Selasa, 07 Mei 2013

Di Balik Yang Mini di Hotel Amaris Ambon

Pagi yang sangat cerah menciptakan langit biru di atas Kota Ambon. Awan tipis sisa mendung hari kemarin terlihat berserakan seperti kapuk bantal di atas kain sprai warna biru. Tembok Hotel Amaris yang berwarna-warni pun tampak indah. Berkali-kali lensa kamera membidik ke arah sana dari berbagai sudut.

Hotel Amaris Ambon berlokasi di Jalan Dipenogoro, salah satu pusat keramaian di Ibu Kota Maluku. Hotel ini berlantai tujuh dengan jumlah kamar di setiap lantai sekitar 20 kamar. Liftnya ada dua di salah satu sisinya. Tidak ada kolam renang, fitnes, karaoke, atau lounge dengan beraneka minuman beralkohol. Maklum saja, Amaris adalah penginapan yang memposisikan diri sebagai hotel budget sekelas bintang dua dengan tarif sekitar Rp 400 ribu permalam.

Saya tinggal di hotel ini selama empat hari tiga malam. Inilah pengalaman pertama saya menginap di Hotel Amaris yang kini berjumlah sekitar 27 hotel yang tersebar di berbagai kota, termasuk di Singapura. Namanya pengalaman pertama, maka saya pun memperhatikan segalanya pada hotel yang dikelola oleh anak usaha kelompok Kompas Gramedia itu.

Saya mendapatkan kamar di lantai enam dan menghadap ke belakang. Rupanya, Amaris bersebelahan dengan perkampungan penduduk. Dari jendela kamar, saya menyaksikan rumah-rumah penduduk yang cukup padat hingga ke atas lereng-lereng bukit. Pada siang hari, rumah-rumah itu sangat indah dipotret bersama langit yang biru. Sedangkan pada malam hari, ia eksotis bersama lampu yang kelap-kelip di setiap rumah.




Kamar saya tidak terlalu luas, sekitar 3 x 3 meter di luar kamar mandi yang juga berukuran mini. Sebuah TV LCD ukuran 21 inci menempel di dinding dengan saluran nasional dan beberapa dari luar. Di salah satu sudut kamar ada meja kecil dengan sebuah kursi. Sebuah ruang penyimpanan baju yang juga berukuran mini ada di samping meja. Terdapat sebuah kotak penyimpanan di dalam lemari yang tidak pernah saya fungsikan.

Kalau hotel-hotel pada umumnya kamar saling berhadapan di lorong yang memanjang dan sepi menakutkan, maka kamar di Amaris Ambon berbeda. Kamar di setiap lantai dipisahkan oleh ruang terbuka di tengahnya, mirip di sejumlah apartemen. Saya berpikir nakal, bagaimana kalau ada orang yang sedang stress dan nekat melompat dari lantai teratas. Tubuhnya pasti pipih menghantam lantai.



Ada yang di luar perkiraan saya tentang Amaris yang digolongkan sebagai hotel budget ini. Sarapan masih disediakan secara prasmanan walau pilihan tidak terlalu banyak. Nasi goreng atau nasi putih disajikan dengan empat pilihan lauk yang rasanya cukup lezat untuk saya. Ada juga bubur ayam, roti, dan buah yang tidak luput saya cicipi. Minumnya ada jus, air putih, teh manis atau kopi. Semua hidangan ini ditata rapi dalam ruang yang juga minimalis dengan warna-warna cerah pada kursi, meja, dan hiasan di dinding. Oya, telor mata sapi setengah matang kegemaran saya juga masih dapat saya pesan di Amaris. Sarapan pagi selama berada di Ambon sungguh membuat perut ini kenyang.

Saya tidak tahu apakah memang begini kondisi di setiap Hotel Amaris. Tapi, bagi saya, sepertinya Amaris layak dimasukkan dalam hotel rekomendasi di manapun.

Saya terus memandangi bangunan Amaris yang warna-warni dan terlihat cantik berpadu dengan langit yang biru pekat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar