Rabu, 05 Desember 2012

Mabuk Kepayang di Pulau Kepayang Belitung

Tiga orang tampak asyik snorkling di sebuah deretan batu granit tidak jauh dari Pulau Kepayang. Batu-batu granit yang menjulang cukup tinggi di atas permukaan laut itu diputari hingga dua kali. Rupanya, batu granit yang indah dipandang dari tepi pantai Pulau Kepayang itu, juga indah ditatap sampai ke bagian yang ada di dasar laut. Di sana ada ikan dengan aneka rupa berenang kesana-kemari, seakan mengajak ketiganya untuk bermain-main. Ukuran ikan pun bermacam-macam, dari seukuran kelingking hingga selebar telapak tangan orang dewasa.

Salah seorang diantara ketiganya berusaha mengejar-ngejar ikan di sekitar batu granit yang mulai ditumbuhi karang-karang. Hatinya gembira dan bahagia menikmati pemandangan alam bawah laut ini. Apalagi, ketika ia menemukan sejumlah ikan Nemo yang bersembunyi diantara anemon, semacam tumbuhan laut yang memang menjadi habitat ikan berwarna kuning bergaris putih yang pernah terkenal dalam sebuah film itu. Ia snorkling cukup lama di sekitar anemo itu untuk memandang keindangan ikan Nemo yang juga dikenal sebagai ikan Badut itu. Tangannya berusaha menggapai ikan-ikan itu, walau hanya dibalas dengan cara bersembunyi.

Tahukah Anda siapa orang yang itu? Yap, tebakan Anda tidak salah. Orang itu adalah saya!


Impian saya untuk pergi ke Pulau Belitung akhirnya terwujud pada akhir pekan ketiga November 2012. Berkat undangan seorang sahabat di sana, saya pun menghabiskan tiga hari di pulau penghasil timah ini. Saya memperoleh begitu banyak pengalaman berharga dan berkesan selama di Belitung. Salah satunya adalah menjelahi sebagian keindahan pantai dan lautnya. Nah, salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah berenang dan snorkling di Pulau Kepayang, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Kelayang di sebelah barat daya Pulau Belitung.

Perjalanan ke Pulau Kepayang memakan waktu sekitar 50 menit dari pantai Tanjung Kelayang dengan menggunakan perahu kayu tradisional. Sejak berangkat, kita akan disuguhi oleh keindangan laut Belitung yang sangat khas dengan batu granit yang bertebaran di sembarang tempat. Batu-batu granit yang berukuran kecil hingga melebihi ukuran mobil Alphard itu tersusun sedemikian rupa di banyak titik, seakan ada tangan-tangan terampil yang meletakkannya. Imajinasi pun muncul ketika melihat sejumlah tumpukan batu karena bentuknya ada yang mirip kepala burung, kura-kura, kepala ikan, dan sebagainya.

Ikut bersama saya di atas kapal adalah Ade Afrilian, satu seorang pengelola Belitung Adventure, dan Winnie Kusumawardani, seorang chef yang menjadi pembawa acara masak-masak di sejumlah program TV. Sedangkan yang menjadi ‘kapten’ kapal adalah Asro, yang juga ikut bergabung dalam Belitung Adventure.


Hampir enam jam saya berada di Pulau Kepayang. Sebuah waktu yang cukup lama untuk membuat saya akhirnya jatuh cinta dengan Belitung. Pantai di pulau yang juga terkenal dengan sebutan Pulau Babi ini dihiasi oleh batu-batu granit di sejumlah tempat. Ukurannya pun sangat beragam, dari yang kecil hingga yang sangat besar. Batu-batu ini bertebaran di antara laut yang sangat jernih dan pasir putih yang memenuhi pantai.

Dari Pulau Kepayang, saya juga dapat memandangi Pulau Lengkuas dan juga menara mercu suar yang berdiri kokoh di tengahnya. Begitu juga dengan sejumlah pulau kecil lain yang ada di sekeliling Kepayang. Indah sekali, dan membuat saya tidak pernah puas untuk membidikkan lensa kamera ke semua sudut. Apalagi, cuaca sedang sangat cerah sehingga pemandangan indah selalu terpampang di jendela kamera. Jepret…jepret…jepret….




Saya snorkling hingga puas setelah menghabiskan waktu sekitar tiga jam untuk memotret lanskap di seluruh pulau. Bersama Ade dam Winnie, kami pun berenang ke sebuah tumpukan batu granit yang berjarak sekitar 20 meter dari pinggir pantai. Awalnya, saya berpikir kedalaman laut sangat dalam, namun ternyata hanya sekitar dua meter.

“Kalau sedang surut, kita bahkan bisa berjalan ke Pulau Babi Kecil,” kata Ade sambil menunjuk sebuah pulau kecil yang berjarak sekitar 60 meter dari Pulau Kepayang. Pulau Babi Kecil tidak berpenghuni dan sebagian permukaan pulau dan pantainya dipenuhi oleh batu granit.

Alam bawah laut di sekitar Pulau Kepayang memang tidak memiliki gugusan terumbu karang yang indah. Sebagian besar hanya ditumbuhi oleh tumbuhan laut yang menjadi tempat berlindung ikan-ikan yang sangat mudah dijumpai dimana-mana. Ade sempat menunjuk ke sebuah titik yang memiliki karang cukup indah. Jaraknya sekitar 40 meter dari pantai. Namun, kami tidak sempat ke sana karena tiba-tiba saja mendung menyelimuti Kepulauan Kelayang.

Jangan khawatir kelaparan usai berenang di Pulau Kepayang. Sejak beberapa tahun ini, Belitung Advanture diberikan hak untuk mengelola sebagian pulau yang indah ini. Mereka pun menjadikan Kepayang sebagai sebuah pulau ekowisata. Mereka menyatukan dunia pariwisata dengan penyelamatan lingkungan. Karena itu, di samping mereka membangun beberapa infrastruktur pariwisata seperti penginapan dan warung makan, Belitung Advanture juga membangun konservasi penyu dan terumbu karang di pulau seluas 14 hektar ini.



Di pulau ini juga ada fasilitas dive center dengan tarif sekitar Rp 300.000 untuk sekali penyelaman. Tidak hanya itu. Juga ada ruangan khusus bagi penggila backpacker dengan tarif sangat murah bila ingin menginap di Kepayang. Air tawar di pulau ini juga berlimpah dengan kondisi baik dan tidak berbau air laut.

Lima jam berada di pulau ini sepertinya sangat tidak puas. Suatu hari, saya akan kembali lagi karena saya sudah dibuat mabuk kepayang oleh Pulau Kepayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar