Selasa, 21 Mei 2013

Belitung, Tidak hanya Pantai Eksotis

Sebuah survey berlangsung di Twitter dan menanyakan destinasi lokal apa yang wajib dikunjungi. Ternyata Belitung masuk empat besar bersama Raja Ampat, Lombok, dan Pulau Komodo. Sedahysat apa rupanya Belitung?

Waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi ketika saya keluar dari Terminal Kedatangan Bandara HAS Hanandjoedin, Tanjungpandan. Matahari pagi terlihat sangat cerah, secerah hati ini untuk menjelajahi Belitung pada pengalaman pertama. Walau berada di depan mata karena hanya butuh 50 menit terbang dari Jakarta, saya belum pernah menyaksikan langsung keindahan pulau ini seperti yang sangat sering diulas program jalan-jalan di layar TV, halaman jelajah koran dan majalah, ataupun dari mulut ke mulut.

Rasa kagum pertama saya kepada Belitung adalah ketika mendapati seluruh jalan raya sangat mulus dan lebar yang terlihat begitu keluar dari bandara. Jalanan yang supermulus ini semakin indah oleh perpaduan pemandangan perkampungan penduduk, perkebunan sawit, ladang lada, buah-buahan, atau hutan belantara yang silih berganti di sepanjang perjalanan. Nyaris di setiap jalan yang saya lalui, jumlah kendaraan bisa dihitung dengan jari tangan. “Jumlah jalan di sini ini lebih banyak daripada jumlah mobil. Berbeda sekali dengan di Jakarta, ya?,” ledek Hadjeri, sopir yang membawa saya. Seketika lamunan saya berhenti.

Pesona utama Belitung memang keindahan pantainya yang dipermanis oleh batu-batu granit. Seakan ada tangan-tangan terampil yang menyusun batu-batu tersebut. Imajinasi melayang-layang saat mendapati ada batu yang berbentuk kepala burung, penyu, kepala lumba-lumba, perahu terbalik, dan sebagainya.

Pantai-pantai Belitung bersama batu granitnya tidak hanya indah untuk dipandangi mata telanjang. Semua itu juga menjadi objek yang sangat menarik di lensa kamera. Tidak perlu tangan mahir dalam memegang kamera. Anda tinggal mengarahkan lensa kemanapun suka, tekan tombol rana, dan lihat hasil jepretan di layar kamera. Karena itu, jangan lupa untuk membawa kartu memori lebih saat menjelajahi pantai-pantai di negeri Laskar Pelangi ini.

Tempat paling favorit bagi siapapun untuk memburu keindahan batu-batu granit di pantai hingga ke tengah laut adalah di sekitar Kepulauan Kelayang. Sebagai orang yang baru kali pertama datang ke Belitung, saya pun tidak melupakan lokasi ini. Rupanya, ada di sini batu granit yang seperti bentuk kepala burung garuda yang sering muncul di sejumlah foto.

Untuk menuju sejumlah pulau-pulau kecil di gugusan Kepulauan Kelayang, cukup menyewa perahu kayu yang banyak terdapat di sekitar Pantai Tanjung Kelayang. Tarif sewa untuk satu hari sekitar Rp 300.000 pada hari biasa. Carilah perahu yang atapnya bisa Anda naiki agar bisa memotret keindahan laut Belitung lebih dahsyat lagi.

Saya seperti orang yang kalap memencet tombol rana kamera sejak meninggalkan pantai Tanjung Kelayang. Pemandangan indah tidak putus-putusnya ada di sekeliling jalur yang saya lewati. Lautnya juga sangat jernih dengan tumpukan batu granit yang ada di sejumlah tempat, yang seakan muncul dari dasar laut. Sejumlah pulau-pulau kecil berpasir putih juga banyak berserakan di kawasan ini. Sulit membayangkan apa jadinya kalau semua keindahan ini akan hancur pada suatu hari nanti. Apalagi, dihancurkan oleh keserakahan tangan manusia untuk merampok timah yang tersembunyi di dalam perut Belitung.





Setelah puas mengelilingi kawasan Kepulauan Kelayang, saya lalu menghabiskan waktu sekitar lima jam di Pulau Kepayang, salah satu pulau kecil di gugusan kepulauan ini. Pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Babi ini, wajib disinggahi oleh siapapun ketika hendak menjelajahi kawasan ini. Mercu suar peninggalan Kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh di Pulau Lengkuas, juga terlihat jelas dari Pulau Kepayang. Kalau Anda sempat menikmati indahnya Belitung dari puncak mercu suar yang dibangun pada 1882 itu, maka jangan lewatkan juga memandangi mercu suar ini dari Pulau Kepayang pada sore hari. Ia akan terlihat sangat indah dengan latar matahari tenggelam.

