Senin, 05 November 2012

5 Hari Menyusuri Keindahan Lombok

Akhirnya, kesempatan itu pun tiba. Sejak lama saya menunggu kapan bisa menginjakkan kaki di Pulau Lombok. Saya sangat penasaran dengan kisah-kisah dari sejumlah orang yang melukiskan Lombok sebagai pulau pengganti Bali. Pulau ini dilukiskan memiliki alam yang lebih indah daripada pulau dewata. Bahkan, banyak yang menyarankan untuk lebih baik memilih Lombok sebagai destinasi liburan daripada pergi ke Bali yang dianggap sudah terlalu usang.

Saya akhirnya dapat membuktikan semua cerita-cerita tersebut pada akhir Oktober 2012. Saya mendapatkan kesempatan selama lima hari berada di Lombok atas undangan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menghadiri Konferensi Nasional VIII Pemberdayaan Sumber daya Pesisir, Laut, dan Pulau-pulau Kecil. Saya diundang karena menjadi salah satu penerima penghargaan Coastal Award dari kementerian itu karena dinilai memenuhi kriteria sebagai pihak yang telah berperan dalam mengangkat isu-isu tentang kawasan pesisir, laut, dan pulau kecil.

Kesempatan selama lima hari di Lombok tentu tidak saya sia-siakan begitu saja. Bahkan, setelah menyimpan tas di kamar hotel pada pukul 17.30 WITA, saya langsung naik taksi menuju Pantai Senggigi sambil menenteng kamera. Awalnya, saya berniat melihat sunset karena banyak yang memberi tahu sunset di Senggigi selalu indah. Namun, apa mau dikata. Rupanya, jarak Hotel Lombok Raya menuju Pantai Senggigi lumayan jauh. Saya tiba di pantai yang sangat terkenal ini ketika hari sudah gelap. Alam tidak menyisakan sisa-sisa cahaya di ufuk barat untuk saya nikmati, walau beberapa detik saja. Saya pun akhirnya kembali ke hotel dengan naik taksi.

Malam harinya, saya berjalan kaki di sekitar hotel. Bersama teman-teman, saya mampir ke sebuah rumah makan di dekat hotel. Saya memesan sepiring nasi goreng dan air jeruk sebagai menu makan malam di rumah makan yang berseberangan dengan sejumlah kios pedagang souvenir khas Lombok. Rasa makanan yang saya pesan biasa-biasa saja. Begitu juga dengan air jeruknya yang terlalu dingin. Padahal, saya sudah memberi tahu agar air jeruk pesanan saya hanya diberikan sedikit es.


Suasana Pantai Seger, Lombok Tengah, yang masih cukup sepi

Suasana Pantai Seger yang berpasir putih seperti butiran merica

Suasana Pantai Kuta, Lombok Tengah, yang semakin ramai dikunjungi

Pemandangan dari bukit Pantai Seger, Lombok Tengah

Pantai Tanjung Aan, Lombok Tengah, yang relatif sepi

Petualangan saya di Pulau Lombok akhirnya dimulai pada keesokan pagi harinya. Saya akhirnya dapat menikmati Lombok dengan seluruh pesonanya. Saya berkesempatan untuk menyisir pantai-pantai di sebelah selatan Lombok yang indah dan relatif masih sepi. Ada pantai Seger, Kuta, Tanjung Aan, dan sejumlah pantai lain yang berserakan dari ujung timur hingga ujung barat Pulau Lombok.

Saya juga akhirnya dapat menikmati pesona Pantai Senggigi yang gagal saya nikmati pada hari pertama. Bahkan, saya dapat menyaksikan sunset di pantai ini, lengkap dengan pemandangan Gunung Agung di Pulau Bali. Indah sekali, dan membuat saya enggan beranjak dari bibir pantai walau malam sudah menjemput.


Sunset dari Pantai Senggigi, Lombok

Salah satu sisi Pantai Singgigi, Lombok

Pantai Senggigi di Lombok yang sangat terkenal

Selama berada di Lombok, saya juga dapat menikmati keindahan Kota Mataram yang menjadi ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota ini lumayan ramai dan besar. Bahkan, jalan utama yang menjadi lokasi semua perkantoran penting, sangat lebar dengan pohon besar berjejer di kiri-kanan jalan.

Saya juga berkesempatan untuk menikmati kawasan kota tua Mataram yang berada di Ampenan. Kawasan kota tua ini berada di pinggir bekas pelabuhan Ampenan dan menjadi kawasan pecinan di Mataram. Pemerintahan Mataram seharusnya merawat kawasan kota ini dengan lebh baik agar menjadi salah satu daya tarik wisata di Lombok.

Pergi ke suatu daerah tanpa menikmati wisata kuliner, tentu tidak boleh dilakukan. Karena itu, saya pun mencicipi beberapa wisata kuliner yang khas dari Lombok. Ayam bakar taliwang adalah menu makanan khas Lombok yang wajib dicoba. Bahkan, saya sempat makan ayam bakar taliwang di tiga tempat, lengkap dengan kangkung yang disiram sambel dan kacang tanah goreng. Saya juga mencoba sate bulayah saat berada di Pantai Senggigi. Sate ini terbuat dari daging sapi dengan bumbu sate yang mirip rendang. Saya juga tidak lupa untuk membeli sejumlah oleh-oleh khas NTB yang banyak dibuat dari hasil olahan rumput laut.

Pantai di Gili Trawangan yang sangat bersih

Turis asing sedang berjemur di Gili Trawangan

Pengalaman paling berkesan untuk saya di Lombok adalah ketika menghabiskan satu malam di Gili Trawangan. Inilah destinasi wisata paling favorit di Pulau Lombok dalam beberapa tahun belakangan ini. Saya seperti sedang berada di luar Indonesia ketika menghabiskan waktu di pulau kecil yang dapat dijangkau dalam waktu 45 menit dari Dermaga Bangsal, Lombok ini.

Wisatawan asing mendominasi Gili Trawangan. Mereka berbusana seadanya dan berkeliaran di seluruh pulau yang dapat dikelilingi selama tiga jam saja ini. Bahkan, banyak turis asing berjemur di pantai berpasir putih dengan bertelanjang dada. “Karena itu, jangan lupa membawa kacamata hitam ke Gili Trawangan,” kata Jun, rekan yang mengantar ke sana.

Lima hari berada di Lombok sungguh sangat tidak terasa. Masih sangat banyak tempat-tempat eksotis di pulau ini yang belum saya kunjungi. Mungkin tidak lama lagi saya akan kembali ke sini…

4 komentar:

  1. Luhur Nurhardika6:00 AM

    foto2nya bikin pengen ke Lombok pak Edi. salam kenal....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lombok sangat layak menjadi tujuan liburan bagi siapapun. Pulau ini terus berbenah agar semakin 'ramah' bagi setiap wisatawan. salam kenal juga dari saya. Ajak-ajak kalo ke Lonbok ya. Hehehe....

      Hapus
  2. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus