Selasa, 17 Juli 2012

Tidak Mudah Memegang Kamera

“Mengapa kita harus memakai tripod saat mengambil gambar?,” tanya Goenawan, salah satu trainer kepada seluruh peserta pelatihan Amazing Producer di salah satu ruangan pelatihan di Studio 3 Metro TV.

Beragam jawaban pun terlontar. Umumnya, semua peserta, termasuk saya, mengatakan pemakaian tripod adalah untuk mendapatkan gambar yang tidak goyan dan nyaman untuk ditonton. Jawan ini tidak salah seratus persen.

Goenawan kemudian menjelaskan lebih banyak lagi alasan pemakaian tripod tadi. Menurut mantan kameraman Liputan 6 SCTV yang kini aktif sebagai trainer ini, tripod memang dipakai agar gambar yang dihasilkan tidak goyang. Pasalnya, mata manusia juga tidak goyang ketika melihat benda apapun, termasuk ketika manusia tersebut sedang dalam posisi goyang. Selain itu, manipulasi gambar dan fakta juga bisa terjadi ketika kita menghasilkan gambar yang bergoyang. Sebab, faktanya, bias jadi benda yang direkam tersebut sebenarnya diam.

“Boleh tidak pakai tripod kalau memang itu bagian dari kreatifitas dalam membuat sebuah video. Tapi, harus konsisten. Jangan sampai saat melakukan wawancara, malah memakai tripod. Ini namanya tidak konsisten,” jelas Goenawan.

Selama hampir lima jam, Goenawan memberikan materi mengenai kamera. Ia juga memberi tugas kepada kami untuk berpraktek menggunakan kamera. Kami dibuat berpasang-pasangan dan tugas kami adalah membuat sebuah rekaman dengan memiliki minimal sepuluh shot. Gambar harus bercerita mengenai perpindahan objek dari tempat A ke tempat B. Dengan waktu satu jam yang diberikan, kami pun dibekali dengan masing-masing satu unit kamera handycam berikut tripod.

Sekitar 90 menit kemudian, kami kembali ke ruang kelas. Goenawan lalu memeriksa satu demi satu hasil rekaman kami. Tawa tidak henti-hentinya menggema di dalam ruang kelas ketika kami menyaksikan rekaman-rekaman tersebut. Tidak hanya shot-shot yang unik yang mengundang tawa, tapi terlebih lagi melihat kami yang menjadi model di dalam rekaman. “ Gambar-gambar ini kalau semua disatukan dan diberi musik, pasti jadi seru,” celetuk Goenawan yang memancing tawa seluruhnya.

Celakanya lagi, dari enam pasangan, hanya satu pasang yang berhasil menerjemahkan tugas yang diberikan Goenawan, yakni membuat gambar tentang pergerakan dari posisi A ke posisi B tadi. Sedangkan lima pasangan lain hanya membuat gambar pergerakan model dengan banyak shot tanpa jelas kemana ia bergerak. “Ini namanya membuat sequenze. Padahal, kita baru akan belajar sequenze hari Rabu lusa. Untungnya, ada satu kelompok yang benar, sehingga saya tidak gagal dalam memberi materi tentang teknis kamera tadi,” ujar Goenawan yang tampak puas.

Dari hasil penjelasan Goenawan tentang kamera, saya menjadi lebih paham lagi mengenai bagaimana menghasilkan gambar yang paling bagus untuk dipakai dalam program-program News. Kamera sebenarnya telah mengambil banyak peran dalam tugas peliputan sehingga sangat meringankan beban seorang reporter di lapangan.

Yang tidak bisa ditangkap oleh kamera adalah informasi mengenai 5W+1H. Nah, tugas reporter adalah mencari informasi yang tidak bisa terekam oleh kamera tersebut. inilah yang yang harus disampaikan repoter dalam naskah. Ia tidak perlu mengulang informasi yang bisa ditangkap kamera, seperti warna, aktivitas, cahaya, dan sebagainya. Namun, faktanya, masih banyak reporter yang menyebutkan informasi yang bisa ditangkap kamera dalam membuat naskah. Sangat mubajir.

Ketika merekam sebuah gambar, maka shot-shot yang diambil harus jelas untuk apa. Pergerakan kamera harus memiliki motivasi agar memiliki makna ketika akan ditayangkan. Ada tiga shot penting ketika merekam sebuah objek. Ketiganya yakni long shot, medium shot, dan close up shot. Namun, diantara dua shot masih ada shot pengembangan yang bisa dieksplorasi lagi. Yang harus diingat adalah tidak boleh mengambil dua shot yang saling berdekatan, karena salah satu shot pasti tidak dipakai editor karena perbedaan yang sangat tipis antarkeduanya.

Untuk program berdurasi panjang, harus diberikan shot-shot yang tidak biasa atau anussual shot agar semakin menarik bagi penonton. Sebaiknya, jangan seluruh shot hanya eye level saja. Seorang kameraman dituntut harus bisa berpikir kreatif dalam berkarya dengan membuat shot-shot yang menarik dan tidak biasa. Terutama shot yang susah ditangkap dengan mata telanjang manusia.

Goenawan juga berbagi ilmu mengenai hal lain yang harus diperhatikan ketika menggunakan kamera. Saat mengambil gambar kita harus selalu memperhatikan cross the line agar gambar tidak jumping. Bila melanggar garis imajiner ini, maka akan menghasilkan gambar yang tidak utuh. Misalkan saja, kita sedang merekam pergerakan kereta api yang bergerak dari kanan ke kiri.

Setelah mengambil gambar long shot, kita mengambil gambar medium shot dengan mengambil posisi di seberang rel. Karena kita telah menyeberang garis imajiner tadi, maka kereta api akan terekam seperti sedang bergerak dari kiri ke kanan. Akibatnya, ketika kita melihat hasil rekaman, maka kedua shot tadi akan menghasilkan gambar kereta yang bukan bergerak ke arah yang sama, namun seolah-olah hendak bertabrakan. Ini akibat kita tidak memperhatikan cross the line.

Agar gambar semakin indah di layar TV, maka masih ada sejumlah hal yang harus diperhatikan ketika melakukan perekaman. Misalkan saja, harus memahami istilah golden mean, yakni pembagian bidang layar kamera menjadi sembilan bidang dan meletakkan objek utama di kotak tengah. Perhatikan juga nose room ketika mengambil gambar bergerak. Ada juga looking room, yakni ruang sisa di atas kepala.

Rupanya, tidak mudah menjadi seorang kameraman. Tidak sekadar memegang kamera dan memencet tombol record...

Sumber foto: viewmycreation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar