Kamis, 13 Desember 2012

Berburu Tarsius di Batu Mentas Belitung


Saya baru pertama kali melihat hewan yang bernama Tarsius ini. Matanya besar dan menghadap ke depan seperti mata burung hantu. Tubuhnya kecil dan serangga menjadi makanan favoritnya. Kaki belakangnya panjang seperti katak, sehingga ia mampu melompat sangat jauh dari batang pohon ke batang pohon lain. Panjang ekornya bisa mencapai 30 cm dan ramping seperti ekor tikus. Bulunya lembut dan biasanya berwarna cokelat. Sama seperti burung hantu, hidup tarsius lebih banyak pada malam hari, atau nokturnal.

Pengalaman pertama saya melihat hewan primata ini terjadi ketika saya mampir ke Batu Mentas, sebuah kawasan wisata alam di Pulau Belitung. Distinasi wisata ini menjual keindahan alam Belitung yang masih hijau dengan hutan yang masih lebat, serta sungai sangat jernih di tengah kawasan yang mengalir dari Gunung Tajam.

Letak Batu Mentas persisnya berada di kawasan hutan lindung Dusun Kelekak Datuk, Kecamatan Badau, sekitar 30 km dari pusat Tanjungpandan. Sangat mudah mencapainya, apalagi dari Bandara HAM Hanandjoedin. Jalan aspal yang sangat mulus akan kita lewati saat menuju ke tempat wisata ini. Hanya ada sekitar 50 meter jalan masih berupa tanah merah yang harus dilalui hingga depan pintu masuk Batu Mentas.

Berdasarkan penelitian, kawasan hutan di sekitar Batu Mentas menjadi habitat hidup tarsius sejak dulu. Entah bagaimana hewan kecil yang sekilas mirip kera ini, bisa ada di kawasan hutan ini. Padahal, sejumlah literatur menyebutkan Kalimantan adalah habitat asli tarsius.



Gampang-gampang susah untuk menemui tarsius di habitat aslinya di kawasan hutan lindung ini. Pengelola Batu Mentas sebenarnya sudah memetakan kawasan hutan di sekitarnya yang menjadi habitat hewan ini. Bahkan, jalur-jalur safari 'memburu' tarsius sudah dibuat yang membelah kawasan hutan. Tapi, tidak ada jaminan Anda akan pasti bertemu tarsius kalau menyusurinya.

Begitu juga dengan saya yang tertarik untuk ikut 'perburuan' tarsius pada malam hari. Selama dua jam lebih saya ikut sebuah rombongan masuk ke dalam hutan belantara yang cukup lebat. Suara serangga malam sangat jelas terdengar di tengah bulan nyaris sempurna yang sesekali terlihat di balik pepohonan. Namun, apa daya, walau badan sudah sangat lelah, tarsius yang kami cari-cari tetap tidak menampakkan diri.


Untuk mengobati rasa penasaran, saya akhirnya masuk saja ke tempat penangkaran dan penelitian tarsius yang ada di salah satu sudut Batu Mentas. Saya pun dapat melihat langsung wujud hewan insektivora yang kepalanya bisa diputar 180 derajat ini. Menyenangkan sih, walau pastinya akan lebih seru kalau saya bisa melihatnya langsung di alam bebas.

Kawasan Wisata Batu Mentas dikelola oleh Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB). Tempat ini menjual rindangnya pepohonan lengkap dengan sungai sangat jernih yang mengalir di tengahnya. Sekilah, Batu Mentas mirip dengan Taman Cibodas di Bogor, Baturaden di Banyumas, Sembahe di Medan, dan sejumlah tempat wisata lain yang menjual keindahan hutan dan sekaligus sungai.



Beragam aktifitas bisa dilakukan di Batu Mentas yang memungut biaya masuk Rp 5.000 untuk satu orang. Misalkan saja, berenang atau berendam di air sungai yang sangat jernih dan segar, trakking hingga ke puncak bukit, menyusuri sungai yang melewati punggung-punggung bukit, atau menyewa ban untuk rafting kecil-kecilan mengikuti arus sungai. Jangan takut kelaparan, karena ada warung di dalam areal Batu Mentas dengan menu kecil-kecilan dan harga yang sangat terjangkau.

Batu Mentas juga bisa dipakai untuk tempat camping. Atau, kalau ada dana lebih, pengelolanya menyediakan penginapan berupa rumah pohon. Ada beberapa rumah panggung dibangun di tengah hutan dengan dinding dari bahan sejenis terpal. Tempat tidur juga dilengkapi dengan kelambu khusus agar nyamuk tidak mengganggu saat tidur. Menginap di rumah ini akan memberikan pengalaman bagi siapa saja untuk mendapatkan sensasi seperti tokoh tarzan yang tinggal di tengah hutan.

Tertarik? Silahkan mampir ke Batu Mentas ketika traveling ke Belitung.

Saya menginap satu malam di Batu Mentas. Satu hari satu malam berada di tengah hutan Pulau Belitung memberikan pengalaman lain untuk saya. Hati saya langsung resah tatkala membayangkan berbagai jenis pohon rindang di sini akan habis oleh penambangan timah seprrti di belahan Belitung lainnya. Semoga saja tidak terjadi.





1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus