Senin, 30 Juli 2012

Pulau Tersembunyi Dari Pinggir Pasifik

Miangas dan Marore adalah dua pulau kecil di ujung paling atas Sulawesi Utara. Letaknya lebih dekat ke Filipina daripada daratan lain Indonesia. Butuh waktu berhari-hari berlayar ke sana. Inilah dua pulau di ujung Indonesia yang seharusnya menjadi sasaran para petualang. Jangan mengaku sebagai backpacker sejati bila belum pernah melancong ke pulau di pinggir Samudera Pasifik tersebut.

Sabang dan Merauke sudah sejak lama dikenal sebagai ujung Barat dan Timur dari Indonesia. Kedua tempat itu begitu terkenal karena menjadi tema sebuah lagu bertemakan nasionalisme yang rutin dinyanyikan di sekolah-sekolah dan setiap peringatan hari kemerdekaan.

Entah mengapa, R Suharjo, sang pencipta lagu ‘Dari Sabang Sampai Merauke’, tidak memasukkan ujung Indonesia di sebelah Selatan dan Utara dalam lirik lagu tersebut. Padahal, ada Rote di ujung Selatan dan Miangas di ujung Utara. Rote dan Miangas tidak kalah bagus dengan Sabang maupun Merauke. Apalagi Miangas, sebuah pulau kecil di menjadi pintu gerbang Nusantara paling utara.

Bagi para pecinta petualangan, Pulau Miangas adalah secuil tanah yang sangat menantang untuk didatangi. Dari hari ke hari, semakin banyak orang yang memasukkan Miangas sebagai sebuah spot yang wajib mereka kunjungi.

Lokasi Miangas memang jauh dari mana-mana. Namun begitu tiba di pulau yang luasnya tidak sampai lima kilometer persegi ini, segala rasa lelah akan hilang tanpa bekas. Sejuta pesona dipancarkan pulau ini kepada setiap pelancong yang datang. Tidak salah kalau ada yang menyebutkan Miangas harus menjadi target yang wajib didatangi oleh para pecinta traveling petualangan dan juga para backpacker sejati.



Miangas menawarkan sejuta pengalaman yang sulit diperoleh di tempat lain. Kalau perjalanan ke Miangas saja sudah dianggap memberikan sensasi yang jarang didapat, maka sensasi tersebut akan semakin berlipat-lipat saat kaki mulai menginjak pulau ini.

Penggila traveling bisa menikmati panorama pulau yang letaknya berada di tengah lautan nan luas. Kemanapun memandang, hanya laut yang ada di depan mata. Tidak ada pulau lain yang terlihat. Kapal-kapal juga jarang melintas. Berada di Miangas seperti seorang Tom Hanks yang terdampar sebuah pulau entah berantah dalam film Cast Away.

Lautnya begitu biru, sebiru langit yang menaungi Miangas. Pantainya begitu jernih dan bersih dengan pasir putih yang menghampar luas. Tidak hanya itu, sunrise dan sunset hadir begitu sempurna di ujung laut, seakan memperlihatkan Miangas hanya sebuah benda kecil di tengah mangkok besar. Penduduk Miangas yang tidak seberapa jumlahnya itu, juga sangat ramah dan terbuka kepada setiap pendatang. Lengkap sudah kesempurnaan yang ditawarkan Miangas, sebuah pulau yang cukup lama keberadaannya seperti terlupakan.

Secara administratif, Pulau Miangas masuk dalam wilayah Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Miangas hanya salah satu pulau dari ratusan pulau yang berserakan di sebelah utara provinsi yang beribu kota di Manado tersebut. Namun, letak pulau yang pernah diklaim Filipina ini, berada paling jauh dari Manado dibandingkan pulau-pulau lainnya.

Para pecinta petualangan akan merasakan sensasi tersendiri untuk sampai di Miangas. Tidak ada kapal yang punya jadwal tetap ke sana. Dari pelabuhan Bitung di Manado, terlebih dahulu harus menumpang kapal yang berlayar ke Melonguane, ibukota Kabupaten Talaud yang berada di Pulau Karakelang. Perjalanan memakan waktu sekitar 18 jam.

Sesampainya di Melonguane, pantau jadwal kapal perintis yang bakal melewati Miangas. Tidak setiap hari ada kapal, karena biasanya sejumlah kapal perintis yang melayani pulau-pulau kecil di Kepulauan Sangihe-Talaud, hanya singgah di Miangas sekali dalam dua minggu. Itu juga tergantung musim angin dan kondisi ombak.

Karena kapal akan singgah di banyak pulau, maka butuh waktu sampai bermalam-malam untuk tiba di Miangas dari Melonguane. Kapal peristis juga tidak seperti kapal lain. Para penumpang dan seluruh barang yang mereka bawa, menyatu di geladak kapal. Bagi yang mementingkan kenyamanan, traveling ke Miangas tentu tidak disarankan. Namun, bagi penggila backpecker, inilah petualangan sesungguhnya.



Miangas semakin terkenal ketika pemerintah memasukkan pulau ini menjadi salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia. Bahkan, pulau yang dihuni sekitar 800 jiwa ini, menjadi salah satu dari 12 pulau terluar yang harus mendapatkan perhatian khusus. Selain Miangas, Pulau Marore dan Pulau Marampit adalah ada dua pulau lain di Sulawesi Utara yang juga masuk dalam kategori ini.

Perhatian khusus diberikan kepada Miangas karena letaknya yang sangat strategis dan rawan mengalami sengketa dengan negara lain. Bila Miangas lepas dari Indonesia seperti yang pernah terjadi dengan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, maka luas wilayah Indonesia akan berkurang sangat banyak. Pasalnya, Miangas menjadi salah satu penentu batas kedaulatan Nusantara di sebelah Utara.

Pulau Miangas berbentuk lonjong dan memanjang dari Selatan ke Utara. Laut Sulawesi berada di Barat Miangas, Pulau Mindanao milik Filipina di sebelah Utara, Pulau Sulawesi di sebelah Selatan, dan Samudera Pasifik di sebelah Timur. Sebagian besar daratan Miangas cukup landai dan menjadi tempat subur pohon kelapa, sagu, dan sejumlah pohon lain.

Sebuah bukit yang berada di sebelah Utara Pulau Miangas menjadi tempat yang tepat untuk mendapatkan pemandangan utuh seluruh Pulau Miangas dan hamparan laut lepas yang seakan tidak bertepi. Dari atas bukit yang juga menjadi tempat menara navigasi itu, Miangas terlihat seperti ditutupi oleh hutan pohon kelapa. Perkampungan penduduk hanya terlihat samar-samar di antara rimbunnya kelapa. Indah sekali untuk dipandangi. Bahkan, kalau udara sedang sangat cerah, daratan Filipina bisa terlihat samar-samar dari bukit ini.

Puas menatap pemandangan pulau dari atas bukit, maka petualangan berlanjut dengan menyusuri pinggiran pantai. Hanya butuh waktu sekitar empat jam untuk mengelilingi pulau yang berpasir putih dan air laut yang sangat jernih ini. Masyarakat setempat memiliki sejumlah nama untuk pantai-pantai yang mengelilingi Miangas. Ada pantai Racuna yang terletak dengan dermaga dan memiliki pasir putih yang halus. Ada pantai Merra, yang sering menjadi tempat wisata masyarakat baik pemuda maupun anak sekolah.

Masih banyak pantai-pantai lain di Miangas dengan keunikan dan keindahan yang berbeda-beda. Ada Pantai Kubbu yang menjadi lokasi banyak kuburan, Pantai Lawasa, Pantai Aba’a, Pantai Mariu, Pantai Liwua, Pantai Ropapa, Pantai Laru, Pantai Tanjung Wolo, Pantai Tanjung Ondene, Pantai Peret, Pantai Tanjung Wuidi Polli, Pantai Tanjung Langana, dan sejumlah pantai lainnnya. Pengunjung tinggal menikmati dan temukan sebuah surga dunia di pinggir Pasifik yang nyaris terlupakan oleh negerinya sendiri.


PULAU MARORE
Ada satu pulau kecil lain di Sulawesi Utara yang juga menanti kedatangan para petualang, backpacker, atau siapapun penyuka dunia traveling. Namanya Pulau Marore. Pulau yang tidak lebih luas dari Miangas ini, juga menjadi salah satu pulau terluar Indonesia yang menentukan batas kedaulatan Nusantara.

Letak Pulau Marore juga di pinggir Samudera Pasifik, dan bertetangga dengan Filipina, sama seperti Pulau Miangas. Kapal perintis yang singgah di Marore juga ada sama dengan yang kapal singgah di Miangas. Salah satu perbedaan keduanya adalah, Marore lebih dekat dari Manado dibandingkan Miangas yang berada jauh di utara Pulau Sulawesi.

Marore tidak kalah cantik dengan Miangas. Pulau yang dihuni sekitar 800 jiwa ini, menyuguhkan beragam pesona kepada siapapun yang datang . Pulau yang sebagian besar berbentuk bukit-bukit ini, bertepikan pantai dengan pasir putihnya. Batu karang ikut menghiasi pantai di beberapa sisinya. Ketika laut sedang pasang, batu –batu karang tadi tidak terlihat dan hanya menyisakan pasir putih yang terasa lembut pada kaki.

Air laut yang begitu jernih dan bersih, tidak henti-hentinya menyapu pantai. Kadang-kadang, ombak membawa serpihan batu karang ataupun cangkang kerang ke pinggir pantai. Dapat dipastikan, terumbu karang di sekitar Marore tumbuh subur dan menantang para pecinta diving untuk datang.

Salah satu spot yang paling tepat untuk menyaksikan betapa jernihnya air laut yang mengelilingi Pulau Marore adalah dari sekitar dermaga. Ketika laut cukup tenang, dasar laut masih terlihat jelas dari atas dermaga. Padahal, kedalaman laut sudah mencapai beberapa meter di sekitar dermaga, dan mampu disandari oleh kapal cukup besar.


Di dalam laut yang belum tercemar polusi perkotaan ini, ikan-ikan terlihat berenang kesana- kemari dan kadang-kadang mengitari tiang dermaga yang mulai ditumbuhi karang hingga ke dasarnya. Melihat jernihnya air laut ini, siapa saja pasti ingin langsung melompat dari atas dermaga, lalu berenang bersama ikan-ikan.

Saat pagi hari menyapa di Pulau Marore, matahari sangat indah terlihat malu-malu keluar dari persembunyian malamnya. Sedangkan pada sore hari, sang mentari sangat mempesona ketika akan tenggelam perlahan-lahan di ujung lautan sebelah barat . Lembayung tampak memenuhi langit, seakan memanggil siapa saja untuk menyaksikan keajaiban alam itu yang hanya sesaat saja muncul pada setiap senja.

Kalau tidak puas juga dengan beragam pesona tersebut, jangan lupa untuk duduk sejenak di pinggir pantai pada malam hari. Nikmatilah bintang-bintang di langit yang tampak begitu dekat, dan seperti buah jambu yang siap dipetik. Jiwa begitu tenang ketika mata menatap bintang yang bertaburan di langit dengan ditemani suara deburan ombak yang pecah ketika menghantam pantai. Indah dan sangat merindukan.

Puas menikmati keindahan pulau, jangan lupa untuk menikmati keramahan penduduk Marore. Mereka sangat terbuka dengan para pendatang. Walaupun tinggal di pulau terpencil dan mungkin terisolir dari saudara mereka dari daerah lain di Indonesia, namun penduduk Marore sebenarnya sudah biasa berinteraksi dengan warga asing. Sejak dulu mereka sudah berhubungan dengan masyarakat Filipina.

Menurut warga Marore, mereka hanya butuh empat jam pelayaran dengan kapal kecil untuk tiba di General Santos City, sebuah kota besar di Filipina bagian Selatan. Perjalanan Marore-Filipina lebih biasa bagi mereka daripada Marore- Bitung ataupun Marore-Tahuna, yang membutuhkan waktu puluhan jam untuk melayarinya. Bahkan, nyaris tidak ada kapal perintis yang berani berlayar ke Marore ketika musim ombak besar. Akibatnya, Marore semakin terkucil saja dari dunia luar.

Sejumlah barang kebutuhan penduduk Marore masih banyak yang dipasok dari Filipina hingga saat ini. Produk-produk dari negeri Ferdinand Marcos itu mudah didapat di sejumlah kios di Marore, seperti produk minuman ringan, makanan, hingga kosmetik. Selain dibeli langsung ke Filipina, barang-barang tersebut juga dipasok oleh para pedagang Filipina. Kapal-kapal Filipina berlayar ke Marore membawa kebutuhan sehari-hari dan pulang membawa kopra dan hasil bumi Marore lainnya.

Bukti dekatnya hubungan masyarakat Pulau Marore dan Pulau Miangas dengan Filipina adalah dengan keberadaan Border Crossing Station (BCS) di kedua pulau ini, yang fungsinya mirip seperti kantor kedutaan besar. Penduduk lokal harus melapor ke BCS bila mereka hendak bepergian ke Filipina, dan begitu juga sebaliknya. BCS juga bertugas untuk memeriksa barang-barang yang keluar-masuk Filipina dari kedua pulau kecil ini.

Interaksi masyarakat Marore dan Miangas dengan Filipina tidak bisa serta-merta diputus, apalagi mewajibkan mereka untuk memiliki paspor. Hubungan keduanya sudah terjalin begitu lama, jauh sebelum Indonesia mulai serius memperhatikan mereka. Hingga saat ini masih banyak warga Miangas dan Marore yang tinggal dan bekerja di Filipina. Bahkan, perkawinan antarkeduanya juga terjadi.

Petualangan ke Pulau Miangas dan Marore juga sangat akan memanjakan para penggila fotografi. Sejak berangkat dari Pelabuhan Bitung, pemandangan indah terus ada di depan mata yang tidak boleh dilewatkan oleh bidikan lensa kamera. Suasana di dalam kapal dengan segala kesibukannya dan juga pemandangan alam dengan langit cerahnya serta pulau-pulau kecil yang banyak dilewati, adalah dua obyek yang bakal menghiasi perjalanan sebelum tiba di Miangas atau Marore.

Kalau sudah berada kedua pulau ini, maka spot-spot menarik sudah menunggu para petualang sejati lengkap dengan kamera mereka. Bidikkan kamera kemanapun, maka sebuah gambar indah seketika akan terrekam begitu manis. Sebuah potret dari pulau di pinggiran Samudera Pasifik.


Cara ke Miangas dan Marore
Kedua pulau terluar Indonesia tersebut dapat dicapai dengan berlayar dari Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Kini, semakin banyak pesawat yang terbang ke Manado dari sejumlah kota di Indonesia termasuk beberapa negara tetangga. Bahkan, sejumlah maskapai nasional kini melayani penerbangan langsung Jakarta-Manado tanpa perlu transit di Makassar. Harga tiket sekali penerbangan mencapai Rp 700 ribu sampai Rp 2 juta, tergantung kapan Anda bepergian. Lama penerbangan sekitar tiga jam dengan perbedaan waktu dengan Jakarta adalah satu jam.

Dari Bandara Sam Ratulangi, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Bitung yang berjarak sekitar 32 km. Pilihan kendaraan bisa naik taksi resmi, taksi gelap, maupun angkutan umum. Banyak yang mengaku kecewa dengan pelayanan taksi di Bandara Sam Ratulangi. Karena itu, pastikan selalu berapa tarif yang harus Anda bayarkan sebelum berangkat. Lama perjalanan ke Pelabuhan Bitung dengan naik taksi sekitar satu jam dengan pemandangan perkampungan penduduk, perkebunan kelapa, dan gunung serta bukit-bukit.

Dari Pelabuhan Bitung, perjalanan dilanjutkan dengan kapal laut. Ada kapal yang rutin berangkat ke Melonguane, Ibu kota Kabupaten Talaud, atau ke Tahuna, Ibu kota Kabupaten Sangihe. Kapal Pelni juga ada yang singgah di sana. Dari Melonguane, cek kapal perintis yang mampir ke Miangas. Sedangkan kapal yang mampir di Pulau Marore, bisa dicek di Kota Tahuna. Tarif kapal perintis sangat terjangkau, tidak sampai Rp 100 ribu karena mendapatkan subsidi pemerintah. Pastikan sudah mengecek jadwal setiap kapal sebelum berangkat, karena jadwal kapal tidak selalu ada setiap hari.


Pilihan Tempat Menginap
Maaf, tidak ada pilihan. Tidak ada hotel atau penginapan di Miangas atau Marore. Pilihan menginap hanya ada di rumah-rumah penduduk atau di kantor-kantor instansi pemerintah. Karena itu, lebih baik sudah memastikan akan menginap dimana sebelum berangkat dengan cara menjalin komunikasi dengan teman, saudara, atau siapapun yang berada di Miangas atau Marore.

Kalau sebelumnya belum ada pemberitahuan akan berkunjung ke kedua pulau itu, sebaiknya segera melapor ke perangkat pemerintah atau kantor kepolisian begitu tiba di sana. Utarakan maksud kunjungan dan minta tolonglah kepada mereka untuk mencarikan tempat tinggal selama berada di sana.

Sebagian besar rumah penduduk di Miangas dan Marore sudah berlantai dan berdinding semen. Cukup nyaman sebagai tempat tinggal dalam beberapa hari. Tinggal bersama warga juga memberikan lebih banyak pengalaman, karena akan mendapatkan banyak cerita dari mereka.


Catatan Lain Miangas dan Marore
Perhatikan kapan waktu yang baik untuk berpetualang ke Miangas dan Marore. Pada bulan-bulan tertentu nyaris tidak ada kapal ke sana karena ombak sedang tinggi.

Kumpulkan informasi mengenai Pulau Miangas dan Marore sebanyak-banyaknya sebelum berangkat, agar petualangan bisa terencana dengan baik dan memberikan pengalaman indah yang tidak terlupakan.

Bawa makanan dan vitamin yang cukup karena perjalanan akan cukup melelahkan. Warung maupun toko kecil memang tersedia, namun pilihan makanan tidak terlalu banyak. Pecinta makanan laut pasti terpuaskan oleh ikan-ikan segar yang banyak di Pulau Miangas dan Marore.

Pelajari kearifan lokal yang masih dijalankan oleh penduduk Miangas dan Marore. Mereka masih memegang teguh adat-istiadat, dan ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di kedua pulau terluar Indonesia itu.

Listrik masih diupayakan bisa beroperasi 24 jam di Miangas dan Marore. Sebaiknya bawa perlengkapan yang membutuhkan listrik dalam jumlah cukup atau yang tahan lama. Apalagi bila harus membeli, seperti baterai sekali pakai.

Sebuah operator telepon seluler sudah membuka layanan di Miangas dan Marore dengan jumlah sambungan yang sangat terbatas. Nyaris hanya bisa untuk mengirim SMS, kecuali pandai memilih waktu pas untuk menelepon dan juga faktor keberuntungan. Sinyal juga hanya ada di beberapa tempat tertentu.

Catatan: Tulisan ini saya buat untuk Majalah Travel Fotografi edisi III yang terbit pada Juni 2012
Selengkapnya...

Selasa, 17 Juli 2012

Tidak Mudah Memegang Kamera

“Mengapa kita harus memakai tripod saat mengambil gambar?,” tanya Goenawan, salah satu trainer kepada seluruh peserta pelatihan Amazing Producer di salah satu ruangan pelatihan di Studio 3 Metro TV.

Beragam jawaban pun terlontar. Umumnya, semua peserta, termasuk saya, mengatakan pemakaian tripod adalah untuk mendapatkan gambar yang tidak goyan dan nyaman untuk ditonton. Jawan ini tidak salah seratus persen.

Goenawan kemudian menjelaskan lebih banyak lagi alasan pemakaian tripod tadi. Menurut mantan kameraman Liputan 6 SCTV yang kini aktif sebagai trainer ini, tripod memang dipakai agar gambar yang dihasilkan tidak goyang. Pasalnya, mata manusia juga tidak goyang ketika melihat benda apapun, termasuk ketika manusia tersebut sedang dalam posisi goyang. Selain itu, manipulasi gambar dan fakta juga bisa terjadi ketika kita menghasilkan gambar yang bergoyang. Sebab, faktanya, bias jadi benda yang direkam tersebut sebenarnya diam.

“Boleh tidak pakai tripod kalau memang itu bagian dari kreatifitas dalam membuat sebuah video. Tapi, harus konsisten. Jangan sampai saat melakukan wawancara, malah memakai tripod. Ini namanya tidak konsisten,” jelas Goenawan.

Selama hampir lima jam, Goenawan memberikan materi mengenai kamera. Ia juga memberi tugas kepada kami untuk berpraktek menggunakan kamera. Kami dibuat berpasang-pasangan dan tugas kami adalah membuat sebuah rekaman dengan memiliki minimal sepuluh shot. Gambar harus bercerita mengenai perpindahan objek dari tempat A ke tempat B. Dengan waktu satu jam yang diberikan, kami pun dibekali dengan masing-masing satu unit kamera handycam berikut tripod.

