Senin, 15 April 2013

Cara Lion Air Kuasai Udara Indonesia

Saya membuat tulisan ini dalam perjalanan dari Ambon menuju Jakarta dengan menumpang pesawat Lion Air pada Minggu, 14 April 2013. Pesawat berangkat dari Ambon pukul 13.00 WIT dan tiba di Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB, setelah transit satu kali di Surabaya. Perjalanan relatif lancar, walau kenyamanan terasa sedikit terganggu ketika pesawat kurang mulus mendarat di Bandara Juanda.

Tulisan ini saya kerjakan karena saya tidak mengantuk, seperti para penumpang lain. Tidak ada kegiatan lain yang bisa saya kerjakan dalam penerbangan yang memakan durasi sekitar empat jam tersebut. Karena itu, saya pun mengubah sinyal telepon ke mode terbang (airplane mode) sehingga bisa dipakai untuk mengetik tanpa perlu khawatir sinyal handphone akan menganggu fungsi navigasi pesawat.

Saya terbang dengan pesawat Lion Air jenis Boeing 737-800 dari ibukota Maluku, ketika salah satu pesawat tipe yang sama, baru saja gagal mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai pada Sabtu siang, 13 April 2013. Pesawat yang terbang dari Bandung itu mengambang di laut dangkal di samping bandara setelah terbelah menjadi dua bagian. Memang tidak ada korban jiwa, namun kecelakaan ini kembali membuat masyarakat bertanya lagi mengenai keselamatan penerbangan di Indonesia.

Kecelakaan pesawat Lion Air yang jatuh di laut dangkal samping Bandara Ngurah Rai, Denpasar, terjadi ketika belum genap satu bulan maskapai yang berdiri pada 1999 itu mengejutkan dunia dengan membeli 234 pesawat Airbus dengan total harga mencapai 18,4 miliar Euro (US$ 24 miliar) atau sekitar Rp 240 triliun. Angka ini nyaris seperempat dari total anggaran belanja Indonesia dalam setahun.

Tidak tanggung-tanggung, penandatangan kesepakatan pembelian yang berlangsung pada Senin, 18 Maret 2013 itu, berlangsung di Palais de L'Elysee atau Istana Presiden Prancis. Ini adalah sebuah sejarah, karena baru Lion Air yang menjadi perusahaan swasta yang menandatangi kontrak pembelian pesawat di sana. Biasanya, istana hanya dipakai untuk penandatangangan pembelian pesawat antarnegara, bukan antarperusahaan.

Tidak hanya Presiden Perancis Francois Gerard Georges nicholas Hollande, jajaran menteri, serta sejumlah pejabat tinggi di Perancis yang hadir untuk menyaksikan pendatangangan itu. Sekitar 150 tamu undangan termasuk jurnalis Indonesia dan sejumlah negara ikut menjadi saksi. Belakangan, iklan pembelian ratusan pesawat Airbus ini juga tayang di sejumlah layar TV swasta di Indonesia.

Ada tiga jenis pesawat yang dipesan Lion Air dari Airbus yang rencananya mulai dikirim pada 2014 itu. Sebanyak 109 unit merupakan tipe A320 NEO (new engine option), 65 unit A321 NEO, dan 60 unit A320 CEO (current engine option). Pihak Airbus tentu sangat bersemangat mendapatkan order sangat besar dari maskapai Indonesia tersebut, karena Lion Air selama ini tidak pernah menggunakan pesawat produksi Airbus dalam jajaran armada mereka. Namun, sekali membeli, Lion Air justru membuat dunia terkejut.

Aksi Lion Air yang memborong 234 pesawat Airbus ini telah memecahkan rekor yang ia ciptakan sendiri. Rekor sebelumnya dibuat maskapai yang memiliki warna khas merah itu ketika 18 november 2011 menandatangi kesepakatan pembelian 230 pesawat Boeing. Penandatangan ini dilakukan di Bali di sela-sela KTT ASEAN-Amerika Serikat. Presiden Indonesia Susilo Bambang yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi saksi perhelatan yang bernilai US$ 21,3 miliar atau sekitar Rp 213 triliun tersebut.

Pesawat Boeing yang berjumlah 230 unit yang dipesan Lion Air itu terdiri dari 201 pesawat Boeing 737 MAX dan 29 unit boeing 737-900ER. Pembelian ini pun menempatkan Lion Air sebagai maskapai pertama pengguna jenis Boeing 900ER. Hebatnya lagi, jumlah pesawat yang dibeli dengan nilai transaksi ratusan triliun rupiah tersebut juga merupakan terbesar dalam sejarah pabrik pesawat yang bermarkas di Amerika Serikat itu. sebagai orang Indonesia, tentu saja saya ikut berbangga.

Berdiri pada 1999 dengan hanya satu pesawat dan kini nyaris mengoperasikan 100 pesawat, Lion Air memang tampaknya telah menjelma menjadi sebuah maskapai yang sangat diperhitungkan di dunia. Tanpa kepercayaan yang tinggi, tidak mungkin U.S Exim Bank mau memimpin konsorsium pembiayaan 230 pesawat Boeing yang dipesan Lion Air. Tanpa lobi tingkat tinggi yang disertai keyakinan, mungkin sulit bagi BNP Paribas Prancis bersedia memimpin konsorsium pembelian 234 pesawat Airbus oleh Lion Air. Dua jempol saya berikan untuk maskapai yang berkantor pusat di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat itu, atas keberhasilannya menjadi perusahaan yang disegani di dunia penerbangan.

Lion Air memang telah menjelma menjadi sebuah perusahaan raksana. Dari hanya memiliki satu pesawat, kini hampir seratus pesawat sudah dioperasikan dan terus bertambah setiap bulan hasil kiriman dari Boeing. Bahkan, sejak 22 Maret 2013, Malindo Air mulai mengudara di Malaysia. Maskapai yang juga berkonsep low cost carrier itu adalah perusahaan patungan Lion Air dengan NADI malaysia, perusahaan asal negeri jiran itu. Malindo Air diharapkan bakal menjadi maskapai besar di Malaysia dan digadang-gadang bakal menjadi jembatan Lion Air untuk terbang ke kawasan lain di Asia Tengah, Asia Timur, hingga Australia.

Lion Air juga tercatat sebagai pemesan terbanyak untuk pesawat ATR, pesawat jenis turboprop hasil karya pabrikan milik prancis dan italia. Ada 60 pesawat ATR yang dipesan, yakni 20 ATR 72-500 dan 40 unit ATR 72-600. Pesawat berbaling-baling ini mampu mengangkut sekitar 50 penumpang dan dioperasikan oleh anak usaha Lion Air yang bernama Wings Air. Maskapai ini banyak melayani penerbangan jarak pendek di kawasan Timur Indonesia atau di sejumlah daerah di Pulau Sumatera.

Tahukah Anda siapa orang dibalik kesuksesan Lion Air. Namanya adalah Rusdi Kirana, sang pendiri maskapai berlogo kepala macan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar