Jumat, 08 Maret 2013

Aksi Lompat Pagar Jurnalis TV

Pekan ini ada momen yang menarik untuk saya. Saluran televisi internasional, Bloomberg TV, mengadakan jumpe pers dan mengatakan akan segera meluncurkan Bloomberg Television Indonesia yang direncanakan mulai mengudara sekitar Mei 2013. Ya, sekitar dua bulan lagi saluran TV di rumah akan bertambah satu lagi. Nama besar Bloomberg di jagat raya pertelevisian dunia, khususnya di bidang bisnis dan finansial, tentu menjadi nilai tambah untuk TV baru ini.

Namun, kali ini saya tidak akan membahas khusus mengenai Bloomberg TV Indonesia yang kabarnya bakal mengudara 24 jam dengan bahasa Indonesia itu. Saya lebih tertarik membahas mengenai orang-orang yang bakal terlibat di dalamnya. Ada sejumlah rekan saya dari Metro TV telah bergabung ke TV yang dikelola oleh Idea Group dari Indonesia itu. Jumlahnya sekitar sepuluh orang yang rata-rata adalah level produser. Kabar dari bisik-bisik tetangga, masih ada beberapa orang lagi yang punya niat untuk pindah ke sana.

Berpindah stasiun televisi memang memang bukan hal baru bagi kalangan jurnalis TV. Sepertinya tidak ada istilah stasiun TV kelas satu, dua, tiga, dan sebagainya bagi para jurnalis TV. Yang dinilai hanya satu hal, yakni masalah finansial yang ditawarkan. Kondisi ini berbeda dengan jurnalis media cetak, dimana eksodus besar-besaran sangat jarang terdengar.

Ketika Metro TV berdiri pada 2000, sebagaian besar kru-nya adalah pindahan dari berbagai stasiun TV. Ketka TVOne mengudara, mereka merekrut sangat banyak jurnalis dari SCTV, Metro TV, dan Trans TV. Hal yang sama juga terjadi ketika Kompas TV lahir. Karena program mereka banyak berhubungan dengan peliputan dokumenter, maka Kompas TV banyak ‘membajak’ para jagoan dokumenter dari Metro TV dan RCTI.

Situasi serupa juga terjadi saat Berita Satu TV mengundara sekitar dua tahun lalu. Hampir 20 orang jurnalis Metro TV hengkang ke sana. Mereka menjabat berbagai posisi, mulai produser program, produser eksekutif, manajer, hingga wakil pemimpin redaksi. “Tidak heran kalau cita rasa berita di Berita Satu miri-mirip dengan Metro TV,” kata seorang kawan yang pindah ke Berita Satu saat kami bertemu beberapa waktu lalu.

Kini, Bloomberg TV Indonesia juga melakukan hal yang sama. Tidak mau repot-repot melatih tenaga kerja, mereka memilih untuk merekrut jurnalis yang sudah matang dari berbagai stasiun TV. Hal yang sama juga dilakukan oleh Net TV yang juga akan mengudara beberapa bulan lagi di udara Jakarta dan sekitarnya. Kabarnya, stasiun TV yang salah satu pengelolanya adanya Whisnutama ini, sangat banyak ‘membajak’ kru-kru siap tempur dari Trans TV, tempat lama Whisnutama bekerja sebagai Direktur Utama.

Lompat pagar bagi jurnalis TV tampaknya memang sudah sangat biasa di kalangan jurnalis TV. Bahkan, saya punya seorang kawan yang sudah pindah stasiun TV sampai empat kali. Posisinya rata-rata sama saja, yakni sebagai produser. Kalau ditanya apa alasannya, jawabannya hanya mengaku tidak betah lagi. Sebuah jawaban yang terdengar kline bagi saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar