Selasa, 30 April 2013

Kembali ke Ambon Setelah 10 Tahun

"Ambon itu ada di sulawesi ya?" kata seorang rekan saat kami baru turun dari tangga pesawat di Bandara Pattimura, Ambon. Ucapan sponton ini segera mengundang tawa. "Sulawesi ya Sulawesi. Ambon ya Ambon. Inilah kalau anak jaman sekarang tidak diwajibkan lagi belajar Geografi," kata seorang rekan lain sambil tertawa.

Pembicaraan ini menjadi pembuka kisah perjalanan saya ke Ambon bersama tiga orang kawannya lainnya pada pertengahan April 2013. Saya menghabiskan empat hari tiga malam di pulau yang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah ini. Saya kembali ke Ambon setelah kunjungan pertama pada 2003 silam. Ah, tidak terasa saya harus melewati 10 tahun untuk kembali ke ibu kota Provinsi Maluku yang sangat eksotis ini.

Kenangan sepuluh tahun lalu kembali bermunculan sejak tiba di Ambon. Saya penasaran dimana dua hotel tempat saya menginap selama delapan hari pada saat itu, di mana saya menyantap ikan bakar dengan sambal cola-cola khas Maluku, atau saya kembali rindu menyantap nasi kuning yang banyak dijual di trotoar pusat kota pada malam hari. Ingin rasanya kembali bernostalgia ke semua tempat itu.





Namun, saya juga tidak mau larut selamanya dalam nostalgia. Sejumlah tempat yang dulu belum sempat saya singgahi, kali ini tidak mau saya sia-siakan. Apalagi, waktu perjalanan saya kali ini ke Ambon cukup singkat, hanya empat hari. Karena itu, saya berupaya menggunakannya semaksimal mungkin untuk mengeksplor pulau yang kaya akan rempah-rempah ini.

Hari pertama, saya banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling kota. Tujuan pertama adalah patung Martha Christina Tiahahu yang terletak di Karang Panjang, daerah bukit yang terlihat jelas dari Kota Ambon. Dari lokasi patung ini, saya dapat memandangi lanskap Kota Ambon yang berpagarkan gunung dan Teluk Ambon yang indah. Sebenarnya waktu yang paling tepat ke sini adalah saat senja karena kita bisa menikmati matahari terbenam.

Beberapa destinasi yang muncul di Ambon dalam beberapa tahun terakhir juga saya datangi. Seperti Gong Perdamaian Dunia yang ada di samping Lapangan Merdeka. Saya bahkan datang dua kali pada siang dan malam hari ketika pemandangan berbeda terlihat berkat permainan cahaya lampu yang menyorot gong. Kalau datang malam hari ke gong ini, jangan lupa untuk mampir ke Lapangan Merdeka. Di salah satu sisinya ada tulisan “Ambon Manise’ yang dalam ukuran besar dan menyala sangat terang.

Saya juga mampir ke Kedai Kopi Sibu-Sibu yang sangat terkenal di Ambon. Kedai kopi ini berdiri sejak beberapa tahun lalu dan menyajikan minuman khas Maluku serta sejumlah kudapan asli daerah ini. Setiap pengunjung juga bakal ditemani oleh alunan musik Maluku yang kabarnya berasal dari lagu-lagu piringan hitam. Seluruh dinding kedai kopi ini juga penuh dengan poster-poster tokoh terkenal berdarah Maluku yang tersebar di seluruh dunia. Ada yang berprofesi sebagai penyanyi, model, pemusik, bintang film, olahragawan, hingga presenter dan jurnalis. Tidak rugi singgah ke kedai kopi yang buka sampai jam sepuluh malam ini kalau sedang berada di Ambon Manise.


Sebagai pecinta buah-buahan, saya pun tidak lupa untuk berburu buah lokal selama di Ambon. Rupanya, musim durian belum lewat ketika saya datang. Ukuran durian Ambon lebih kecil daripada durian Medan. Rasanya juga masih kalah dahsyat walau masih unggul dibandingkan durian lokal asal Pulau Jawa. Saya bersama tiga orang rekan menghabiskan sekitar tujuh buah durian dengan total Rp 90.000 dari penjual durian yang ada di depan RRI Ambon.

Dari penjual durian, saya juga membeli buah gandaria yang rupanya masih banyak tumbuh di Ambon. Baru kali ini saya melihat wujud buah yang berwarna kuning kalau sudak masak ini. Rasanya sangat asam sehingga cocok untuk dijus. Sekilas, gandaria mirip mangga dengan daging yang berserat banyak dan biji di tengah, walau bentuknya bulat seperti tomat.




Belum lengkap ke Ambon kalau tidak menikmati keindahan pantainya. Pulau ini dikelilingi oleh pantai-pantai yang berpasir putih dan gugusan batu-batuan yang eksotis. Sepuluh tahun lalu saya menikmati keindahan Pantai Netsepa, Liang, Hila, dan beberapa pantai lain. Kali ini, saya singgah ke Pantai Pintu Kota, Namalatu, dan pantai di belakang Bandara Pattimura. Hari pertama langit sedang tidak bersahabat, namun pada hari terakhir di Ambon, saya mendapatkan langit yang benar-benar biru.

Empat hari Ambon sungguh sangat tidak terasa. Saya masih ingin kembali ke pulau ini. Seminggu minggu waktu yang pas untuk menyusuri sudut-sudut Ambon yang belum sempat saya lihat. Semoga tidak harus menunggu sepuluh tahun lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar