Senin, 03 September 2012

Ternate Yang Tidak Tidur

Jarum jam sudah menunjukkan lewat pukul dua belas malam. Namun, suasana di Jatiland Plaza, Ternate, masih seperti pukul delapan malam. Toko-toko masih buka dan dipadati para pengunjung. Ada yang datang dengan anak-anak mereka, dan lebih banyak yang berpasang-pasangan sambil berpegangan tangan. Areal parkir juga masih penuh sesak baik oleh mobil maupun sepeda motor. Yang pasti, keramaian ini bukan karena sedang ada midnight sale di pusat perbelanjaan terbesar di Ternate ini.

“Memang begini suasana selama bulan ramadhan. Toko-toko buka sampai jam tiga pagi menjelang waktu sahur. Sedangkan pada hari-hari biasa mereka buka sampai tengah malam. Pokoknya, mereka tutup kalau sudah tidak ada pengunjung lagi,” kata Burhan, seorang rekan yang menemani acara berkeliling Ternate, ketika saya berkunjung ke pulau ini pada minggu terakhir bulan ramadhan lalu.

Saya sangat menikmati kesempatan jalan-jalan ke Ternate ini. Sudah lama saya menunggu kesempatan bisa berkunjung ke kota yang sempat menjadi ibukota Maluku Utara ini. Namun, penantian itu baru berakhir pada 2012 ini. Walau waktu saya relatif hanya sedikit berada di sini, namun saya berusaha untuk bisa melihat dan menikmati pesona Ternate sebanyak-banyaknya. Mungkin harus menunggu lama lagi kesempatan datang ke sini. Apalagi, ongkos pesawat ke Ternate lumayan mahal juga. Harga termurah sekitar Rp 1 juta untuk sekali jalan.

Suasana di depan Jatiland Plaza, Ternate, sekitar pukul satu dinihari

Kota Ternaate tetap ramai hingg lewat tengah malam

Jalanan di Kota Ternate masih padat hingga dinihari

Keramaian hingga dinihari tersebut adalah pengalaman yang sangat berkesan untuk saya ketika bertandang ke negeri yang pernah begitu tersohor dengan rempah-rempahnya ini. Sulit membayangkan sebuah kota kecil yang hanya berada di satu pulau seluas 111,8 kilometer persegi, gegap gempita sepanjang malam seolah-olah tidak mengenal waktu tidur. Saya sempat berpikir keramaian ini terjadi karena hari Lebaran sudah di depan mata. Namun, ternyata memang begini kondisinya sepanjang tahun.

Awalnya, saya sempat menyimpulkan kalau pernyataan rekan saya, Burhan, yang mengatakan Ternate memang selalu ramai sepanjang malam hanya sebuah tipu-tipu bagi pendatang seperti saya. Belakangan, saya harus mempercayai sepenuhnya. Kalau orang-orang masih berbelanja keperluan Lebaran hingga tengah malam, tentu toko lain yang tidak berhubungan dengan keperluan Lebaran tidak perlu ikut-ikutan masih buka sampai dinihari. Namun, faktanya, segala macam toko masih buka. Salah satunya adalah salon. Untuk apa salon masih buka sampai pukul satu dinihari? Ah, Ternate sungguh membuat saya geleng-geleng kepala karena takjub.

Ternate dari Udara

Masjid Raya Ternate di tepi laut

Puncak Gunung Gamalama

Ternate pada siang hari juga tidak kalah indah. Saya dapat memandangi puncak Gunung Gamalama yang sempat meletus pada akhir 2011 lalu dari posisi manapun yang saya mau. Sejumlah ilmuan mengungkapkan, gunung yang memiliki tinggi sekitar 1.715 meter dari permukaan laut ini, sebenarnya bukan berada di pulau Ternate seperti dugaan orang.

Justru sebaliknya, Kota Ternate yang terletak di Gamalama, tepatnya di punggung gunung tersebut. Kaki Gunung Gamalama berada di dasar laut pada kedalaman sekitar 3.000 meter. Jadi, Pulau Ternate sebenarnya adalah sebuah gunung yang muncul dari dalam laut. Celakanya, gunung tersebut masih aktif dan dapat meletus kapan saja dan mengancam penduduknya yang sekarang berjumlah 176 ribu jiwa. Sejarah mencatat Gamalama sudah meletus 67 kali sejak 1538 dan hingga hari ini dapat mengancam semua penduduknya setiap saat.

