Rabu, 01 Agustus 2012

Memburu Properti di Tangerang

Sudah enam tahun Nerma berumah tangga. Ia pun sudah memiliki seorang putri yang Juni lalu telah berusia tiga tahun. Suaminya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan di Kabupaten Tangerang, Banten. Sedangkan Nerma mengisi waktu dengan berjualan pakaian anak-anak.

Sepertinya, kebahagian keluarga Nerma sudah lengkap. Pekerjaan ada, bisnis sampingan berjalan, dan anak pun hadir di tengah mereka. Namun, orang-orang mungkin tidak tahu, kalau Nerma memiliki sebuah impian yang hingga hari ini belum bisa terwujud. Tidak lama setelah menikah, ia dan suaminya berencana untuk segera memiliki rumah sendiri. Namun, sampai hari ini mereka belum juga bisa mewujudkannya dan masih tinggal di rumah orang tua.

“Kami ingin memiliki rumah impian yang dekat dengan tempat bekerja. Namun, hingga saat ini kami belum menemukannya. Harga rumah baru di sekitar sini rata-rata sudah di atas Rp 800 juta. Sedangkan kami berencana mencari rumah yang harganya di bawah Rp 350 juta. Namun, tidak mudah mendapatkannya. Lebih mudah mencari rumah seharga satu atau tiga miliar rupiah di pusat kota di Tangerang ini. Budget kami tidak ada sebesar itu,” kata Nerma ketika dijumpai sedang merapikan pakaian dagangannya.

Apa yang disampaikan wanita ini memang benar. Properti di Tangerang sangat berkembang pesat dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Para pengembang besar yang menguasai sebagian besar lahan di Tangerang, begitu masif memasarkan kawasan-kawasan baru mereka dengan beragam fasilitas selayaknya kota mandiri. Konsumen pun selalu menyambut dengan sangat antusias. Pada akhirnya, harga memang tidak bisa kompromi dan terus merangkak naik. Bahkan, dalam satu tahun ada yang naik sampai dua kali lipat.

“Di kawasan kami sudah ada tanah yang harga permeternya mencapai Rp 30 juta. Yang terendah sekitar Rp 3 juta permeter,” kata Nurita Alex, Direktur Marketing perumahan Lippo Karawaci.

Nurita menjelaskan, properti di Tangerang memang lebih berkembang pesat dibandingkan daerah penyangga Jakarta lainnya, seperti Bekasi, Depok, atau Cibubur. Kalau di daerah-daerah tersebut yang lebih berkembang adalah properti kelas menengah, maka di Tangerang justru properti kelas atas yang paling berkembang pesat. Salah satu hal yang menyebabkan kondisi ini adalah kultur orang-orang di Tangerang yang suka berdagang dan berbisnis sehingga mereka mampu membeli properti dengan harga miliaran rupiah. Apalagi banyak yang mempercayai, Tangerang adalah kepala naga dalam kepercayaan masyarakat Tiongha.

Namun, mencari rumah dengan harga di bawah Rp 350 juta dengan lokasi masih di pusat kota seperti yang dilakukan Nerma, sebenarnya tidaklah sulit. Yang penting, konsumen harus gesit mencarinya di antara para pengembang besar yang mengepung Tangerang, seperti Lippo Karawaci, Summarecon Serpong, BSD City atau Alam Sutra.

“Banyak pengembang kecil dengan luas lahan hanya beberapa hektar yang memanfaatkan pertumbuhan pembangunan properti milik para pengembang besar. Mereka membangun rumah-rumah di sana dan menjualnya dengan harga jauh lebih murah daripada harga rumah dengan luas yang sama di pengembang besar. Namun, para penghuni masih bisa menikmati fasilitas dan infrastruktur yang sama dengan yang ada di kawasan pengembang besar.,” ungkap Agustinus Winardi, seorang investor properti.

Agustinus mengakui, harga properti di kawasan kecil tersebut memang akan naik juga mengikuti harga di sekitarnya. Ia memberi contoh ketika membeli rumah di sebuah pengembang kecil tidak jauh dari BSD City. Ia membeli rumah dengan harga Rp 230 juta dan kini rumah tersebut laku di pasaran dengan harga Rp 400 sampai Rp 500 juta dalam dua tahun.

“Kenaikan ini wajar-wajar saja, karena harga di sekitarnya juga telah naik. Kenaikan ini akibat dari semakin bagusnya fasilitas dan infrastruktur di lokasi tersebut,” tambah Agustinus yang mengaku lebih suka mencari capital gain dari usaha propertinya.

Saat ini, pengembang-pengembang kecil mudah ditemui di sekitar kawasan perumahan besar di Tangerang. Misalkan saja di sekitar perumahan Lippo Karawaci, Summarecon Serpong, BSD, atau Alam Sutra. Harga rumah yang mereka tawarkan berkisar antara Rp 150 juta sampai Rp 350 juta, tergantung luas tanah.

Kehadiran mereka sangat membantu masyarakat yang berkantong pas-pasan, namun tidak ingin membeli rumah baru yang jauh dari pusat kota, seperti yang diinginkan oleh Nerma. Yang penting, jangan mudah menyerah mencarinya.

Catatan:
Tulisan ini dibuat sebagai salah satu tugas dalam pelatihan Power Produser yang saya ikuti selama tiga minggu. Semua peserta ditugaskan membuat tulisan untuk website dari hasil liputan di lapangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar