Selasa, 26 Februari 2013

Puncak Jaya, Antara Eksotisme dan Peluru

Tidak hanya butuh biaya tinggi untuk berpetualang ke Puncak Jaya, tapi juga nyali besar. Alamnya sungguh indah, namun penembakan bisa mengancam siapa saja.

Berita penembakan berkali-kali terdengar dari Kabupaten Puncak Jaya. Entah sudah berapa nyawa yang harus hilang di ujung peluru yang entah ditembakkan siapa. Korbannya tidak mengenal siapa saja. Mulai dari tukang ojek, guru, pegawai negeri, jurnalis, hingga aparat yang seharusnya melindungi masyarakat.

Hingga detik ini, penembakan masih terus terjadi di salah satu kabupaten di Provinsi Papua ini. Bisa jadi, daerah yang berada di kawasan pegunungan tengah bumi Cenderawasih ini adalah daerah paling rawan di Indonesia pada saat ini. Mungkin juga, ini adalah salah satu daerah yang terkenal di seantero dunia karena gangguaan keamanan lewat aksi penembakan yang mengancam siapapun. Ya, daerah yang paling tidak aman bagi siapa saja!

Karena itu, saya cukup khawatir ketika berkesempatan untuk mengunjungi Puncak Jaya. Berita-berita penembakan tersebut berkali-kali menghantui saya. Namun, saya juga penasaran dengan daerah ini. Entah sudah berapa kali saya mendengar tentang keindahan Puncak Jaya dari beberapa teman yang pernah ke sana. Dengan ketinggian antara 500 sampai 5.000 meter di atas permukaan laut, Puncak Jaya adalah daratan yang tertinggi di Indonesia. Bahkan, Carstensz Pyramide, puncak Pegunungan Jayawijaya yang masih diselimuti es, berada di daerah ini. Mmm…, sayang sekali saya belum memiliki kesempatan untuk menggapai puncak gunung tertinggi di nusantara tersebut.

Dengan berbekal keberanian dan doa yang tulus kalau semua bakal berjalan baik-baik saja, saya pun berangkat ke Kabupaten Puncak Jaya. Tujuan utama saya adalah Kota Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya. Kondisi kota ini memang tidak semulia namanya. Berbagai kasus penembakan yang menimpa masyarakat justru berkali-kali terjadi di Mulia. Separatis selalu dituding sebagai pelakunya.





Saya berangkat menuju Mulia dengan menumpang pesawat kecil dari Bandara Sentani, Jayapura. Penerbangan berlangsung sekitar 100 menit dengan melewati sejumlah gunung yang menjulang tinggi menembus langit. Pesawat kadang-kadang terbang lebih rendah daripada gunung sehingga hutan yang sangat lebat dan masih perawan terlihat jelas dari dalam kabin pesawat. Timbul rasa kagum bercampur dengan kengerian ketika terlihat gunung berada di kiri-kanan pesawat. Rupanya pesawat terbang di antara tebing-tebing gunung. Selamat datang di alam Papua yang sesungguhnya.

Kota Mulia berada di sebuah lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjulang tinggi. Karena itu, pesawat selalu bermanuver dulu di atas kota sambil mengurangi ketinggian sebelum akhirnya mendarat. Kalau pilot salah bermanuver, maka fatal akibatnya. Bangkai sebuah pesawat yang dibiarkan berserakan di sebuah lereng bukit di samping landasan menjadi bukti betapa bahayanya penerbangan di Kota Mulia. Menurut cerita penduduk, pesawat itu menabrak bukit ketika hendak mendarat dan menyebabkan para penumpang meninggal dunia.

Belum lagi ancaman penembakan dari arah bukit-bukit yang mengintai setiap pesawat yang terbang dari dan ke Bandara Mulia. Bukit memang tempat yang paling strategis untuk melakukan penyerangan karena posisinya yang sangat dekat dengan landasan, bahkan saling berdampingan. Ibarat semudah melempar petasan ke tengah lapangan sepakbola dari atas tribun penonton. Kejadian penembakan terhadap pesawat di Mulia sudah berkali-kali terjadi. Korban terakhir adalah seorang jurnalis yang tewas ketika pesawat yang ia naiki ditembaki ketika hendak mendarat di Mulia.

Padahal pesawat adalah transportasi utama dari dan ke Mulia. Letak geografis Mulia yang berada di pegunungan dengan ketinggian sekitar 3.500 meter di atas permukaan laut, membuat kota ini cukup terisolir dari mana-mana. Dengan ketinggian itu, maka udara di sini juga sangat dingin. Saya pun terpaksa jarang mandi karena tidak kuat dengan dinginnya air. Bagi saya, inilah kota paling dingin di seluruh kota dataran tinggi Indonesia yang pernah saya kunjungi.


Kota terdekat dengan Mulia adalah Wamena, yang dapat dicapai lewat darat dalam waktu sekitar 16 jam perjalanan dengan jalan berupa tanah dan berbatu. Belum lagi ancaman penembakan di sepanjang jalan. Sulitnya transportasi ke Mulia membuat harga barang di sini tergolong sangat mahal. Misalkan saja, sebungkus rokok dijual Rp 20.000, bensin Rp 35.000 perliter, minyak goreng Rp 35.000 per liter, pasir Rp 4 juta pertruk, paku Rp 50.000 perilogram. Begitu juga dengan harga makanan. Seporsi nasi ayam dijual Rp 40.000, teh manis mencapai Rp 5.000 untuk satu gelas, sebotol air mineral 600 ml yang dijual Rp 20.000, atau lebih mahal 10 kali lipat dibandingkan di Jakarta.

Selain dipasok dari Jayapura, segala macam kebutuhan penduduk Puncak Jaya datang dari Wamena. Nah, untuk membawa barang dari Wamena, para pemilik toko di Mulia harus menyewa mobil angkutan seharga Rp 13 juta/ hari. Padahal, di Wamena sendiri, harga barang-barang juga sudah sangat mahal dibandingkan di luar Papua. Karena itu, tidak heran harga satu sak semen mencapai Rp 850 ribu di Puncak Jaya. Harga ini mencapai 16 kali lipat lebih mahal daripada di Jakarta.

Ketika berada di Mulia, saya berkesempatan untuk menjajal betapa menantangnya jalan yang menghubungkan Mulia dengan Wamena. Hanya mobil jenis 4X4 yang mampu menaklukkan rute ini. Medan yang dilalui memang sangat berat. Jalanan hanya berupa tanah atau batu yang tidak beraturan dan naik-turun punggung bukit. Berkali-kali mobil berjalan di pinggir jurang yang dasarnya tidak kelihatan. Namun, saya sangat menikmati perjalanan ini. Saya duduk manis sambil menikmati alam Papua yang terlukis indah di balik jendela mobil doble cabin yang saya tumpangi.








Perjalanan saya berakhir di Tinggi Nambut, sebuah distrik di Kabupaten Puncak Jaya yang tidak kalah rawan dengan Kota Mulia. Penembakan berkali-kali terjadi di sini. Daerah ini saya capai setelah melakukan perjalanan selama empat jam dari ibu kota kabupaten. Saya tiba di Tinggi Nambut ketika penduduk setempat sedang mengadakan upacara bakar batu sebagai bentuk perdamaian atas sebuah masalah yang terjadi di antara mereka. Ini momen yang langka dan baru kali ini saya saksikan secara langsung.

Ada lagi yang menarik dari perjalanan menuju Tinggi Nambut ini. Mobil yang saya tumpagi melaju bersama sekitar 50 mobil 4X4 lainnya dari Mulia. Masyarakat Puncak Jaya biasa menyebut iring-iringan mobil ini dengan sebutan lajuran. Kadang-kadang jumlahnya bisa mencapai 100 mobil. Kurang dari 50 mobil tidak mungkin. Faktor keamanan menjadi pertimbangan mereka sehingga tidak ada yang berani menempuh rute ini hanya dalam rombongan beberapa kendaraan, apalagi hanya sendirian. Salah-salah, bisa hilang tanpa jejak di tengah perjalanan.

Rute Wamena-Mulia adalah jalur tengkorak. Keamanan jalur ini sangat tidak terjamin. Penghadangan oleh orang-orang bersenjata sering terjadi di tengah perjalanan. Mereka tidak hanya merampok muatan, namun lebih tragis lagi, mobil juga bisa dibakar. Dan, yang paling parah, penumpang mobil bisa dibunuh. Mmmmm…menyeramkan sekali.

Begitu banyak pengalaman menarik lain yang saya rasakan dalam perjalanan ke Puncak Jaya. Berinteraksi dengan masyarakat lokal adalah pengalaman yang paling berkesan. Berdasarkan pengamatan saya, seluruh penduduk asli Puncak Jaya yang umumnya ramah dengan pendatang, masih tinggal di honai, rumah tradisional mereka yang berbentuk tabung dengan atap berbentuk kerucut dan tanpa jendela.



Saya sempat masuk ke dalam salah satu honai dan merasakan bagaimana rasanya tinggal di dalamnya. Saya akhirnya menjadi tahu mengapa honai dibuat sangat tertutup, tanpa jendela, dan tinggi pintu juga cukup rendah sehingga setiap orang harus menunduk ketika hendak masuk. Bentuk seperti ini memberikan kehangatan yang pas bagi semua penghuninya. Udara dingin yang ada di luar sana seketika berganti kehangatan saat masuk ke dalam honai. Apalagi, ada dapur di tengah ruangan sehingga menambah kehangatan.

Makanan asli penduduk Puncak Jaya adalah ubi dan talas. Tanaman ini mendominasi lahan pertanian di sini. Satu hal yang membuat saya terkejut dan juga miris adalah sepertinya masyarakat setempat belum mengenal cangkul untuk mengolah tanah. Mereka masih menggunakan kayu yang ujungnya dibuat lancip untuk membongkar timbunan tanah sebelum ditanami umbi-umbian. Tentu saja butuh waktu sangat lama untuk membersihkan lahan dibandingkan ketika menggunakan cangkul. Walau nilai uang terkesan begitu murah di Puncak Jaya, namun rupanya kemajuan peradaban berjalan lambat di sini.

Gangguan keamanan yang sering mengganggu Puncak Jaya setidaknya juga terobati oleh alamnya yang luar biasa indah. Menjelahi Kota Mulia sempat memberikan perasaan bagi saya kalau sedang tidak berada di Indonesia. Saya seperti sedang berada di sebuah kota kecil di tengah pegunungan benua Eropa. Apalagi, banyak rumah kayu berdesain eropa dengan cat hitam berdiri sendirian di pinggir bukit. Kabarnya, rumah itu menjadi tempat tinggal misionaris yang berada di Puncak Jaya untuk mengenalkan agama kepada penduduk lokal.


Menuju Mulia

  • Naik pesawat jurusan Jayapura dari Jakarta dengan tarif sekitar Rp 2,5 juta. Lama perjalanan sekitar enam jam. Hampir seluruh maskapai nasional membuka rute ke Jayapura. Jangan pergi ke Papua pada saat musim liburan karena harga tiket bisa mencapai Rp 12 juta pulang-pergi.
  • Sesampainya di Jayapura, perjalanan lalu dilanjutkan dengan pesawat kecil dari Bandara Sentani menuju Bandara Mulia dengan tarif sekitar Rp 2 juta. Lama perjalanan sekitar 100 menit yang memberikan pengalaman yang jarang didapat. Nikmati panorama alam bumi Cenderawasih selama dalam penerbangan. Jangan lupa pesan tiket pulang jauh hari untuk memastikan akan kebagian tempat duduk.



Pilihan Menginap
  • Penginapan maupun hotel belum banyak pilihan di Mulia. Hanya ada sebuah hotel yang memiliki beberapa kamar saja. Kamar tidak memiliki pendingin ruangan karena udara di Mulia sudah sangat dingin. Selain memakai selimut, saya juga memakai jaket dan kaos kaki saat tidur untuk melawan udara dingin.
  • Pilihan menginap lain di Mulia adalah di rumah-rumah dinas instansi pemerintahan. Pastikan Anda sudah membuat janji dengan perangkat instansi pemerintahan di Puncak Jaya sebelum berangkat.

Transportasi di Mulia

  • Ojek adalah transportasi utama di seputaran Kota Mulia. Tarif sekali naik ojek adalah Rp 10.000. Tidak ada transportasi umum lainnya di Mulia seperti angkutan kota apalagi bus.
  • Menyewa kendaraan juga bisa dilakukan bila memang terpaksa. Harga sewa mobil sangat mahal di Mulia, bisa mencapai Rp 3 juta untuk berkeling kota saja. Sebagai perbandingan, mereka memasang tarif Rp 13 juta per hari untuk sewa mobil dari Mulia ke Wamena.

Perhatikan hal berikut saat di Mulia

  • Karena berada di ketinggian sekitar 3.500 meter di atas permukaan laut, pastikan Anda membawa perlengkapan di tempat dingin, seperti baju hangat, jaket tebal, sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala, dan sebagainya.
  • Jangan lupa membawa pelembab wajah dan bibir untuk mencegah kulit pecah-pecah akibat terik matahari. Karena beraa di ketinggian, maka jarak Mulia semakin dekat dengan matahari sehingga akan sangat terik pada siang hari.
  • Cukup banyak warung makan di seputaran Kota Mulia yang dimiliki oleh warga pendatang. Menunya pun bermacam-macam dan cocok untuk lidah siapapun. Namun, dianjurkan juga untuk membawa bekal makanan yang cukup agar tidak banyak mengeluarkan uang makan di Mulia mengingat harganya yang sangat mahal.
  • Selalu bersikap sopan dimanapun berada dan harus selalu berhati-hati karena gangguan keamanan sering terjadi di Puncak Jaya. Usahakan untuk bepergian selalu tidak sendirian untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
  • Jangan lupa untuk jalan-jalan ke Pasar Mulia pada pagi hari. Selain bisa melihat aktifitas perdagangan yang dilakukan penduduk asli maupun pendatang, Anda juga bisa mendapatkan sejumlah produk pertanian Puncak Jaya di pasar ini seperti sayur dan buah-buahan.
  • Jangan lupa untuk mendokumentasikan setiap momen yang Anda rasakan, dan pastikan Anda membawa kartu memori yang cukup. Karena Anda akan selalu tidak puas memotret segalanya di Puncak Jaya yang selalu indah di layar kamera.

Foto-foto oleh Edi Ginting
PS: Artikel ini saya tulis untuk Majalah Travel Fotografi edisi Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar