat adi tata krama REBU harus ipertahankan ibas budaya kalak karo? :-)

      Hapus
  2. artikel menarik! seru kali ya.. jika ada yang bisa eksplor juga soal ini dr daerah lainnya, bang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada banyak cerita-cerita lucu dalam pelaksanaan rebu ini. saya pikir, di daerah lain pasti ada adat yang serupa. Terima kasih atas kunjungannya. Salam....

      Hapus