Selasa, 30 April 2013

Kembali ke Ambon Setelah 10 Tahun

"Ambon itu ada di sulawesi ya?" kata seorang rekan saat kami baru turun dari tangga pesawat di Bandara Pattimura, Ambon. Ucapan sponton ini segera mengundang tawa. "Sulawesi ya Sulawesi. Ambon ya Ambon. Inilah kalau anak jaman sekarang tidak diwajibkan lagi belajar Geografi," kata seorang rekan lain sambil tertawa.

Pembicaraan ini menjadi pembuka kisah perjalanan saya ke Ambon bersama tiga orang kawannya lainnya pada pertengahan April 2013. Saya menghabiskan empat hari tiga malam di pulau yang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah ini. Saya kembali ke Ambon setelah kunjungan pertama pada 2003 silam. Ah, tidak terasa saya harus melewati 10 tahun untuk kembali ke ibu kota Provinsi Maluku yang sangat eksotis ini.

Kenangan sepuluh tahun lalu kembali bermunculan sejak tiba di Ambon. Saya penasaran dimana dua hotel tempat saya menginap selama delapan hari pada saat itu, di mana saya menyantap ikan bakar dengan sambal cola-cola khas Maluku, atau saya kembali rindu menyantap nasi kuning yang banyak dijual di trotoar pusat kota pada malam hari. Ingin rasanya kembali bernostalgia ke semua tempat itu.





Namun, saya juga tidak mau larut selamanya dalam nostalgia. Sejumlah tempat yang dulu belum sempat saya singgahi, kali ini tidak mau saya sia-siakan. Apalagi, waktu perjalanan saya kali ini ke Ambon cukup singkat, hanya empat hari. Karena itu, saya berupaya menggunakannya semaksimal mungkin untuk mengeksplor pulau yang kaya akan rempah-rempah ini.

Hari pertama, saya banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling kota. Tujuan pertama adalah patung Martha Christina Tiahahu yang terletak di Karang Panjang, daerah bukit yang terlihat jelas dari Kota Ambon. Dari lokasi patung ini, saya dapat memandangi lanskap Kota Ambon yang berpagarkan gunung dan Teluk Ambon yang indah. Sebenarnya waktu yang paling tepat ke sini adalah saat senja karena kita bisa menikmati matahari terbenam.

Beberapa destinasi yang muncul di Ambon dalam beberapa tahun terakhir juga saya datangi. Seperti Gong Perdamaian Dunia yang ada di samping Lapangan Merdeka. Saya bahkan datang dua kali pada siang dan malam hari ketika pemandangan berbeda terlihat berkat permainan cahaya lampu yang menyorot gong. Kalau datang malam hari ke gong ini, jangan lupa untuk mampir ke Lapangan Merdeka. Di salah satu sisinya ada tulisan “Ambon Manise’ yang dalam ukuran besar dan menyala sangat terang.

Saya juga mampir ke Kedai Kopi Sibu-Sibu yang sangat terkenal di Ambon. Kedai kopi ini berdiri sejak beberapa tahun lalu dan menyajikan minuman khas Maluku serta sejumlah kudapan asli daerah ini. Setiap pengunjung juga bakal ditemani oleh alunan musik Maluku yang kabarnya berasal dari lagu-lagu piringan hitam. Seluruh dinding kedai kopi ini juga penuh dengan poster-poster tokoh terkenal berdarah Maluku yang tersebar di seluruh dunia. Ada yang berprofesi sebagai penyanyi, model, pemusik, bintang film, olahragawan, hingga presenter dan jurnalis. Tidak rugi singgah ke kedai kopi yang buka sampai jam sepuluh malam ini kalau sedang berada di Ambon Manise.


Sebagai pecinta buah-buahan, saya pun tidak lupa untuk berburu buah lokal selama di Ambon. Rupanya, musim durian belum lewat ketika saya datang. Ukuran durian Ambon lebih kecil daripada durian Medan. Rasanya juga masih kalah dahsyat walau masih unggul dibandingkan durian lokal asal Pulau Jawa. Saya bersama tiga orang rekan menghabiskan sekitar tujuh buah durian dengan total Rp 90.000 dari penjual durian yang ada di depan RRI Ambon.

Dari penjual durian, saya juga membeli buah gandaria yang rupanya masih banyak tumbuh di Ambon. Baru kali ini saya melihat wujud buah yang berwarna kuning kalau sudak masak ini. Rasanya sangat asam sehingga cocok untuk dijus. Sekilas, gandaria mirip mangga dengan daging yang berserat banyak dan biji di tengah, walau bentuknya bulat seperti tomat.




Belum lengkap ke Ambon kalau tidak menikmati keindahan pantainya. Pulau ini dikelilingi oleh pantai-pantai yang berpasir putih dan gugusan batu-batuan yang eksotis. Sepuluh tahun lalu saya menikmati keindahan Pantai Netsepa, Liang, Hila, dan beberapa pantai lain. Kali ini, saya singgah ke Pantai Pintu Kota, Namalatu, dan pantai di belakang Bandara Pattimura. Hari pertama langit sedang tidak bersahabat, namun pada hari terakhir di Ambon, saya mendapatkan langit yang benar-benar biru.

Empat hari Ambon sungguh sangat tidak terasa. Saya masih ingin kembali ke pulau ini. Seminggu minggu waktu yang pas untuk menyusuri sudut-sudut Ambon yang belum sempat saya lihat. Semoga tidak harus menunggu sepuluh tahun lagi.
Selengkapnya...

Selasa, 16 April 2013

Rusdi Kirana, Sosok Kesuksesan Lion Air

Dua kali Rusdi Kirana menggegerkan dunia. Yang pertama, ketika ia menandatangani pembelian 230 pesawat Boeing pada 18 november 2011 di sela -sela KTT ASEAN-Amerika Serikat di Bali. Presiden Indonesia Susilo Bambang yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi saksi perhelatan yang bernilai US$ 21,3 miliar atau sekitar Rp 213 triliun tersebut. Pada 18 Maret 2013, Rusdi Kirana lagi-lagi membuat kejutan dengan memborong 234 pesawat Airbus dengan total harga mencapai 18,4 miliar Euro (US$ 24 miliar) atau sekitar Rp 240 triliun.

Siapa sebenarnya Rusdi Kirana?

Pria ini adalah pendiri dan Presiden Direktur PT Lion Mentari Airlines, perusahaan yang mengoperasikan maskapai Lion Air. Rusdi mendirikan maskapai yang memiliki slogan ‘We Make People Fly’ itu pada 1999 bersama sang kakak, Kusnan Kirana.

Dari hanya memiliki satu pesawat, kini jumlah armada Lion Air hampir mencapai seratus unit pesawat dan terus bertambah setiap bulan. Lion Air juga telah berkembang dengan memiliki sejumlah anak usaha, seperti Wing Air, Malindo Air, Lion Biznet, Batik Air, dan juga mulai merambah ke bidang property seperti perumahan dan hotel. Dengan bisnis yang sangat berkembang pesat ini, Rusdi Kirana pun masuk dalam jajaran salah satu dari 50 orang terkaya di Indonesia.

Penandatangan pembelian 234 unit pesawat Airbus dilakukan di Istana Presiden Prancis. Rusdi Kirana adalah pengusaha pertama yang mematahkan mitos kalau swasta tidak boleh menandatangani kontrak di dalam istana tersebut. Memang, bisa dimaklumi bila pemilik Lion Air ini mampu “menggiring” penandatanganan kontrak pembelian dilakukan di Palais de L'Elysee atau Istana Presiden Prancis. Bahkan, Presiden Perancis Francois Hollande juga hadir untuk menjadi saksi acara yang menghebohkan dunia itu.

Aksi Lion Air dalam memborong si burung besi buatan Airbus ini mendapatkan perhatian lua karena dilakukan di tengah krisis ekonomi yang masih menyelimuti Eropa. Pembelian 234 pesawat Airbus ini kabarnya telah menyelamatkan ribuan karyawan Airbus dari aksi PHK. Pemesan ratusan pesawat baru itu dianggap telah ikut membantu perekonomian Prancis untuk berdenyut kembali. “Saya harus berterima kasih karena dengan kontrak ini, Airbus akan mengamankan sekitar 5.000 pekerjaan selama 10 tahun,” kata Hollande saat acara penandatanganan.


Di tangan Rusdi Kirana, Lion Air memang telah mengepakkan sayap sangat jauh dari ujung landasan Bandara Soekarno-Hatta, titik Lion Air pertama kali mengudara. Maskapai berlogo kepala macan warna merah ini telah menjadi pemimpin pasar udara di langit Indonesia dengan jumlah penumpang yang diangkut berada di posisi pertama.

Tahun 2012, Lion Air mengangkut sekitar 23,93 juta penumpang, disusul Garuda Indonesia 14,07 juta penumpang), Sriwijaya Air (8,1 juta penumpang), Batavia Air sebelum berhenti beroperasi (6,01 juta penumpang), Merpati Nusantara Airlines (2,11 juta penumpang), dan sisanya sekitar 8,96 juta penumpang lainnya diangkut oleh beberapa maskapai penerbangan kecil dengan armada terbatas.

Hasil yang dicapai Lion Air ini memang terbilang sukses dan tidak lepas dari upaya Rusdi Kirana bersama dengan sang kakak yaitu Kusnan Kirana, yang sejak awal memiliki impian untuk membangun sebuah usaha penerbangan yang ingin mereka kembangkan hingga sukses.

Rusdi Kirana memiliki seorang istri dan dikarunia tiga orang anak. Saat ini usianya 49 tahun dan masih terus berkarya untuk menjadikan perusahaan Lion Air menjadi perusahaan penerbangan paling sukses dan terbesar di Indonesia.

Rusdi Kirana dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan tidak suka menonjolkan diri, walau sudah termasuk salah satu orang terkaya di Indonesia. Ini antara lain terlihat ketika Rusdi tidak terpukau dengan adanya karpet merah untuk menyambut dirinya secara hangat di Istana Presiden Prancis dalam acara penandatanganan kontrak pembelian 234 unit pesawat Airbus. Padahal, biasanya karpet merah hanya ditujukan untuk pejabat sekelas kepala negara. “Saya senang berada di sini, namun saya lebih tertarik dengan perumahan yang akan saya bangun untuk para pegawai saya beserta keluarganya,” ujar Rusdi setelah penandatanganan perjanjian, seperti dikutip Reuters.

Rumah yang dimaksud Rusdi Kirana adalah Lion Air Village yang kini tengah dibangun di kawasan Perumahan Talaga Bestari, Kabupaten Tangerang, Banten. Rumah tersebut didesain untuk akomodasi asrama bagi 3.000 orang dan 1.000 rumah kecil. Di kawasan itu, nantinya bakal tinggal sekitar 10.000 pegawai Lion Air dan keluarganya. Proses pembangunan kini telah selesai 90%.

Pengusaha ini juga masih suka terbang menggunakan kelas ekonomi dan lebih suka berbicara mengenai masa lalu serta gaya hidupnya yang sederhana. “Saya lebih senang terbang dengan kelas ekonomi, namun terkadang itu membuat para pemasok saya tidak nyaman. Saya tidak mau membuat produsen kesal,” ujar Rusdi.

Tidak mudah menebak apakah Rusdi sedang serius atau bercanda. Di luar rambutnya yang hitam, kumisnya yang lebat dan senyumnya yang ceria, ia sosok yang misterius. Abangnya, Kusnan juga memiliki karakter yang sama. Rusdi sendiri memiliki rumah di Indonesia, Singapura dan Malaysia, namun ia terkenang dengan hari-hari di mana ia kelaparan di sekolah dan menghasilkan sekitar Rp 100.000 per bulan dari bekerja menjual mesin tik. Ia pun sering menghindari kemewahan seperti penggunaan pesawat jet pribadi milik perusahaan. Rusdi memang pernah menjadi tenaga penjual mesin ketik buatan Amerika "Brother" dengan bayaran sekitar US$10 per bulan. Kini, kekayaan Rusdi Kirana ditaksir mencapai US$ 900 juta (Rp 9 triliun).


Di tangan Rusdi Kirana, Lion Air telah menjelma menjadi sebuah perusahaan penerbangan yang keberadaannya sangat mempengaruhi perkembangan transportasi udara di Indonesia. Dengan kegigihan Kirana bersaudara,perusahaan ini bisa menjadi sesukses sekarang. Harga tiket yang ditawarkan Lion Air menjadi acuan maskapai lain yang sama-sama bermain di kapling low cost carrier.

Lion Air adalah maskapai yang pertama di Indonesia yang menggunakan armada jenis Boeing 737-900ER. Maskapai ini juga telah terbang ke sejumlah daerah yang selama ini belum terjangkau si burung besi. Bahkan, Lion Air berani terbang antardua kota yang selama ini tidak pernah terhubungkan secara langsung. Misalkan saja, Medan-Bandung, Bandung-Denpasar, atau Jakarta-Tarakan dan Jakarta-Jayapura nonstop.

Sejak April 2013, Malindo Air, anak usaha hasil patungan Lion Air dengan perusahaan Malaysia, juga mulai resmi beroperasi. Dengan adanya Malindo, Rusdi optimistis pangsa pasar Lion Air akan semakin bertambah dan mengalahkan maskapai penerbangan lain.

"Jika anda saat ini melihat AirAsia Indonesia dan Garuda, mereka mempunyai jaringan yang cukup besar di Indonesia tetapi market share-nya jauh lebih kecil dibandingkan kami. Kita memiliki 600 penerbangan setiap hari dan membawa 100.000 penumpang. Dengan tingginya traffic tersebut, kita akan menambah destinasi dan bakal membawa penumpang lebih banyak," kata Rusdi Kirana suatu ketika.

Saat ini, Lion terbang ke sekitar 70 titik termasuk ke Sulawesi, Kalimantan, Pekan Baru, Medan, Semarang, Solo dan Pontianak. "Dengan Malindo nantinya kita bisa lebih sukses kedepan dengan buka rute penerbangan lain," tegas Rusdi.

Belum puas bermain di kelas low cost carrier, Rusdi Kirana pun meluncurkan Batik Air, maskapai yang memberikan layanan penuh seperti yang ada di Garuda Indonesia. Kepak sayap Batik Air melayani rute Jakarta-Manado pulang pergi. Untuk terbang perdana ini, akan dilayani oleh armada baru yakni Boeing jenis 737-900 ER. Sepertinya, Manado punya makna khusus bagi Lion Air. Pasalnya, perusahaan ini juga memiliki hotel pertama di kota yang terkenal dengan Bunakennya itu.

Rupanya, Rusdi Kirana tetap tidak puas dengan kondisi Lion Air seperti saat ini. Perusahaan terus dipupuk agar semakin besar semakin jauh mengepakkan sayapnya. Karena itu, Rusdi Kirana berencana untuk mencatatkan diri di bursa saham pada tahun 2015 mendatang. “Apa yang akan saya lakukan dengan hasil penjualan di bursa itu? Saya akan membuat maskapai baru di negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik,” tutur Rusdi seperti dikutip dari Reuters.

Sebagai perusahaan asli Indonesia, saya tentu bangga kalau Lion Air mampu ‘menguasai’ dunia.Slogan “We Make People Fly’ memang bukan sekadar basa-basi di atas badan pesawat milik Lion Air.

Susunan Direksi Lion Air saat ini:
Presiden Direktur: Rusdi Kirana
Direktur Operasi: Kapt Adi Widjajanto
Direktur Teknik: Rai Pering Santaya
Direktur Keuangan: Yunita Sastrasanjaya
Direktur Komersial: Achmad Hasan
Direktur Umum: Edward Sirait

Sumber foto-foto: Google
Selengkapnya...

Senin, 15 April 2013

Cara Lion Air Kuasai Udara Indonesia

Saya membuat tulisan ini dalam perjalanan dari Ambon menuju Jakarta dengan menumpang pesawat Lion Air pada Minggu, 14 April 2013. Pesawat berangkat dari Ambon pukul 13.00 WIT dan tiba di Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB, setelah transit satu kali di Surabaya. Perjalanan relatif lancar, walau kenyamanan terasa sedikit terganggu ketika pesawat kurang mulus mendarat di Bandara Juanda.

Tulisan ini saya kerjakan karena saya tidak mengantuk, seperti para penumpang lain. Tidak ada kegiatan lain yang bisa saya kerjakan dalam penerbangan yang memakan durasi sekitar empat jam tersebut. Karena itu, saya pun mengubah sinyal telepon ke mode terbang (airplane mode) sehingga bisa dipakai untuk mengetik tanpa perlu khawatir sinyal handphone akan menganggu fungsi navigasi pesawat.

Saya terbang dengan pesawat Lion Air jenis Boeing 737-800 dari ibukota Maluku, ketika salah satu pesawat tipe yang sama, baru saja gagal mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai pada Sabtu siang, 13 April 2013. Pesawat yang terbang dari Bandung itu mengambang di laut dangkal di samping bandara setelah terbelah menjadi dua bagian. Memang tidak ada korban jiwa, namun kecelakaan ini kembali membuat masyarakat bertanya lagi mengenai keselamatan penerbangan di Indonesia.

Kecelakaan pesawat Lion Air yang jatuh di laut dangkal samping Bandara Ngurah Rai, Denpasar, terjadi ketika belum genap satu bulan maskapai yang berdiri pada 1999 itu mengejutkan dunia dengan membeli 234 pesawat Airbus dengan total harga mencapai 18,4 miliar Euro (US$ 24 miliar) atau sekitar Rp 240 triliun. Angka ini nyaris seperempat dari total anggaran belanja Indonesia dalam setahun.

Tidak tanggung-tanggung, penandatangan kesepakatan pembelian yang berlangsung pada Senin, 18 Maret 2013 itu, berlangsung di Palais de L'Elysee atau Istana Presiden Prancis. Ini adalah sebuah sejarah, karena baru Lion Air yang menjadi perusahaan swasta yang menandatangi kontrak pembelian pesawat di sana. Biasanya, istana hanya dipakai untuk penandatangangan pembelian pesawat antarnegara, bukan antarperusahaan.

Tidak hanya Presiden Perancis Francois Gerard Georges nicholas Hollande, jajaran menteri, serta sejumlah pejabat tinggi di Perancis yang hadir untuk menyaksikan pendatangangan itu. Sekitar 150 tamu undangan termasuk jurnalis Indonesia dan sejumlah negara ikut menjadi saksi. Belakangan, iklan pembelian ratusan pesawat Airbus ini juga tayang di sejumlah layar TV swasta di Indonesia.

Ada tiga jenis pesawat yang dipesan Lion Air dari Airbus yang rencananya mulai dikirim pada 2014 itu. Sebanyak 109 unit merupakan tipe A320 NEO (new engine option), 65 unit A321 NEO, dan 60 unit A320 CEO (current engine option). Pihak Airbus tentu sangat bersemangat mendapatkan order sangat besar dari maskapai Indonesia tersebut, karena Lion Air selama ini tidak pernah menggunakan pesawat produksi Airbus dalam jajaran armada mereka. Namun, sekali membeli, Lion Air justru membuat dunia terkejut.

Aksi Lion Air yang memborong 234 pesawat Airbus ini telah memecahkan rekor yang ia ciptakan sendiri. Rekor sebelumnya dibuat maskapai yang memiliki warna khas merah itu ketika 18 november 2011 menandatangi kesepakatan pembelian 230 pesawat Boeing. Penandatangan ini dilakukan di Bali di sela-sela KTT ASEAN-Amerika Serikat. Presiden Indonesia Susilo Bambang yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi saksi perhelatan yang bernilai US$ 21,3 miliar atau sekitar Rp 213 triliun tersebut.

Pesawat Boeing yang berjumlah 230 unit yang dipesan Lion Air itu terdiri dari 201 pesawat Boeing 737 MAX dan 29 unit boeing 737-900ER. Pembelian ini pun menempatkan Lion Air sebagai maskapai pertama pengguna jenis Boeing 900ER. Hebatnya lagi, jumlah pesawat yang dibeli dengan nilai transaksi ratusan triliun rupiah tersebut juga merupakan terbesar dalam sejarah pabrik pesawat yang bermarkas di Amerika Serikat itu. sebagai orang Indonesia, tentu saja saya ikut berbangga.

Berdiri pada 1999 dengan hanya satu pesawat dan kini nyaris mengoperasikan 100 pesawat, Lion Air memang tampaknya telah menjelma menjadi sebuah maskapai yang sangat diperhitungkan di dunia. Tanpa kepercayaan yang tinggi, tidak mungkin U.S Exim Bank mau memimpin konsorsium pembiayaan 230 pesawat Boeing yang dipesan Lion Air. Tanpa lobi tingkat tinggi yang disertai keyakinan, mungkin sulit bagi BNP Paribas Prancis bersedia memimpin konsorsium pembelian 234 pesawat Airbus oleh Lion Air. Dua jempol saya berikan untuk maskapai yang berkantor pusat di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat itu, atas keberhasilannya menjadi perusahaan yang disegani di dunia penerbangan.

Lion Air memang telah menjelma menjadi sebuah perusahaan raksana. Dari hanya memiliki satu pesawat, kini hampir seratus pesawat sudah dioperasikan dan terus bertambah setiap bulan hasil kiriman dari Boeing. Bahkan, sejak 22 Maret 2013, Malindo Air mulai mengudara di Malaysia. Maskapai yang juga berkonsep low cost carrier itu adalah perusahaan patungan Lion Air dengan NADI malaysia, perusahaan asal negeri jiran itu. Malindo Air diharapkan bakal menjadi maskapai besar di Malaysia dan digadang-gadang bakal menjadi jembatan Lion Air untuk terbang ke kawasan lain di Asia Tengah, Asia Timur, hingga Australia.

Lion Air juga tercatat sebagai pemesan terbanyak untuk pesawat ATR, pesawat jenis turboprop hasil karya pabrikan milik prancis dan italia. Ada 60 pesawat ATR yang dipesan, yakni 20 ATR 72-500 dan 40 unit ATR 72-600. Pesawat berbaling-baling ini mampu mengangkut sekitar 50 penumpang dan dioperasikan oleh anak usaha Lion Air yang bernama Wings Air. Maskapai ini banyak melayani penerbangan jarak pendek di kawasan Timur Indonesia atau di sejumlah daerah di Pulau Sumatera.

Tahukah Anda siapa orang dibalik kesuksesan Lion Air. Namanya adalah Rusdi Kirana, sang pendiri maskapai berlogo kepala macan tersebut.
Selengkapnya...

Rabu, 03 April 2013

Yuk, Investasi di Reksa Dana

Saya ikut menghadiri seminar kecil-kecilan yang diadakan oleh teman-teman program Wide Shot. Acara berlangsung di salah satu ruang rapat selama dua jam. Pengisi materi adalah Lisa Soemarto, seorang financial planner yang sudah sangat sering menjadi narasumber di seminar-seminar keuangan. Wanita yang lama bermukim di Perancis ini diundang untuk berbagi ilmu mengenai bagaimana tips berinvestasi di reksa dana.

Seminggu sebelumnya, Lisa memang sempat menjadi narasumber di Wide Shot pada segmen bisnis dan investasi untuk tema yang sama. Rupanya, para awak Wide Shot menjadi tertarik dengan reksa dana setelah menonton penjelasan Lisa, sehingga ia pun kembali diundang. Namun, kali ini ia diundang bukan untuk menjadi narasumber di layar Metro TV, tapi justru ‘mengajar’ mereka. Tidak perlu membayar alias gratis pula.

Saya memang telat datang karena ada kesibukan lain, sehingga tidak banyak ilmu dari Lusi Soemarto yang bisa saya pelajari. Namun, saya masih sempat menanyakan beberapa hal kepada wanita yang juga menggemari dunia fashion ini, termasuk ‘curhat’ saya mengenai pengalaman berinvestasi di reksa dana sejak 2007. “Bisa tambah koleksi reksa dana dengan membeli produk yang lebih agresif,” kata Lisa ketika saya mengatakan mulai sedikit cuek dengan reksa dana akibat tidak puas lagi dengan imbal hasil yang ada sekarang.

Lisa Soemarto

Saya mengawali perkenalan dengan reksa dana pada 2007 setelah ‘diracuni’ oleh seorang teman. Setelah banyak membaca artikel reksa dana lewat Mbah Google, saya akhirnya take action dengan membeli reksa dana saham produk Danareksa, sebuah BUMN bidang keuangan, yang benama Danareksa Mawar Agresif. Sayang, kinerja reksa dana ini tidak sesuai namanya sehingga investasi saya sulit berkembang.

Namun, saya mendapatkan banyak pelajaran dari pengalaman pertama ini. Langkah pun saya semakin cepat, termasuk melahap semua informasi mengenai reksa dana baik dari dunia maya, ikut seminar, langganan tabloid Kontan, dan membeli buku keuangan. Saya pun jadi tahu makhluk yang bernama Bursa Efek Indonesia, termasuk bagaimana membaca indeks. Saya juga jadi hapal beberapa imiten di bursa, termasuk sedikit rumor yang bertebaran di sekelilingnya. Koran Bisnis Indonesia yang tadinya sangat asing, juga menjadi akrab bagi saya.

Buah dari semua pelejaran ini adalah sejumlah produk reksa dana yang kemudian saya koleksi. Saya membeli reksa dana saham Manulife Saham Andalan, Fortis Ekuitas, Mandiri Investa Atraktif Syariah, dan Mandiri Investa Pasar Uang. Reksa dana terakhir yang dikelola oleh PT Mandiri Manajemen Investasi, anak usaha Bank Mandiri itu, saya jadikan sebagai mas kawin. Kalau koleksi reksa dana lain banyak yang sudah saya jual, maka yang terakhir tersebut tetap saya pegang sampai hari ini karena punya nilai historis yang tidak ternilai.

Kini, setelah otak saya kembali dibakar oleh Lisa Soemarto, saya seperti mendapatkan semangat baru untuk kembali melirik reksa dana. Rencana pun sudah dibuat untuk kembali take action...

Sumber foto: www.lisasoemarto.com
Selengkapnya...