Senin, 25 Februari 2013

Selamat Jalan, Bapak Tersayang!

Ketika Tuhan berkehendak, manusia tidak bisa berbuat apapun. Kehendak itu harus diterima tanpa bisa menolaknya. Manuasia harus pasrah tanpa punya hak untuk menawar lagi. Ini juga yang harus saya terima ketika Sang Pencipta memanggil bapak tercinta. Ia dipanggil sangat tiba-tiba. Tidak ada petunjuk, tidak ada tanda, tidak ada petir di siang bolong. Kematian sang bapak bagai mimpi saja, yang datang tanpa diundang setiap saya tidur.

Hari selasa, 12 Februari 2013, ketika saya masih tertidur pulas di rumah yang berjarak sekitar 2.100 km dari tempat bapak berada, tiba-tiba saja telepon berdering. Adik bungsu saya yang memang tinggal bersama sang ayah di Tanah Karo, Sumatera Utara, terbata-bata mengabarkan kondisi bapak kami yang beberapa menit sebelumnya telah dipanggil Tuhan. Tangis pun langsung pecah.

Bapak pergi sangat tiba-tiba. Ia meninggalkan kami semua ketika ia justru sedang sehat-sehatnya. Siang sebelum meninggal, ia masih pergi ke kebun untuk ikut memanen buah kelapa. Sore harinya ia juga masih beraktifitas biasa dan diakhiri dengan makan malam yang sangat ia nikmati. Menjelang tengah malam, bapak pun pergi tidur seperti hari-hari sebelumnya.

Bapak terbangun sekitar pukul lima subuh dan minta diantar ke kamar mandi. Ia sempat mengeluh sesak, namun sama sekali tidak ada kekhawatiran apapun karena beberapa hari terakhir ia memang sedang kena flu. Beberapa menit kemudian ia kembali masuk kamar dan mengeluh sesaknya semakin terasa. Ia lalu merebahkan badan ketika tidak kuat lagi menahan kepalanya saat bersender di sandaran tempat tidur. Beberapa menit kemudian bapak pun sudah tiada.

Oh, Tuhan… Bapak pergi begitu tiba-tiba. Ia pergi tanpa pesan apapun. Ia pergi tanpa merepotkan siapapun. Ia kini telah tenang di rumah barunya yang abadi.

Selamat Jalan, Bapak kami tersayang…

















Acara Adat Kematian hari pertama








Acara adat kematian hari kedua














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar