Senin, 03 Desember 2012

Mengintip Kemolekan Pulau Belitung

Berkali-kali saya membaca tulisan tentang keindahan Pulau Belitung. Mulai dari kisah pantai-pantai yang sangat eksotis dengan batu granit terhampar di antara jernihnya air laut, keramahan masyarakatnya yang multietnis, dan tidak ketinggalan mengenai kelezatan kulinernya. Sayangnya, semua itu hanya bisa saya bayangkan ketika membaca tulisan-tulisan tadi.

Kesempatan untuk menyaksikan langsung keindahan Belitung yang digadang-gadang bisa menggantikan Bali itu, akhirnya baru terwujud akhir November 2012. Berbekal undangan seorang sahabat, saya pun menghabiskan akhir pekan di Negeri Laskar Pelangi.

Selama tiga hari di Belitung, saya akhirnya dapat menikmati secuil kemolekan pulau timah ini. Walau hanya sedikit menikmatinya, namun saya sudah jatuh cinta dengan pulau ini. Impian untuk kembali berkunjung ke Belitung sudah tertanam di hati. Pada kesempatan kedua nanti, saya tidak ingin lagi hanya menikmati secuil keindahan Belitung. Saya harus puas menjelajahi pulau yang persis berada di atas Jakarta kalau dilihat di peta ini.



Beragam kegiatan saya lakukan selama tiga hari ‘menyepi’ ke Belitung. Yang paling utama tentu saja menjelajahi pantai dan laut yang penuh dengan batu-batu granit. Saya bahkan menghabiskan waktu beberapa jam di Pulau Kepayang, salah satu pulau yang dipenuhi batu-batu granit yang sungguh eksotis. Saya mengelilingi pulau, berenang, dan duduk santai di atas batu granit besar di salah satu sudut pulau.

Tidak lupa saya juga mencicipi beberapa kuliner khas Belitung, termasuk minum kopi di kedai kopi di tengah Kota Tanjung Pandan. Bahkan, saya membeli abon ikan yang memang terkenal di Belitung, langsung ke pembuatnya di tengah pusat Kota Tanjungpandan.



Sebelum kembali ke Jakarta, saya juga menghabiskan waktu beberapa jam untuk menjelajahi peninggalan sejarah Belitung di sudut-sudut Tanjung Pandan. Sebagai pulau yang sudah didatangi belanda sejak 1800an untuk mengeruk timah, tentu saja bermacam-macam peninggalan mereka ada di Belitung. Banyak peninggalan Belanda itu kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan negara. Untuk pengalaman ini, saya berterima kasih untuk Wahyu Brata, GM Hotel Billiton, yang telah mengajak saya mengelilingi Tanjungpandan dengan mobil antiknya.

Terakhir, harus saya akui kalau saya belum puas menikmati Negeri Laskar Pelangi pada kunjungan perdana ini. Karena itu, saya akan kembali lagi. Mungkin tidak lama lagi. Semoga…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar