Minggu, 03 November 2013

Foto-foto Perjalanan Haji 2013

Labbaika Allaahumma labbaika.
Labbaika laa syariika laka labbaika.
Innal hamda, wan ni’mata.
Laka wal mulka laa syariika laka.


“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Bacaan talbiyah ini tidak putus-putusnya saya dan jamaah haji lainnya ucapkan sejak tiba di Tanah Suci dan semakin sering kami ucapkan ketika tiba di pelaksanaan puncak haji, yakni wukuf di arafah. Bacaan talbiyah ini baru berhenti diucapkan ketika kami selesai melontar jumrah pada hari raya. Talbiyah hanya salah satu pelajaran yang saya dapat selama berkesempatan naik haji pada tahun ini.

Berada selama 16 hari di Tanah Suci, telah memberikan begitu banyak pengalaman berharga untuk saya. Awalnya, saya sama sekali tidak pernah menyangka bakal berkesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci secepat ini. Namun, kata orang, ketika Allah sudah memanggil, maka tidak satupun manusia bisa menolaknya. Maka, saya pun berangkat ke Tanah Suci pada 6 Oktober 2013, yang bertepatan dengan tanggal 1 Djulhizah 1434 H.

Sambil saya menyelesaikan semua tulisan tentang pengalaman saya di tanah suci, saya akan membagi beberapa foto hasil jepretan saya selama di Arab Saudi. Ada tiga kota yang saya singgahi, yakni Jeddah, Madinah, dan tentu saja Mekkah.

Berikut adalah beberapa foto yang saya abadikan dengan kamera DSLR, pocket, dan smartphone:













Selengkapnya...

Senin, 26 Agustus 2013

Ketika Berdiri Satu Meter dari Metallica

9 April 1993.

Hari masih siang, ketika saya dan seorang teman, Desmond Siahaan, baru saja tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Kami pun bergegas masuk ke dalam Terminal 2 Kedatangan. Rupanya, sudah ada begitu banyak penggemar Metallica di sana. Kebanyakan adalah remaja tanggung yang berpakaian hitam dan rambut gondrong. Mereka berkeliaran di sekitar bandara dengan satu tujuan yang sama: menanti kedatangan Metallica!

Tujuan kami juga sama dengan mereka. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari sumber terpercaya, Metallica memang akan mendarat di Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, kami pun mendapatkan waktu kedatangan dan naik pesawat dari mana mereka untuk menuju Jakarta. Karena itu, kami segera berdiri di depan pintu keluar ketika waktu tersebut semakin dekat. Jantung kami berdetak cukup kencang menanti grup band yang sedang digandrungi jutaan anak muda di seluruh dunia itu akan muncul di sana.

Rupanya, kami salah membaca situasi. Melihat banyaknya penggemar yang memadati bandara, panitia penjemputan Metallica akhirnya mengeluarkan keempat personil grup band pemilik lagu 'Enter Sandman'itu dari terminal keberangkatan, dan bukan dari terminal kedatangan seperti para penumpang umumnya. Kami gagal bertemu dengan James Newstad dan kawan-kawan!

25 Agustus 2013.

Sekitar 20 tahun sudah berlalu. Metallica kembali mampir ke Indonesia. Ya, hanya mampir! Kalau pada 1993 mereka berhari-hari menginjakkan kaki di Jakarta, maka kali ini hanya dalam hitungan jam. Mereka tiba di Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 16.00, dan berlanjut menggelar konser di Gelola Bung Karno Senayan pada pukul 20.00, dan (kabarnya) langsung terbang malam itu juga.

Tapi, saya lebih beruntung daripada 60 ribu penonton Metallica yang pada malam itu memadati Senayan. Sekitar pukul 17.00 WIB, Metallica menggelar jumpa pers terbatas di salah satu ruangan Gelola Bung Karno. Saya menjadi salah satu orang yang berdiri di ruangan itu, dan hanya berjarak satu-dua meter dari keempat personil Metallica yang rata-rata sudah berumur setengah abad tersebut. Kalau pada 1993 saya gagal 'menguber-uber' mereka, kali ini saya berhasil bertemu. Bahkan, usai puas memotret mereka saat jumpa pers, saya melanjutkan kebahagian dengan menyaksikan konser spektakuler Metallica dari bangku tribun Gelora Bung Karno.

Ini adalah beberapa foto hasil jepretan saya:

Selengkapnya...

Senin, 05 Agustus 2013

Rahmat Yunianto, Kisah Seorang Jurnalis Investigasi

Tidak seorang manusiapun yang tahu kapan Sang Pencipta akan menjemputnya. Manusia hanya bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan amal bakti yang cukup agar kelak tidak tersiksa di alam baka. Kematian memang rahasia Sang Khalik.

Begitu banyak yang terkejut ketika Dibata, begitu orang daerah saya menyebut Tuhan, memanggil Rahmat Yunianto pada hari Minggu, 4 Agustus 2013. Mereka tidak percaya, Rahmat begitu muda harus meninggal. Umurnya yang baru 41 tahun seharusnya sedang menjadi momen mencapai puncak prestasinya. Namun, apa mau dikata, takdir berkata lain. Rahmat harus meninggalkan dunia yang semakin sumpek ini karena mengalami stroke pada Sabtu malam. Dalam hitungan beberapa jam saja, dua kali serangan stroke menerpa bapak tiga anak yang biasa saya panggil Gan Rahmat ini. Istilah ‘gan’ adalah singkatan ‘juragan’. Rahmat tidak bisa melawan sakitnya, sehingga ajal pun menjemput pada Minggu yang terik itu. Semua pun terkejut! Dunia berkabung!

Rahmat Yunianto adalah seorang jurnalis yang memiliki integritas tinggi untuk profesi yang sudah ia geluti sejak awal 90an. Ia sangat jujur dan menolak keras pemberian amplop yang marak menggodanya saat liputan. Ia lebih suka berbisnis mobil bekas atau membantu istrinya berjualan teh poci atau makanan kecil daripada harus melacurkan profesinya. Sebuah sikap yang memotivasi saya.

Rahmat Yunianto mengawali karir pada sejumlah majalah sampai akhirnya bergabung dengan Metro TV pada 2001. Rahmat begitu mahir bermain dalam berita-berita berbau investigasi lewat program Metro Realitas yang ia bangun bersama beberapa rekan lain di Metro TV. Ia bergabung ke Metro TV dengan posisi sebagai reporter sampai akhirnya menjadi asisten produser pada 2004, dan produser di Metro Realitas pada 2005.

Sukses menggawangi Metro Realitas, Rahmat dipercaya menjadi Produser Eksekutif di Program Indept. Tahun 2011, Rahmat dirotasi dari News Magazine ke Departemen News sebagai Produser Eksekutif di program Metro Siang dan Wide Shot. Talentanya sebagai seorang jurnalis benar-benar diakui ketika Rahmat diangkat menjadi Manajer Produksi Berita Metro TV. Namun, pada Januari 2013, Rahmat kembali dikembalikan ke News Magazine sebagai Manajer dengan nama baru sebagai Manajer Non-buletin. Rahmat mengatakan kalau salah satu tugasnya adalah kembali membenahi program-program magazine Metro TV yang seperti sudah porak-poranda, termasuk di semua program indept, bidang yang sangat dipahaminya.

Pengalaman cukup panjangnya di majalah mingguan telah membentuk Rahmat Yunianto menjadi seorang jurnalis yang sangat jago di bidang kejahatan kerah putih, politik, dan ekonomi. Menjadi awak redaksi di majalah mingguan investigasi juga memaksanya untuk bisa menembus para narasumber yang sulit ditemui. Apapun harus ia lakukan untuk bisa mengorek informasi. Kalau gagal, Rahmat harus siap menerima maki-makian dari redakturnya.

“Suatu hari, saya mendapatkan tugas mewawancarai seorang pengusaha yang sedang terbelit kasus. Berhari-hari dicari, namun pengusaha itu tidak pernah muncul. Saya kemudian mendapatkan informasi kalau pengusaha itu selalu jogging di sekitar komplek rumahnya dengan mengajak sang istri. Waktu jogging biasanya ketika matahari belum lama terbit. Keesokan harinya, saya pun datang subuh-subuh ke dekat rumah pengusaha itu. Tidak lama menunggu, pengusaha itu muncul dengan istrinya, dan kemudian berlari-lari kecil menyusuri jalan perumahan. Dengan pakaian jogging juga, saya pun berlari-lari kecil sampai akhirnya saya bisa berlari berdampingan dengan pengusaha itu. Mereka pikir saya juga penghuni kawasan itu sehingga keakraban cepat terjadi. Mereka sangat kaget ketika beberapa menit kemudian saya bertanya mengenai kasus yang sedang ia hadapi. Si pengusaha itu langsung menanyakan siapa saya. Ketika tahu saya wartawan, rawut mukanya segera berubah,” kata Rahmat kepada saya, suatu hari dalam obrolan santai di teras Metro TV.

Saya mulai mengenal Rahmat pada pertengahan 2004, ketika ia membawa saya bergabung dengan tim Metro Realitas . Hari pertama bergabung di sana, Rahmat langsung memberi saya tugas untuk menonton sejumlah episode Metro Realitas. Saya diminta untuk mempelajari bagaimana tayangan itu dibuat dan membayangkan seperti apa cara peliputannya. Dengan pengalaman baru selama dua tahun menjadi jurnalis TV, saya memang masih belum paham cara kerja di program TV berdurasi setengah jam seperti Metro Realitas. Apalagi, ini adalah program investigasi yang tentu banyak rambu-rambu yang harus diketahui.

Dalam perjalanan di Metro Realitas, Rahmat pun membimbing saya untuk menjadi seorang jurnalis investigasi. Saya harus akui, wawasan pria asal Majenang, Jawa Tengah itu, memang sangat berlimpah. Jaringannya begitu luas sehingga banyak sekali isu dan informasi yang ia ketahui sebelum beredar di masyarakat. Satu lembaga yang paling dikuasai Rahmat adalah Kejaksaan Agung. Ia mengenal hampir semua pimpinan di lembaga adhyaksa itu, terutama mereka yang memegang perkara. Rahmat sering muncul di kantor dengan membawa bundelan berkas atau dokumen sebuah kasus yang kemudian kami diskusikan hingga malam berganti.

Rahmat juga memiliki informasi-informasi yang sensitif yang tidak mungkin terekspos di media. Biasanya, info seperti ini hanya ia ceritakan dalam obrolan santai bersama tim Metro Realitas di setiap malam. Tempat diskusi bukan di ruang rapat kantor, melainkan di sebuah warung di depan gedung Metro TV atau di sejumlah cafĂ© di sekitar Metro TV. Tidak jarang, diskusi berlangsung di ruang karaoke sampai dinihari. Walau sudah berkeluarga dengan tiga anak, Rahmat sepertinya memiliki waktu yang tidak terbatas untuk menjalankan profesinya sebagai seorang jurnalis. Saya salut soal ini kepada si ‘Jabat Jiwa’ ini. Kata ‘Jabat Jiwa’ selalu ditulis Rahmat di dalam setiap penutup emailnya.

Saya juga mengenal Rahmat sebagai seorang sosok yang penuh kreatifitas dan memiliki imajinasi tinggi. Setidaknya jauh lebih tinggi dari saya. Sejumlah program di Metro TV hadir dari tangan pria yang sangat ramah kepada siapapun ini. Sebut saja program Inside, Genta Demokrasi, Wide Shot, dan beberapa program lain di samping Metro Realitas, program unggulan di Metro TV yang sempat membuat takut sejumlah petinggi di negeri ini.

Bahkan, Rahmat kembali mengajak saya bergabung ketika mempersiapkan program Wide Shot pada pertengahan 2011. Berbulan-bulan direncanakan, Program Wide Shot benar-benar mulai on air pada 25 November 2011, bersamaan dengan hari ulang tahun Metro TV. Rahmat ikut begadang di kantor bersama kami untuk mempersiapkan edisi perdana Wide Shot tersebut. Tidak lupa ia memesan KFC pada malam hari untuk semua tim yang ikut begadang. Tanpa ada yang mandi, kami pun sukses siaran perdana Wide Shot selama dua jam. Saya menyaksikan muka Rahmat berseri-seri ketika ia disalami para petinggi Metro TV karena dinilai berhasil menayangkan Wide Shot yang persiapannya lumayan dadakan.

Ketika rahmat mulai masuk dalam lingkaran pimpinan di Metro TV sebagai manajer, Rahmat Yunianto pun mulai terlibat dalam sejumlah momen-momen penting di stasiun berita pertama di Indonesia itu. Rapat-rapat penting pun ia ikuti. Namun, Rahmat tidak pernah pelit berbagi cerita mengenai isu-isu sensitif di kantor yang seharusnya hanya untuk konsumsi terbatas. Berkali-kali saya mendapatkan cerita-cerita seru di ring satu Metro TV yang membuat saya geleng-geleng kepala. Rahmat menceritakannya ketika saya menghampirinya di meja kerjanya, saat kami nongkrong di teras Metro TV, warung di depan gedung Metro TV, atau di rumah makan tidak jauh dari Metro TV.

Karena dianggap pintar menyusun strategi, Rahmat juga sering menjadi tempat diskusi sejumlah petinggi di Metro untuk membahas isu di luar, program, bahkan membahas struktur organisasi. Bahkan, Rahmat pun menjadi tempat curhat sejumlah orang penting di Metro TV untuk urusan yang tidak penting. Karena percaya kepada saya dan beberapa teman yang pernah sama-sama bergabung di Departemen News Magazine, Rahmat juga sering berbagi cerita-cerita itu. “Ini jadi rahasia kita saja ya,” begitu pesannya setiap kali mengungkapkan rahasia-rahasia di Metro TV yang ia ketahui atau terlibat langsung di dalamnya.

Rahmat kini telah tiada untuk menghadap Sang Pencipta. Saya akan terus mengenangnya sebagai seorang sahabat, guru, pemimpin, dan jurnalis sejati yang patut menjadi teladan.

Selamat Jalan, Gan…
Selengkapnya...

Selasa, 30 Juli 2013

Sepenggal Cerita dari Bandara Kualanamu

Seorang pria melintas dengan mengendarai sepeda motor jenis bebek. Ia lalu berhenti di depan rumah tempat saya berada bersama sejumlah warga. Pria tersebut kemudian mengeluarkan kamera saku dan mulai memotret ke arah kami.

Hanya sekitar satu menit ia berhenti dan pria tersebut kembali memacu sepeda motor tanpa mempedulikan tatapan kami. “Mereka memang selalu mengawasi kegiatan kami,” kata seorang warga tanpa menunggu saya bertanya siapa orang itu.

Begitulah pengalaman yang saya alami ketika datang ke warga yang masih bertahan di lahan tempat pembangunan Bandara Kualanamu. Pada awal Desember 2007 itu, saya bersama tim liputan serta seorang rekan wartawan dari koran nasional datang ke sana untuk melihat perkembangan pembangunan Bandara Kualanamu yang sudah dimulai.

Saya datang ke sana setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bandara Polonia untuk meliput peristiwa terbakarnya terminal keberangkatan domestik. Bandara Kualanamu perlu saya lihat karena itulah bandara baru pengganti Polonia yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2009. Dalam pikiran saya, seharusnya proses pembangunan sudah signifikan terlihat pada akhir 2007 sehingga akan bagus dipotret.

Tapi, masuk ke dalam areal pembangunan bandara bukanlah perkara yang mudah. Saya ditolak masuk karena dianggap tidak memiliki izin. Saya berusaha untuk mengontak kepala Bandara Polonia maupun Administrator bandara tersebut. Sialnya, mereka tidak punya wewenang di Kualanamu karena itu adalah proyek pemerintah pusat yang tidak terkait dengan Polonia. Tanpa peduli dengan permohonan kami, petugas keamanan pun menghadang mobil saya di jalan tanah yang masih jauh dari lokasi pembangunan. Saya sama sekali tidak bisa melihat aktifitas pembangunan dari tempat itu. Hanya ada tanah kosong dan beberapa pohon kelapa sawit yang sudah tidak terawat di sekiling saya.


Saya dan tim liputan kemudian memilih untuk mendatangi sejumlah warga yang masih bertahan di salah satu sudut areal lahan Bandara Kualanamu. Ada sekitar 71 KK atau 300 jiwa yang masih tinggal di sana di dalam beberapa rumah kayu yang sudah terlihat berumur. Mereka menolak pindah karena belum mendapatkan ganti rugi sesuai tuntutan. Umumnya, warga yang bertahan adalah generasi kedua dan ketiga. Dulunya, orang tua mereka adalah transmigran dari Pulau Jawa yang bekerja di PTPN II, perusahaan BUMN perkebunan kelapa sawit yang hampir 2.000 hektar lahannya telah dibebaskan pada 1994 untuk pembangunan bandara.

“Bandara ini memang bandara internasional, tapi sayangnya menyusahkan rakyat. Bandara ini besar, tapi menyelesaikan 71 KK saja pemerintah tidak sanggup. Warga meminta relokasi tanah untuk bercocok tanam dan tempat tinggal agar kami bisa tetap hidup,” kata Sujono, salah satu warga yang masih bertahan.

Saya berada di rumah warga yang bertahan tersebut hingga beberapa jam. Hanya butuh waktu sebentar, rumah pun ramai oleh belasan warga lain yang berdatangan. Dengan penuh semangat, mereka menyampaikan keluh kesah termasuk menunjukkan sejumlah dokumen yang menunjukkan mereka punya hak atas tanah yang masih mereka duduki.


Sambil mengumpulkan keterangan dari mereka, saya pun terus berusaha mencari jalan untuk bisa meliput ke areal pembangunan bandara. Berdasarkan keterangan warga, pembangunan rupanya baru sebatas penimbunan dan penggalian. Karena itu, truk-truk tanah berkali-kali melintas di depan rumah. Warga mengaku truk tersebut awalnya tidak melintas di depan rumah mereka. Namun, ketika perundingan untuk merelokasi mereka terus mengalami jalan buntu, truk tiba-tiba selalu melintas di depan rumah mereka. “Kami seperti ingin diteror, kata seorang warga.”

Keberadaan kami di tengah warga yang menolak digusur tersebut dipantau oleh pihak tertentu. Mereka sepertinya gerah dengan kehadiran wartawan, sehingga mengirim utusan untuk memotret kami dari jauh. Rupanya, warga sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu, sehingga mereka pun cuek saja. Saya pun akhirnya ikut-ikutan tidak peduli. Bahkan, saya pun sempat makan siang bersama dengan warga dengan menu nasi bungkus yang kami beli di rumah makan di luar areal lahan bandara.

Menjelang sore, kami berhasil mengontak seorang anggota DPD asal Sumatera Utara. Kami pun menyampaikan sulitnya masuk ke dalam areal pembangunan bandara. Ia bersedia membantu dan minta waktu untuk melobi pihak pengelola. Tidak lama kemudian, anggota DPD yang kembali terpilih pada Pemilu 2009 itu, kembali menelepon dan mengatakan sebentar lagi akan ada orang yang menjemput kami untuk dibawa ke lokasi pembangunan bandara. Yes, usaha kami tidak sia-sia.

Tidak sampai 15 menit, datang dua orang naik sepeda motor menghampiri kami. Mereka lalu mengawal kami menuju lokasi pembangunan. Sayangnya, kami tidak boleh terlalu mendekat ke lokasi proyek. Kami hanya boleh melihat dari jarak sekitar seratus meter. Tapi, dari jarak tersebut kami sudah bisa mengambil gambar alat-alat berat yang sedang hilir-mudik meratakan tanah. Rupanya, benar apa kata warga tadi, proses pembangunan fisik sama sekali belum berlangsung. Melihat kondisi ini, sulit rasanya Bandara Kualanamu bisa mulai beroperasi pada akhir 2009.

Berikut ini adalah beberaapa foto hasil jepretan saya pada awal-awal pembangunan Bandara Kualanamu:


Sekitar enam tahun berlalu sejak kunjungan terakhir saya ke Kualanamu yang sangat berkesan itu. Pada hari Kamis, 25 Juli 2013, Bandara Kualanamu akhirnya mulai beroperasi. Pada hari yang sama, Bandara Polonia pun ditutup untuk penerbangan komersil setelah 70 tahun beroperasi.

Ada rasa bangga dengan beroperasinya bandara baru tersebut. Kualanamu adalah bandara termegah dan terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta. Namun, Kualamu adalah bandara pertama di Tanah Air yang terintegrasi dengan kereta api. Kualanamu juga masih bisa dikembangkan termasuk menambah landasan baru karena luasnya mencapai 1.650 hektar, terpaut sedikit dari Bandara Soekarno-Hatta yang berada di areal seluas 1.750 hektar.
Selengkapnya...

Rabu, 24 Juli 2013

Bandara Polonia Dalam Kenangan

Dua orang remaja tanggung mengikuti saya dan keluarga menuju mobil. Tidak lama kemudian, mereka ikut mendorong troli walau tidak diminta. Mereka terus membantu dengan mengangkat tas-tas ke dalam mobil. Ketika semua sudah selesai, mereka pun meminta sejumlah uang. “Untuk beli rokok, Bang!” kata salah satu dari mereka.

Itulah salah satu pengalaman yang saya ingat tentang Bandara Polonia, Medan. Porter-porter tidak resmi seperti itu sudah menjadi pemandangan biasa di bandara terbesar di Sumatera Utara itu. Keberadaan mereka tentu menganggu kenyamanan. Tapi, sepertinya orang-orang sudah cuek saja dan lebih memilih mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu atau lebih daripada harus membuang energi untuk berdebat. Bagi mereka, ketidaknyamanan Bandara Polonia seperti sudah hal biasa. Lelah untuk mengeluh karena kondisinya juga tidak berubah-ubah.

Saya termasuk orang yang cukup sering melintas di Bandara Polonia. Tidak hanya untuk liburan ke kampung halaman di Tanah Karo, namun juga dalam rangka tugas ke Sumatera Utara. Bahkan, saya ikut menyaksikan langsung beberapa peristiwa penting yang terjadi di sekitar lingkungan Bandara Polonia.

Saya pernah ditugaskan ke kota bika ambon itu untuk meliput kecelakaan pesawat Mandala Air yang gagal terbang dari Polonia pada 5 September 2005 yang menewaskan sekitar 150 orang. Saya juga datang ke Medan ketika gedung Terminal Keberangakatan Polonia habis terbakar pada 1 Desember 2007 sehingga proses check in sempat dipindhakan ke tenda-tenda darurat di areal parkir. Dalam dua kesempatan itu, saya juga sempat melihat kawasan Kualanamu, Deli Serdang, yang digadang-gadang menjadi lokasi bandara baru pengganti Polonia.

Tidak terasa, Polonia sudah sekitar 89 tahun beroperasi sejak pesawat Fokker asal Belanda mendarat pertama kali di lapangan pacuan kuda di sekitar Medan pada 1924. Sedangkan cikal-bakal Bandara Polonia didarati pesawat pertama kali pada 1928 dengan datangnya pesawat KNILM dari Belanda. Tahun 2013, Polonia pun harus pensiun karena sudah berada di tengah kota sehingga tidak bisa dikembangkan lagi. Medan pun memiliki Bandara baru di Kualanamu, Deli Serdang, sekitar 40 km keluar Medan.

Berikut ini adalah beberapa koleksi foto saya tentang Bandara Polonia:

Terminal Polonia dari dalam pesawat

Suasana apron Bandara Polonia

Petunjuk pintu masuk ke pesawat

Menatap pesawat dari dalam terminal keberangkatan

Kota Medan dari dalam kabin pesawat

Permukiman padat menempel dengan areal Bandara Polonia

Pesawat baru tiba di Bandara Polonia

Berangkat dari Bandara Polonia

Siap take off dari Bandara Polonia

Antre dari Terminal Keberangkatan Bandara Polonia

Mandala Air jatuh di dekat Polonia (saya masih memotret dengan kamera film)

Terminal Keberangkatan Polonia yang terbakar, 1 Desember 2007

Pecahan kaca terminal yang terbakar. tampak refleksi Adam Air di kaca.

Proses Check in pun berlangsung di parkiran Polonia

Bagian Terminal Keberangkaan Polonia yang terbakar

Bandara Polonia yang terbakar pada 1 Desember 2007

Anda pernah check in di areal parkir? Saya pernah!

Terminal Keberangkatan Polonia yang habis terbakar pada 1 Desember 2007
Selengkapnya...