Jumat, 31 Mei 2013

Tentang Gede Pasek Suardika

Sudah lama saya tidak bertemu Gede Pasek Suardika, sang Ketua Komisi 3 DPR RI. Karena itu, saya pun segera menghampirinya di Green Room Metro TV, malam tadi, usai ia menjadi salah satu narasumber di program Prime Time News. "Apa kabar, bos?" sapa Gede Pasek yang langsung saya jawab sambil menyalaminya.

Berbasa-basi sebentar, saya pun bergabung dalam diskusi ringan yang sudah berlangsung sebelum saya datang antara Gede Pasek dan Akbar Faisal, mantan politisi Gerindra yang kini bergabung ke Partai NasDem. Keduanya baru saja berdebat soal perkembangan kasus Bank Century bersama seorang narasumber lain di Prime Time News. Yang namanya politisi, rupanya topik pembicaraan tidak pernah jauh-jauh dari urusan politik. Usai menjadi narasumber, masing-masing curhat mengenai kesibukan di partai masing-masing. "Saya belum pernah bertemu ketua umum saya. Kalau yang mantan, sering sekali," ungkap Gede Pasek yang kami sambut dengan tawa panjang.

Gede Pasek adalah politisi Partai Demokrat yang sangat dekat dengan Anas Urbaningrum. Ketika Anas mundur dari posisi Ketua Umum partai yang identik dengan Susilo Bambang yudhoyono itu, Gede pun sepertinya tidak betah lagi di Demokrat. Puncaknya adalah ketika politisi berlatar belakang pengacara tersebut memilih bertarung memperebutkan kursi anggota DPD daripada kursi DPR pada Pemilu 2014.

"Abang harus memberi warna berbeda bila nanti sudah di DPD. Biar DPD semakin terlihat eksis keberadaannya," kata saya sambil menyentuh lengan Gede Pasek yang akan mencalonkan diri dari daerah pemilihan Bali. Yang punya lengan tampak tertawa mendengar kata-kata saya.

Saya mengenal Gede Pasek sekitar 2006 sebagai seorang pengacara dan aktivis di Bali. Setiap ada liputan ke pulau dewata, saya pasti mengontaknya untuk meminta background atas kasus yang mau saya liput. Lobi dan jaringan pria kelahiran Singaraja, 21 Juli 1969 itu sangat luas di Bali. Sebagai seorang advokat, ia pun sering menangani kasus-kasus yang sarat dengan konflik kepentingan. Kasus yang ia pegang ada yang pernah saya ulas di Metro TV.

Namun, Gede Pasek juga seorang sahabat yang sangat ramah dan baik. Ia pernah membantu saya masuk ke sejumlah tempat hiburan malam di kawasan Kuta untuk mengambil gambar terkait kasus peredaran narkoba yang sedang saya liput. Kami menyamar sebagai wisatawan sampai dinihari bersama beberapa rekannya dengan membawa kamera kecil agar tidak dicurigai pengelola kafe atau diskotik.

Kami terus berhubungan sampai akhirnya ia melenggang ke Senayan pada akhir 2008 sebagai wakil rakyat dari Partai Demokrat. Banyak yang menyayangkan Gede Pasek tidak maju lagi menjadi anggota DPR pada 2014. Kiprah perdananya di senayan tidak bisa dianggap enteng. Dari yang bukan siapa-siapa di Jakarta, ia mendadak masuk dalam lingkaran politisi favorit media. Komentarnya nyaris setiap hari muncul di koran. Wajahnya bersaing dengan selebritas dalam hal jumlah penampilan di layar TV. Ini terjadi karena Gede Pasek adalah salah satu politisi Senayan yang punya 'otak' dan pandai bergaul. Mungkin ini juga yang membuat ia memilih tidak maju lagi, karena ia punya 'otak'.

Gede Pasek melenggang ke Senayan ketika menggantikan Jero Wacik yang diangkat Presiden SBY sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Awalnya, ia bertugas di Komisi 10 yang membidani persoalan seni, budaya, pemuda, dan olahraga. Latar belakangnya yang seorang pengacara dan aktivis LSM di Bali, membuat Gede Pasek lebih terkenal dalam urusan hukum dan dinamika perpolitikan daripada persoalan seni dan olahraga.

Dalam perjalanannya, Fraksi Demokrat lalu memindahkan Gede Pasek ke Komisi 2 yang mengurusi masalah pemerintahan. Kepiawaiannya dibutuhkan untuk mengawal sejumlah undang-undang yang sedang digodok di Komisi 2. "Ada tugas khusus untuk saya," bisik Gede Pasek saat itu kepada saya.

Gonjang-ganjing di tubuh Demokrat akhirnya mengantarkan Gede Pasek menjadi Ketua Komisi 3, komisi yang dianggap paling seksi di DPR. Anas Urbaningrum pasti bukan asal menunjuk mantan wartawan koran lokal di Pulau Dewata itu. Kiprahnya sekitar dua tahun di Senayan sudah membuktikan kalau pria yang masih berlogat Bali saat berbicara itu punya karakter kuat untuk memimpin Komisi 3 yang penuh dengan politisi-politisi senior serta mereka yang jago bermanuver dan berakrobat politik.

Peta berubah total ketika Anas mundur sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Gede Pasek pun tampak tidak bergairah lagi berkiprah di partai yang diakui atau tidak, telah membuatnya terkenal di Jakarta itu.

“Saya pamit dulu ya. Main-main ke ruangan saya, ya,” kata Gede Pasek pada saya sebelum kami berpisah di lobi studio Metro TV.

Sumber foto: RRI
Selengkapnya...

Kamis, 23 Mei 2013

Dari Gilang Ayunda sampai Fessy Alwi

Seorang kawan berkirim pesan. Karena tahu saya bekerja di Metro TV, ia bertanya tentang para penyiar Metro TV yang kini banyak berwajah baru. Ia bertanya, kemana wajah-wajah lama yang setiap hari muncul di layar.

Kawan tersebut menyebutkan beberapa presenter berita di Metro TV yang dulu sering ia lihat, seperti Rahma Sarita, Fifi Alayda Yahya, Kania Sutisnawisata, dan Najwa Shihab. Setelah itu, ia pun menyebut beberapa nama presenter Metro TV, yang menurut dia, masih sangat asing dan terlihat belum berpengalaman dari cara penampilan mereka.

Beberapa nama presenter lama yang ia sebutkan itu memang sudah tidak bekerja lagi di Metro TV. Rahma Sarita kini memandu program berita di Jak TV. Sedangkan Kania telah berlabuh ke Bloomberg TV Indonesia yang akan mengudara tidak lama lagi.

Kalau Fifi Alayda Yahya dan Najwa shihab sebenarnya masih ada di Metro TV walau
tidak lagi menjadi pembaca berita. Keduanya sudah punya progam talkshow sendiri. Fifi di program Sudut Pandang dan Najwa di Mata Najwa.

Untuk program berita memang kini lebih banyak dibawakan oleh presenter yang lebih 'muda', baik dari segi umur maupun jam terbang. Ada banyak nama yang mungkin belum terlalu familiar bagi masyarakat. Tapi, sebenarnya mereka adalah mantan reporter yang jago liputan di lapangan dan ahli menembus narasumber. Ada nama Putri Ayuningtyas, Anisha Dasuki, Yohana Margaretha, Iqbal Himawan, Gilang Ayunda, Zakia Arfan, Lori Singer, dan beberapa nama lain.

Hanya beberapa program yang tetap digawangi oleh presenter lebih 'senior'. Di program Metro Hari ini dan Prime Time News ada nama Eva Julianti, Fessy Alwi, Cheryl Tanzil, Aviani Malik, Ralph Tampubolon, dan Indra Maulana. Di Top News ada nama Frida Lidwina dan Zelda Safitri. Di program 811 ada Maria Kalaij dan Widya Saputra. Sedang di beberapa program lain ada sejumlah presenter yang tergolong ‘wajah lama’, seperti Nina Melinda, Prita Laura, Boy Noya, Lucia Saharui, dan sejumlah nama lain.

Dua tahun terakhir memang banyak presenter Metro TV yang hengkang, sama seperti reporter yang juga banyak pindah ke stasiun TV lain. Berderet nama seperti Kania Sutisnawinata, Tascha Luidmila, Tommy Tjokro, Marissa Anita, Timothy Marbun, Gadiza Fauzi, dan beberapa nama lain. Belum lagi melihat daftar lima tahun terakhir, ada nama Rahma Sarita, Ratna Wardhani, Catherine Keng, Wianda Pusponegoro, Chantal Della Concetta, Sandrina Malakiano, Meutya Hafid, dan sejumlah nama lain.

Ada juga yang pernah bertanya mengapa para presenter itu keluar dari Metro TV. Padahal, sejarah membuktikan, banyak presenter yang malah tenggelam dan akhirnya bukan siapa-siapa lagi setelah hijrah ke TV lain. Alasan sebenarnya memang jarang diungkap selain beberapa alasan yang terdengar klise, seperti butuh tantangan baru atau karena urusan keluarga.

Ada yang hilang, muncul nama baru. Begitulah hidup...

Sumber foto: dari sini
Selengkapnya...

Selasa, 21 Mei 2013

Belitung, Tidak hanya Pantai Eksotis

Sebuah survey berlangsung di Twitter dan menanyakan destinasi lokal apa yang wajib dikunjungi. Ternyata Belitung masuk empat besar bersama Raja Ampat, Lombok, dan Pulau Komodo. Sedahysat apa rupanya Belitung?

Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi ketika saya keluar dari Terminal Kedatangan Bandara HAS Hanandjoedin, Tanjungpandan. Matahari pagi terlihat sangat cerah, secerah hati ini untuk menjelajahi Belitung pada pengalaman pertama. Walau berada di depan mata karena hanya butuh 50 menit terbang dari Jakarta, saya belum pernah menyaksikan langsung keindahan pulau ini seperti yang sangat sering diulas program jalan-jalan di layar TV, halaman jelajah koran dan majalah, ataupun dari mulut ke mulut.

Rasa kagum pertama saya kepada Belitung adalah ketika mendapati seluruh jalan raya sangat mulus dan lebar yang terlihat begitu keluar dari bandara. Jalanan yang supermulus ini semakin indah oleh perpaduan pemandangan perkampungan penduduk, perkebunan sawit, ladang lada, buah-buahan, atau hutan belantara yang silih berganti di sepanjang perjalanan. Nyaris di setiap jalan yang saya lalui, jumlah kendaraan bisa dihitung dengan jari tangan. “Jumlah jalan di sini ini lebih banyak daripada jumlah mobil. Berbeda sekali dengan di Jakarta, ya?,” ledek Hadjeri, sopir yang membawa saya. Seketika lamunan saya berhenti.

Pesona utama Belitung memang keindahan pantainya yang dipermanis oleh batu-batu granit. Seakan ada tangan-tangan terampil yang menyusun batu-batu tersebut. Imajinasi melayang-layang saat mendapati ada batu yang berbentuk kepala burung, penyu, kepala lumba-lumba, perahu terbalik, dan sebagainya.

Pantai-pantai Belitung bersama batu granitnya tidak hanya indah untuk dipandangi mata telanjang. Semua itu juga menjadi objek yang sangat menarik di lensa kamera. Tidak perlu tangan mahir dalam memegang kamera. Anda tinggal mengarahkan lensa kemanapun suka, tekan tombol rana, dan lihat hasil jepretan di layar kamera. Karena itu, jangan lupa untuk membawa kartu memori lebih saat menjelajahi pantai-pantai di negeri Laskar Pelangi ini.

Tempat paling favorit bagi siapapun untuk memburu keindahan batu-batu granit di pantai hingga ke tengah laut adalah di sekitar Kepulauan Kelayang. Sebagai orang yang baru kali pertama datang ke Belitung, saya pun tidak melupakan lokasi ini. Rupanya, ada di sini batu granit yang seperti bentuk kepala burung garuda yang sering muncul di sejumlah foto.

Untuk menuju sejumlah pulau-pulau kecil di gugusan Kepulauan Kelayang, cukup menyewa perahu kayu yang banyak terdapat di sekitar Pantai Tanjung Kelayang. Tarif sewa untuk satu hari sekitar Rp 300.000 pada hari biasa. Carilah perahu yang atapnya bisa Anda naiki agar bisa memotret keindahan laut Belitung lebih dahsyat lagi.

Saya seperti orang yang kalap memencet tombol rana kamera sejak meninggalkan pantai Tanjung Kelayang. Pemandangan indah tidak putus-putusnya ada di sekeliling jalur yang saya lewati. Lautnya juga sangat jernih dengan tumpukan batu granit yang ada di sejumlah tempat, yang seakan muncul dari dasar laut. Sejumlah pulau-pulau kecil berpasir putih juga banyak berserakan di kawasan ini. Sulit membayangkan apa jadinya kalau semua keindahan ini akan hancur pada suatu hari nanti. Apalagi, dihancurkan oleh keserakahan tangan manusia untuk merampok timah yang tersembunyi di dalam perut Belitung.





Setelah puas mengelilingi kawasan Kepulauan Kelayang, saya lalu menghabiskan waktu sekitar lima jam di Pulau Kepayang, salah satu pulau kecil di gugusan kepulauan ini. Pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Babi ini, wajib disinggahi oleh siapapun ketika hendak menjelajahi kawasan ini. Mercu suar peninggalan Kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh di Pulau Lengkuas, juga terlihat jelas dari Pulau Kepayang. Kalau Anda sempat menikmati indahnya Belitung dari puncak mercu suar yang dibangun pada 1882 itu, maka jangan lewatkan juga memandangi mercu suar ini dari Pulau Kepayang pada sore hari. Ia akan terlihat sangat indah dengan latar matahari tenggelam.

Berburu Tarsius di Belitung
Belitung tidak hanya pantai indah yang dipadu dengan batu granit. Negeri Laskar Pelangi ini juga memiliki pesona lain yang terbentang lebar di daratan. Luas Pulau Belitung yang mencapai 480 ribu hektar, sebagian besar masih berupa hutan belantara yang hijau dan rimbun, walau di beberapa bagiannya telah rusak oleh aktivitas penambangan timah.

Sebagai orang yang juga menggemari petualangan ke dalam hutan belantara, saya pun tidak menolak ajakan seorang kawan untuk merasakan sensasi menginap di tengah hutan Belitung. Saya pun bermalam di Batu Mentas, sebuah kawasan wisata yang menjual panorama hutan. Batu Mentas berada di kawasan hutan lindung Dusun Kelekak Datuk, Kecamatan Badau, yang berjarak sekitar 30 km dari pusat Tanjungpandan.

Acara saya ke Batu Mentas tidak hanya berisi petualangan ke tengah hutan, mandi di sungai yang sangat jernih, atau berinteraksi dengan penduduk lokal. Saya pun ikut ‘berburu’ tarsius di kawasan ini. Entah bagaimana hewan kecil yang sekilas mirip kera ini, bisa ada di kawasan hutan ini. Padahal, sejumlah literatur menyebutkan Kalimantan adalah habitat asli tarsius.

Saya baru pertama kali ini melihat hewan ini. Matanya besar dan menghadap ke depan seperti mata burung hantu. Tubuhnya kecil dan serangga menjadi makanan favoritnya. Kaki belakangnya panjang seperti katak, sehingga ia mampu melompat sangat jauh dari batang pohon ke batang pohon lain. Panjang ekornya bisa mencapai 30 cm dan ramping seperti ekor tikus. Bulunya lembut dan biasanya berwarna cokelat. Sama seperti burung hantu, hidup tarsius lebih banyak pada malam hari.

Gampang-gampang susah untuk menemui tarsius di habitat aslinya. Pengelola Batu Mentas sebenarnya sudah memetakan kawasan hidup tersius. Bahkan, jalur-jalur safari 'memburu' tarsius sudah dibuat di tengah hutan yang cukup lebat. Tapi, tidak ada jaminan Anda akan pasti bertemu tarsius kalau menyusurinya.

Begitu juga dengan saya yang tertarik untuk ikut 'perburuan' tarsius pada malam hari. Selama tiga jam saya mengikuti sebuah rombongan kecil masuk ke dalam hutan belantara yang cukup lebat. Suara serangga malam sangat jelas terdengar di tengah bulan nyaris sempurna yang sesekali terlihat di balik pepohonan. Namun, apa daya, walau badan sudah sangat lelah, tarsius yang kami cari-cari tetap tidak menampakkan diri.

Untuk mengobati rasa penasaran, saya akhirnya masuk saja ke tempat penangkaran dan penelitian tarsius yang ada di salah satu sudut Batu Mentas pada pagi harinya. Saya pun dapat melihat langsung wujud hewan insektivora yang kepalanya bisa diputar 180 derajat ini. Menyenangkan sih, walau pastinya akan lebih seru kalau saya bisa melihatnya langsung di alam bebas.

Dengan lahan yang sangat luas, Belitung juga merupakan penghasil buah-buahan. Bermacam-macam buah tumbuh subur di pulau ini. Salah satunya adalah buah durian. Musim buah beraroma sangat khas ini adalah mulai November hingga Februari, dengan puncak pada Januari. Sebagai penggemar durian, tentunya saya tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi buah durian asal Belitung. Saya pun menikmati buah berduri ini di pusat penjual durian di Jalan Sriwijaya dengan harga sekitar Rp 10.000 perbuah.









Menyusuri Kota Tua Belitung
Belitung tidak hanya memiliki pantai-pantai eksotis dengan batu granit berserakan dimana-mana. Sejarah Belitung yang sudah didatangi Belanda sejak 1722 untuk menjarah timah, tentu saja meninggalkan jejak yang dapat dinikmati hingga hari ini. Tanjungpandan bahkan pernah dijadikan pusat administrasi tambah timah milik negeri kincir angin itu.

Saat sama-sama penasaran dengan perburuan tarsius, saya beruntung berkenalan dengan Wahyu Brata, seorang pengelola hotel di Tanjungpandan. Ia sudah delapan tahun tinggal di Belitung dan sangat menggilai apapun yang klasik dari segi usia. Bahkan, hotel yang ia kelola merupakan sebuah bangunan bekas kantor perusahaan timah yang dibangun pada 1960. Kamar-kamar hotel merupakan bekas ruangan-ruangan kantor yang telah disulap dengan sangat bagus dan unik.

Bangunan utama hotel kemudian disatukan dengan sebuah rumah warga keturunan sebelahnya yang dibangun pada 1860. Bentuk rumah dipertahankan seperti aslinya, termasuk keberadaan sebuah kelenteng kecil di dalamnya. Kesan klasik juga dapat dinikmati dari sejumlah foto-foto Belitung tempo dulu yang dipajang rapi di salah satu ruangan. Saya terkesima ketika melihat sebuah foto bergambar orang Belanda berbaur dengan penduduk lokal lengkap dengan mobil uap.

Puas mengelilingi setiap sudut hotel yang ia kelola, Wahyu lalu mengajak saya dan dua orang rekan untuk mengelilingi Tanjungpandan dengan mobil tua miliknya, Dodge Power Wagon, yang diproduksi pada 1950. Saya duduk di samping Wahyu yang terlihat sangat gagah di belakang kemudi mobil berwarna hitam ber-cc sekitar 4.000 ini. “Satu kilometer menghabiskan berapa liter, Mas?” tanya saya yang hanya dijawab Wahyu dengan tawa kecil.

Wahyu membawa kami ke sejumlah tempat yang menyimpan sejarah panjang peradaban Belitung. Ia antara lain mengajak kami ke Tanjung Pendam, sebuah pantai yang berada di pusat kota, yang pada jaman dulu merupakan pusat perekonomian Belitung. Tidak jauh dari pantai, terdapat kawasan perumahan yang merupakan bekas komplek perumahan para pembesar perusahaan timah sejak jaman Belanda. Banyak bangunan yang masih mempertahankan bentuk aslinya, seperti sejumlah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Dulunya, tidak sembarang orang bisa masuk kawasan perumahan ini. Hanya untuk keluarga petinggi perusahaan timah. Mirip seperti kisah di novel Laskar Pelangi,” ungkap Wahyu yang mengaku datang ke Belitung gara-gara terpikat dengan novel karangan Andrea Hirata itu.

Wahyu lalu menghentikan mobil persis di depan sebuah rumah dengan taman yang sangat luas. Beberapa pohon besar tumbuh di halaman rumah. Tidak ada orang terlihat di rumah ini, termasuk di sebuah pos penjagaan di samping gerbang rumah. Ada sebuah papan nama yang berdiri kokoh di kiri pintu pagar dengan bunyi tulisan ‘Eks Rumah Tuan Kuasa. Hoofdadministrateur’. Sedangkan di atasnya tertulis ‘Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Belitung’. “Ini rumah bekas kepala timah pada jaman Belanda,” kata Wahyu Brata.

Kami juga sempat menjelajahi sebuah bekas kawasan pergudangan tidak jauh dari Pantai Tanjung Pendam. Gudang yang cukup besar ini kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Kerusakan terjadi dimana-mana karena tidak ada perawatan. Kaca-kaca pecah, tembok hancur, dan nyaris tanpa atap lagi. Sejumlah seng juga menggantung di kuda-kuda dan sangat rawan jatuh ketika angin berhembus. Padahal, gudang ini adalah saksi bisu betapanya berlimpahnya timah yang dikeruk dari perut Belitung. Dari gudang inilah timah dibawa ke pelabuhan dan diekspor ke banyak negara.

Masih banyak bangunan lain yang menjadi saksi betapa pernah berjayanya Belitung dari timah. Menjelajahi kawasan tua Belitung sambil duduk di atas sebuah mobil tua di samping seorang sahabat yang banyak paham mengenai sejarah Belitung, tentu sangat memberikan sebuah pengalaman lain untuk saya. Saya menikmatinya sambil membayangkan isi novel Laskar Pelangi pada bagian kisah mengenai betapa makmurnya para petinggi dan pegawai perusahaan timah di tengah kondisi masyarakat Belitung yang hidup pas-pasan.

Petualangan saya untuk menyusuri kawasan tua Belitung berakhir di sebuah rumah warga keturunan yang berprofesi sebagai pembuat abon ikan dan kerupuk ikan. Tidak hanya proses pembuatan kedua makanan khas Belitung itu yang dapat saya saksikan di dalam rumah. Sejumlah foto-foto tua juga dipajang di dinding ruang tamu rumah. Wahyu banyak bercerita mengenai siapa dan momen apa yang ada di semua foto.

Saya mengakhiri kunjungan ini dengan menenteng dua bungkus abon ikan untuk oleh- oleh ke Jakarta.








Menuju Belitung
Penerbangan Jakarta-Tanjungpandan hanya membutuhkan waktu 50 menit. Baru dua maskapai yang melayani rute ini, yakni Sriwijaya Air dan Batavia Air. Harga tiket berkisar Rp 350.000-Rp 1.000.000, tergantung waktu bepergian. Pada 2013 rencananya landasan Bandara HAS Hanandjoedin akan diperpanjang menjadi 2.500 meter, sehingga akan semakin banyak maskapai yang terbang ke Belitung. Dengan demikian, harga tiket diharapkan akan bisa lebih murah lagi. Maskapai Sky Aviaton juga melayani penerbangan ke Tanjungpandan dari Batam, Palembang, dan Pangkalpinang dengan harga tiket sekitar Rp 500.000. Belitung juga dapat dicapai lewat laut dari Jakarta, Palembang, dan Pangkalpinang. Butuh waktu sekitar 12 jam berlayar dari Jakarta untuk sampai di Tanjungpandan.

Transportasi di Belitung
Tidak ada angkutan umum di Belitung. Anda harus menyewa mobil atau sepeda motor untuk bisa menjelajahi pulau timah ini. Harga sewa mobil sekitar Rp 500.000 perhari termasuk bahan bakar dan supir. Sedangkan sewa sepeda motor sekitar Rp 50.000 perhari. Seiring semakin berkembangnya dunia pariwisata Belitung, kini semakin mudah mencari penyedia jasa penyewaaan kendaraan bermotor. Kini, juga sedang dikembangkan wisata bersepeda di Belitung. Dengan menyewa sepeda, maka Anda bisa lebih puas menjelajahi negeri Laskar Pelangi ini. Apalagi, jalan-jalan relatif sangat mulus dengan jumlah kendaraan bermotor yang sangat sedikit.

Menginap Dimana
Ada puluhan hotel di Belitung mulai losmen sampai bintang empat. Tarifnya mulai puluhan ribu rupiah sampai Rp 1.000.000 permalam. Penginapan ada di setiap kawasan wisata, sehingga Anda bisa menyesuaikan tempat menginap dengan tujuan wisata. Bahkan, di Pulau Kepayang juga ada kamar-kamar berbentuk cottage maupun kamar bagi backpacker yang disewakan tidak sampai Rp 100.000 permalam. Walau sudah ada ratusan kamar menginap di seluruh Belitung, namun pada musim liburan tertentu semuanya bisa habis terisi. Sejumlah biro perjalanan pun akhirnya mencari rumah-rumah penduduk untuk dijadikan tempat menginap tamu-tamu mereka. Jadi, pastikan Anda telah memesan kamar jauh hari kalau hendak ke Belitung pada musim liburan.

Catatan: tulisan saya ini telah dimuat di Majalah Travel Fotografi edisi Februari 2013. Terima kasih untuk Bro Yuliandi Kusuma.
Selengkapnya...

Senin, 20 Mei 2013

Rekening Gendut Aiptu LS dan Uji Wartawan

Suatu hari, tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan mendatangi Rosihan Anwar, wartawan senior yang telah dipanggil Sang Pecipta pada April 2011. Kepada sang wartawan empat jaman itu, tim penyusun bermaksud meminta masukan mengenai uji kompetensi yang rencananya bakal wajib diikuti oleh semua wartawan Indonesia. Tanggapan Rosihan membuat kaget tim yang diberikan mandat untuk menemuinya. "Melihat cara berjalan saja, saya sudah tahu apakah orang tersebut punya bakat menjadi wartawan," tegas Rosihan.

Pada hari yang lain, tim penyusun menghadap pemilik Jawa Pos, Dahlan Iskan. Tanggapan wartawan yang kini menjadi Menteri BUMN tersebut tidak kalah mengejutkan. "Biarkan saya bicara dengannya selama sepuluh menit, maka saya bisa memastikan apakah orang tersebut mampu menjadi wartawan atau tidak."

Orang ketiga yang ditemui adalah Jakob Oetama, pemilik Kompas Gramedia. Nah, masukan dari wartawan yang kini masih menjabat Pemimpun Umum Kompas pada usia 82 tahun itu, juga di luar perkiraan tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan. “Saya bisa mengetahui seseorang punya bakat menjadi wartawan hanya dari riwayat hidup yang ia tulis,” kata Jakob.

Terakhir, tim penyusun mendatangi Surya Paloh. Komentar Pemilik Media Group tersebut tidak kalah menarik. "Saya bukan wartawan. Tapi, kalau diminta untuk mencari wartawan, saya jagonya," kata pemilik Metro TV dan Media Indonesia itu.

Priyambodo, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), menceritakan kisah-kisah di atas dalam pembukaan Uji Kompetensi Wartawan di Metro TV, akhir pekan lalu. Ada sekitar 25 wartawan yang ikut, termasuk saya. Selain beberapa wartawan dari Metro TV, ada sejumlah wartawan lain dari Media Indonesia, Lampung Post, Metrotvnews.com, dan dua perwakilan dari koran Salam Papua, yang ikut dalam uji kompetensi ini.”Keempat tokoh pers tersebut kami datangi untuk meminta masukan mengenai Uji Kompetensi Wartawan, ketika baru dalam tahap perumusan,” kata Priyambodo, alumni International Institute for Journalism (IIJ), Berlin, Jerman (1995) yang sejak 1990 menjadi wartawan Kantor Berita ANTARA.

Uji Kompetensi Wartawan berlangsung selama dua hari, dari pagi sampai malam. Sejak awal, para penguji yang terdiri dari enam wartawan senior, menekankan kalau acara ini bukan pelatihan, ajang diskusi, atau simulasi. Ini adalah ujian bagi kami untuk mengetahui apakah memang mampu menjadi wartawan sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki. "Dari ujian ini akan terjawab apakah Anda kompeten disebut wartawan," tegas Petrus Suryadi Sutrisno, penguji yang tampak paling 'sangar' dibanding lima penguji lainnya.

Selama dua hari, kami pun diuji sesuai dengan golongan masing-masing, yakni wartawan muda, wartawan madya, dan wartawan utama. Saya ikut dalam gerbong madya. Ada sekitar tujuh bahan uji yang harus saya jalani. Pada hari pertama adalah mengenai keaktifan dalam rapat redaksi, dan ujian membuat wishlist liputan. Karena pada saat rapat redaksi saya mengusulkan liputan mengenai update kasus rekening gendut miik Aiptu Labora Sitorus, maka wishlist yang saya buat juga tentang hal yang sama.

Pada hari kedua ada lima ujian yang harus saya ikuti. Yang pertama adalah mengenai penulisan feature. Saya diminta untuk membuat feature mengenai apa tanggapan masyarakat mengenai kasus Aiptu Labora Sitorus dengan mewawancarai satpam di Metro TV. Kemudian, ujian kedua adalah membuat liputan investigasi yang harus sangat lengkap, mulai tim yang berangkat, biaya, lokasi liputan, narasumber, dan sebagainya. Ujian ketiga adalah menyunting naskah. Saya diminta memilih salah satu guntingan berita di koran dan menyunting naskahnya.

Kemudian ujian keempat adalah jejaring dan lobi. Saya diminta untuk menulis sepuluh narasumber berikut nomor kontak mereka yang bisa dimintai komentar tentang Aiptu Labora Sitorus. Saya beruntung, karena tema yang saya pilih cukup akrab bagi saya sehingga hampir seluruh narasumber yang saya tulis, ada di kontak telepon saya. Saya kemudian diminta untuk menelepon salah satu nama yang ditunjuk penguji secara acak dan mengaktifkan speaker agar ia juga mendengarkan pembicaraan kami. Saya tidak kesulitan melalui ujian ini karena rupanya nama yang dipilih penguji, masih menyimpan nomor telepon saya. Kami pun terlibat pembicaraan yang saat akrab dan santai.

Ujian terakhir adalah mengenai evaluasi rapat redaksi. Yang dinilai di sini kembali mengenai keaktifan dalam rapat. Celakanya, nilai dari peserta kelompok wartawan utama harus dikurangi karena dianggap terlalu mendominasi rapat. Seharusnya kesempatan lebih banyak diberikan bagi kelompok madya dan muda.

Menjelang jam tujuh malam, Uji Kompetensi Wartawan ditutup setelah dua peserta mewakili memberikan kesan dan pesan. Kami pun dinyatakan lulus semua. Artinya, kami sudah sah menyandang predikat sebagai wartawan yang kompeten. Alhamdulillah…
Selengkapnya...

Senin, 13 Mei 2013

Pariwisata Indonesia yang Masih Terpuruk

Indonesia berkali-kali membanggakan diri sebagai surga dunia. Sang pencipta menganugrahkan kemurahan hati dengan alam yang indah, budaya yang berlimpah, masyarakatnya yang ramah, dan kuliner kaya rempah-rempah yang sudah terkenal di dunia sejak ratusan tahun silam. Keindahan alam Indonesia membentang di udara, darat, hingga ke dasar laut. Bahkan, Indonesia diklaim sebagai negara yang memiliki jumlah jenis karang terbesar di dunia dengan aneka jenis ikan warna-warni.

Tapi, sudahkah semua potensi itu dimanfaatkan untuk memajukan dunia pariwisata negeri ini? Sayang sekali, jawabannya harus mengecewakan.

Pariwisata Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan dari negara tetangga. Tahun 2012, hanya ada sekitar 8,04 juta wisatawan mancanegara yang melancong ke Indonesia. Angka ini sangat jauh dibandingkan Malaysia yang mencapai 24,7 juta orang dan Thailand sebanyak 21 juta orang. Kalau tidak mau lebih malu lagi, jangan bandingkan dengan Prancis, negara yang paling banyak dikunjungi turis mancanegara pada 2012 dengan angka menembus 80 juta orang.

Apa yang salah dengan bangsa ini? Mengklaim diri sebagai negara yang indah dengan keramahan penduduk beserta budayanya, tetapi Indonesia ternyata tidak mampu memanfaatkan peluang ini dengan baik. Memang, setiap tahun ada peningkatan jumlah wisatawan asing yang bertandang ke Tanah Air, tetapi tetap tidak memuaskan.

Kalau Indonesia menargetkan kunjungan turis pada 2013 sebanyak 9 juta orang, maka Malaysia berada pada angka 26 juta orang. Apakah Malaysia lebih indah daripada Indonesia? Apakah pantai-pantai di Malaysia lebih eksotis daripada pantai di Pulau Bali. Apakah gugusan karang di dasar laut sekitar Pulau Sipadan lebih dahsyat daripada di Raja Ampat? Apakah Malaysia lebih kaya akan kebudayaan dibandingkan Tanah Air? Kita sama-sama tahu jawabannya.

Baiklah. Tidak baik membandingkannya dengan Malaysia yang sering muncul kerikil-kerikil perseteruan dalam hal seni dan budaya dengan Indonesia. Kita bisa mengintip Thailand, negara tetangga lain yang juga telah sukses meraup banyak devisa dari sektor pariwisata. Negeri gajah putih ini sadar sekali kalau dunia pariwisata sangat menopang perekonimian mereka. Walau keindahan alam mereka masih kalah jauh dibandingkan milik Indonesia, tapi faktanya turis lebih banyak ke Thailand daripada ke Indonesia.

Indonesia harus meniru gaya Thailand yang sangat menghargai wisatawan. Apakah Indonesia sudah menempatkan setiap wisatawan sebagai raja seperti yang dilakukan Thailand? Nah, ini yang belum sepenuhnya bisa dijumpai di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh memotretnya di kawasan wisata. Cukup lihat pemandangan ketidaknyamanan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal, bandara adalah pintu gerbang Indonesia. Kalau di pintu masuk saja kenyamanan sulit didapat, bagaimana orang asing bisa berpikir bakal nyaman saat di dalam ‘rumah’?

Pemerintah kini sangat rajin mengikuti acara pameran di segala penjuru dunia untuk terus memperkenalkan pariwisata Indonesia. Misi kebudayaan pun sangat rajin dikirim agar wisatawan asing semakin banyak melirik Indonesia untuk mengisi liburan mereka. Namun, tampaknya hasil belum memuaskan. Berdasarkan hasil Travel and Tourism Competitivenes Index 2013 yang dirilis World Economic Forum, Indonesia berada diperingkat 70 dengan skor 4,03. Peringkat ini masih jauh dibawah posisi Malaysia (posisi 34) dan Thailand (posisi 43). Negara yang berada di urutan sepuluh besar berturut-turut adalah Swiss (skor 5,66), Jerman (5,39), Austria (5,39), Spanyol (5,38), Inggris (5,38), Amerika Serikat (5,32), Prancis (5,31), Kanada (5,28), Swedia (5,24), Singapura (5,23).

Mari kita lihat hasil riset lain. Euromonitor International, sebuah perusahaan riset asal London, Inggris, pernah merilis daftar 100 kota di dunia yang paling banyak dikunjungi turis Internasional pada 2011. Tidak satupun kota di Indonesia yang masuk sepuluh besar. Kota di Indonesia yang posisinya paling tinggi adalah Denpasar, yang berada di posisi ke-52. Yang seharusnya memalukan Indonesia, ada tiga kota lain di Asia Tenggara yang bertengger di sepuluh besar. Posisi pertama sampai sepuluh selengkapnya adalah Hong Kong, Singapura, London, Kuala Lumpur, Macau, Bangkok, Antalya, Shenzhen, New York, dan Istanbul.

Harus diakui, Bali masih menjadi primadona pariwisata Indonesia di dunia internasional. Setengah dari turis asing yang berkunjung ke Indonesia pada 2012 datang ke Bali. Data memang menunjukkan kunjungan wisatawan asing ke Jakarta juga terus meningkat dan semakin membuntuti Denpasar. Sama seperti negara lain, ibu kota negara memang seharusnya menjadi magnet besar untuk menarik wisatawan asing. Dan, Jakarta punya peluang tersebut asal dilakukan banyak pembenahan untuk lebih memanusiakan Jakarta agar ramah bagi wisatawan.

Jakarta bisa menjadi surga belanja dengan pusat perbelanjaannya yang terus menjamur, surga hiburan, surga kuliner, atau surga wisata perpaduan tradisional dan modern. Jakarta juga punya Kepulauan Seribu yang masih belum dioptimalkan sebagai magnet menarik para pelancong. Tapi, sepanjang kesemrawutan, kemacetan, keindahan, dan rasa aman yang masih belum diperbaiki, jangan dulu berharap banyak Jakarta bisa mengekor Kuala Lumpur, Singapura, Paris, atau bahkan London, yang menjadi tujuan utama turis mancanegara. Sayang sekali, sepertinya belum ada gubernur yang memimpin Jakarta punya perhatian besar pada sektor pariwisata.

Padahal, kemajuan pariwisata akan berdampak pada sektor lainnya. Setidaknya ada 75 sektor yang bakal kena dampak positif dari pariwisata. Pariwisata seperti bola salju yang terus menggelinding tanpa ada yang bisa memperkirakan bakal sebesar apa ketika sampai di dasar lembah. Kemajuan pariwisata tidak hanya menguntungkan pengelola penginapan, restoran, transportasi, rumah makan, atau bisnis oleh-oleh, tetapi juga berdampak positif ke segala lini, termasuk sektor pertanian, perkebunan, migas, konservasi lingkungan, seni budaya, dan sebagainya. Segala dampak positif tersebut memang tidak seperti menggigit cabai yang langsung terasa pedas. Ia akan berproses seperti nutrisi yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebar ke seluruh aliran darah seiring waktu.

Besarnya dampak positif yang ditimbulkan pariwisata tersebut tercermin angka produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Walau baru mampu menggaet sekitar delapan juta wisatawan mancanegara, namun sektor wisata telah menjadi penyumbang PDB terbesar keempat bagi ekonomi Indonesia. Pariwisata hanya berada di bawah penerimaan minyak, gas bumi, dan karet. Padahal, Indonesia hanya mendapatkan pemasukan sekitar US$ 9 miliar. Angka ini jau dibawah pendatan Malaysia yang mencapai hampir US$ 20 miliar.

Sudah seharusnya seluruh komponen yang ada di Indonesia sadar akan efek domino yang dihasilkan dari pariwisata. Indonesia sudah punya modal yang kuat, yakni budaya, alam, dan sumber daya manusianya. Ini adalah ciptaan Tuhan yang khusus diberikan bagi Indonesia. Singapura dan Malaysia saja yang sebagian besar tempat wisatanya adalah hasil buatan manusia, sukses mengundang para pelancong dari seluruh dunia. Kalau buatan Tuhan dan buatan manusia disenergikan di Indonesia, hasilnya dijamin pasti sangat dahsyat.

Bahkan, tidak hanya di tingkat Asia Tenggara, Indonesia juga dinilai masih memiliki keunggulan budaya dibandingkan India dan China yang pamornya lebih besar di mata internasional. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan apa yang dimiliki. Jangan lagi ada penggiat pariwisata yang harus berhadapan dengan pemerintah daerah yang bersekutu dengan pengusaha tambang yang hendak mengeruk timah dan tembaga dengan merusak keindahan alam yang seharusnya nilainya jauh lebih besar daripada kedua tambang tersebut.

Tidak ada jalan lain selain perhatian lebih yang harus diberikan pemerintah untuk membenahi sektor pariwisata. Tidak cukup hanya anggaran besar untuk menggelar promosi ke seluruh penjuru dunia. Pembenahan infrastruktur juga mutlak harus dilakukan. Akses menuju tempat-tempat pariwisata juga harus dibenahi. Jangan biarkan jalan rusak, gelap, dan tidak aman. Pariwisata Malaysia bisa berkembang sangat pesat karena mereka membangun jalan tol sangat panjang untuk menghubungkan kota-kota tujuan wisata.

Banyak pemerintah daerah yang hanya mau menerima pemasukan dari para turis, tapi mereka tidak mau memperbaiki jalan-jalan menuju titik-titik wisata dari daerah mereka. Pajak rumah makan dan hotel mereka pungut, tapi anggaran untuk pariwisata tidak disiapkan karena merasa turis pasti tetap berdatangan tanpa campur tangan pemerintah daerah. Ini pemikiran yang sangat aneh, tapi nyata di Indonesia.

Mental masyarakat agar semakin melek pariwisata juga harus semakin keras digedor. Dunia pariwisata sangat berhubungan dengan rasa nyaman dan aman. Masih banyak masyarakat yang menatap wisatawan sebagai mangsa yang harus diterkam dan dimakan sampai habis. Padahal, yang harus dilakukan adalah layani dulu mereka dengan sangat baik, agar mereka rela mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya.

Konektivitas antardaerah juga mutlak harus dilakukan. Harus ada pilihan transportasi. Tidak hanya lewat darat, tapi juga lewat jalur udara. Murahnya tarif penerbangan pada saat ini seharusnya dimanfaatkan Indonesia sebesar-besarnya untuk memajukan dunia pariwisata. Memang, sudah ada perhatian pemerintah dengan membenahi sejumlah bandara kecil, termasuk menambah panjang landasan agar bisa didarati pesawat sekelas Boeing atau Airbus. Langkah ini sudah bagus dan tidak boleh putus di tengah jalan. Berwisata ke Danau Toba, Belitung, Derawan, Pulau Komodo, atau Raja Ampat, Wakatobi, atau Natuna, pasti akan lebih murah bila semakin banyak pilihan transportasi ke sana.

Ada alasan lain mengapa Indonesia harus semakin serius menggarap pariwisata. Organisasi perdagangan dunia (WTO) memperkirakan saat ini ada sekitar satu miliar orang yang melakukan perjalanan di muka bumi ini. Berwisata sudah menjadi kebutuhan siapa saja. Bahkan, pada 2030, diperkirakan ada 1,3 miliar orang yang melakukan perjalanan lintas batas seiring semakin gemuknya masyarakat kelas menengah.

Ketika dunia memiliki satu miliar wisatawan internasional, itu berarti satu dari enam orang di dunia melakukan perjalanan lintas batas. Jika kita menambahkan ke dalamnya sekitar lima miliar wisatawan lokal, maka ada hampir satu perjalanan per tahun untuk setiap warga di dunia ini yang didefinisikan sebagai seorang turis.

Apa Indonesia hanya mau menjadi penonton?

(Tulisan ini saya kerjakan sebagai makalah untuk mengikuti Ujian Kompetensi Wartawan Indonesia.)

Selengkapnya...

Selasa, 07 Mei 2013

Di Balik Yang Mini di Hotel Amaris Ambon

Pagi yang sangat cerah menciptakan langit biru di atas Kota Ambon. Awan tipis sisa mendung hari kemarin terlihat berserakan seperti kapuk bantal di atas kain sprai warna biru. Tembok Hotel Amaris yang berwarna-warni pun tampak indah. Berkali-kali lensa kamera membidik ke arah sana dari berbagai sudut.

Hotel Amaris Ambon berlokasi di Jalan Dipenogoro, salah satu pusat keramaian di Ibu Kota Maluku. Hotel ini berlantai tujuh dengan jumlah kamar di setiap lantai sekitar 20 kamar. Liftnya ada dua di salah satu sisinya. Tidak ada kolam renang, fitnes, karaoke, atau lounge dengan beraneka minuman beralkohol. Maklum saja, Amaris adalah penginapan yang memposisikan diri sebagai hotel budget sekelas bintang dua dengan tarif sekitar Rp 400 ribu permalam.

Saya tinggal di hotel ini selama empat hari tiga malam. Inilah pengalaman pertama saya menginap di Hotel Amaris yang kini berjumlah sekitar 27 hotel yang tersebar di berbagai kota, termasuk di Singapura. Namanya pengalaman pertama, maka saya pun memperhatikan segalanya pada hotel yang dikelola oleh anak usaha kelompok Kompas Gramedia itu.

Saya mendapatkan kamar di lantai enam dan menghadap ke belakang. Rupanya, Amaris bersebelahan dengan perkampungan penduduk. Dari jendela kamar, saya menyaksikan rumah-rumah penduduk yang cukup padat hingga ke atas lereng-lereng bukit. Pada siang hari, rumah-rumah itu sangat indah dipotret bersama langit yang biru. Sedangkan pada malam hari, ia eksotis bersama lampu yang kelap-kelip di setiap rumah.




Kamar saya tidak terlalu luas, sekitar 3 x 3 meter di luar kamar mandi yang juga berukuran mini. Sebuah TV LCD ukuran 21 inci menempel di dinding dengan saluran nasional dan beberapa dari luar. Di salah satu sudut kamar ada meja kecil dengan sebuah kursi. Sebuah ruang penyimpanan baju yang juga berukuran mini ada di samping meja. Terdapat sebuah kotak penyimpanan di dalam lemari yang tidak pernah saya fungsikan.

Kalau hotel-hotel pada umumnya kamar saling berhadapan di lorong yang memanjang dan sepi menakutkan, maka kamar di Amaris Ambon berbeda. Kamar di setiap lantai dipisahkan oleh ruang terbuka di tengahnya, mirip di sejumlah apartemen. Saya berpikir nakal, bagaimana kalau ada orang yang sedang stress dan nekat melompat dari lantai teratas. Tubuhnya pasti pipih menghantam lantai.



Ada yang di luar perkiraan saya tentang Amaris yang digolongkan sebagai hotel budget ini. Sarapan masih disediakan secara prasmanan walau pilihan tidak terlalu banyak. Nasi goreng atau nasi putih disajikan dengan empat pilihan lauk yang rasanya cukup lezat untuk saya. Ada juga bubur ayam, roti, dan buah yang tidak luput saya cicipi. Minumnya ada jus, air putih, teh manis atau kopi. Semua hidangan ini ditata rapi dalam ruang yang juga minimalis dengan warna-warna cerah pada kursi, meja, dan hiasan di dinding. Oya, telor mata sapi setengah matang kegemaran saya juga masih dapat saya pesan di Amaris. Sarapan pagi selama berada di Ambon sungguh membuat perut ini kenyang.

Saya tidak tahu apakah memang begini kondisi di setiap Hotel Amaris. Tapi, bagi saya, sepertinya Amaris layak dimasukkan dalam hotel rekomendasi di manapun.

Saya terus memandangi bangunan Amaris yang warna-warni dan terlihat cantik berpadu dengan langit yang biru pekat.




Selengkapnya...