Sekitar 90 menit kemudian, kami kembali ke ruang kelas. Goenawan lalu memeriksa satu demi satu hasil rekaman kami. Tawa tidak henti-hentinya menggema di dalam ruang kelas ketika kami menyaksikan rekaman-rekaman tersebut. Tidak hanya shot-shot yang unik yang mengundang tawa, tapi terlebih lagi melihat kami yang menjadi model di dalam rekaman. “ Gambar-gambar ini kalau semua disatukan dan diberi musik, pasti jadi seru,” celetuk Goenawan yang memancing tawa seluruhnya.

Celakanya lagi, dari enam pasangan, hanya satu pasang yang berhasil menerjemahkan tugas yang diberikan Goenawan, yakni membuat gambar tentang pergerakan dari posisi A ke posisi B tadi. Sedangkan lima pasangan lain hanya membuat gambar pergerakan model dengan banyak shot tanpa jelas kemana ia bergerak. “Ini namanya membuat sequenze. Padahal, kita baru akan belajar sequenze hari Rabu lusa. Untungnya, ada satu kelompok yang benar, sehingga saya tidak gagal dalam memberi materi tentang teknis kamera tadi,” ujar Goenawan yang tampak puas.

Dari hasil penjelasan Goenawan tentang kamera, saya menjadi lebih paham lagi mengenai bagaimana menghasilkan gambar yang paling bagus untuk dipakai dalam program-program News. Kamera sebenarnya telah mengambil banyak peran dalam tugas peliputan sehingga sangat meringankan beban seorang reporter di lapangan.

Yang tidak bisa ditangkap oleh kamera adalah informasi mengenai 5W+1H. Nah, tugas reporter adalah mencari informasi yang tidak bisa terekam oleh kamera tersebut. inilah yang yang harus disampaikan repoter dalam naskah. Ia tidak perlu mengulang informasi yang bisa ditangkap kamera, seperti warna, aktivitas, cahaya, dan sebagainya. Namun, faktanya, masih banyak reporter yang menyebutkan informasi yang bisa ditangkap kamera dalam membuat naskah. Sangat mubajir.

Ketika merekam sebuah gambar, maka shot-shot yang diambil harus jelas untuk apa. Pergerakan kamera harus memiliki motivasi agar memiliki makna ketika akan ditayangkan. Ada tiga shot penting ketika merekam sebuah objek. Ketiganya yakni long shot, medium shot, dan close up shot. Namun, diantara dua shot masih ada shot pengembangan yang bisa dieksplorasi lagi. Yang harus diingat adalah tidak boleh mengambil dua shot yang saling berdekatan, karena salah satu shot pasti tidak dipakai editor karena perbedaan yang sangat tipis antarkeduanya.

Untuk program berdurasi panjang, harus diberikan shot-shot yang tidak biasa atau anussual shot agar semakin menarik bagi penonton. Sebaiknya, jangan seluruh shot hanya eye level saja. Seorang kameraman dituntut harus bisa berpikir kreatif dalam berkarya dengan membuat shot-shot yang menarik dan tidak biasa. Terutama shot yang susah ditangkap dengan mata telanjang manusia.

Goenawan juga berbagi ilmu mengenai hal lain yang harus diperhatikan ketika menggunakan kamera. Saat mengambil gambar kita harus selalu memperhatikan cross the line agar gambar tidak jumping. Bila melanggar garis imajiner ini, maka akan menghasilkan gambar yang tidak utuh. Misalkan saja, kita sedang merekam pergerakan kereta api yang bergerak dari kanan ke kiri.

Setelah mengambil gambar long shot, kita mengambil gambar medium shot dengan mengambil posisi di seberang rel. Karena kita telah menyeberang garis imajiner tadi, maka kereta api akan terekam seperti sedang bergerak dari kiri ke kanan. Akibatnya, ketika kita melihat hasil rekaman, maka kedua shot tadi akan menghasilkan gambar kereta yang bukan bergerak ke arah yang sama, namun seolah-olah hendak bertabrakan. Ini akibat kita tidak memperhatikan cross the line.

Agar gambar semakin indah di layar TV, maka masih ada sejumlah hal yang harus diperhatikan ketika melakukan perekaman. Misalkan saja, harus memahami istilah golden mean, yakni pembagian bidang layar kamera menjadi sembilan bidang dan meletakkan objek utama di kotak tengah. Perhatikan juga nose room ketika mengambil gambar bergerak. Ada juga looking room, yakni ruang sisa di atas kepala.

Rupanya, tidak mudah menjadi seorang kameraman. Tidak sekadar memegang kamera dan memencet tombol record...

Sumber foto: viewmycreation
Selengkapnya...

Jumat, 13 Juli 2012

Cari Jodoh di Gendang Guro-Guro Aron

Di atas pentas tampak sekitar 20 pasangan muda-mudi asyik menari. Semua penari wanita memakai kebaya dan songket, serta rambut mereka ditutupi oleh kain tenun tradisional yang dibentuk seperti segitiga. Mereka pun berdandan semenarik dan secantik mungkin. Tidak lupa kuku mereka diwarnai dan beragam perhiasan emas mereka kenakan. Mereka pun terlihat sangat cantik. Sedangkan si penari pria memakai sarung hingga sedikit di bawah lutut. Baik si penari wanita maupun pria adalah muda-muda yang belum menikah.

Dalam menari, gerakan mereka maju-mundur sambil tidak lupa menggoyangkan badan dengan mengikuti hentakan suara musik. Gerakan mereka tidak beraturan, seolah-olah tidak ada aturan dalam menari. Yang mengejutkan lagi, para mudi-mudi ini menari dengan iringan musik instrumen dari lagu dangdut yang dimainkan sangat cepat oleh pemain keyboard. Lagu dangdut tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga iramanya mirip musik tradisional Tanah Karo.

Pasangan muda-mudi ini sebenarnya sedang menari odak-odak, salah satu bagian menari dalam Gendang Guro-guro Aron dalam masyarakat Suku Karo. Menari odak-odak ini memang seperti menari bebas, walau sebenarnya ada sejumlah aturan dan pakem yang harus ditaati.

Walau ada aturan, namun siapapun bebas berkreasi agar terlihat semakin meriah di atas pentas. Apalagi, umumnya musik yang mengiringi tarian odak-odak ini adalah musik berirama cepat yang seolah-olah memberikan daya magis bagi si penari untuk menari seindah-indahnya. Kekuatan magis ini pun menyebar hingga ke para penonton, sehingga mereka juga tidak tahan untuk hanya berdiam saja. Setidaknya mereka akan menggoyang-goyangkan kaki dari tempat mereka menonton dengan mengikuti irama musik.





Begitulah yang terlihat dalam kemeriahan pesta Gendang Guro-guro Aron di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tanggal 22-23 Juni lalu, desa yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Medan ini, sedang merayakan pesta Kerja Tahun.

Pesta Kerja Tahun adalah sebuah tradisi di Suku Karo yang makna awalnya adalah pesta untuk mengucapkan rasa syukur usai mereka bercocok tanam. Seiring perjalanan waktu, makna pesta Kerja Tahun telah bergeser menjadi sebuah perayaan setahun sekali yang digunakan sebagai momen untuk saling bersilaturahmi.

Sama seperti saat Lebaran, orang-orang pun saling mengunjungi pada perayaan Kerja Tahun. Saudara dari lain desa juga berdatangan untuk bersilaturahmi dan memberikan ucapan selamat merayakan Kerja Tahun. Begitu juga dengan orang-orang di perantauan yang banyak memilih mudik saat Kerja Tahun. Karena itu, desa begitu ramai dan meriah pada dua hari Kerja Tahun ini. Uniknya lagi, perayaan Kerja Tahun berbeda-beda hari dan tanggalnya antardesa di Tanah Karo.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Kerja Tahun di Perbesi juga diramaikan dengan pesta Gendang Guro-guro Aron. Gendang berarti kerja, pesta, upacara dengan tari-tarian. Guro-guro berarti main-main , bersenda gurau, atau bersuka cita. Sedangkan kata aron artinya muda-mudi. Dengan demikian, Gendang Guro-guro Aron dapat diartikan sebagai kerja, pesta, upacara yang diperuntukkan sebagai ajang muda-mudi bersenda gurau atau bersuka-cita.





Gendang Guro-guro Aron selalu dinanti masyarakat Karo. Mereka akan memadati tempat penyelenggaraan hingga selesai. Kalaupun tidak ikut menari, mereka sudah cukup puas untuk menontonnya. Mereka pun bangga kalau ada anak gadis mereka yang ikut menjadi salah satu penari.

Pelaksanaan Gendang Guro-Guro Aron saat pesta Kerja Tahun di Desa Perbesi berlangsung selama tiga kali. Yang pertama adalah hari Jumat siang hingga menjelang matahari tenggelam. Kemudian dilanjutkan lagi pada malam hari sekitar pukul delapan hingga pukul empat pagi. Terakhir, berlangsung pada hari Sabtu mulai pukul sembilan malam hingga Minggu pukul enam pagi. Walau begitu larut, namun penonton maupun yang menari tetap berjubel dan memenuhi jambur (balai rakyat yang biasa ada di setiap desa di Tanah Karo).

Dalam Gendang Guro-guro Aron ini, si penari perempuan wajib mengenakan pakaian tradisional Karo. Mereka mengenakan baju kebaya yang dipadu dengan kain songket. Mereka tidak lupa membawa uis nipes, salah satu kain tenun tradisional orang Karo. Rambut mereka juga ditutup dengan tudong, yang dibuat dari beberapa jenis kain tenun tradisional orang Karo lainnya.






Para penari perempuan ini juga wajib masih lajang. Yang sudah berkeluarga tidak boleh lagi ikut menjadi salah satu penari atau disebut aron. Karena itu, biasanya menjadi kebanggaan bagi setiap gadis di Tanah Karo untuk bisa ikut menjadi salah satu aron dalam Gendang Guro-guro Aron. Dengan menjadi aron, maka otomatis mereka pun bisa menari. Tidak hanya si gadis, namun juga keluarganya bisa malu bila kelak anak gadis mereka tidak bisa menari. Singkat cerita, mengikuti Gendang Guro-guro Aron adalah salah satu fase yang harus diikuti setiap muda-mudi Karo.

Gendang Guro-guro Aron menjadi ajang bagi muda-mudi Karo untuk saling berkenalan. Ketika si Aron naik ke pentas, maka siapa saja pemuda bisa menjadi pasangan menarinya. Si aron wanita tidak bisa memilih siapa pasangannya, karena mereka hanya menunggu. Yang pasti, pasangan menari harus berbeda marga. Haram hukumnya menari dengan orang yang semarga, karena mereka dianggap bersaudara kandung. Lewat sistem seperti ini, tidak salah kalau Gendang Guro-guro menjadi ajang untuk mencari jodoh. Sebab, siapa sangka, dengan saling berkenalan di atas pentas, mereka akhirnya menjadi akrab dan akhirnya saling jatuh cinta. Kisah percintaan yang terjadi di Gendang Guro-guro Aron sudah lumrah terjadi di masyarakat Karo.






Dalam Gendang Guro-guro Aron, ada sepasang penari utama yang disebut perkolong-kolong. Selain pandai menari, keduanya juga pintar menyanyikan lagu apa saja, termasuk lagi Indonesia maupun lagu-lagu impor. Mereka juga harus bisa saling beradu pantun dan ejekan ketika mendapatkan giliran menari berdua saja di atas pentas, atau biasa disebut dengan adu perkolong-kolong. Penonton akan sangat antusias menonton ketika sedang ada adu perkolong-kolong.

Dalam Gendang Guro-Guro Aron dalam rangka Pesta Kerja Tahun Desa Perbesi 2012, yang bertindak menjadi perkolong-kolong adalah Keleng Barus dan Anita Sembiring. Keduanya sudah berkali-kali berduet di Perbesi dan merupakan salah satu perkolong-kolong paling terkenal di Tanah Karo. Keduanya juga sudah sering diundang menjadi perkolong-kolong di acara orang Karo di luar Sumatera Utara.






Pesta Gendang Guro-guro Aron Perbesi tahun ini juga dimeriahkan oleh penampilan sejumlah artis Tanah Karo. Ada Tio Fanta Pinem, Harto Tarigan, dan sederet nama lain. Mereka naik ke atas pentas dan menyanyikan sejumlah lagu berbahasa Karo andalan mereka.

Hampir seluruh artis yang tampil pandai berkomunikasi dengan para penonton. Penonton, terutama ibu-ibu, seketika bersorak-sorak tatkala si artis menyebut salah satu marga di dalam nyanyiannya. Tio Fanta pinem bahkan lebih banyak berrnyanyi di antara penonton daripada di atas pentas. Penyanyi yang pernah populer di blantika musik Indonesia pada awal 90an ini, sangat mahir berinteraksi dengan penonton. Dua lagu yang dibawakannya sangat menghibur penonton yang memadati jambur Perbesi.




Kemeriahan pesta Gendang guro-guro tidak hanya milik para muda-mudi. Orang tua juga tidak mau ketinggalan. Panitia memberikan kesempatan kepada orang tua untuk naik ke pentas hingga beberapa kali karena terlalu banyaknya orang tua yang ingin ikut menari.

Kesempatan ini pun langsung disambar para orang tua. Mereka pun segera beramai-ramai naik ke pentas. Jumlah mereka sangat banyak. Panggung pun penuh dengan pasangan orang tua yang umumnya adalah ibu-ibu. Hanya ada satu-dua ibu-ibu yang berpasangan dengan suami mereka.

Mereka pun menari dengan penuh suka cita. Senyum dan tawa terlihat di wajah mereka. Mereka sepertinya begitu bahagia. Apalagi saat menari odak-odak. Lupakan sejenak segala permasalahan yang ada. Karena Gendang Guro-guro Aron Kerja Tahun baru ada lagi satu tahun lagi.





Foto-foto by Edi Ginting
Selengkapnya...

Rabu, 11 Juli 2012

Muncul Lagi di Majalah Travel Fotografi

Hari ini, saya mendapatkan kiriman majalah Travel Fotografi dari Kompas Gramedia Majalah. Saya mendapatkan kiriman majalah ini karena salah satu tulisan saya kembali muncul di majalah khusus pencinta travel dan fotografi itu.

Saya tidak menyangka akan mendapatkan kiriman tersebut, karena berdasarkan laporan penjual majalah di kantor, Travel Fotografi edisi Juni 2012 belum terbit. Berkali-kali saya tanya, dan jawaban darinya tetaplah sama. Padahal, sejak minggu ketiga Juni, saya sudah memesan kepadanya agar dibawakan satu majalah Travel Fotografi kalau sudah terbit. Entah mengapa, kali ini ia tidak mendapatkan jatah untuk menjual Travel Fotografi.


Kali ini, tulisan saya yang muncul di majalah Travel Fotografi edisi ketiga ini adalah penjelajahan saya ke Pulau Miangas dan Pulau Marore, dua pulau terluar Indonesia di Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Samudera Pasifik.

Tulisan saya ini muncul dalam rubrik ‘Jelajah’ dengan judul ‘Pulau Tersembunyi Dari Pinggir Pasifik’, dan tercetak manis hingga enam halaman. Sejumlah foto-foto hasil jepretan saya pun menghiasi tulisan. Berkali-kali saya membacanya begitu berada dalam genggaman, tanpa pernah bosan. Padahal, saya sendiri yang menulisnya.

Tulisan mengenai perjalanan ke Miangas dan Marore ini merupakan tulisan ketiga saya yang muncul di majalah Travel Fotografi. Sebelumnya, majalah baru milik grup Kompas Gramedia tersebut, telah memuat dua tulisan saya lainnya di Travel Fotografi edisi perdana dan kedua.

Pada Travel Fotografi edisi perdana yang terbit Februari 2012, tulisan saya yang dimuat adalah mengenai tentang penjelajahan ke Jayapura. Sedangkan pada edisi kedua yang terbit April 2012, giliran tulisan saya tentang penjelajahan ke Tanah Karo yang muncul.

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk masbro Yuliandi Kusuma selaku editor Travel Fotografi dan juga seluruh tim di Kompas Gramedia yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk ikut berpartisipasi dalam Travel Fotografi. Lewat majalah ini, saya bisa menumpahkan buah pikiran, termasuk mengasah kemampuan dalam membuat tulisan panjang.

Sumber foto: Facebook Majalah Travel Fotografi
Selengkapnya...

Selasa, 03 Juli 2012

Subak, Kearifan Bali Yang Jadi Warisan Dunia

Pulau Bali tidak hanya terkenal dengan pantai, tari-tarian, maupun keramahan penduduknya. Bali juga memiliki segudang keunikan lain yang begitu menarik perhatian dunia. Subak adalah salah satunya.

Di balik hijaunya areal persawahan di hampir seluruh Bali, tersimpan sebuah rahasia. Ada sebuah kearifan lokal yang tetap dijunjung tinggi masyarakat Bali. Kearifan lokal yang membuat setiap pohon padi yang ditanam nantinya akan tumbuh subur dan menghasilkan padi yang berlimpah.

Subak telah menjelma menjadi sebuah budaya yang berperan penting dalam keberhasilan pertanian di pulau dewata. Sistem subak telah melintasi waktu dan generasi. Ia memberi kesejahteraan dan kemerataan hasil produksi pertanian bagi masyarakat


Hebatnya lagi, rahasia warisan leluhur ini telah diakui UNESCO pada tahun 2012 sebagai salah satu situs warisan dunia. Tidak hanya masyarakat bali yang berbangga dengan penghargaan ini. Nnamun, Indonesia keseluruhan.

Subak adalah organisasi tradisional Bali yang memelihara dan mengatur sistem irigasi pertanian yang sudah ada sejak dulu. Sejumlah sumber menyebut, sistem subak tercipta sejak ratusan tahun silam ketika terjadi imigrasi secara besar-besaran dari Jawa ke Bali. Lembaga subak diperkirakan merupakan perkembangan dari sawah kering atau tegalan yang sebelumnya berkembang di pulau Jawa.

Subak mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani. Sistem subak berpijak pada prinsip aliran air dari atas dengan topografi pesawahan yang berbukit dan distribusi air yang berkeadilan antar petani penggarap sawah.

Walau merupakan warisan nenek moyang masyarakat Bali, namun subak mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi bidang pertanian dengan kearifan lokal yang tetap dijunjung tinggi. Tidak hanya agama maupun budaya, namun juga beradaptasi dengan ekonomi, hukum, hingga lingkungan. Sistem subak dinilai punya nilai-nilai untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

Sejumlah data mengungkapkan, ada lebih dari seribu subak di seluruh Bali. Semuanya didasari oleh ajaran tri hita karana yang mengajarkan agar setiap orang selalu mengupayakan keseimbangan antara pengabdian manusia kepada Tuhan atau parahyangan, dengan pelayanan mereka terhadap sesama manusia atau pawongan, dan kecintaan merawat alam lingkungan agar tetap lestari atau palemahan.

Sistem subak menerapkan kesadaran dan kegotong royongan yang sangat tinggi. Tidak ada yang melanggarnya karena masyarakat Bali sangat takut dengan awig-awig atau peraturan. Peraturan ini telah menjadi hukum tertulis yang memuat seperangkat kaidah bertingkah laku dalam masyarakat petani. Tidak hanya teknis pembagian air kepada masyarakat, tapi juga norma selama ia menyandang sebagai seorang petani dalam status sosial. Bahkan juga mengatur hubungan antara petani dengan sang pencipta atau sang hyang widhi.

Subak merupakan teknologi yang masih tradisional dan berkearifan lokal. Peran manusia dalam tata bagi distribusi air untuk keperluan irigasi persawahan masih didominasi oleh tenaga, kemampuan, kearifan, dan sikap adil dari masyarakat yang dipimpin oleh pemangku adat.

Di sinilah letak keunggulan dari sistem subak. Kesadaran untuk bekerja secara sosial terbentuk tanpa menafikan penguasaan atas lahan pribadi. Kearifan pemangku adat dalam membagi jatah air pada masyarakat petani menjadi gaya kepemimpinan lokal yang berkeadilan.

Sistem subak dirancang dan telah diwarisi secara turun-temurun oleh masayarakat petani di Bali untuk kelancaran pembagian air di lahan persawahan yang merupakan penyangga utama kehidupan masyarakat dan adat istiadat di selama berabad-abad. Sistem pembagian air ini merupakan cara bersama untuk berbagi kebahagiaan. Indah, dan dunia pun sudah mengakuinya.

Catatan: tulisan ini saya buat untuk seorang rekan yang membutuhkan naskah tentang subak untuk keperluan pembuatan video.

Sumber foto: balebengong.net
Selengkapnya...