Berburu Tarsius di Belitung
Belitung tidak hanya pantai indah yang dipadu dengan batu granit. Negeri Laskar Pelangi ini juga memiliki pesona lain yang terbentang lebar di daratan. Luas Pulau Belitung yang mencapai 480 ribu hektar, sebagian besar masih berupa hutan belantara yang hijau dan rimbun, walau di beberapa bagiannya telah rusak oleh aktivitas penambangan timah.

Sebagai orang yang juga menggemari petualangan ke dalam hutan belantara, saya pun tidak menolak ajakan seorang kawan untuk merasakan sensasi menginap di tengah hutan Belitung. Saya pun bermalam di Batu Mentas, sebuah kawasan wisata yang menjual panorama hutan. Batu Mentas berada di kawasan hutan lindung Dusun Kelekak Datuk, Kecamatan Badau, yang berjarak sekitar 30 km dari pusat Tanjungpandan.

Acara saya ke Batu Mentas tidak hanya berisi petualangan ke tengah hutan, mandi di sungai yang sangat jernih, atau berinteraksi dengan penduduk lokal. Saya pun ikut ‘berburu’ tarsius di kawasan ini. Entah bagaimana hewan kecil yang sekilas mirip kera ini, bisa ada di kawasan hutan ini. Padahal, sejumlah literatur menyebutkan Kalimantan adalah habitat asli tarsius.

Saya baru pertama kali ini melihat hewan ini. Matanya besar dan menghadap ke depan seperti mata burung hantu. Tubuhnya kecil dan serangga menjadi makanan favoritnya. Kaki belakangnya panjang seperti katak, sehingga ia mampu melompat sangat jauh dari batang pohon ke batang pohon lain. Panjang ekornya bisa mencapai 30 cm dan ramping seperti ekor tikus. Bulunya lembut dan biasanya berwarna cokelat. Sama seperti burung hantu, hidup tarsius lebih banyak pada malam hari.

Gampang-gampang susah untuk menemui tarsius di habitat aslinya. Pengelola Batu Mentas sebenarnya sudah memetakan kawasan hidup tersius. Bahkan, jalur-jalur safari 'memburu' tarsius sudah dibuat di tengah hutan yang cukup lebat. Tapi, tidak ada jaminan Anda akan pasti bertemu tarsius kalau menyusurinya.

Begitu juga dengan saya yang tertarik untuk ikut 'perburuan' tarsius pada malam hari. Selama tiga jam saya mengikuti sebuah rombongan kecil masuk ke dalam hutan belantara yang cukup lebat. Suara serangga malam sangat jelas terdengar di tengah bulan nyaris sempurna yang sesekali terlihat di balik pepohonan. Namun, apa daya, walau badan sudah sangat lelah, tarsius yang kami cari-cari tetap tidak menampakkan diri.

Untuk mengobati rasa penasaran, saya akhirnya masuk saja ke tempat penangkaran dan penelitian tarsius yang ada di salah satu sudut Batu Mentas pada pagi harinya. Saya pun dapat melihat langsung wujud hewan insektivora yang kepalanya bisa diputar 180 derajat ini. Menyenangkan sih, walau pastinya akan lebih seru kalau saya bisa melihatnya langsung di alam bebas.

Dengan lahan yang sangat luas, Belitung juga merupakan penghasil buah-buahan. Bermacam-macam buah tumbuh subur di pulau ini. Salah satunya adalah buah durian. Musim buah beraroma sangat khas ini adalah mulai November hingga Februari, dengan puncak pada Januari. Sebagai penggemar durian, tentunya saya tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi buah durian asal Belitung. Saya pun menikmati buah berduri ini di pusat penjual durian di Jalan Sriwijaya dengan harga sekitar Rp 10.000 perbuah.









Menyusuri Kota Tua Belitung
Belitung tidak hanya memiliki pantai-pantai eksotis dengan batu granit berserakan dimana-mana. Sejarah Belitung yang sudah didatangi Belanda sejak 1722 untuk menjarah timah, tentu saja meninggalkan jejak yang dapat dinikmati hingga hari ini. Tanjungpandan bahkan pernah dijadikan pusat administrasi tambah timah milik negeri kincir angin itu.

Saat sama-sama penasaran dengan perburuan tarsius, saya beruntung berkenalan dengan Wahyu Brata, seorang pengelola hotel di Tanjungpandan. Ia sudah delapan tahun tinggal di Belitung dan sangat menggilai apapun yang klasik dari segi usia. Bahkan, hotel yang ia kelola merupakan sebuah bangunan bekas kantor perusahaan timah yang dibangun pada 1960. Kamar-kamar hotel merupakan bekas ruangan-ruangan kantor yang telah disulap dengan sangat bagus dan unik.

Bangunan utama hotel kemudian disatukan dengan sebuah rumah warga keturunan sebelahnya yang dibangun pada 1860. Bentuk rumah dipertahankan seperti aslinya, termasuk keberadaan sebuah kelenteng kecil di dalamnya. Kesan klasik juga dapat dinikmati dari sejumlah foto-foto Belitung tempo dulu yang dipajang rapi di salah satu ruangan. Saya terkesima ketika melihat sebuah foto bergambar orang Belanda berbaur dengan penduduk lokal lengkap dengan mobil uap.

Puas mengelilingi setiap sudut hotel yang ia kelola, Wahyu lalu mengajak saya dan dua orang rekan untuk mengelilingi Tanjungpandan dengan mobil tua miliknya, Dodge Power Wagon, yang diproduksi pada 1950. Saya duduk di samping Wahyu yang terlihat sangat gagah di belakang kemudi mobil berwarna hitam ber-cc sekitar 4.000 ini. “Satu kilometer menghabiskan berapa liter, Mas?” tanya saya yang hanya dijawab Wahyu dengan tawa kecil.

Wahyu membawa kami ke sejumlah tempat yang menyimpan sejarah panjang peradaban Belitung. Ia antara lain mengajak kami ke Tanjung Pendam, sebuah pantai yang berada di pusat kota, yang pada jaman dulu merupakan pusat perekonomian Belitung. Tidak jauh dari pantai, terdapat kawasan perumahan yang merupakan bekas komplek perumahan para pembesar perusahaan timah sejak jaman Belanda. Banyak bangunan yang masih mempertahankan bentuk aslinya, seperti sejumlah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Dulunya, tidak sembarang orang bisa masuk kawasan perumahan ini. Hanya untuk keluarga petinggi perusahaan timah. Mirip seperti kisah di novel Laskar Pelangi,” ungkap Wahyu yang mengaku datang ke Belitung gara-gara terpikat dengan novel karangan Andrea Hirata itu.

Wahyu lalu menghentikan mobil persis di depan sebuah rumah dengan taman yang sangat luas. Beberapa pohon besar tumbuh di halaman rumah. Tidak ada orang terlihat di rumah ini, termasuk di sebuah pos penjagaan di samping gerbang rumah. Ada sebuah papan nama yang berdiri kokoh di kiri pintu pagar dengan bunyi tulisan ‘Eks Rumah Tuan Kuasa. Hoofdadministrateur’. Sedangkan di atasnya tertulis ‘Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Belitung’. “Ini rumah bekas kepala timah pada jaman Belanda,” kata Wahyu Brata.

Kami juga sempat menjelajahi sebuah bekas kawasan pergudangan tidak jauh dari Pantai Tanjung Pendam. Gudang yang cukup besar ini kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Kerusakan terjadi dimana-mana karena tidak ada perawatan. Kaca-kaca pecah, tembok hancur, dan nyaris tanpa atap lagi. Sejumlah seng juga menggantung di kuda-kuda dan sangat rawan jatuh ketika angin berhembus. Padahal, gudang ini adalah saksi bisu betapanya berlimpahnya timah yang dikeruk dari perut Belitung. Dari gudang inilah timah dibawa ke pelabuhan dan diekspor ke banyak negara.

Masih banyak bangunan lain yang menjadi saksi betapa pernah berjayanya Belitung dari timah. Menjelajahi kawasan tua Belitung sambil duduk di atas sebuah mobil tua di samping seorang sahabat yang banyak paham mengenai sejarah Belitung, tentu sangat memberikan sebuah pengalaman lain untuk saya. Saya menikmatinya sambil membayangkan isi novel Laskar Pelangi pada bagian kisah mengenai betapa makmurnya para petinggi dan pegawai perusahaan timah di tengah kondisi masyarakat Belitung yang hidup pas-pasan.

