Selasa, 28 Agustus 2012

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Saat mampir ke Toko Buku Gramedia Suparmal Karawaci, tiba-tiba istri tertarik untuk membeli buku biografi Chairul Tanjung yang berjudul Si Anak Singkong. Saya sempat terkejut dengan keinginannya ini karena rasa-rasanya baru kali ini ia ingin membeli buku semacam itu. Saya sempat bergurau dengan mengatakan ia telah termakan iklan buku tersebut yang berulang kali tayang di layar Trans TV dan Trans7.

Rupanya, istri saya ini sangat serius membaca buku tersebut. Saat saya pulang bekerja sekitar dua hari kemudian, ia memberi tahu kalau telah selesai membaca buku setebal 360 halaman tersebut. Saya sempat tidak mempercayai melihat ketebalan buku yang ditulis oleh Tjahja Gunawan Adiredja itu. Ia pun berusaha menyakinkan saya dengan menceritakan sejumlah bagian dari isi buku yang bersampul warna coklat itu.

Saya sempat penasaran dengan isi buku Chairul Tanjung itu sehingga begitu cepat selesai dibaca oleh istri saya. Namun, karena kesibukan sejumlah hal, saya baru sempat membacanya pada tiga hari lalu. Sambil duduk santai di kursi, saya mulai membaca buku yang terdapat sebuah pengantar dari Jakob Oetama, bos Kompas Gramedia, itu. Tanpa saya sadari, saya akhirnya terbuai dengan kalimat demi kalimat dalam buku ini, dan terus membacanya hingga nyaris habis setengah dari total seluruh halaman dalam satu kali kesempatan membaca.

Keesokan harinya, saya kembali melanjutkan membacanya ketika punya waktu senggang. Tanpa terasa, hanya dalam waktu dua jam, saya telah selesai membaca hingga halaman terakhir. Wow, saya pun akhirnya menjadi tahu mengapa istri saya pun begitu cepat selesai membaca buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas tersebut.

Buku ini adalah sebuah biografi Chairul Tanjung yang dibuat dalam rangka hari ulang tahun bos CT Corp itu yang ke-50 tahun. Buku ini menceritakan mengenai perjalanan hidup salah satu konglomerat itu sejak masih kecil sampai sesukses sekarang ini. Buku ini begitu ringan dibaca karena ditulis dengan bahasa yang sangat merakyat, seperti tulisan di koran yang biasa dipakai sang penulis saat membuat laporan reportasenya di harian Kompas.

Setelah tuntas membaca buku ini, saya menjadi tahu perjalanan Chairul Tanjung sampai bisa menjadi seorang konglomerat di Indonesia. Rupanya, ia memang bukan anak kemarin sore yang tiba-tiba saja muncul dengan uang berlimpah. Selama ini, banyak sekali berita yang beredar di luar sana yang mengatakan Chairul Tanjung hanyalah seorang pria jago marketing yang diberi kepercayaan oleh orang-orang tertentu yang tidak mau muncul di Indonesia dengan kekayaan yang menggunung.

Dari buku ini, saya baru tahu kalau Chairul Tanjung memang seorang pengusaha yang telah jatuh bangun membangun kerajaan bisnisnya sejak menjadi mahasiswa FKG UI tahun 1985. Berawal dari membuat diktat untuk teman-teman kampusnya, Chairul kemudian memiliki usaha fotokopi di bawah tangga gedung kuliahnya, lalu menjadi suplayer alat-alat praktekum kedokteran di kampus UI, sampai akhirnya membuku toko sendiri di kawasan Salemba.


Walau berasal dari keluarga pas-pasan, Chairul akhirnya bisa memiliki mobil sendiri dari usaha yang ia jalankan ketika masih menjadi mahasiswa. Naluri bisnisnya terus menggelora sehingga ia memiliki sejumlah pabrik ketika usianya masih 20an tahun. Memang, tidak semua berjalan mulus karen pada suatu ketika usahanya bangkrut dan ia kembali naik buskota kemana-mana.

Suatu hari, ia ditawari untuk membeli Bank Mega yang sedang sakit akibat terlilit kredit macet dari Bank Exim yang menjadi langganannya meminjam modal kerja. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan walau sama sekali buta tentang bisnis bank. Namun, lagi-lagi, pilihannya tidak salah karena Bank Mega akhirnya menghasilkan keuntungan yang sangat besar pada tahun kedua dalam genggamannya. Ia pun bisa terus mengembangkan bisnis dan mengakuisisi banyak perusahaan.

Usahanya terus menggurita dengan bisnis penyiaran lewat Trans TV dan Trans7. Kini, Chairul Chairul memiliki begitu banyak perusahaan yang seluruhnya berada dalam kendali CT Corp. Secara umum CT Corp terdiri atas tiga perusahaan subholding yaitu Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources.

Benang merah yang dapat saya tangkap dari buku ini adalah bahwa Chairul adalah orang yang sangat mudah bergaul. Ia sangat jago membangun jaringan dan relasi kemana-mana. Ia adalah seorang pekerja keras dan juga cerdas yang hanya memiliki waktu istirahat beberapa jam saja. Namun, di tengah kesibukannya, ia masih melakukan sejumlah kegiatan lain yang bersifat sosial. Sejak SMA, ia sudah aktif berorganisasi, aktif di kegiatan sekolah, sampai aktif di kegiatan teater.

Ketika umurnya masih kepala tiga, ia sudah bisa bergaul dengan orang-orang di ring satu pemerintahan. Bahkan, bisa berdiri di samping Presiden Habibie dalam berbagai acara. Mungkin hanya Presiden Soeharto dan Soekarno yang tidak sempat dekat dengan konglomerat ini. Dalam buku Si Anak Singkong ini, terdapat sejumlah foto yang memperlihatkan betapa hebatnya seorang Chairul Tanjung sejak berumur 30-an.

Jadi, posisi Chairul Tanjung sekarang ini bukan hasil instan seperti dugaan banyak orang. “Saya membeli masa depan dengan uang masa lalu,” demikian salah satu kalimat Chairul dalam bukunya.

Sumber foto:Tong Ilmu
Selengkapnya...

Rabu, 01 Agustus 2012

Memburu Properti di Tangerang

Sudah enam tahun Nerma berumah tangga. Ia pun sudah memiliki seorang putri yang Juni lalu telah berusia tiga tahun. Suaminya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan di Kabupaten Tangerang, Banten. Sedangkan Nerma mengisi waktu dengan berjualan pakaian anak-anak.

Sepertinya, kebahagian keluarga Nerma sudah lengkap. Pekerjaan ada, bisnis sampingan berjalan, dan anak pun hadir di tengah mereka. Namun, orang-orang mungkin tidak tahu, kalau Nerma memiliki sebuah impian yang hingga hari ini belum bisa terwujud. Tidak lama setelah menikah, ia dan suaminya berencana untuk segera memiliki rumah sendiri. Namun, sampai hari ini mereka belum juga bisa mewujudkannya dan masih tinggal di rumah orang tua.

“Kami ingin memiliki rumah impian yang dekat dengan tempat bekerja. Namun, hingga saat ini kami belum menemukannya. Harga rumah baru di sekitar sini rata-rata sudah di atas Rp 800 juta. Sedangkan kami berencana mencari rumah yang harganya di bawah Rp 350 juta. Namun, tidak mudah mendapatkannya. Lebih mudah mencari rumah seharga satu atau tiga miliar rupiah di pusat kota di Tangerang ini. Budget kami tidak ada sebesar itu,” kata Nerma ketika dijumpai sedang merapikan pakaian dagangannya.

Apa yang disampaikan wanita ini memang benar. Properti di Tangerang sangat berkembang pesat dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Para pengembang besar yang menguasai sebagian besar lahan di Tangerang, begitu masif memasarkan kawasan-kawasan baru mereka dengan beragam fasilitas selayaknya kota mandiri. Konsumen pun selalu menyambut dengan sangat antusias. Pada akhirnya, harga memang tidak bisa kompromi dan terus merangkak naik. Bahkan, dalam satu tahun ada yang naik sampai dua kali lipat.

“Di kawasan kami sudah ada tanah yang harga permeternya mencapai Rp 30 juta. Yang terendah sekitar Rp 3 juta permeter,” kata Nurita Alex, Direktur Marketing perumahan Lippo Karawaci.

Nurita menjelaskan, properti di Tangerang memang lebih berkembang pesat dibandingkan daerah penyangga Jakarta lainnya, seperti Bekasi, Depok, atau Cibubur. Kalau di daerah-daerah tersebut yang lebih berkembang adalah properti kelas menengah, maka di Tangerang justru properti kelas atas yang paling berkembang pesat. Salah satu hal yang menyebabkan kondisi ini adalah kultur orang-orang di Tangerang yang suka berdagang dan berbisnis sehingga mereka mampu membeli properti dengan harga miliaran rupiah. Apalagi banyak yang mempercayai, Tangerang adalah kepala naga dalam kepercayaan masyarakat Tiongha.

Namun, mencari rumah dengan harga di bawah Rp 350 juta dengan lokasi masih di pusat kota seperti yang dilakukan Nerma, sebenarnya tidaklah sulit. Yang penting, konsumen harus gesit mencarinya di antara para pengembang besar yang mengepung Tangerang, seperti Lippo Karawaci, Summarecon Serpong, BSD City atau Alam Sutra.

“Banyak pengembang kecil dengan luas lahan hanya beberapa hektar yang memanfaatkan pertumbuhan pembangunan properti milik para pengembang besar. Mereka membangun rumah-rumah di sana dan menjualnya dengan harga jauh lebih murah daripada harga rumah dengan luas yang sama di pengembang besar. Namun, para penghuni masih bisa menikmati fasilitas dan infrastruktur yang sama dengan yang ada di kawasan pengembang besar.,” ungkap Agustinus Winardi, seorang investor properti.

Agustinus mengakui, harga properti di kawasan kecil tersebut memang akan naik juga mengikuti harga di sekitarnya. Ia memberi contoh ketika membeli rumah di sebuah pengembang kecil tidak jauh dari BSD City. Ia membeli rumah dengan harga Rp 230 juta dan kini rumah tersebut laku di pasaran dengan harga Rp 400 sampai Rp 500 juta dalam dua tahun.

“Kenaikan ini wajar-wajar saja, karena harga di sekitarnya juga telah naik. Kenaikan ini akibat dari semakin bagusnya fasilitas dan infrastruktur di lokasi tersebut,” tambah Agustinus yang mengaku lebih suka mencari capital gain dari usaha propertinya.

Saat ini, pengembang-pengembang kecil mudah ditemui di sekitar kawasan perumahan besar di Tangerang. Misalkan saja di sekitar perumahan Lippo Karawaci, Summarecon Serpong, BSD, atau Alam Sutra. Harga rumah yang mereka tawarkan berkisar antara Rp 150 juta sampai Rp 350 juta, tergantung luas tanah.

Kehadiran mereka sangat membantu masyarakat yang berkantong pas-pasan, namun tidak ingin membeli rumah baru yang jauh dari pusat kota, seperti yang diinginkan oleh Nerma. Yang penting, jangan mudah menyerah mencarinya.

Catatan:
Tulisan ini dibuat sebagai salah satu tugas dalam pelatihan Power Produser yang saya ikuti selama tiga minggu. Semua peserta ditugaskan membuat tulisan untuk website dari hasil liputan di lapangan.
Selengkapnya...