Saya menginap di Hotel Bela International selama berada di Ternate. Hotel terbesar di pulau penghasil pala dan cengkeh ini adalah hotel terbesar dan berada di posisi yang lumayan tinggi dari pantai. Saya dapat memandang Gunung Gamalama dari jendela kamar. Sedangkan dari lobby hotel saya dapat menikmati panorama Pulau Tidore dan Pulau Maitara, seperti yang tergambar di uang kertas pecahan Rp 1.000. sebagian lanskap Kota Ternate juga terlihat dari sini. Berkali-kali saya memotret semua pemandangan dari tempat ini sampai yakin sudah mendapatkan semua sudut foto terbaik.

Pulau Tidore dan Pulau Maitara terlihat dari Ternate

Rempah-rempah telah membuat Ternate begitu tersohor ke seluruh dunia pada ratusan tahun silam. Bangsa penjajah pun berlomba-lomba menguasai pulau ini. Kalau perlu lewat jalan perang. Portugis adalah bangsa yang pertama kali menemukan Ternate setelah sekian lama mencari jejak sumber rempah-rempah yang harganya sempat mengalahkan harga emas di benua putih. Beberapa tahun kemudian, Ingggris dan Belanda pun bergantian menjajah Ternate demi cengkeh dan pala yang tumbuh subur memenuhi pulau ini.

Jejak penjajah di Ternate masih dapat dinikmati dengan keberadaan sejumlah benteng di sejumlah sudut kota. Setidaknya ada tujuh benteng di pulau ini. Benteng Orange adalah benteng terbesar dan berada di tengah kota. Benteng ini sangat luas dan menjadi lambang kejayaan Belanda ketika menguasai Ternate pada jaman penjajahan dulu. Sayangnya, benteng Orange tidak terurus dengan baik. Semak belukar menutupi sebagian benteng yang mulai hancur terbakan usia. Belum lagi rumah-rumah penduduk yang menempel pada dinding benteng. Bahkan, bagian dalam benteng menjadi komplek militer.

Seharusnya benteng ini bisa menjadi cagar budaya yang harus dirawat dengan baik. Bukan tidak mungkin benteng ini bisa menjadi ikon pariwisata Ternate bagi pencinta wisata sejarah. Wisata nostalgia tentu menarik bagi bangsa Eropa yang pernah tercatat menjajah Ternate atau menjadi penikmat rempah-rempah asal pulau ini.

Salah satu sudut Benteng Orange di pusat Kota Ternate

Pintu ruangan bawah benteng Orange di Kota Ternate

Jendela kayu di bangunan di dalam Benteng Orange, Ternate

Jangan lupakan untuk menikmati pantai-pantai di Ternate yang sangat indah dengan air yang sangat jernih dan bersih, seperti yang umum dijumpai di belahan timur Indonesia. Bahkan, pemerintah Kota Ternate menjadikan pantai-pantai di seputaran kota sebagai kawasan publik dengan menyiadakan taman-taman yang gratis bagi siapa saja. Penjual makanan dan minuman juga banyak dijumpai di sepanjang pinggiran taman.

Saya sempat membeli beberapa makanan kecil khas Ternate sambil menanti waktu buka puasa di pinggir pantai. Kalau saja Jakarta punya tempat bersantai seperti ini, pasti semua orang akan senang dan semakin bangga dengan kotanya. Sepertinya memang hanya Jakarta yang menarik tarif tinggi agar orang-orang bisa menikmati pantai.

Ternate telah memberikan saya kesan mendalam walau hanya singkat berada di sana. Suatu hari saya ingin kembali lagi ke pulau ini dan punya waktu lebih longgar untuk menikmati semua pesonanya...

Sunrise di Kota Ternate

Pantai di tepi Kota Ternate untuk tempat nongkrong

4 komentar:

  1. Anonim9:37 AM

    mantap senina. aku juga pernah kesana sekitar tahun 1999. cuma sayang tidak sempat menikmati berwisata berhubung karena dinas kantor lamaku.bujur ellysanter sinuraya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, sesekali senina harus ke Ternate untuk liburan. Tidak akan menyesal. :-)

      Hapus
  2. boleh ini gan kapan2 berkunjung kesana...

    BalasHapus