Petualangan saya untuk menyusuri kawasan tua Belitung berakhir di sebuah rumah warga keturunan yang berprofesi sebagai pembuat abon ikan dan kerupuk ikan. Tidak hanya proses pembuatan kedua makanan khas Belitung itu yang dapat saya saksikan di dalam rumah. Sejumlah foto-foto tua juga dipajang di dinding ruang tamu rumah. Wahyu banyak bercerita mengenai siapa dan momen apa yang ada di semua foto.

Saya mengakhiri kunjungan ini dengan menenteng dua bungkus abon ikan untuk oleh- oleh ke Jakarta.








Menuju Belitung
Penerbangan Jakarta-Tanjungpandan hanya membutuhkan waktu 50 menit. Baru dua maskapai yang melayani rute ini, yakni Sriwijaya Air dan Batavia Air. Harga tiket berkisar Rp 350.000-Rp 1.000.000, tergantung waktu bepergian. Pada 2013 rencananya landasan Bandara HAS Hanandjoedin akan diperpanjang menjadi 2.500 meter, sehingga akan semakin banyak maskapai yang terbang ke Belitung. Dengan demikian, harga tiket diharapkan akan bisa lebih murah lagi. Maskapai Sky Aviaton juga melayani penerbangan ke Tanjungpandan dari Batam, Palembang, dan Pangkalpinang dengan harga tiket sekitar Rp 500.000. Belitung juga dapat dicapai lewat laut dari Jakarta, Palembang, dan Pangkalpinang. Butuh waktu sekitar 12 jam berlayar dari Jakarta untuk sampai di Tanjungpandan.

Transportasi di Belitung
Tidak ada angkutan umum di Belitung. Anda harus menyewa mobil atau sepeda motor untuk bisa menjelajahi pulau timah ini. Harga sewa mobil sekitar Rp 500.000 perhari termasuk bahan bakar dan supir. Sedangkan sewa sepeda motor sekitar Rp 50.000 perhari. Seiring semakin berkembangnya dunia pariwisata Belitung, kini semakin mudah mencari penyedia jasa penyewaaan kendaraan bermotor. Kini, juga sedang dikembangkan wisata bersepeda di Belitung. Dengan menyewa sepeda, maka Anda bisa lebih puas menjelajahi negeri Laskar Pelangi ini. Apalagi, jalan-jalan relatif sangat mulus dengan jumlah kendaraan bermotor yang sangat sedikit.

Menginap Dimana
Ada puluhan hotel di Belitung mulai losmen sampai bintang empat. Tarifnya mulai puluhan ribu rupiah sampai Rp 1.000.000 permalam. Penginapan ada di setiap kawasan wisata, sehingga Anda bisa menyesuaikan tempat menginap dengan tujuan wisata. Bahkan, di Pulau Kepayang juga ada kamar-kamar berbentuk cottage maupun kamar bagi backpacker yang disewakan tidak sampai Rp 100.000 permalam. Walau sudah ada ratusan kamar menginap di seluruh Belitung, namun pada musim liburan tertentu semuanya bisa habis terisi. Sejumlah biro perjalanan pun akhirnya mencari rumah-rumah penduduk untuk dijadikan tempat menginap tamu-tamu mereka. Jadi, pastikan Anda telah memesan kamar jauh hari kalau hendak ke Belitung pada musim liburan.

Catatan: tulisan saya ini telah dimuat di Majalah Travel Fotografi edisi Februari 2013. Terima kasih untuk Bro Yuliandi Kusuma.

2 komentar:

  1. Ada sdikit koreksi terutama mengenai hotel yang dikelola pak Wahyu Barata
    Saya di Belitung sejak tahun 1954... dan bangunan yang sekarang jadi hotel itu sudah ada karena saat itu digunakan sebagai Society for staff PTTB (Perusahaan Tambang Timah Belitung)
    Setelah kejatuhan PT Timah maka bangunan itu diambil Pemda dan dijadikan perkantoran dan akhirnya dikembalikan pada swasta untuk dikelola sebagai hotel.
    Bangunan itu sudah berdiri sejak awal 1820 dan dibangun oleh seorang kapten china yang merupakan orang terkaya di Tanjung Pandan... demikian secara singkat apa yang saya ketahui, semoga bisa melengkapinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk koreksi dan tambahan informasinya, Pak. Salam hangat..... :-)

      Hapus