Rabu, 30 Januari 2013

Ketika Jokowi Telepon Korlip Metro TV

"Halo, selamat malam, Mas," kata suara di seberang sana.
"Selamat malam, Pak," jawab saya.
"Saya Gubernur Jakarta Jokowi."
"Siapa, Pak?"
"Jokowi! Hehehehe."
"Siap, Pak Jokowi!"
"Saya minta agar Janes ditarik pulang. Dia sudah dari subuh di sini. Terlihat sudah sangat letih."

Cuplikan percakapan ini terjadi pada hari Jumat, 18 Januari 2013, ketika banjir masih menenggelamkan sebagian Jakarta. Malam itu jarum jam dinding di kanan tempat saya duduk menunjukkan sekitar pukul sembilan. Saya sedang asyik di depan komputer untuk menyusun tim liputan banjir untuk hari esok ketika orang yang mengaku 'Jokowi' itu menyapa di ujung telepon.

Awalnya saya tidak yakin itu adalah Jokowi sang Gubernur DKI Jakarta. Keyakinan baru datang ketika mendengar tawa khas Jokowi yang memang nyaris tiap hari saya dengar lewat liputan tim saya.

"Jokowi! Hehehehe," kata Jokowi di ujung telepon.

Saya pun langsung mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Jokowi. Rupanya, mantan Wali Kota Solo itu kasihan melihat tim liputan saya, Janes Simangunsong, seperti sudah kelelahan meliput aktivitasnya sejak subuh. Janes memang ditugaskan untuk meliput kegiatan gubernur 'kotak-kotak' itu sejak pukul lima pagi dan tidak diganti oleh reporter lain hingga malam. Janes harus long shift karena reporter pengganti digeser ke titik banjir Jakarta yang belum terliput.

Saya pun terlibat pembicaraan dengan Jokowi selama puluhan detik mengenai 'nasib' Janes. Dari nada suaranya, Jokowi sepertinya berkata-kata sambil menahan tawa. Minimal sambil senyum. Karena itu, saya pun melayani obrolan ini dengan sangat santai.

"Janes boleh pulang kalau Bapak juga sudah pulang," jawab saya sambil sedikit tertawa.

Saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan setelah pembicaraan di telepon tadi. Yang pasti, sekitar satu jam kemudian, Janes tiba di kantor dan langsung menghampiri saya. Rupanya, Jokowi juga pulang beberapa saat setelah kami bicara di telepon, sehingga Janes pun akhirnya bisa pulang ke kantor. Kami berdua pun tertawa terbahak-bahak membahas telepon dari Jokowi tadi.

Rupanya, cameraperson yang berangkat dengan Janes, merekam seluruh momen Jokowi yang menelepon saya. Memang benar, Jokowi menelepon sambil terus tersenyum. Sedangkan orang-orang di sekelilingnya tertawa menyaksikannya.


Kejadian ini menambah panjang cerita saya tentang sosok Jokowi sejak ia mencalonkan diri menjadi gubernur DKI Jakarta. Saya memang sudah mengirim tim liputan untuk ‘menempel’ Jokowi sejak proses pencalonan hingga hari ini. Tim tersebut harus meliput apapun kegiatan pria penggemar musik rock itu. Kapanpun dan dimanapun, termasuk ke luar kota, tentunya. Pokoknya, mereka tidak boleh kehilangan jejak Jokowi.

Nah, suatu hari, rupanya Jokowi bermaksud ‘menghilang’ dari para pemburu berita. Hal ini pun ia sampaikan terus terang agar para wartawan tidak perlu datang sia-sia untuk meliputnya pada esok pagi. Namun, para wartawan mengaku mereka bakal sulit meyakinkan koordinator liputan di kantor masing-masing. Jokowi pun lantas merekam pesannya itu lewat kamera handphone milik para wartawan sebagai bukti ke kantor mereka.

“Besok dan Sabtu saya libur. Minggu buka lagi. Hahahaha…,” Begitulah kata Jokowi dalam rekaman yang dikirim Janes Simangunsong kepada saya. Video tersebut masih saya simpan hingga saat ini dan selalu membuat saya tertawa setiap kali menontonnya.

Sebagai penanggung jawab liputan seputar aktivitas Jokowi, saya pun tidak mau mengambil resiko ketika melihat video untuk pertama kali. Saya tetap mengirim tim liputan keesokan harinya dan juga untuk hari Sabtu. Namun, rupanya memang benar apa yang disampaikan oleh Jokowi. Gubernur DKI itu ‘menghilang’ entah kemana selama dua hari. Bahkan, sejumlah ‘orang dekat’ Jokowi yang biasa menjadi sumber informasi kami, juga tutup mulut rapat-rapat.

Rupanya, Jokowi pergi ke Singapura untuk sebuah urusan dan baru kembali ke Jakarta pada Sabtu malam. Kalau tahu Jokowi ke Singapura, pasti saya pun memerintahkan tim liputan untuk ikut ke sana.

Masih banyak kisah mengenai Jokowi yang saya dan tim liputan alami. Kapan-kapan akan saya ungkapkan lagi.

Foto-foto: dari berbagai sumber di google.

10 komentar:

  1. pengalaman yang unik, lucu dan menarik. ketika membacanyapun saya bisa membayangkan kejadian sesungguhnya. saya menunggu kisah lainnya tentang jokowi, salam....

    BalasHapus
  2. Anonim2:41 PM

    terasa begitu deket, sederhana, bersahaja. . dan membuat saya terharu membacanya. saya membayangkan sosok seorang yang sangat kebapakan dan arif dalm menghadapi "celotehan dan kemanjaan" anak2nya (para tim pencari liputan), dan itu tidak mudah. salut buat anda pak Jokowi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya, seperti inilah sebuah pimpinan daerah dalam bekerja untuk rakyatnya.

      Hapus
  3. Anonim7:39 PM

    videonya di upload gan ke youtube

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya akan cari dulu, Gan... Semoga masih ada. :-(

      Hapus
  4. saya sering dengar berita/cerita tentang Jokowi

    tapi kisah ini sangat menyentuh saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seribu cerita memang selalu diciptakan Jokowi.
      Terima kasih untuk komennya.
      Salam...

      Hapus
  5. Anonim11:43 PM

    Masih ingat berita anaknya hatta rajasa nabrak korbanya hingga meninggal? Dulu keluarga korban dijanjikan beasiswa sekolah.tapi hingga sekarang? Mohon di cek para wartawan ke rumah korban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih untuk infonya...

      Hapus