Kamis, 10 Januari 2013

Apa sih Berita itu?

Untuk kesekian kalinya, saya menjadi salah satu pemberi materi dalam rangkaian pelatihan bagi camarapersons di Metro TV pada hari ini. Saya kebagian untuk memberi materi mengenai penulisan berita di Metro TV.

Mungkin sudah empat kali saya memberikan materi ini. Awalnya, saya hanya menggantikan teman yang seharusnya memberikan materi yang sama. Namun, sepertinya kini saya sudah tidak lagi menyandang peran pengganti. Ini dapat saya pastikan dari memo yang mampir ke meja saya setiap pekan.

Waktu yang diberikan kepada saya adalah dua jam. Namun, waktu ini menjadi melar menjadi lima jam karena pemberi materi setelah saya berhalangan hadir. Saya pun diminta mengisi materi sampai siang. Tidak apa-apa. Saya akhirnya mampu mengisi materi dari pukul 07.30 WIB sampai pukul 11.30 WIB dengan materi mengenai cara memproduksi berita dan pengenalan penggunaan Dalet di Metro TV. Dalet adalah program yang dipakai di sistem newsroom Metro TV.

“Berita adalah suatu fakta atau ide atau opini aktual yang menarik dan akurat serta dianggap penting bagi sejumlah besar pembaca, pendengar, maupun penonton. Atau, berita adalah apa yang pemirsa minta dan butuh tahu, tapi mereka belum tahu,” kata saya ketika menjelaskan pengertian berita kepada para peserta pelatihan.

Setelah cukup lama menjelaskan mengenai pengeritan berita serta memberikan contoh-contohnya, saya lalu melanjutkan materia mengenai syarat-syarat berita yang harus dipenuhi oleh setiap jurnalis. Syarat pertama adalah berita harus berdasarkan fakta, bukan karangan dan dibuat-buat.

Berita juga harus obyektif, yakni sesuai dengan keadaan sebenarnya, tidak boleh dibumbui sehingga merugikan pihak yang diberitakan. Selanjutnya, berita harus berimbang dan memberikan informasi tentang semua detail penting dari suatu kejadian dengan cara yang tepat. Porsi juga harus sama dan tidak memihak. Berita juga harus lengkap dan harus memenuhi unsur 5W+1H. Terakhir, berita harus akurat, harus tepat, benar, dan tidak terdapat kesalahan. Akurasi sangat berpengaruh pada penilaian kredibilitas media maupun reporter itu sendiri.

Saya cukup panjang mengulas mengenai apa yang disebut dengan shooting plan atau wish list. Saya menganggap ini sangat penting untuk dipahami karena akan menentukan hasil dari liputan setiap jurnalis. Wish list adalah apa saja yang mau kita kerjakan yang disesuaikan dengan target yang ingin dicapai. Sasaran wish list mencakup sudut pandang/angle, side/sisi, wawancara, dan visual.

Pada bagian lain, saya menceritakan mengenai berita-berita yang paling menarik bagi masyarakat. Saya membaginya menjadi empat bagian. Keempatnya adalah berita mengenai life (kehidupan) yang menyangkut manusia, kematian, konflik, perang, bencana, dan sebagainya. Kalau bicara mengenai manusia, maka ada juga tingkatannya. Berita mengenai bayi akan selalu lebih menarik daripada golongan usia manusia lainnya.

Setelah bayi, anak-anak dan orang lanjut usia adalah yang paling menarik. Sedangkan orang dewasa berada pada urutan paling bawah dari segi usia bila dijadikan berita.

Selanjutnya, golongan berita paling menarik adalah berita mengenai uang yang mencakup apapun mengenai ‘isi dompet’. Berikutnya adalah berita mengenai choice atau pilihan. Terakhir, baru berita entertainment (hiburan, berita ringan, dan sebagainya).

Saya menutup sesi materi ini dengan memberikan sebuah tugas kepada para peserta. Saya meminta mereka untuk membuat sebuah naskah berita berdasarkan sebuah fakta dan visual yang sudah saya tetapkan. Hasilnya cukup bagus, walau hampir seluruh peserta masih salah dalam membuat angle berita.

1 komentar:

  1. Klau kata bang putra nababan,unsur berita itu 5w+1h+so what. Menurut mas kabul, berita yang cuma menyajikan fakta itu hambar, katanya harus diberi konteks.penjelasan dari so what tadi sepertinya.hehe.kenapa bang kok bayi lebih menarik beritanya?

    BalasHapus