Kamis, 31 Januari 2013

Akhir Tragis Batavia Air

Sekitar 2002 lalu, saya berangkat ke Medan dengan menumpang pesawat Batavia Air dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat berangkat pukul tujuh pagi dan tiba dua jam kemudian di Bandara Polonia. Penerbangan berjalan lancar, walau ada insiden kecil ketika seorang ibu marah-marah kepada pramugari atas ketidaknyamanan yang ia rasakan. Namun, secara umum, saya puas dengan pengalaman terbang untuk pertama kalinya ini bersama Batavia Air.

Cukup sering saya terbang dengan maskapai ini. Rute Batavia Air memang cukup banyak yang menjangkau puluhan kota dari Timur sampai Barat, dari Utara sampai Selatan. Dengan harga tiket yang relatif lebih murah daripada maskapai lain, saya pikir pelayanan Batavia Air cukup memuaskan.

Saya pernah terbang menggunakan maskapai milik PT Metro Batavia ini ke Medan, Manado, Kupang, Surabaya, Balikpapan, dan sejumlah kota lain. Berdasarkan berita-berita tentang dunia penerbangan yang saya ikuti, muncul keyakinan pada saya kalau Batavia Air adalah maskapai nasional yang sehat dan kelak bisa tumbuh besar.

Nyaris tidak ada masalah besar yang saya alami selama ini. Kalau keterlambatan sih, menurut saya masih wajar-wajar saja. Mungkin keterlambatan paling lama yang saya alami adalah ketika harus menunggu dua jam lebih di Ternate, akibat pesawat tidak kunjung tiba. Namun, saat itu keterlambatan ini tidak terlalu mengecewakan karena saya mengisinya dengan berkeliling bandara hingga masuk ke dalam apron pesawat. Silahkan baca pengalaman saya tersebut di artikel ini.



Saya pun mengikuti berita tentang rencana Air Asia yang akan mengakuisisi Batavia Air pada pertengahan 2012. Saat itu, saya membayangkan Batavia Air akan jauh lebih besar lagi daripada saat ini. Saya juga membayangkan betapa kayanya Yudiawan Tansari, karena bakal mendapatkan duit jumbo dari Air Asia lebih dari Rp 500 miliar dari hasil melego maskapai miliknya. Namun, rupanya semua ini tidak terjadi. Perjanjian akuisisi batal dan tiba-tiba saja kinerja Batavia Air semakin merosot.

Saya merasakan bagaimana pelayanan Batavia Air semakin buruk pasca gagalnya akuisisi oleh Air Asia. Bahkan, pengalaman ini saya hadapi sampai dua kali. Yang pertama, pada September 2012 ketika saya membeli tiket Batavia Air jurusan Medan-Jakarta. Saat itu, saya harus memindahkan tanggal keberangkatan karena sebuah alasan. Namun, rupanya Batavia Air tidak melayani penerbangan ke Jakarta pada tanggal yang saya inginkan. Saya cukup terkejut karena sebelumnya maskapai ini terbang Jakarta-Medan PP sampai empat kali sehari.

“Ini terjadi karena sedang low season, Pak. Manajemen terpaksa mengurangi frekwensi penerbangan,” jawab seorang petugas di kantor cabang Batavia Air di Medan. Saya tentu tidak mempercayai alasan ini, karena sangat jarang maskapai mengurangi frekwensi pada momen apapun, termasuk ketika penumpang sedang sepi. Kalaupun ada pengurangan penerbangan, pasti dilakukan secara permanen dan diumumkan ke publik.

Pengalaman kedua terjadi pada November 2012, ketika saya membeli tiket secara online menuju Tanjungpandan, Belitung. Baru satu hari membeli tiket, datang telepon dari Batavia Air yang mengatakan penerbangan yang saya pesan ditiadakan. Anehnya, beberapa jam kemudian, datang lagi telepon dan mengatakan penerbangan tetap ada sehingga saya tidak perlu membatalkannya.

Ketika saya mulai tenang, datang lagi telepon keesokan harinya dan mengatakan penerbangan kembali ditiadakan. Saya pun diminta pindah ke penerbangan Batavia Air berikutnya yang berselisih sekitar empat jam dari penerbangan yang saya pesan. Saya mengatakan tidak mau dengan alasan harus cepat tiba di Belitung. Saya pun dipersilahkan menukar tiket saya 100% di semua kantor Batavia Air. Akhirnya, saya berganti maskapai dan malah mendapatkan harga tiket yang lebih murah.

Mimpi buruk yang sedang dihadapi Batavia Air pun mencapai puncaknya pada Rabu, 30 Januari 2013. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mempailitkan maskapai yang pada 5 Januari lalu baru merayakan ulang tahun ke-11 itu. Batavia Air pun berhenti beroperasi sejak Kamis, 31 Januari 2013, pukul 00.00 WIB dengan meninggalkan rasa kecewa pada ribuan calon penumpang yang telah memesan tiket.

“Gimana nasib tiga tiket gua ke Belitung? Disuruh pindah maskapai, tapi disuruh nambah,” kata Dhini, seorang kawan.

Saya masih penasaran mengapa nasib Batavia Air yang sempat saya idolakan ini, berakhir tragis seperti saat ini…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar